Bukan hanya kejadian saat Lula sakit yang membuat Bimo mengambil aksi heroik. Setelah melihat dan mengalami fase pertama, Gadis harus melalui fase berikutnya yakni fase kedua. Di fase kedua ini, Gadis jadi ikut-ikutan menghayal gratis.
Sebab sikap dan aksi Bimo untuk menunjukkan perasaannya terhadap Lula tampaknya mulai membuat orang di sekeliling mereka berbisik iri. Mulai dari jenis iri dengki negatif sampai yang positif sudah pernah didengar oleh Gadis.
Nampaknya, kedua sejoli yang sedang dimabuk asmara itu sama sekali tidak menyadari bahwa ekspresi cinta diantara mereka cukup kentara. Malah, Cantika, salah satu mahasiswa di kelas mereka, yang tampak tidak begitu peduli pada sekitarnya pun turut mengomentari bagaimana manis dan hangatnya hubungan Bimo dan Lula.
“Mereka serasi banget, sih?!” komen Cantika yang kebetulan bicara di depan kelas, saat Gadis hendak masuk. Jadi kalimat tersebut langsung terdengar oleh kupingnya sendiri tanpa perantara sama sekali. “Kapan ya gue ketemu cowok yang auranya bisa sama kayak gitu. Nggak segan nunjukin perasaan dan si cowok nya juga kayak nggak risih gitu. Tapi kita jadi nggak geli lihatnya. Malah ngiri,” lanjut gadis itu.
Tentu saja Gadis tersenyum mendengar apa yang barusan didengarnya. Gadis segera menghambur mendekati Bimo dan Lula yang terdengar sedang hendak berpamitan.
“Nanti sore kelar kelas Bimo diajakin main futsal. Ulul nggak apa-apa kalau nunggu dulu sebentar?” tanya cowok itu sambil berdiri. “Ya paling sekitar satu sampai satu setengah jam, sih.”
Lula yang masih memegangi tas Bimo kemudian hanya menganggukkan kepalanya. Sambil tersenyum, gadis itu menyatakan kesediaannya menunggu.
“Ya, nggak apa, sih. Ulul juga lagi nggak ada tugas dan kegiatan lain,” jawabnya kalem.
“Okay, kalau Ulul nggak keberatan,” sahut cowok itu.
Tangan Bimo kemudian terulur dan mengusap puncak kepala Lula. Tindakan cowok itu barusan serentak membuat gadis-gadis di dalam kelas turut mengusap kepala mereka sendiri. Tentu Gadis jadi salah satu gadis yang ikutan mengelus rambutnya sendiri sambil membayangkan, kapan kira-kira dirinya akan mengalami hal semanis ini?
Belum lagi saat Bimo mengusap pipi Lula dengan punggung jari jemarinya, kontan semua gadis itu turut memejamkan matanya. Tak lama, Pak Riswan masuk ke dalam kelas dan membuat Bimo harus segera meninggalkan Lula.
“Bimo pergi dulu, ya. Ulul semangat belajarnya,” ucap Bimo memberi motivasi sambil kembali memperhatikan Lula dengan tatapan yang dijamin langsung menyoyak-koyak hati.
Lula mengangguk sambil menyuruh Bimo segera keluar dari kelas. “Iya, Bimo juga. Gih sana keluar dulu. Kuliah udah mau dimulai.”
Rupanya Pak Riswan menyadari kalau gadis-gadis di kelas ini sedang ‘menonton’ salah satu adegan film romantis yang bisa disaksikan secara live dan gratis. Bahkan ketika Bimo keluar dari kelas dan menyapa Pak Riswan, mata para gadis masih mengikuti ke arah Bimo pergi.
Takut para mahasiswanya kelewatan menghayal, Pak Riswan pun merasa berkewajiban untuk menyadarkan mereka akan realita yang sebenarnya.
“Ya, Bimo kamu harus cepet keluar dari kelas saya sebelum cewek-cewek di sini kebablasan ngayalin hal-hal yang tidak semestinya. Karena kenyataan yang sebenarnya itu mereka statusnya jomblo semua,” ujar Pak Riswan yang langsung disambut suara kur protes para gadis di kelas Lula. Sementara para cowoknya hanya menyeringai geli sendiri melihat tingkah teman-teman perempuan mereka.
Bimo tidak menanggapi terlalu serius dan hanya menganggukkan kepalanya lalu segera keluar dari kelas. Sedangkan Lula juga tampaknya tidak terusik dengan apa yang Pak Riswan katakan dan hanya menunduk sambil menyembunyikan senyum tipis.
Kelas pun segera dimulai dan kuliah hari itu berjalan terasa sangat singkat. Mungkin karena Lula menjalaninya dengan antusiasme tinggi hingga waktu pun tak terasa berlalu begitu cepat.
Begitu Pak Riswan keluar, Gadis segera mendekati Lula sambil menyetel tampang yang dipenuhi keingintahuan.
Awalnya tentu saja Lula tidak menyadari sampai kemudian Gadis mencolek lengannya dengan jari telunjuk yang terjulur. Barulah Lula menoleh pada sahabatnya tersebut dan kontan mengerutkan kening, tak mengerti.
“Kenapa, Dis?” tanyanya sambil memasukkan buku dan peralatan tulisnya satu persatu.
Gadis menautkan kedua tangannya lalu membuatnya seperti jembatan dan menaruh dagunya di sana.
“Gimana rasanya merasakan hal indah tadi secara nyata, Lul? Lo pasti mimpi indah setiap harinya,” kata Gadis dengan suara agak rendah, hampir mendesah.
Karena Lula merasa sudah tidak begitu takjub dan merasa apa yang dilakukan Bimo sudah sewajarnya, maka dia pun hanya mengangkat kedua bahunya.
“Ya, biasa aja, sih,” terangnya dengan ekspresi wajah yang terkesan datar.
Menerima jawaban yang tidak sesuai dengan ekspektasinya tentu saja membuat Gadis tidak puas. Dia langsung berlutut di hadapan Lula dan meletakkan tangannya di tangan Lula. Ekspresi Gadis tampak begitu putus asa dan ingin Lula memberikan sesuatu yang lebih dari yang barusan.
“Lo begitu disayang dan diperhatikan kayak gitu, Ulul, dan kenapa bisa lo cuma bilang biasa aja? Apa yang salah, Lul?” tanyanya setengah mendesak.
Sebenarnya Lula sama sekali tidak mengerti ke mana arah dari pembicaraan Gadis ini. Tapi karena wajahnya begitu jelas menunjukkan keputusasaan, Lula pun berusaha untuk tidak memperburuk situasi.
“Um,... ya… karena Bimo memang kayak begitu biasanya. Jadi, mungkin karena itu gue jadi nggak bisa kaget atau blushing lagi,” tutur Lula memberi penjelasan.
“Itu masuk akal juga, sih,” ucap Gadis seolah bisa menerima alasan yang diberikan oleh Lula barusan.
Lula sudah mau bernapas lega. Tapi rupanya datang orang lain yang masih menanyakan hal yang sama.
“Lo kok kelihatan nggak ngerespon yang gimana gitu, La?” tanya Hani, yang merupakan salah satu gadis paling cantik dan berpengaruh di angkatannya. Namun karena dia adalah anak dari salah satu rektor di kampus ini, banyak pemuda yang tampak enggan mendekati atau terang-terangan menyatakan ketertarikan mereka. Sementara untuk para gadis menganggap kalau bergaul dengan Hani bisa jadi semacam ancaman.
Padahal Lula pernah beberapa kali ngobrol dan makan bersama Hani di kantin kampus. Dan Hani tidak jauh berbeda dengan anak-anak lain yang mungkin orang tuanya tidak berperan besar di kampus. Malah bisa dibilang, ngobrol dengan Hani memberikan cukup banyak informasi penting. Salah satunya saat hendak ada kuis atau tes dadakan.
“Hah?” Lula hanya ternganga tak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Hani padanya.
Hani lalu mengikuti gerakan Gadis dan menyodorkan raut wajahnya yang menuntut sebuah reaksi yang jauh lebih teatrikal sepertinya.
Terus terang saja, Lula sama sekali tidak menyadari kalau dirinya begitu diperhatikan. Padahal dia merasa dia bukanlah mahasiswa yang sepopuler itu. Bimo pun bukan bintang kampus yang dikenal di mana-mana. Tapi entah kenapa semenjak dan Bimo bersama, orang-orang seakan jadi tahu mereka.
“Iya, lo kan harusnya bisa ngasih reaksi atau respon yang bikin Bimo juga tahu tentang perasaan lo gitu, La,” sambung gadis itu dengan ekspresi yang sama menuntutnya dengan Gadis.
Lula memperhatikan wajah Gadis, Hani, dan beberapa lainnya yang kini hampir semua menghampirinya dengan ekspresi serupa. Berikan balasan yang sepadan agar Bimo bisa merasakan apa yang dia rasakan.