Lula pernah mengalami yang namanya tersenyum sepanjang hari. Rasa makan pagi, jadi terasa nikmat sekali. Apa yang disantapnya pada siang hari, jadi makin membuat berseri. Hal tersebut bahkan berlangsung berhari-hari. Mungkin tidak banyak yang bisa dikisahkan dari orang yang sedang jatuh cinta setengah mati. Tapi Gadis, yang menjadi satu-satunya saksi, mengalami beberapa fase berulang kali.
Fase pertama tentu saja membuat Gadis merasa ikut tersanjung, terpesona, dan terenyuh dengan kemesraan yang disodorkan di depan mata. Beberapa contohnya tentu sudah malas diingat lagi olehnya. Hanya, salah satu kejadian yang tak terlupa oleh Gadis adalah ketika Bimo mengantarkan makanan untuk Lula.
Sudah dua hari Lula tampak tidak sehat. Gadis sudah bilang untuk tidak berangkat ke kampus dan istirahat saja di kos. Tapi Lula memaksa dan bilang dia masih cukup kuat untuk mengikuti kuliah.
Sampai akhirnya, benar saja. Di hari keempat, tubuh Lula seolah tidak dapat ‘dipaksa’ lagi berpura-pura. Lula ambruk. Badannya semakin panas dan sinar di wajahnya menurun. Berganti pucat dan lesu yang tampak jelas meski hanya sekali pandang.
Melihat sahabatnya sakit dan tak berdaya membuat Gadis tentu saja ingin menasihati Lula panjang lebar. Namun, sangat tidak elok rasanya memarahi orang yang sedang terkena musibah seperti ini. Alhasil, Gadis hanya memberikan khotbah singkat agar sahabatnya itu sedikit mengerti betapa khawatirnya dirinya saat ini. Ya, memberi khotbah memang sepertinya tidak terlalu menunjukkan banget kalau perhatian, sih. Tapi semoga saja Lula masih cukup cerdas untuk memahami, meski sedang tidak sehat saat ini.
“Lul, nih ya, biar kata gue orangnya kagak pinter-pinter amat, tapi gue inget banget salah satu materi di pelajaran penjaskes kelas 2 SMP dulu yang isinya kira-kira begini.”
Gadis sudah siap memperagakan isi dari buku pendidikan kesehatan jasmani yang pernah dia baca. Meskipun Lula tidak yakin benar atau tidak.
“Kalau lagi sakit itu jangan memaksakan untuk beraktivitas. Jadi bekerja, belajar dan lain sebagainya itu ditunda dulu. Istirahat itu lebih baik. Sebab tubuh lo itu sebenarnya lagi ngasih sinyal. Sinyal tersebut berisi permintaan buat istirahat. Cuma karena tubuh lo kagak bisa ngomong, ya cara ngasih tahuin lo nya adalah dengan sakit itu.”
Sebenarnya Lula tidak yakin betul Gadis membaca dari buku. Hanya saja apa yang diucapkan oleh sahabatnya ini masih masuk akal.
“Iya, meski gue masih agak ragu sama keterangan lo, gue bisa sedikit menerima lah sebab itu make sense juga,” sahut Lula sambil menyeringai.
Mendengar jawaban sahabatnya, Gadis ternganga. “Wah, pelanggaran berat ini. Harusnya gue tersinggung ini,” ucap sahabatnya tersebut dengan nada bicara dan ekspresi yang sejalan. Tampak tidak terima dengan apa yang diucapkan oleh Lula tersebut.
“Tapi tetep sayang sama gue, kan?!” Lula memastikan.
“Ya, kalau itu udah jelas. Cuma lo nya nggak bisa disayang,” keluh Gadis. “Udah tahu lo sejak dari kemarin-kemarin nggak enak badan, malah maksain ke kampus. Terus sekarang sakit gini, gimana coba?!” suara Gadis jadi panik sendiri.
“Ya, udah mau gimana lagi? Istirahat kan?!” sahut Lula tetap kalem.
Gadis lalu menggaruk-garuk kepalanya sendiri. “Ih, sumpah gue gemes lho sama orang kek lo. Lo tuh lagi sakit gitu. Tapi sebenarnya bisa dicegah kalau lo mau istirahat dari kemarin,” lanjut Gadis dengan suara geregetan.
“Ya, habis memang kemarin itu gue masih kuat, Dis. Kalau nyatanya gue masih kuat gimana?” Lula masih menanggapi dengan santai.
“Sebenernya udah nggak. Badan lo udah kasih sinyal. Cuma lo nya aja aja yang… apa itu bahasanya? Dablek!” sahut Gadis dengan sepenuh hati.
Mau tak mau Lula tertawa pelan tanpa suara. Namun gadis itu kemudian memegangi perutnya yang terasa sakit. Gadis yang semula juga ikut tertawa pelan sontak menghampiri sahabatnya tersebut dan bertanya.
“Kenapa lo, Lul? Sakit perutnya?” tanya Gadis dengan nada khawatir.
Gadis itu tidak langsung menjawab dan hanya mengangguk. “Kayaknya maag gue kumat nih, Dis,” terang Lula yang membuat Gadis segera mengambil ponselnya.
“Lo tunggu dulu sebentar di sini, ya. Biar gue hubungi bantuan,” kata Gadis dengan nada bicara cepat.
Lula sampai tidak paham dan mengerti apa yang hendak Gadis lakukan. Apalagi gadis itu kemudian keluar dari kamarnya dan seperti menelepon seseorang… yang tentu saja tidak diketahui oleh Lula.
Tidak sampai lima menit, Gadis kembali ke kamar Lula dan bicara. “Kalau lagi maag gitu lo nggak boleh makan asem, pedes, minuman berkafein, makanan bersantan, dan nggak boleh stres. Jadi gue udah pesenin delivery order menu yang paling pas buat lho,” lanjutnya kemudian.
Sungguh, Lula sama sekali tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Gadis ini. Sampai lebih kurang setengah jam setelah itu, datang banyak pengantar makanan ke kosan mereka. Mulai dari pizza, bubur Manado, sop buntut, sate kambing, sampai nasi kuning pun ada.
Lula hanya bisa melongo dengan semua makanan yang datang dan kini memenuhi hampir seluruh ruang di dalam kamar.
“Lo berencana bikin gue bangkrut apa gimana nih?” tanya Lula sambil memandangi semua makanan tersebut. “Ini malah bisa bikin gue tambah sakit, Dis,” keluhnya dengan putus asa.
Gadis langsung mencoba menghalau kekhawatiran Lula. “Eit’s tenang aja, Lul. Lo nggak akan dimintai sedikit pun bayaran atas semua makanan ini kok,” terangnya dengan suara tenang.
“Hah? Emang lo punya duit dari mana? Kasting iklan aja dari kemarin katanya ditolakin mulu. Gimana sih lo?!” Lula menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Lah? Emang gue yang mau bayar?!” Gadis malah menyerahkan pertanyaan pada Lula.
Mendengar itu Lula langsung memegangi kepalanya sendiri. “Lah? Terus sebanyak ini mau siapa yang bayar?!” tanyanya dengan nada bicara yang sudah jelas paniknya.
“Mas-mas level diamond MLM Maju Bersama abang Depok lah,” sahut Lula dengan suara bangga.
Kontan Lula kembali melongo. “Hah? Siapa tadi lo bilang?” pinta Lula pada Gadis untuk mengulang kalimatnya. “Mas-mas level diamond…?”
Gadis mengangguk-angguk sambil memperlihatkan ekspresinya yang di mata Lula agak berlebihan. Sebab dibarengi dengan mata yang dikedip-kedipkan dan senyum menyeringai persis iklan odol.
Pertanyaan Lula itu dijawab dengan kehadiran seorang cowok diambang pintu. Di tangannya dia menenteng sebuah plastik yang terdapat sablon nama apotek terkemuka yang lokasinya tak begitu jauh dari kos mereka.
“Kamu sakit apa?” tanya cowok itu dengan ekspresi yang sulit Lula deskripsikan dengan kata-kata. Yang jelas, Lula kemudian tersenyum. “Orang aku nanya sakit apa kok malah senyum sih?!” ucap Bimo dengan nada bicara yang makin khawatir. “Dis, lo yakin Ulul gue nggak step tadi?”
Gadis mengayunkan tangannya santai. “Kagak lah. Orang gue nggak beranjak sama sekali dari sini, kecuali pas nelepon lo tadi.”
Saat mendengar Bimo menyebut ‘Ulul gue’ dengan nada khawatir seperti itu membuat Lula merasa begitu damai. Rasa perih di ulu hati akibat maag yang sedang dirasakannya mendadak berkurang. Soalnya kalau bilang hilang sama sekali malah Lula merasa lebay. Karena rasa perih dan sakit di lambungnya tetap terasa memang. Hanya tidak begitu hebat seperti tadi saja.
Bimo kemudian hendak masuk ke dalam kamar namun segera dicegat oleh Gadis. Cowok itu menoleh pada Gadis dengan pandangan memohon.
“Lo kalau maksa kayak gini malah nggak kasihan sama Ulul tahu nggak. Nanti kalau ada orang di sebelah yang laporin lo masuk ke kamar Ulul tanpa pemberitahuan kasihan nih anak diusir. Gimana, sih?!”
Ucapan Gadis itu menyadarkan Bimo dan akhirnya menyerah. “Tapi gue boleh kan ngelihatin Ulul gue dari sini?” tanya Bimo dengan wajah mengiba.
Sebenarnya Gadis tak tega. Hanya saja dia tak ingin mengambil risiko kalau sampai nanti ada yang laporin dan ngasih keterangan yang berbeda. Karena punishment yang bisa dikenain ke anak kos yang nggak mematuhi peraturan beneran tidak main-main.
Dengan terpaksa Gadis menggelengkan kepalanya lagi. Bimo menunduk lesu dan hendak balik badan. Namun gadis itu kemudian terpikirkan satu cara.
“Eh, gue ada ide sih ini,” ucapnya yang kontan membuat Bimo menoleh dengan gerakan kilat dan membuat Lula di dalam kamarnya tersenyum ceria.
Rupanya yang dimaksud oleh Gadis itu adalah sambungan video melalui Skype. Apalagi kamera di laptop Lula cukup bagus juga. Jadi lah sepanjang hari itu Lula memasang video Skype agar Bimo bisa memantau kegiatan dan aktivitas dari kekasihnya tersebut. Kecuali saat Gadis membantunya untuk berganti pakaian.
“Lo jangan berpikir hal yang tidak-tidak, ya, Ulul juga perlu ganti baju. Jadi jangan berpikir kalau gue bakal membiarkan kameranya terbuka begini. Gue tutup dulu,” sahut Gadis yang langsung disambut dengan aura kekecewaan Bimo yang jelas terpancar.
Meski wajah Lula pucat, tapi saat itu Bimo seakan ingin terus memandangi wajah kekasihnya itu sampai tertidur.
Sebelum Gadis menutup kamera, Lula sempat mengedipkan sebelah matanya ke arah Bimo yang kontan membuat cowok itu sumringah bukan kepalang.
*