Setelah makan bersama dan duduk bareng lagi, rasanya suasana hati Lula sudah lebih nyaman dan damai dari kemarin. Lula tidak tahu apakah hal tersebut terjadi karena Bimo sudah meminta maaf padanya. Atau bisa jadi bukan karena hal itu. Tapi Lula tidak ingin mempertanyakan lebih lanjut. Dia ingin coba menikmati saja saat-saat bersama Bimo seperti saat ini.
“Ulul kenyang makannya?” tanya cowok itu setelah mereka berdua di dalam mobil dan siap pergi dari tempat tersebut.
“Kenyang kok,” jawab Lula cepat. “Ini malah rasanya full perutnya Ulul, Bim,” lanjut gadis itu sambil mengelus-elus perutnya sendiri.
Bimo tersenyum penuh makna. "Padahal Bimo mau ngajak Ulul ke tempat berikutnya nih. Di sana Ulul musti makan lagi lho," sahut cowok itu dengan nada menggoda.
"Yaaah, semoga aja muat. Asal jangan yang berat lagi, ya. Takut meledak nih perutnya," pinta Luka.
"Kalau itu Bimo nggak bisa jamin sih. Cuma kita lihat ke sana dulu, ya." Bimo kemudian mulai menyalakan mobilnya. "Supaya perut Ulul ada space nya, kita muter-muter sebentar ya, terus baru ke sana. Ulul setuju?"
Lula hanya mengangguk sambil tersenyum. Mobil Bimo pun mulai bergerak dan meninggalkan tempat tersebut. Tak terasa hari sudah mulai gelap. Rasanya sudah lama juga tidak melihat Jakarta pada sore hari di dalam mobil bersama Bimo seperti ini.
Mumpung ingat, Lula pun membuka pembicaraan.
"Besok acara anniversarynya jam berapa Bim?" tanya gadis itu. "Kebetulan besok Ulul kan cuma satu mata kuliah doang. Jadi bisa pulang lebih awal buat siap-siap."
"Oh, acara besok ya sorean lah. Tapi puncaknya sih paling habis magrib," terang Bimo. "Besok Bimo jemput sekitar jam 6, ya."
Lula mengangguk. "Oke. Kuliah Ulul kelar kok jam 3. Jadi sebelumnya bisa siap-siap dulu buat pergi ke acara di rumah Bimo deh," balas Lula dengan nada ceria.
Cowok itu melirik ke arah Lula dan tersenyum. "Kayaknya Bimo udah lama banget nggak denger Ulul kayak gini," komen Bimo kemudian kembali memandang lurus ke depan. "Rasanya denger suara Ulul seceria itu tuh hati Bimo jadi adem begitu."
Lula menyeringai. "Makanya jangan bikin Ulul bete terus. Lagian menurut Bimo buat apa sih kemarin Ulul sampai bikin rules. Ya, biar kita tuh kayak gini. Manis, adem ayem, dan harmonis gitu."
Cowok itu pun tersenyum geli. "Ya, maafin Bimo deh, kalau kemarin-kemarin Bimo sering main bareng temen-temen ketimbang bareng Ulul."
Lula segera meralat. "Interupsi, ya. Bukan sering, tapi hampir di tiap kesempatan Bimo selalu ngilang gitu aja entah ke mana. Dan ketika Ulul cari tahu, nggak tahunya Bimo lagi sama temen-temen. Sedih tahu ditinggal mulu," ujar gadis itu dengan suara sendu.
"Iyaaa, Ulul sayang. Ini makanya Bimo mau tebus semua yang sudah Bimo lakuin ke Ulul pas bareng temen-temen. Buktinya sekarang Bimo sama Ulul, kan?!"
Mau tak mau, Lula pun mengangguk. "Ya, iya sih. Asal besok-besok jangan diulangi lagi aja. Awas aja kalau sampai Bimo begitu lagi." Lula mengancam dengan nada serius. "Apa perlu Ulul bikinin punishment, ya?! Biar kita disiplin sama rules yang udah kita sepakati?"
"Hah?" Bimo ternganga. "Jadi, rulesnya mau direvisi?" tanyanya dengan nada bicara tak percaya.
"Ya, iya dong. Biar nanti k depannya tuh Bimo atau Ulul bisa lebih menghargai dan menjaga satu sama lain. Kayaknya emang ada beberapa yang kudu direvisi sih, menurut Ulul." Gadis itu melanjutkan sambil seolah mengingat-ingat isi dalam rules relationship mereka.
"Ini seriusan, Lul?" nada bicara Bimo sudah terdengar seperti keberatan. "Nggak usah deh. Lagian Bimo udah setuju kok dengan isi rules yang kemarin. Nggak perlu lah direvisi lagi."
Tentu Bimo langsung menolak ide Lula untuk merevisi isi peraturan hubungan mereka. Meskipun revisi biasanya untuk tujuan penyempurnaan, tapi bagi Bimo ini bisa jadi membuat makin runyam. Dengan adanya peraturan yang kemarin saja, Bimo sudah dibuat hampir kewalahan. Apalagi kalau sampai nanti Lula melakukan revisi. Bisa makin terikat dan tak bebas dirinya nanti.
Sedangkan Luka tentu saja memiliki tujuannya sendiri. Dia tahu Bimo orang yang sulit diatur. Jangankan oleh dirinya. Oleh orangtuanya sendiri saja, Bimo sering bercerita mereka kewalahan sendiri. Namun di sini, Lula tidak ingin bertindak seperti orangtua dari Bimo. Sebaliknya Lula ingin dirinya dan Bimo bisa membicarakan hal-hal yang perlu didiskusikan. Batasan-batasan harus kembali diperjelas. Antara pemahaman Lula dan Bimo harus searah dan satu suara. Jangan yang satu berbunyi A yang lainnya K. Jauh berbeda.
Dengan penuh pengertian dan suara yang lebih dewasa, Lula kemudian bicara. "Bimo sayang, dengerin Ulul, ya. Kita merevisi isi rules tersebut biar boundaries nya jelas. Biar apa yang Ulul ngerti, Bimo bisa ngerti juga. Sebaliknya juga gitu. Apa yang Bimo ngerti, Ulul juga bisa ngerti. Kita cari jalan tengah dari semuanya, Bim."
Bimo terdiam mendengar kalimat Lula tersebut.
"Kalau kemarin-kemarin Ulul cuma nulisin apa yang boleh dan nggak boleh dalam rules kita, pas direvisi nanti, Bimo boleh juga ngajuin sesuatu untuk kebaikan kita bersama. Asal bener-bener kebaikan bersama dan bisa kita sepakati dengan kesadaran penuh, ya."
"Jadi, maksudnya Ulul, Bimo juga boleh nyampein apa yang Bimo rasa harus ada dalam rules yang direvisi nanti?" tanya Bimo seraya melirik pada kekasihnya tersebut.
Lula menjawab dengan jelas dan tegas. "Iya dong."
Cowok itu kemudian mengangguk. "Oke, jadi ini dengan kata lain menyamakan persepsi ya. Tapi kita tetep bisa mempertahankan opini atau pendapat yang menurut kita bener. Maksudnya Ulul gitu?" Bimo memastikan lagi. Gadis di sebelahnya itu mengangguk lagi. "Kalau mau kayak gitu, Bimo setuju."
Lula pun tersenyum begitu mendengar bahwa Bimo setuju dengan rencana merevisi isi rules relationship mereka. Tentu saja Lula ingin ada kesepakatan yang jelas dan tegas dari bangunan yang sedang mereka bangun bersama. Jangan sampai Lula berencana untuk membuat denahnya dulu tapi Bimo sudah berpikir untuk memasang gentingnya.
Bagaimana bisa? Tiangnya saja belum kokoh berdiri. Semennya saja belum kering. Serta batu batanya masih disusun biar rapi. Jadi, Lula memang bertujuan untuk membuka diskusi terbuka dengan cowoknya tersebut agar mereka masing-masing memahami tugas dan fungsi dalam hubungan ini.
"Pokoknya nanti kalau ada yang mau Bimo sampein atau omongin, nggak apa-apa diomongan aja. Semua unek-uneknya boleh dikeluarkan. Ulul akan coba menampung dan melakukan yang sama juga. Semua unek-unek dan apa yang mau Ulul sampein bakal Ulul omongin. Gimana? Bimo setuju?" tanya Gadis untuk memperjelas tujuan merevisi rules relationship mereka.
Cowok itu langsung mengangguk mantap. "Kalau itu jelas Bimo setuju."
Lula pun tersenyum begitu mendengar bahwa Bimo setuju dengan rencana merevisi isi rules relationship mereka. Tentu saja Lula ingin ada kesepakatan yang jelas dan tegas dari bangunan yang sedang mereka bangun bersama. Jangan sampai Lula berencana untuk membuat denahnya dulu tapi Bimo sudah berpikir untuk memasang gentingnya.
Bagaimana bisa? Tiangnya saja belum kokoh berdiri. Semennya saja belum kering. Serta batu batanya masih disusun biar rapi. Jadi, Lula memang bertujuan untuk membuka diskusi terbuka dengan cowoknya tersebut agar mereka masing-masing memahami tugas dan fungsi dalam hubungan ini.
"Pokoknya nanti kalau ada yang mau Bimo sampein atau omongin, nggak apa-apa diomongan aja. Semua unek-uneknya boleh dikeluarkan. Ulul akan coba menampung dan melakukan yang sama juga. Semua unek-unek dan apa yang mau Ulul sampein bakal Ulul omongin. Gimana? Bimo setuju?" tanya Gadis untuk memperjelas tujuan merevisi rules relationship mereka.
Cowok itu langsung mengangguk mantap. "Kalau itu jelas Bimo setuju."
Lula pun sudah mempersiapkan ini. Makanya ia tidak ingin egois lagi dan menganggap hanya dirinya yang benar. Tidak. Lula tidak akan seperti itu lagi. Namun memang harus ada batasan yang disepakati bersama dengan Bimo. Kesepakatan yang harus dilakukan dengan sadar, tanpa paksaan, dan tanpa gangguan.
Bimo rupanya mengajak Lula ke sebuah warung pinggir jalan yang cukup terkenal di Blok M. Setelah memesan minuman dan camilan serta, Bimo menggandeng tangan Lula untuk mencari tempat duduk yang nyaman. Jauh dari kebisingan dan dijamin bisa ngobrol dengan lebih leluasa.
Usai pesanan minuman dan makanan mereka datang, barulah Lula bertanya. “Bimo siap buat bahas rules barunya?” tanya gadis itu sambil membuka catatan di ponselnya.
Bimo sedang menyesap kopi susunya dan langsung mengangguk. “Siap, Lul. Yok, dimulai,” ucapnya lalu meletakkan lagi cangkirnya.
“Oke, jadi Ulul pengin kita pahamin arah hubungan kita ke mana. Sama apa nggak. Ulul bukan ngebahas soal hal yang lebih serius, ya. Cuma komitmen Bimo sama hubungan ini tuh harus tetap terjaga. Begitu juga dengan Ulul. Kita berdua punya tanggung jawab dan kewajiban yang sama buat bikin hubungan ini terjaga.” Lula memperhatikan wajah Bimo yang terus memandangi tanpa kedip. Takutnya hanya mukanya saja yang serius menatapnya tapi pikirannya ke mana-mana. “Bimo dengerin Ulul, kan?!” tegur gadis itu dengan suara pelan.
Cowok itu tersenyum lalu mengangguk. “Denger, sayang. Ini Bimo memang sengaja lagi lihatan Ulul aja kok,” jawab Bimo.
Lula menahan rikuhnya lalu menundukkan pandangannya. “Apaan, sih?!” ujarnya tak berani melihat ke arah Bimo.
“Terus kita mulai dari mana?” tanya Bimo kemudian.
“Hmm, kita mulai dari yang boleh dan nggak boleh, ya. Ini penting, Bim. Biar nanti Ulul nggak marah-marah terus juga, dan Bimo juga nggak jengkel sebaliknya ke Ulul pas ada sesuatu. Karena kita udah omongin di rules kita ini. Setuju?”
Cowok itu mengangguk. “Oke, segera dimulai.”
Peninjauan rules hubungan ini layaknya pembicaraan terhadap suatu tatanan negara yang penting dan krusial. Ketika Lula bicara, Bimo mendengarkan dengan saksama dan fokus. Begitu juga sebaliknya. Ada beberapa hal yang dituliskan Lula yang menjadi kegelisahannya. Beberapa Bimo setujui namun beberapa Bimo masih mengajukan banding.
Begitupun sebaliknya dengan Lula. Ada beberapa hal yang dituliskan Bimo yang tidak ia suka dari kekasihnya tersebut. Beberapa Lula akui dan bilang bahwa akan diusahakan agar bisa diperbaiki. Namun ada juga beberapa diantaranya yang Lula merasa bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan Bimo.
“Lagi rapat paripurna ya?!” tanya seseorang mengagetkan Bimo dan Lula. Keduanya menoleh ke asal suara dan rupanya pemilik tempat tersebut. Dengan kompak, Lula dan Bimo menyeringai lebar. “Memang kalau dasar hubungan perlu diperbincangkan dengan kepala dingin dan serius. Di saat salah satu lagi nggak gondok, kesel atau marah. Saya sama istri saya juga waktu muda begitu.”
Bimo dan Lula menahan sama-sama menahan senyum lalu menganggukkan kepala mereka hampir bersamaan.
“Karena aktivitas kalian mengingatkan saya sama masa-masa pacaran saya sama istri saya, saya kasih satu roti bakar keju untuk nemenin rapatnya, ya?!” lanjut bapak itu lalu bersiap meninggalkan meja Bimo dan Lula. Rapatnya silakan dilanjutkan. Pesanannya nanti saya antarkan.”
“Makasih ya, Pak,” ucap Lula agak malu-malu.
“Makasih banyak ya, Pak.” Bimo membeo kalimat Lula. “Tapi kalau boleh sama indomie kornetnya juga dong, Pak” sahut Bimo yang langsung dicubit oleh Lula.
“Oh, boleh. Nggak masalah. Tapi yang itu bayar. Soalnya yang gratis cuma roti bakar,” balas si bapak dengan kalem lalu meninggalkan meja Lula dan Bimo dengan santai.
Senyum ceria di wajah Bimo langsung hilang. Sedangkan Lula langsung tertawa karena Bimo kena batunya.
“Syukurin!” sahut gadis itu. “Lagian udah dikasih gratis roti bakar aja udah bagus, eh malah ngelunjak minta indomie,” kata Lula pada kekasihnya.
“Namanya juga usaha, Lul.” Wajah Bimo masih tampak putus asa. “Siapa tahu aja memang bapaknya ingin total saat bernostalgia. Makanya sekalian aja Bimo kasih inspirasi buat bapaknya.”
Lula menggeleng-gelengkan kepalanya masih tak menyangka. “Ya, udah mau lanjutin dulu ini?” tanyanya pada Bimo.
“Iya lanjut,” balas Bimo kemudian mencoba fokus lagi pada perbincangan mereka.