Hidden Gem Part 1

1651 Kata
Seperti yang sudah disepakati, Bimo pun mengajak Lula untuk makan seafood di salah satu kedai di Jakarta Selatan. Warung Seafood tersebut lumayan terkenal karena memang sudah dikelola turun menurun. Menurut salah satu teman sekelas Lula, katanya warung seafood tersebut resepnya tidak pernah berubah. Makanya hampir setiap hari, dari pertama buka hingga hendak tutup, warung tersebut tidak pernah sepi. Sejak menjalani hidup sebagai perantau di Jakarta, Lula pun mau tak mau beradaptasi. Alhasil, kini dia banyak tahu dan mengenal beberapa teman yang memiliki cerita tersendiri. Salah satunya ya warung seafood ini. Meski sepertinya kebanyakan yang Lula tahu adalah histori dari tempat makan yang pernah dia datangi. Dalam perjalanan menuju ke warung seafood tersebut, Lula masih memeluk buket bunga yang diberikan oleh Bimo tadi. Bimo melirik ke arah perempuannya tersebut dan sempat tersenyum geli. “Kenapa bunganya dipelukin mulu, sih?!” tanya Bimo setelah melirik satu kali. “Bisa ditaruh di belakang, kali, Ulul sayang.” Lula langsung menoleh dengan bibir manyun. “Ya, emang kenapa?” sergah Lula dengan wajah tak terima. “Ini kan bunganya udah Bimo kasihin ke Ulul kan?! Jadi ya terserah Ulul dong mau diapain. Mau dipelukin ampe layu, mau dilipet masukin dompet, atau mau Ulul jadiin teh juga terserah Ulul kan?!”  Bimo menyeringai geli. “Iya juga, sih.” Cowok itu mengangguk-angguk. “Ya udah deh, gih sana dipelukin lagi aja kembangnya.” Gadis itu pun tersenyum dan tetap dengan posisinya semula memeluk bunga yang diberikan oleh Bimo padanya. Dua puluh menit kemudian, Bimo sudah memarkir mobilnya di tempat parkir yang disediakan. “Lumayan ramai, ya?!” komen Lula sebelum turun.  “Iya, sih. Tapi nggak apa-apa lah. Mungkin di dalam nggak begitu padet,” komen Bimo sambil memperhatikan suasana warung. “Ya, udah yuk, Lul, kita turun,” ajak cowok itu seraya membuka pintu mobil. Lula pun menurut dan langsung ikut keluar dari mobil. Bisa dibilang ada banyak hal yang membuat pelanggan balik lagi dan terkesan dengan warung seafood satu ini. Selain karena rasa makanannya yang enak, pelayanannya pun sungguh luar biasa keren. Bayangkan saja, dari tamu masuk, karyawan warung langsung bergerak cepat bertanya apakah tamu ingin makan di tempat atau bungkus untuk dibawa pulang. Jika makan di tempat, tamu ingin duduk di ruang ber-AC atau area merokok.  Meskipun Lula yakin bahwa di beberapa tempat lain pun pelayanannya ada yang sebagus ini, tapi hal itu yang membuat Lula terkesan saat pertama kali datang ke sini.  Sudah begitu, hal yang membuat Lula tak kalah tercengangnya adalah saat membayar makanan di kasir. Lula sudah pernah dikejutkan dengan harga makanan di Jakarta yang membuat pusing kepala. Salah satunya adalah saat makan bersama Gadis beberapa bulan setelah dirinya dan manusia ajaib satu itu menjadi sahabat. Namun, saat makan di warung seafood satu ini, Lula sampai harus dua kali bertanya pada kasirnya untung menghitung ulang. Sebab Lula sempat tidak percaya dengan nominal nota yang harus dibayarkan pada kali pertama dia dan Bimo makan di sini. Meskipun tampaknya Bimo santai saja karena ini bukan pertama kalinya untuk dia. Tapi untuk Lula, jelas ini harus ditanyakan sejelas-jelasnya.  “Mbak yakin udah dihitung ulang?” tanya Lula waktu itu. Mbak kasirnya langsung mengangguk dan tersenyum. “Sudah, Kak. Totalnya sudah tertera, ya,” jawabnya seraya menunjukkan angka pada mesin penghitungnya dengan sopan. Bimo lalu berbisik. “Nggak usah nyuruh mbaknya ngitung lagi. Kasihan. Di belakang kita udah ngantre soalnya,” ucapnya sambil menahan senyum geli.  Alhasil, Lula pun menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan dengan perasaan gamang. Antara senang dan bingung kenapa makannya bisa semurah ini. Si mbak kasir tersenyum saat menerima uang tersebut dan segera menyerahkan uang kembaliannya. “Silakan dihitung lagi, Kak, uang kembaliannya. Jika ada yang kurang berkenan dengan pelayanan kami silakan menghubungi nomor yang tertera di belakang saya. Dan semoga kakak bisa mampir lagi ke tempat kami.” “Kalau kayak gini mah saya pasti bakal sering-sering mampir, nih,” seru Lula yang kemudian mulai tersenyum lebar. Setelah memasukkan uang kembaliannya, Bimo sempat meminta maaf pada mbak kasirnya tersebut. “Maklumin ya, Mbak. Baru pertama kali ke sini,” ucapnya sambil tersenyum. “Tidak apa-apa, Kak,” sahut mbak kasir tersebut sambil mengangguk. “Terimakasih sudah datang dan silakan mampir lagi.” “Wah, pasti. Tenang aja, Mbak. Asal jangan bosen ya nanti lihat muka saya lagi.” Lula berseru lagi dengan bahagia. Kalau ingat momen pertama kali datang ke tempat ini tentu saja Lula merasa geli sendiri dengan tingkahnya. Agak udik, malu-maluin, tapi ya mau bagaimana. Menemukan tempat makan yang murah, rasa enak, pelayanan ramah, dan nuansa yang nyaman memang sulit. Jadi saat sudah menemukannya, mau tak mau Lula pun jadi terkenang untuk kembali lagi. Dan, tentu saja, segala pelayanan yang sempat diterima dan dirasakan Lula saat pertama kali seolah terulang kembali. Mbak dan mas nya begitu cekatan langsung menanyakan ingin makan di tipe ruangan apa, AC atau ruang merokok. Setelah menjawab ingin ruang ber-AC, Bimo dan Lula pun segera diantar ke sebuah meja dan kursi yang telah disiapkan. Usai menyerahkan buku menu, mas pelayan tersebut meninggalkan Lula dan Bimo sementara mereka memilih menu makanan. “Makan apa kita hari ini?!” tanya Bimo sambil membuka buku menu di hadapannya. “Seafood,” jawab Lula pelan sambil memandang Bimo. Bimo mengerjapkan matanya dua kali lalu mengangguk. “Ya, benar. Jawaban yang sangat memuaskan. Harusnya Bimo nanyanya yang lengkap, ya,” sahut Bimo seolah menyalahkan pertanyaannya yang tidak lengkap tersebut. “Di warung seafood ini apakah kita harus memakan sate kambing?” ujar Bimo sambil melirik Lula. Gadis itu menjulurkan lidahnya dengan sebal ke arah Bimo. “Bimo salah apa lagi sih, Ulul?” tanya cowok itu dengan suara bingung.  Lula tidak meladeni lagi Bimo dan terfokus pada buku menu. “Hmm, Ulul mau dori saus mentega ah.” “Oke, Bimo pilih menu sayurnya kalau gitu, ya?!” Bimo pun mengajukan ide dan mulai mencari pilihan menu sayur di dalam buku menu tersebut. “Bimo udah menu pilihan sayurnya?” tanya Lula kemudian. Cowok itu mengerutkan keningnya, tampak sangat serius sekali. Lula seakan sudah tahu kalau akan berakhir begini. “Pasti Bimo nggak ngerti deh sama menunya,” celetuk Lula yang sudah menaruh buku menunya di atas meja. Bimo menurunkan sedikit buku menu dari hadapannya dan memandang Lula dengan tatapan menyipit. “Ulul meremehkan pilihannya Bimo?” desisnya dengan ekspresi tak terima.  Lula memangku dagunya lalu mempersilakan Bimo untuk meneruskan. “Emang Bimo mau pilih sayur apa?” tanyanya dengan ekspresi seolah pasrah. Cowok itu langsung meletakkan buku menunya dan menjawab. “Cah sama Tumis bedanya apa?” Lula tersenyum kecil. “Cah itu ada kuahnya sedikit, sementara kalau tumis digoreng pake sedikit minyak. Kalau untuk rasa tumisan itu punya rasa asin dan cenderung manis, soalnya dikasih sedikit gula pasir atau kecap manis. Kalau cah itu cenderung asin dan gurih. Karena ada tambahan aneka kecap atau saus. Malah ada juga yang nggak kasih saus dan cuma perasa doang.” Bimo langsung tersenyum. “Kalau gitu cah tauge, sama cah kangkung aja, ya, Ulul?!” Lula kembali tersenyum. “Oke, sayurnya pesen dua berarti, ya?!” Cowoknya itu langsung manggut-manggut. "Iya dong, kan kita harus banyak makan sayur, Ulul. Supaya pertumbuhan kita baik, gigi sehat, otak cemerlang serta tidak ada keluhan setelah imunisasi,” cerocos Bimo panjang lebar yang membuat Lula hanya menggeleng putus asa. Bimo memang kalau dibiarkan suka tidak sadar sama apa yang dia katakan. Sampai-sampai isi buku panduan saat datang ke Posyandu pun sepertinya dia baca dan diingat di luar kepala. Padahal ada hal lain yang seharusnya bisa cowok itu ingat selain isi buku panduan. Misalnya hal-hal kecil yang Lula lakukan atau Lula katakan. Sayangnya hal tersebut jadi seperti permintaan yang besar jika diucapkan sekarang. Sempat Lula berpikir apakah dirinya yang menaruh ekspektasi yang ketinggian pada Bimo. Atau memang hubungan asmara seharusnya begitu? Entahlah. Tapi yang jelas, dulu rasanya Bimo tidaklah seperti ini. Bimo benar-benar memberikannya gambaran sebuah hubungan yang ideal dan mendekati kata istimewa. Meskipun bisa dibilang Lula tidak punya pengalaman sama sekali dalam hubungan yang serius seperti menjalin asmara, tapi rasanya yang dia dan Bimo lakukan ini sudah benar… di beberapa bulan awal hubungan mereka tentu saja. Bukan seperti yang kemarin cowok ini lakukan. Bukan seperti yang terjadi beberapa bulan terakhir. Lula sempat merasa asing pada pacarnya sendiri. Rasanya Bimo bukan seperti Bimo yang dia kenal atau ketahui di kali pertama memutuskan untuk berada di jalur yang sama. Apakah Bimo mengalami semacam kejenuhan pada hubungan mereka? Mengapa dia tidak mendiskusikanya jika memang benar demikian. Sebab biasanya, apapun yang mengganjal dan mengganggu pikirannya, Bimo akan langsung mengungkapkannya. Bimo bukan tipikal cowok yang kerap memendam perasaan apalagi jika itu mengganggu. Tapi dengan Bimo kemudian memilih sibuk bersama teman-temannya hingga kerap mengabaikan Lula, gadis itu pun penasaran. Apakah Bimo menyadari hal tersebut? Jika tersadar harusnya sudah sejak awal Bimo mengungkapkan kejenuhan yang dia rasakan? Atau mungkinkah Bimo tidak sadar dengan hal itu, makanya dia seakan mengabaikan jika ada hal yang berubah dari hubungan mereka. Gegap gempita yang dulu sering terjadi rasanya ingin dirasakan oleh Lula lagi. Percikan yang dulu terasa dan seringkali membuatnya tersengat sesaat membuatnya kerap menjadi bersemangat. Tapi semua itu rasanya sudah lalu sekali. “Ulul mikiran apa?” tegur Bimo kemudian karena menyadari Lula hanya terdiam saja.  Gadis itu menoleh lalu tersenyum. “Nggak ada. Ulul lagi nggak mikirin apa-apa kok,” balasnya dengan suara pelan. Tak begitu lama, menu pesanan mereka datang dan mengisi sebagian meja. Lula menahan senyum ketika ternyata pesanan Bimo jauh lebih banyak dari yang mereka perkirakan. Namun Lula tentu saja tidak ingin terlalu menanggapi sampai akhirnya cowok itu sendiri yang mengirimkan sinyal dengan sendok yang sengaja disodorkan. Dahi Lula mengerut seolah bertanya ‘ada apa?’ Bimo lalu memundurkan kursinya sedikit agar lebih leluasa untuk berbisik ke telinga Lula. Gadis itu pun mendekatkan kepalanya agar Bimo bisa lebih mudah berbisik padanya. “Bantuin Bimo makan sayurnya. Ternyata porsinya masih sebanyak dulu,” ucapnya dengan nada memohon. Lula pun tak bisa lagi menahan senyum gelinya dengan permintaan Bimo barusan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN