Terasa Lebih Baik

1381 Kata
Lula tak tahu jam berapa dia tertidur semalam, yang jelas pagi ini dia bangun dengan keadaan yang agak lelah. Aneh. Baru bangun tidur tapi tubuhnya seolah sudah sangat capek. Kalau tidak ingat dia punya kuis hari ini dan dua kelas yang wajib dia hadiri, Lula ingin tidur di kos saja. Sayangnya tidak bisa. Dia harus tetap masuk dan menjalani kewajibannya sebagai seorang mahasiswa. Saat dia hendak membolos, entah kenapa dia jadi teringat lagi pada tujuan utamanya datang ke Jakarta. Apa yang dulu membuatnya begitu bersemangat luar biasa agar diterima. Perjuangannya mengalahkan ribuan calon mahasiswa lain pada saat itu yang membuat orang di sekitarnya bangga. Papa dan tentu saja dirinya. Jika Mama masih ada, beliau pun pasti akan mengatakan kalimat yang sama. Makanya setelah menyeret kakinya untuk berjalan ke kamar mandi, Lula pun segera bersiap untuk pergi ke kampus. Saat dirinya sedang bersiap-siap, Gadis mengirimkan pesan di w******p. Gadis Lul, hari ini gue kagak masuk kampus. Soalnya gue masih di puncak, syuting hari ke-2. Lo nanti mau oleh-oleh apa? Jujur saja, Lula ikut bahagia dengan apa yang sekarang diraih Gadis. Mengingat bagaimana dulu perjuangan Gadis yang sangat ingin jadi bintang iklan dan menghasilkan uang. Bukan berarti Gadis tak bisa mencari sambilan atau paruh waktu yang lain. Lula yakin, Gadis bisa. Tapi mungkin saja Gadis memiliki alasan lain yang membuatnya mati-matian agar bisa diterima di industri tersebut. Maka tak ada hal lain yang dapat dilakukan Lula selain mendukung saja setiap keputusan dan aktivitas Gadis selama itu baik dan tidak merugikan siapa-siapa. Lula kemudian membalas pesan Gadis tersebut.  Lula Oke, Dis. Semangat, ya. Jangan lupa makan, Dis. Ini gue mau siap-siap ke  kampus. Oleh-olehnya lo pulang aja buruan deh. Gue butuh temen nonton nih. Setelah membalas pesan Gadis tersebut, Lula melanjutkan bersiap-siap. Setelah memastikan tak ada yang tertinggal, Lula segera keluar dari kamar dan menuju pangkalan ojek. Hari ini Lula merasa sangat lelah. Apa yang terjadi kemarin sungguh masih menyisakan jengkel luar biasa di hatinya. Apalagi sejak kejadian itu, Bimo juga sama sekali tidak mencoba menghubunginya. Mengirimi SMS atau w******p pun tidak. Sungguh keterlaluan memang. Lula pun berusaha cuek dan meneruskan aktivitasnya di kampus. Dia pusatkan konsentrasi penuhnya pada setiap kelas. Sampai saat kuis berakhir, Lula takjub karena dia menjadi salah satu murid yang mendapatkan nilai bagus. “Pertahankan terus!” ujar Pak Farha sebelum meninggalkan kelas. Lula hanya mengangguk seraya tersenyum. Begitu Pak Farha keluar dan sebagian besar orang di kelasnya sudah keluar, Lula justru kembali ke kursinya. Masih ada satu kelas lagi yang harus dihadiri tapi masih dua jam lagi. Sementara kalau pulang ke kos rasanya terlalu malas sebab hanya akan buang waktu di jalan. Alhasil, Lula memilih untuk tinggal saja di kelas hingga kelas berikutnya. Entah apakah karena dirinya sedang menunggu atau memang waktu terasa sangat lambat bergerak, yang jelas ini membosankan. Tapi Lula tak ingin bergerak ke mana-mana. Dia membiarkan saja waktu berlalu meskipun akan membuat Lula mengantuk. Gadis itu pun menelungkupkan kepalanya di atas meja dengan berbantalkan lengannya sendiri. Hingga benar saja. Lula yang sudah merasa mengantuk kemudian mendengar suara-suara mulai masuk ke kelas. Matanya terbuka perlahan dan mulai melihat sudah ada beberapa orang yang memasuki dan menduduki kursi di sekitarnya.  Dengan sedikit memaksakan, Lula mengangkat kepala dan mencoba mengumpulkan nyawanya yang mungkin sempat berkeliaran sebentar tadi. Tak berapa lama semenjak nyawa Lula terkumpul sepenuhnya, Bu Hilda datang dan memulai kelasnya.  Akhirnya ada hal lain lagi yang dapat mengalihkan perhatiannya saat ini. Lula pun segera memusatkan lagi seluruh pikiran dan konsentrasinya pada ilmu Akuntansi yang sedang diberikan Bu Hilda ini. Saking terpusatnya pada kegiatan yang sedang dijalani, Lula sampai tak menyadari lagi begitu Bu Hilda menyudahi kuliah siang ini. Lula kembali lesu. Padahal rasanya baru saja dirinya mulai terlibat sepenuhnya pada materi tapi tahu-tahu selesai. Lula segera membereskan segala perlengkapannya kembali ke dalam tas. Dia melongok jam tangannya. Baru pukul 2. Lula juga tersadar dia punya lambung yang harus diisi makanan.  “Makan ketoprak aja apa ya,” gumamnya sambil bangkit dari kursi dan segera keluar dari kelas. Sungguh tak dapat dimengerti mengapa hari ini terasa begitu melelahkan. Normalnya, dua mata kuliah ini dijalani Lula dengan senang hati. Sebab dia masih bisa melihat matahari saat sedang berjalan pulang. Tapi berbeda dengan hari ini. Lula baru sadar dia sudah merasakan kelelahan ini sejak dirinya bangun dari tidur. Harusnya saat seseorang bangun tidur, dia akan jauh lebih bersemangat dan tubuhnya terasa lebih segar. Memang mengherankan kenapa dirinya bisa sampai seperti ini. Saat Lula baru keluar kelas, gadis itu langsung membeku. Rupanya Bimo sudah menunggunya tak jauh dari pintu kelasnya. Lula sebenarnya sedang malas bertengkar. Apalagi harus mendengar ocehan Bimo yang sekadar membeberkan alasan. Makanya, Lula kemudian hendak berlalu begitu saja dan berusaha tidak meladeni Bimo. Namun cowok itu segera mencegahnya. Tangan Bimo terentang lebar dan membuat Lula tak bisa lewat. “Ulul, Bimo mau ngomong,” ucapnya sambil menyentuh tangan Lula. Langkah Lula terhenti lalu dia mulai bicara. “Aku lagi nggak mood berantem. Jadi, kalau cuma mau ngomong kosong, mending nggak usah nongol dulu,” ucap Lula dengan pandangan yang lurus ke depan. Dia lalu hendak melangkah maju lagi, namun Bimo tetap tak memberi jalan. “Dengerin dulu, makanya,” balas cowok itu. Lula menundukkan pandangannya. “Mau ngomong apa?” tanya Lula akhirnya. Bimo lalu menyodorkan bunga ke arah Lula. Kalau dalam kondisi normal, Lula akan melonjak kegirangan menerima hadiah dari Bimo ini. Apalagi Bimo memang sudah jarang memberikan sesuatu untuknya. Terakhir ya cokelat yang kemarin diberikan dan rasanya pahit itu. “Bimo minta maaf sama sikap dan kata-kata Bimo kemarin,” ucap Bimo mengawali. “Harusnya Bimo memang ngajak Ulul ketemu keluarga atau orang rumah dari dulu. Maafin Bimo yang nggak peka kalau memang udah waktunya orang rumah akrab dan kenal Ulul,” lanjutnya penuh dengan nada menyesal. “Terus Bimo pikir Ulul bisa luluh gitu disodorin bunga kayak gini?!” tanya Lula dengan nada dingin. Kedua matanya benar-benar tanpa ekspresi. Melihat itu jelas saja Bimo langsung menunduk. “Bunganya cuma buat bikin harinya Ulul cerah aja. Permintaan maaf Bimo bener-bener dari hati kok,” ujarnya dengan suara yang terdengar pasrah. Lula pun kemudian mengambil bunga yang ada di tangan Bimo. Wajah Bimo seketika terangkat dan langsung cerah.  Di bibir Lula pun sudah terulas senyum meskipun tipis. Tapi ini sudah lebih dari cukup.  “Maafin sikap Bimo kemarin, ya, Lul. Bimo beneran minta maaf banget udah menyinggung Ulul.” Gadis itu perlahan menganggukkan kepalanya. “Iya, nggak apa-apa. Ulul udah maafin kok,” balasnya sambil memeluk buket bunga yang dibawa Bimo. Wajah Bimo semakin cerah. “Besok Ulul datang, ya, ke anniversary nya Mama sama Papa Bimo. Ulul mau kan?!”  Pertanyaan tersebut membuat hati Lula terasa lebih baik. Ada harapan di nada bicara Bimo barusan. Ada keinginan yang seolah perlu diwujudkan dari apa yang diucapkan. Barulah Lula merasa bahwa Bimo memang benar-benar tulus meminta maaf padanya. Lula kemudian mengangguk. “Iya, besok Ulul dateng,” ucapnya mengiyakan.  Bimo tersenyum lebar dan meraih tangan Lula kemudian. “Oke. Sekarang kita pergi makan siang, ya.” “Makan siang apa kita, Bim?” tanya Lula sambil berjalan bersisian dengan Bimo. “Hmm, kalau makan seafood gimana? Itu lho ke warung seafood yang sangat Ulul suka dan kebayang-bayang sampai semingguan itu rasanya.” Bimo sengaja memasang wajah jahil untuk menggoda Lula. “Gimana? Ulul setuju nggak?” Untuk menjaga reaksinya agar tidak terlalu tampak gembira, Lula pun hanya menjawab sekenanya. “Ya, boleh aja, sih.” Percakapan akrab tersebut terus terjadi sampai Bimo dan Lula sampai di parkiran. Mereka masih memperbincangkan tentang menu makan, enaknya lewat jalan mana jika macet, dan akan ke mana sepulang makan nanti. Semuanya normal, wajar, dan tampak seperti biasa lagi.  Dan, terus terang saja, hati Lula juga seakan sudah membaik saat ini.   Begitu masuk ke dalam mobil, Lula masih belum banyak bicara dan lebih sering melemparkan pandangannya ke luar jendela. Meskipun dalam kondisi normal Bimo akan sebal karena Lula seakan mengabaikannya, tapi kali ini Bimo membiarkan perempuannya itu tenggelam dengan lamunannya sendiri. Pasti Lula masih butuh waktu untuk menetralkan lagi perasaannya yang tak begitu baik karena perbuatannya kemarin. Makanya Bimo benar-benar membiarkan saja Lula kali ini dan fokus pada kemudi. Meskipun ada satu hingga dua kali Bimo tak bisa menahan dirinya untuk bersuara dan akhirnya membuat Lula menoleh dan tersenyum atau menanggapi ucapan Bimo sekadarnya. Tapi selebihnya, Bimo hanya membiarkan Lula terdiam dalam pikirannya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN