Cokelatnya Pahit

2017 Kata
Lula merasa bisa menari saat ini juga saat melihat cara Bimo menatap dan tersenyum padanya. Sensasi macam ini rasanya sudah lama sekali dia rindukan. Namun tentu saja dulu setiap protes yang disuarakan oleh Lula tidak pernah digubris oleh cowok itu. Malah, semakin Lula memprotes, Bimo jadi semakin sulit untuk mendengarkan setiap keluhannya. Padahal keluhan dan setiap protes yang diutarakan Lula semuanya untuk kebaikan hubungan asmara mereka. Ketika Bimo sudah terlalu cuek dan justru lebih mengutamakan teman-temannya, Lula sempat merasa apakah ada yang salah dengan dirinya. Apakah Bimo sudah mulai berkurang kasih sayangnya? Pikiran seperti itu tentu saja tidak bisa dia hindari. Apalagi Bimo juga seakan tak begitu peduli meskipun Lula jadi lebih sering marah-marah atau kesal padanya. Sampai akhirnya Lula pun pasrah dan menerima. Tapi pasrahnya Lula tersebut malah jadi dimanfaatkan Bimo. Cowok itu malah tiap hari makin menjadi. Tentu saja Lula tak bisa tinggal diam. Alhasil, Lula protes lagi. Sampai akhirnya Bimo mau mendengarkan dan memberikan ide memberlakukan rules demi mempererat hubungan. Meskipun tentu saja tidak sesukses yang dibayangkan. Sebab Bimo kemudian jadi malah protes dan lain sebagainya.  Sampai Anindita kemudian datang. Pada bagian ini Lula tidak mengerti harus bagaimana menganggap kehadiran Anindita. Sebab Lula merasa bahwa apa yang sempat dia tangkap antara Bimo pada Anindita, begitu juga sebaliknya, bukan hanya perasaannya saja.  Apalagi Bimo juga tampak tidak memedulikan perasaan Lula di mobil saat gadis itu dengan gusar bertanya. Jika ingat ke situ, Lula jadi merasa jengkel lagi. Tapi karena kini Bimo sepertinya sudah makin mengerti kemauannya, Lula pun tidak ingin mencemaskan apa-apa lagi. “Gimana rasa soto mie nya? Enak?” tanya Bimo setelah soto mie miliknya habis, namun milik Lula masih tersisa setengah di mangkuk. “Hmm, enak. Bimo laper banget ya kayaknya sampai udah habis duluan,” sahut Lula sambil melirik mangkuk kosong yang ada di hadapan Bimo. “Kan, Bimo udah bilang tadi kalau Bimo lagi laper banget. Untung aja cepetan diisi. Kalau nggak, Bimo bisa beneran semaput nanti,” ujarnya dengan ekspresi jauh lebih segar daripada tadi. Memang benar. Sepertinya cowoknya tersebut benar-benar lapar. Lula hanya tersenyum lalu meneruskan memakan soto mienya. Bimo memperhatikan Lula sebentar dan tersenyum juga.  “Cokelatnya dipegangin mulu. Nggak pengin dimakan?!” tanya Bimo kemudian. Gadis itu pun tersadar memang sejak tadi dia hanya memegangi saja cokelat yang diberikan oleh Bimo tersebut.  “Kan, lagi makan soto mie,” jawab Lula. “Kan nggak nyambung kalau cokelatnya Ulul jadiin cocolan ke kuah sotonya, Bim.” Cowok itu menyeringai lebar. “Hihi, iya bener juga, sih. Nanti dimakan ya, Ulul sayang. Bimo sengaja beliin buat Ulul itu kemarin pas nemenin Mama belanja.” Lula pun jadi teringat dan akhirnya bertanya. “Memang kemarin Bimo belanja di mana, sih? Sampai sebanyak itu.” “Di Kemvil, Ulul. Terus habis itu lanjut ke Mayestik juga beli perlengkapan bikin kue gitu. Banyak banget juga tuh yang dibeli Mama,” tutur Bimo. “Ya, wajar juga soalnya kan mau ada perayaan kecil-kecilan gitu di rumah.” Lula segera menghentikan makannya dan fokus pada Bimo. “Perayaan apa memangnya, Bim?” “Ulang tahun pernikahan Mama Papa,” jawab cowok itu sambil menyeringai. Ekspresi Lula langsung antusias. “Wah, manisnya. Oh, anniversary mereka tuh lusa, ya?!” Kepala Lula manggut-manggut. “Anniversary yang ke berapa, Bim?” Bimo tampak berpikir lalu menggeleng. “Nggak tahu,” jawabnya polos. “Yah, gimana sih?!” “Lah, ya gimana?! Mereka nikah aja aku nggak diundang. Mana aku tahu,” sahut cowok itu cuek. Lula menggelengkan kepalanya. “Ya, lagian Bimo juga belum lahir kan?! Gimana mau diundang.” Cowok itu perlahan tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya. “Bener juga, sih.” “Terus-terus? Perayaannya kapan?” “Besok lusa. Mama sih udah ngundang Anindita buat dateng. Soalnya Mama kan udah lama juga nggak ketemu Anindita. Jadi, pasti bakal seru lihat reuni mereka.” Seketika Lula tertegun dengan apa yang barusan diucapkan Bimo. “Mama Bimo… ngundang Anindita ke rumah?” Lula mengulang pernyataan yang semula diucapkan cowoknya tadi. Bimo dengan polosnya menganggukkan kepala. “Iya. Malah kemarin, mereka teleponan gitu kan?! Terus Mama langsung nyuruh Anindita buat ke rumah besok. Wajib katanya.” Entah Bimo ini terlalu bodoh atau polos, yang jelas dia sama sekali tidak menyadari bahwa ada seraut wajah di hadapannya yang sudah berubah warna dan tampak tidak senang dengan apa yang disampaikan barusan. Lula pun menghentikan makannya, dan meletakkan sendoknya dengan tak acuh sampai mengeluarkan suara. Barulah di situ Bimo bertanya. “Ulul kenapa?” Gadis itu mencoba tersenyum tapi rasanya tidak bisa. Lula kembali menyandarkan punggungnya ke kursi dan memandang cowoknya itu lurus-lurus. “Jujur aja ini kali pertama Ulul denger keluarga Bimo ngadain sebuah acara dan mau ngebukain pintu mereka buat orang luar datang. Biasanya yang Ulul denger perayaan yang terjadi di keluarga Bimo selalu melibatkan keluarga deket dan sanak saudara aja.” “Ya, kebetulan aja sih itu. Mungkin momennya juga pas karena ngerayain anniversary Papa sama Mama, Lul.” Lula masih belum bergeming. “Kita pacaran tiga tahun. Tapi Ulul belum pernah hadir dalam perayaan anniversary orangtua Bimo. Sama sekali. Satu kali pun.” Suara Lula makin terdengar bergetar. Bimo sudah membuka mulutnya untuk kembali bicara namun Lula terus menyambung dan tidak memberi kesempatan cowok itu menyahut. “Selama kita pacaran, Ulul belum pernah diundang sekalipun ke rumah atau ketemu orangtuanya Bimo. Belum pernah Ulul diundang khusus atau dipersilakan datang buat ketemu keluarga Bimo. Mungkin hanya satu atau dua kali ketemu, itu juga nggak sengaja karena ada acara di kampus. Jadi itu nggak bisa dianggap atau masuk hitungan kalau Lula dipersilakan kenal sama keluarga Bimo.” Pandangan Lula perlahan tertunduk dan wajahnya tampak tak bersemangat lagi. “Hmm, Ulul boleh datang kok kalau mau,” ucap Bimo dengan nada bicara yang sengaja dibuat ceria. Sayangnya nada bicara tersebut malah makin membuat Lula semakin tidak nyaman. Lula tersenyum sinis lalu menunjuk dirinya sendiri. “Ulul boleh datang kalau Ulul mau?” Cowok di hadapannya itu mengangguk semangat seolah masih tak menyadari situasi panas yang tengah terjadi. “Ulul boleh datang kalau Ulul mau sementara Anindita diundang secara khusus sama Mama kamu?” tanpa sadar nada bicara Lula meninggi sampai Bimo kaget sendiri. “Ini yang jadi pacar Bimo siapa sih?” Lula hampir ngamuk. Bimo kemudian mencoba meredakan emosi pacarnya tersebut dengan mengatakan suatu kalimat yang mungkin bisa membuat suasana hati Lula lebih baik. Sayangnya, Bimo justru malah memperburuk suasana yang sudah tidak kondusif.  “Hmm, ya mungkin karena keluarganya kan sudah lebih kenal sama Anindita ketimbang Ulul. Kan, dari kecil Anindita udah main bareng terus tetanggaan juga. Jadi ya otomatis keluarga Bimo juga jadi jauh lebih kenal Anindita.” Lula menggelengkan kepalanya. Dia sama sekali tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Bimo. “Nggak adil banget,” ucap Lula lalu mulai memundurkan kursinya. “Ini jadi kenapa salah Ulul ya nggak tetanggaan atau jadi temen kecilnya Bimo? Jadi kalau mau diperlakukan istimewa tuh Ulul harus lebih dulu kenal Bimo dari kecil atau jadi tetangga di samping rumah Bimo. Gitu?” Bimo hanya terdiam sambil mencerna apa yang diucapkan oleh Lula.  Karena merasa bahwa sudah tidak ada yang bisa dibicarakan lagi, gadis itu pun segera bangun dan pergin meninggalkan Bimo yang tampak masih bingung. * Lula pulang ke kos dengan perasaan jengkel dan gondok di hati yang sangat luar biasa. Rasanya mendidih sekali hatinya saat ini. Bagaimana mungkin bisa Bimo mengatakan karena Anindita sudah lebih dulu mengenal dan dekat dengan keluarganya, makanya jadi hanya Anindita yang spesial diundang. Lalu dirinya dianggap apa? “Wah, benar-benar kebangetan sih. Ih, gue rasanya pengin ngancurin sesuatu gitu, ya. Bagusnya sih ngancurin kepala Bimo aja apa ya sekalian tadi. Duh, marah banget gue,” cerocos Lula dengan nada yang terdengar keras. Gadis baru saja pulang dan penasaran kenapa Lula tampak sedang misuh. Alhasil, Gadis pun mengurungkan niatnya untuk segera naik ke atas dan memilih berhenti di kamar Lula. Tok! Tok! Gadis mengetuk kamar sahabatnya tersebut. Lula menoleh dan wajahnya tampak memerah. “Gue boleh masuk?” tanya Gadis hati-hati. Tentu saja harus hati-hati. Karena dilihat sepintas pun Lula tampaknya sedang tidak bersahabat sekali. “Masuk aja, Dis,” ucap Lula dengan nada yang sudah agak menurun. Karena sudah dipersilakan, Gadis pun menurut dengan masuk ke dalam kamar Lula. Meskipun tentu saja ada risiko bahwa dia bakal kena semprot Lula jika salah bertindak atau bicara. Tapi tak apalah. Gadis tidak akan tahu juga kalau tidak masuk dan mendengarkan ada apa gerangan dengan sahabatnya tersebut.  Masih dengan sikap waspada, Gadis duduk di tepi tempat tidur Lula dan mulai mendengarkan lagi kalimat sahabatnya. “Lo mau tahu nggak apa yang baru gue alami tadi?” Gadis kontan menggeleng. “Ada sebuah kejadian yang wow banget dan gue rasa kayak bodoh banget. Sumpah sampai sekarang rasanya gue pengin noyor kepala gue sendiri tahu nggak saking bodohnya.” Gadis buru-buru menahan walaupun Lula tampak tidak sedang bersiap menoyor kepalanya sendiri. “Jangan, Lul. Itu kepala boleh di fitrahin bokap nyokap lo. Ada doa baik lho yang masih menyertai lo di situ,” ucap Gadis dengan nada yang masih takut-takut. Lula menoleh pada Gadis dengan tatapan tajam tapi tak berapa lama kemudian mengangguk. “Bener juga, sih.” Lula mengakui kebenaran kalimat Gadis barusan. Gadis bernapas lega setelah itu. Namun, kalimat Lula masih berlanjut. “Tapi gue beneran kayak orang bodoh banget hari ini, Dis.” Akhirnya gadis itu duduk di tepi tempat tidur, persis di sebelah Gadis.  “Beneran deh, Dis. Gue ngerasa jadi orang bodoh banget hari ini,” ucap Lula sambil menahan air matanya. Tentu Gadis memahami mengapa Lula sampai spaneng seperti sekarang. Wajar jika Lula merasa begini sedihnya. “Lo nggak bodoh, Lul. Memang Bimo nya aja yang kurang pendidikannya. Lagian ya gue tuh kadang heran sama tu manusia satu. Kadang bisa manis banget, kadang jantan, tapi kadang kelihatan banget bodohnya. Apa dia punya semacam kepribadian ganda?” Gadis seolah bertanya pada dirinya sendiri. Diusapnya tangan Lula. “Mau gue cariin nomor kontak tukang santet nggak?!” bisiknya kemudian. Apa yang diucapkan Gadis barusan berhasil membuat Gadis tersenyum. “Nggak usah, Dis, makasih banyak.” Gadis kemudian tersadar ketika melihat jam di dinding kamar Lula. “Duh, Lul, sorry. Bukannya gue nggak mau nemenin lo lama-lama. Tapi gue mesti cabut ke tempat syuting nih.” Lula pun mengangguk. “Iya gih sana berangkat. Jangan sampai lo telat. Inget ini iklan pertama lo yang bayarannya lumayan dan kontraknya jelas. Jadi, jangan sia-siain kerjaan yang udah susah payah lo dapetin ini.” “Kalau yang itu lo tenang aja. Cuma gue beneran ngerasa nggak enak banget sih ninggalin lo dalam kondisi begini.” Sahabatnya itu menggeleng. “Nggak perlu ngerasa begitu. Lo udah melakukan kewajiban lo sebagai sahabat kok. Sekarang giliran lo ngelakuin kewajiban lo sebagai bintang iklan. Kan, lo udah dibayar,” sahut Lula tersenyum. “Iya, udah habis dua puluh persen malah duitnya,” seloroh Gadis mulai bangun dari duduknya. “Nah, kan?!” “Ya, udah, Lul. Sekali lagi sorry, ya, gue kudu cabut. Nanti gue kabarin lo lagi kalau udah balik okay?!” ucap Gadis sebelum pergi. “Iyaaa, udah gih sana buruan berangkat.” “Eh, gue mesti ke atas dulu ambil kostumnya. Ya, udah, Lul, gue cabut ya.” “Hati-hati, Dis,” seru Lula ketika sahabatnya itu buru-buru keluar. Sepeninggal Gadis, keheningan dalam hatinya kembali tercipta. Mengapa Bimo jadi seperti itu? Apakah sebenarnya Lula memang tidak cukup kenal dengan cowoknya itu? Apa setelah kehadiran Anindita, aslinya Bimo justru kelihatan? Ada banyak sekali pertanyaan yang kini muncul di otaknya. Namun tidak satupun dari pertanyaan-pertanyaan itu terjawab. Sebaliknya, Lula justru hanya menghabiskan waktu terdiam dan mencerna seluruh isi kepalanya. Hingga malam tiba. Lula kemudian mendengar bunyi perutnya sendiri. Rasa malas seakan mengingatnya agar tak ke mana-mana. Akhirnya Lula mencari sesuatu untuk dimakan untuk mengganjal perutnya. Sayangnya yang dia dapat temukan hanya sebatang coklat dari Bimo tadi siang. Dengan terpaksa, Lula pun membuka kertas pembungkusnya dan coba memakan coklat tersebut. Saat memakan coklat itu, Lula justru menangis. Tak tahu apakah ini hanya pikirannya saja, atau memang kenyataannya begitu. Tapi Lula merasa, coklatnya pahit. Beriringan dengan itu, Lula teringat momen-momen manis di awal hubungannya dengan Bimo yang kini hanya ada dalam kenangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN