Senin datang menyapa dan kondisi hati Lula sudah jauh lebih baik. Kebetulan hari ini juga ada kuliah pagi. Lula jadi tidak punya alasan untuk mengeluh atau memikirkan lagi hal-hal yang bisa mempengaruhi moodnya. Apa yang dia rasakan kemarin lebih baik tidak perlu terlalu meresap masuk ke dalam hatinya. Tentu saja agar dirinya jauh lebih enjoy dalam menjalani hari-harinya ke depan.
Apalagi sepertinya dia sudah tidak merasa kejengkelan yang terlalu bagaimana pada Bimo. Jadi, Lula rasa kini dirinya sudah bisa menghadapi Bimo seperti biasa lagi.
Gadis sudah datang dan sedang sibuk membaca pesan di ponselnya. Lula keluar dari kamarnya dan langsung bertanya.
“Baca apaan sih lo sampai begitu?” tanya Lula sambil mengunci pintu kamarnya.
“Pesan dari nyokap,” jawab Gadis namun masih belum mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
“Oh,” bibir Lula hanya membulat lalu menantikan sampai Gadis selesai mengetikkan balasan pesan.
Tak berapa lama sejak itu, Gadis pun selesai mengetik pesan dan mengangguk.
“Yok, berangkat!” ajak Gadis dengan semangat.
“Hayuk,” balas Lula dan segera mengambil langkah beriringan dengan Gadis di sebelahnya.
“Karena hari ini ada kuliah pagi, gimana kalau kita naik ojek aja, Dis?!” Lula mengajukan sebuah ide.
“Satu motor?!” tanya Gadis dengan nada suara tak percaya. “Alamak!”
“Ya, kagak lah. Masing-masing aja. Kan lo lagi punya duit. Gue nggak minta bayarin kok.”
Gadis segera menyeringai. “Hihi, iya iya, Lul. Mari kita ngojek aja biar segera sampai ke kampus kita tercinta.”
Lula hanya tersenyum saja dan pasrah ketika Gadis menggandeng tangannya dan bergegas ke pangkalan ojek di ujung jalan. Karena sudah kos di daerah tersebut hampir tiga tahunan, otomatis Lula dan Gadis sudah mengenal semua abang ojek yang mangkal di situ.
Jadi ketika tahu kedua gadis itu akan berangkat ke kampus, para abang gojek sudah siap sesuai dengan jatah angkut penumpang yang sudah disepakati.
“Pagi, Bang!” sapa Lula dan Gadis hampir bersamaan.
“Pagi Mbak Lula, Mbak Gadis. Mau ngojek nih?!” tanya Bang Samsul, seorang tukang ojek yang sudah cukup sering mengantar Gadis atau Lula ke kampus.
“Yo’i dong, Bang. Kita udah rapi jali begini masak mau ke pasar. Nggak sinkron dong,” jawab Gadis berseloroh.
“Karena Bang Samsul tadi udah dapet penumpang Bu Indah yang di blok 3, makanya bang Samsul nggak bisa anter Mbak Lula atau Mbak Gadis. Jadi, silakan pilih antara Bang Cikal atau Bang Ginanjar. Mereka belum dapat penumpang soalnya dari pagi.”
Bang Cikal dan Bang Ginanjar yang juga sudah ready dan siap langsung menyodorkan helm yang masih terbungkus kantong kresek ke arah Lula dan Gadis.
“Lo mau sama Abang yang mana?” tanya Gadis sebelum menerima helm yang disodorkan oleh salah satu abang ojek tersebut.
“Bang Cikal aja deh. Lo sama Bang Ginanjar ya.”
“Santai gue mah,” sahut Gadis lalu mulai menerima helm dari Bang Ginanjar dan membiarkannya untuk memajukan motornya.
“Ngampus dulu ya, Bang Samsul,” ucap Lula setelah naik ke atas motor Bang Cikal.
“Iya, Mbak Lula. Hati-hati, Kal, nyetirnya,” pesan Bang Samsul.
“Siap, Bang,” jawab Bang Samsul lalu mulai mengemudikan motornya menuju kampus Lula dan Gadis.
Gadis pun sama. Namun dia hanya melambaikan tangannya saja pada Bang Samsul yang balas melambaikan tangan seraya tersenyum.
Tidak sampai lima belas menit, Lula dan Gadis sampai di kampus mereka. Usai membayar ongkos, keduanya langsung bergegas menuju kelas.
“Kita belum telat, kan?!” ucap Lula seraya melongok jam di tangannya.
“Belum lah. Masih jam tujuh kurang… ya kurang dikit lah,” jawab Gadis yang mencoba mensejajari langkah Lula yang terlampau cepat.
“Tapi kok firasat gue nggak gitu ya. Lo tahu sendiri Pak Anwar hobi banget dateng lebih pagi dari mahasiswa dan mahasiswinya,” sergah Lula dengan nada khawatir. “Padahal gue rasa gue udah cukup pagi berangkat.”
“Tenang aja, Lul. Kita nggak telat kok,” ucap Gadis mencoba menenangkan kekhawatiran Lula. “Malah kalau lo panik begitu, gue jadi ikutan parno. Terus semesta bakal denger kita parno, terus tahu-tahu malah bikin Pak Anwar tahu-tahu udah di kelas kita lagi duduk dan baca koran.”
Langkah Lula langsung terhenti, begitu juga dengan Gadis.
“Tuh, kan! Orangnya beneran udah di kelas, lagi duduk santai sambil baca koran,” gumam Lula sambil menyikut samar ke arah Gadis. Lalu Lula mencoba tersenyum sambil mengucapkan, “Selamat pagi, Pak.”
Gadis pun mengikuti apa yang dilakukan oleh Lula barusan dengan mengucapkan salam dan berusaha tersenyum setulus mungkin.
“Silakan duduk,” ucap Pak Anwar namun pandangannya masih tertuju pada koran di tangannya.
Kedua gadis muda itu bergegas masuk ke kelas. Setelah mereka duduk di kursi masing-masing rupanya kelas memang hampir dimulai. Sebab karena tinggal kursi mereka saja yang masih kosong sejak tadi.
“Kayaknya lain kali kita kudu berangkat subuh deh,” ucap Lula sambil melirik pada Gadis di seberangnya.
“Memang nakutin banget dosen satu ini,” balas Gadis sambil menundukkan kepalanya.
“Seperti yang sudah saya bilang sama kalian bahwa siapapun mahasiswa yang terlambat datang ke kelas saya maka nilainya akan saya kurangi 20. Tidak lupa kan?! Kalau lupa barusan saya ingatkan lagi.”
Lula dan Gadis lalu kompak menundukkan kepala mereka. Artinya di kelas hari ini minimal mereka mendapatkan nilai 80. Sebab kalau dikurangi 20, masih ada 60 yang akan menyelamatkan mereka dari ujian susulan yang jauh lebih horor.
Kelas pun dimulai. Pak Anwar mulai menjelaskan materi kuliah Ekonomi Internasional yang untung saja tidak terlalu membosankan. Setelah menjelaskan beberapa materi hingga hampir tiga jam, kelas pun berakhir.
Pak Anwar sudah keluar dari kelas sejak lima menit yang lalu, namun Lula masih belum beranjak.
Gadis yang sudah siap keluar dari kelas pun bertanya. “Lo kok nggak siap-siap keluar?”
“Bingung gue,” balas Lula sambil menatap ke depan.
“Apa yang lo bingungin?!”
“Habis ini gue mau ke mana, ya?!” ucapnya masih menatap ke arah depan.
“Lo nggak mau ketemu Bimo?”
Lula menoleh ke arah Gadis. “Gue harus ketemu dia?”
“Ya, nggak harus.” Gadis menggelengkan kepala. “Cuma kan biasanya lo paling semangat kalau kelas selesai lo pasti langsung kabur ke dia.”
Nah, masalahnya Lula tidak tahu harus bicara apa jika bertemu dengan Bimo. Padahal sejak di kos tadi sudah diucapkannya pada diri sendiri bahwa dia harus bersikap biasa saja. Entah karena nilainya sudah dikurangi 20 oleh Pak Anwar atau mendadak hatinya kembali tidak enak.
Saat Lula sibuk berpikir tentang itu, tiba-tiba Gadis terpekik dan kontan membuat buyar lamunannya.
“Kenapa sih lo?!” tanya Lula menoleh pada sahabatnya.
“Kaget gue apakah matahari terbit di tenggara apa tadi malem habis ada meteor jatuh.”
Tentu saja Lula tidak memahami ke arah mana maksud ucapan Gadis. Sampai kemudian dia melihat ke arah pintu masuk kelasnya dan kontan membeku.
Bimo sedang berjalan ke arahnya sambil membawakan sebatang cokelat dan memamerkan senyum ke arah Gadis.
“Kok tumben nggak ke kelas Bimo?” tanyanya sambil menyodorkan cokelat tersebut.
Lula pun menerima cokelat yang disodorkan padanya dengan ekspresi malu-malu.
“Lagi dengerin Gadis curhat dulu,” jawab Lula sambil memberikan isyarat pada Gadis yang seketika melotot.
Dari matanya tersebut seolah mengatakan kalimat ‘Kenapa gue dibawa-bawa?’
“Curhat apa sih lo, Dis, sama cewek gue?!” tanya Bimo kemudian.
Gadis menghadap Lula yang seakan-akan mempertanyakan dia harus menjawab apa.
“Soal kasting iklan terbarunya dia, Bim.” Lula menjawab pertanyaan Bimo tersebut dan membuat Gadis tersenyum namun bibirnya masih berkomat-kamit.
“Oh, gitu. Tapi sorry nih, Dis. gue mau bawa cewek gue pergi. Eh, Ulul udah nggak ada kelas lagi kan?!” tanya cowoknya itu sambil mengusap kepala Lula.
Lula langsung bingung dengan perlakuan Bimo barusan padanya tersebut. Sebab… seakan sudah lama sekali Lula tidak merasakan kelembutan dan kehangatan dari cowoknya tersebut.
Jadi, ketika hal tersebut terjadi lagi rasanya ya… seperti mimpi.
“Hmm, nggak, sih. Hari ini cuma satu kelas,” jawab Lula agak tergeragap, gugup.
“Oke, kalau gitu kita pergi sekarang?!” tanya Bimo seraya menyodorkan tangannya yang terbuka pada Lula.
Karena tidak ingin Bimo tahu bahwa dirinya sedang gugup, Lula pun menolak uluran tangan Bimo tersebut.
“Nggak usah,” bisiknya lalu mengambil tasnya.
Namun ternyata Bimo tetap meraih tangan Lula dan langsung pamit pada Gadis.
“Duluan ya, Dis,” ucapnya lalu menggandeng Lula.
Lula sempat menoleh ke arah Gadis yang langsung tampak terpana tak berdaya pada apa yang dilakukan oleh Bimo barusan.
Sebab sebagai teman yang menjadi saksi sejak awal kebersamaan Bimo dan Lula, Gadis mungkin jadi satu-satunya saksi hidup yang menyaksikan bagaimana perubahan sikap Bimo pada Lula.
Dari yang manisnya bikin ngilu, terus jadi manis ala-ala jambu klutuk, sampai manis es teh yang gulanya numpuk semua di dasar gelas.
Tahapan rasa manis yang terasa itu sudah dilalui oleh Lula dan disaksikan secara nyata oleh Gadis. Makanya ketika ada perubahan pada tahapan manis dari sikap Bimo yang kini jadi giung itu, tentu saja membuat Lula kaget.
“Kita mau ke mana sih?” tanya Lula yang agak merasa risih karena genggaman tangan Bimo begitu erat.
Entah ini perasaannya atau memang benar terjadi, tapi Lula merasa beberapa pasang mata yang mereka lalui semua mengarah padanya dengan sorot yang bermacam-macam. Dari iri, sinis, senyam-senyum, sampai terpana seperti tatapan yang Lula lihat dari Gadis tadi.
Karena penasaran Bimo hendak membawanya ke mana, Lula pun jadi diam saja. Namun ketika memasuki satu area yang begitu dikenalnya, gadis itu pun bertanya.
“Kita mau makan?” tanyanya.
Bimo menoleh pada Lula dan menganggukkan kepala. “Iya. Bimo belum sarapan, Ulul. Laper banget. Makanya tadi nggak konsen belajarnya.”
Begitu sampai di kantin, mata Bimo berkeliling. “Ulul mau makan apa? Biar Bimo pesenin.”
Ini juga rasanya sudah lama sekali terjadi. Bimo yang menanyakan Lula hendak makan apa dan bahkan menawari untuk memesankan. Padahal biasanya juga Lula yang bertanya lalu Lula juga lah yang memesan semua menu pesanan tersebut.
“Oh, hmm, apa ya?!”
Lula bingung sendiri mau makan apa. Mungkin makan soto mie akan jadi menu yang cukup menghangatkan.
“Soto mie kayaknya enak,” ucap Lula seraya melirik pada warung soto mie yang ada di belakang punggung Bimo.
Bimo menjentikkan jarinya. “Pilihan yang sangat tepat. Bimo juga pengin itu. Ulul cari tempat buat kita, ya. Biar Bimo pesenin makan dulu,” ucapnya dengan manis.
Lula mengerutkan dahinya sesaat namun mengangguk setuju. Baru dua detik Bimo balik lagi dan menyentuh bahu Lula.
“Ulul mau minum apa? Es jeruk mau?” Gadis itu tersenyum lalu mengangguk. “Oke, Bimo pesen sekalian.”
Gadis itu memilih sebuah bangku yang tak jauh dari titik mereka berpisah tadi. Kurang dari lima belas menit, Bimo sudah datang dengan sebuah nampan di tangan yang berisi dengan menu pesanan.
Seolah belum cukup dengan bersikap manis, menggandeng tangan, dan membawakan nampan, Bimo juga kini melayani Lula dengan mengambilkan mangkuk soto mie yang dipesan dan meletakkannya di hadapan Lula. Disusul dengan gelas es jeruk yang direkomendasikan Bimo tadi.
Dahi Lula kembali mengerut. Namun tak urung dia mengucapkan rasa terimakasihnya. “Thank you, Bim,” ucapnya sambil menerima mangkuk tersebut.
Setelah meletakkan juga mangkuk miliknya, Bimo segera duduk di hadapan Lula. “Yok makan dulu, Ulul. Sumpah Bimo laper banget,” ujarnya lalu mulai menyeruput es jeruk dan dilanjutkan dengan menyendokkan soto mie ke mulutnya.
Lula masih memegang sendoknya sendiri dan belum bergerak sejak tadi. Gadis itu seolah masih memproses dengan perlakuan Bimo.
Bimo seolah menyadari kalau Lula sedang memandangnya pun kemudian mendongak dan tersenyum.
“Kok Ulul nggak makan?” tanya Bimo bingung. “Malah lihatin Bimo terus.”
Lula menyandarkan punggungnya ke kursi lalu melipat kedua tangannya. “Mencurigakan,” ucapnya sambil menyipitkan matanya.
“Apanya?” Bimo tampak masih tak mengerti.
“Sikap Bimo,” jawab Lula pendek. “Memang Bimo nggak ngerasa kalau Bimo aneh?”
Bimo langsung menggeleng. “Nggak. Kayaknya Bimo juga dulu gini kan ke Ulul?!”
Lula mengangguk. “Iya, sih. Cuma itu udah lama banget.” Gadis itu mengangguk-angguk. “Makanya sekarang Ulul kaget dan bingung. Apa Bimo bikin salah?”
Cowok di hadapan Lula tersebut tersenyum lalu segera meminum air jeruknya sendiri. Diambilnya tangan Lula dan digenggamnya.
“Nggak perlu ada yang Ulul khawatirin. Bimo memang kepengin bikin Ulul ngerasa dicintai seperti yang sudah-sudah.”
“Tiba-tiba?” Lula seolah masih ingin mencari tahu lebih dalam.
“Nggak tiba-tiba ah. Memang seharusnya Bimo kayak gini ke Ulul dari kemarin-kemarin. Maafin Bimo, ya.”
Lula pun tersenyum rikuh lalu mengangguk. “Ya, udah, dimakan soto mie nya.”
Bimo tersenyum dan mengangguk. “Ulul juga dong makan soto mie nya.”
Mendadak perut Lula pun lapar dan tak sabar lagi untuk menikmati soto mie yang dibawakan Bimo tadi untuknya.