Sepulang dari makan bubur bersama Gadis, Lula masih merasakan sensasi aneh dalam hatinya. Bagaimana mungkin ini harus terjadi padanya pagi ini. Padahal sejak semalam mengobrol bersama Papa, kemudian di pagi hari dirinya melihat sinar mentari, Lula sudah mengafirmasi dirinya sendiri bahwa hari ini akan berjalan dengan lancar dan penuh suka cita.
Tapi sepertinya pertemuannya dengan anak lelaki bernama Raka tadi memang tak bisa dihindari. Semesta sudah mengaturnya untuk berjumpa dengan Raka dan mendengar sendiri kisah anak lelaki itu. Mungkin memang sudah jadi bagian dari rencana semesta.
Akhir pekan Lula yang sempat direncanakan indah justru berlalu dengan perasaan yang lumayan campur aduk. Semuanya seakan masih estafet dari peristiwa yang terjadi di hari Sabtu malam, dan dilanjutkan pada hari Minggu ini yang lumayan mendung dan bikin sulit bangkit.
Pertemuan tak terduganya dengan anak lelaki bernama Raka yang mungkin belum lama kehilangan sang Mama mengingatkannya lagi pada perasaan saat pertama kali ditinggalkan oleh Mama nya dulu.
Terasa kosong dan hampa. Padahal Gadis sudah berusaha keras untuk menghibur Lula. Mulai dari memberinya tebak-tebakan (yang sayangnya bisa ditebak Lula semua meski dengan wajah datar), sampai mengisahkannya tentang aib-aibnya semasa sekolah tingkat pertama dulu. Tapi Lula bergeming.
Gadis pun memahami bahwa bukan lawakannya yang salah. Hati dan perasaan Lula lah yang memang tidak bisa menerima bahan candaan apapun sekarang. Dan itu tidak apa-apa.
Ini sudah pukul 2 siang semenjak terakhir mereka makan bubur bersama. Gadis merasa bahwa ini sudah saatnya mereka untuk mengisi lagi energi dengan makan sesuatu. Tapi dengan ekspresi seperti itu dan air muka yang sendu, berat rasanya untuk Gadis bersuara.
“Tapi kalau kagak makan kasihan juga dia,” gumam Gadis dari balik jendela kamar Lula.
Karena terlalu mengkhawatirkan keadaan Lula, Gadis pun mengetuk pintu kamar sahabatnya yang masih termangu di depan layar notebooknya.
Tok! Tok! Tok!
Lula menoleh dan tersenyum kecil saat melihat Gadis melongokkan kepalanya di jendela.
“Sini, Dis, masuk!” ajak Lula pada sahabatnya tersebut. Dia pun memutar posisi duduknya dan menghadap ke arah kasur.
Gadis langsung menurunkan handle pintu dan menuruti apa yang diucapkan Lula padanya. Dia segera duduk di tepi ranjang Lula.
“Lo lagi ngapain?” tanya Gadis dengan ramah.
“Hmm?” Lula lalu menoleh ke arah belakang meja belajarnya. “Tadinya gue mau nulis jurnal. Cuma tiba-tiba gue nggak tahu mau ngomong apa,” jawabnya sambil mengangkat kedua bahu bersamaan.
Gadis tersenyum. “Makan siang, yuk!” ajaknya tanpa basa basi. “Lo nggak laper apa? Terakhir kita makan, kan, pas pagi doang itu.”
Sejujurnya Lula tidak ingin makan apapun. Tapi dia tahu, Gadis akan sangat khawatir padanya jika dia menolak atau memberikan alasan enggan makan. Alhasil, Lula pun mengiyakan.
“Mau makan di mana?!” tanyanya kemudian.
Bukannya menjawab pertanyaan Lula terkait lokasi makan mereka, Gadis malah bertanya soal Bimo. “Lo nggak diajak ketemuan sama cowok lo?”
Lula kemudian menggelengkan kepalanya. “Nggak. Kan, hari minggu hari buat keluarganya. Jadi, dia nggak memang nggak pernah ngajakin gue pergi kalau hari minggu.”
“Oh, ya udah kalau gitu kita ke Detos aja gimana?” Gadis mengajukan ide.
Detos atau Depok Town Square merupakan salah satu pusat perbelanjaan andalan warga Depok. Sebab selain lokasi mall tersebut sangat dekat, Detos juga menjadi favorit anak-anak kampus mereka karena harga yang ditawarkan banyak outlet di sana cukup terjangkau.
Sayangnya, Lula sedang ingin menghirup udara yang lebih jauh dari tempatnya saat ini.
“Kalau misal kita ke Gancit aja gimana, Dis?” tanya Lula. “Kayaknya di sana lagi ada bazar buku gitu, sih. Lo setuju nggak?!”
“Hmm, boleh juga. Oke kalau gitu kita ke Gancit aja.” Gadis menyetujui apa yang disarankan Lula. “Berhubung gue lagi punya duit, berangkatnya kita naik taksi aja. Tapi ntar pulangnya tetep pake bus kota. Gimana?” ujar cewek itu sambil menyeringai.
“Nggak usah lah, langsung naik bus kota aja, Dis. Biar hemat.” Lula langsung menolak usulan Gadis. “Lagian lo giliran lagi punya duit gatel banget langsung pengin hidup hedon. Disimpan lah duitnya, ditabung kek. Suatu saat lo bakalan butuh kok,” ucapnya mengingatkan.
“Hihi, iya deh.” Gadis pun setuju. “Gue ganti baju dulu kalau gitu, ya,” ujarnya seraya bangun dari tepi tempat tidur Lula dan bergegas keluar.
“Iya gue juga,” balas Lula yang juga bangkit dari kursinya.
Sambil menunggu bersiap, Lula baru sadar bahwa dia belum mengecek ponselnya sama sekali. Apakah Bimo membalas pesannya atau belum.
Lula pun mengecek ponselnya dan mendapati dua pesan. Semuanya dari Bimo.
Bimo
Ulul, Bimo hari ini agak sibuk, ya. Soalnya
nemenin Mama belanja. Banyak banget nih
yang dibeli. Nanti Bimo kabarin lagi.
Bimo
Ulul sayang nanti kabarin ya kalau ada apa-apa.
Bimo usahain bales. Ulul pergi jalan aja gih
sana sama Gadis. Mumpung wiken.
Bimo
Oh, ya, besok kemungkinan Bimo gak bisa jemput
ngampus. Soalnya subuhnya mau nganter Mama
lagi ke pasar. Ulul berangkat sama Gadis dulu pake
ojek gapapa, ya.
Lula pun segera membalas pesan Bimo tersebut.
Lula
Iya, gapapa. Ditemenin dulu aja ya mamanya.
Ulul kayaknya mau pergi makan juga kok sama
Gadis. Soal ngampus, itu gampang. Nanti Ulul
berangkat pake ojek sama Gadis.
Kabarin Ulul juga okay?!
Mengetahui bahwa Bimo sepertinya akan sibuk untuk sekadar berbalas pesan dengannya membuat Lula merasa lega. Bukan apa-apa. Karena kini suasana hatinya pun sedang tidak baik, jadi alangkah baiknya jika Lula memperbaiki dahulu warna hatinya tersebut.
Setengah jam berikutnya, Lula dan Gadis sudah bersiap untuk ke Gandaria City. Seperti yang sudah disepakati tadi, mereka pun akhirnya naik metro mini. Sambil mengobrol dan membicarakan hal yang benar-benar kosong, Lula merasa perlahan hatinya membaik. Bicara dengan seseorang memang cukup ampuh untuk membantu membalur sedikit kegusaran, keheningan, dan rasa hampa yang tadi melanda.
Kini rasanya Lula sudah lebih baik dan barulah dia menyadari bahwa perutnya mulai lapar.
“Eh, Dis. Nanti kita makan nasi, ya. Laper gue,” ujar Lula sambil memegang perutnya.
Gadis memejamkan matanya dan mengangguk maklum. “Baik, Fans. Gue juga soalnya. Malah tadi gue mau ngajakin lo makan rawon jawa aja. Kan, nasinya banyak tuh.”
Lula kontan menggeleng. “Ya, jangan yang banyak-banyak banget juga,” sergah Lula. “Yang sewajarnya, tapi wujudnya tetep nasi gitu. Jangan mi-mian, atau kayak waktu lo lo ngajakin ke restoran apa? Yang ribet banget makannya sama aneh luar biasa?”
Kontan Gadis melipat bibirnya ke dalam, tak berani menjawab pertanyaan. Sebab dia tidak ingin menambah kenangan buruk Lula akan deritanya waktu itu.
“Masuk situ bukannya kenyang malah cacingan,” keluh Lula sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Yah, Lul, namanya juga kan nyoba,” kilah Gadis seraya menyeringai.
“Tapi lain kali kalau mau coba tuh minimal cari tahu dulu gitu, di restoran itu jualnya apa. Pilihan menunya itu kontinental apa oriental.” Lula sepertinya masih menyisakan rasa jengkel karena ajakan Gadis makan di sebuah restoran yang entah mengusung konsep apa. “Ini kontinental bukan, oriental apalagi. Itu masakan buat bangsa Namek gue rasa.”
Gadis pun tak sanggup untuk menahan tawa atas protes dan kejengkelan yang Lula ekspresikan kali ini. Dia pun hanya bisa terkikik geli.
“Jangan sekali-kali lagi lo berani ngajak gue makan asep sama ikan seiris tapi harganya nyampe setengah harga kosan kita. Gue jadiin isian martabak telor lo kalau begitu lagi. Serius gue!” ancam Lula dengan sungguh-sungguh.
Karena tak ingin mengambil risiko, Gadis pun mengangguk dengan penuh keseriusan.
“Iya, Ulul, gue nggak akan ngajak lo makan di restoran yang aneh lagi,” ucapnya dengan masih mencoba menahan tawa.
Setelah berganti metromini satu kali lagi, akhirnya Lula dan Gadis sampai juga di Gancit.
“Eh, Dis, kita ke toilet dulu, ya. Rambut gue lepek banget nih kalau baru turun dari metromini,” ucap Lula sambil menyentuh ujung rambutnya.
“Iya, Ndoro. Kan, agendanya juga biasanya gitu kalau kita pergi ke mall. Pasti ke toilet dulu.” Gadis sudah cukup hafal dengan kebiasaan sahabatnya. “Selain benerin tatanan rambut, lo juga pasti mau semprotin lagi minyak wangi, kan?!”
“Yo’i, kan kalau semriwing wangi parfum jelas lebih bikin percaya diri ketimbang bau metromini.”
Keduanya pun tertawa bersamaan sambil tetap berjalan menuju pintu masuk mall tersebut.
Seperti yang diagendakan sebelumnya, bahwa Lula dan Gadis akan ke toilet dahulu sebelum menuju tujuan utama mereka yakni makan. Sesampainya di toilet, Lula lebih dulu masuk ke salah satu bilik yang kosong.
“Titip bentar ya, Dis, gue pengin pipis sekalian,” ucapnya sambil meletakkan tas di dekat wastafel.
Gadis mengiyakan. “Gih, nanti gantian,” ucapnya sambil mendekati letak tas yang diletakkan oleh Lula.
Saat sedang menunggu Lula selesai, seorang gadis masuk ke toilet dan memperhatikan bilik yang kosong.
“Ini kosong, Kak,” ucap Gadis memberitahu pada gadis yang baru saja masuk tersebut.
Gadis tersebut tersenyum. “Makasih, ya.” Dia kemudian masuk ke dalam bilik tersebut. Tak sampai semenit, gadis itu sudah keluar lagi.
Dengan ekor matanya, Gadis terus memperhatikan perempuan ini. Gadis tidak jarang bertemu artis atau pemain film yang parasnya tentu saja di atas rata-rata. Tapi perempuan ini rasanya jauh lebih cantik dari beberapa pemain sinetron atau film yang pernah ditemuinya.
Usai mencuci tangannya, perempuan itu menganggukkan kepalanya ke arah Gadis dan segera pergi keluar.
Setelah perempuan itu keluar, Lula pun baru selesai dan membuka pintu biliknya.
Gadis tentu saja langsung heboh. “Eh lo gila sih, Dis, baru keluar sekarang. Tadi ada cewek cakep banget ampun. Apa dia bintang iklan juga kayak gue? Bintang sinetron? Film? Apa memang blasteran aja? Tapi gue sebagai cewek aja takjub lho sama kecantikan dia. Apalagi cowok, kan?!”
Lula tampak tidak mengerti dengan maksud Gadis. “Memangnya siapa sih yang barusan dari toilet? Lo heboh banget gini.”
“Itu dia gue kagak tahu, Dis. Tapi sumpah gue ampe merinding. Kok bisa ya ada cewek secakep itu?” Gadis masih tak dapat menyembunyikan kekagumannya.
“Lo yakin itu orang?” mata Lula menyipit curiga. “Makhluk halus kali. Buktinya lo sampai merinding.”
“Ih, maksudnya bukan merinding karena hantu, Ulul. Ah, lo mah kagak ngarti.” Gadis jadi jengkel sendiri.
Lula hanya menyeringai geli. “Udah gih sana gantian. Gue tungguin,” ucap Lula sambil membasuh tangannya di wastafel.
“Ya, udah. Tungguin bentar,” sahut Gadis masih dengan ekspresi sedikit jengkel karena Lula seolah tak mempercayainya.
Sahabatnya itu hanya menggelengkan kepala lalu mengambil ponselnya dari tas. Siapa tahu ada message. Sayangnya tak ada. Lula pun memasukkan lagi benda tersebut ke dalam tas. Tak berapa lama Gadis selesai dan segera menuju wastafel.
“Eh, Dis, besok kita ngojek ya berangkatnya.”
“Lho? Lo kagak dijemput Bimo? Bukannya rules nya gitu, ya?!” tanya Gadis yang sudah selesai membasuh tangan dan sedang mengeringkan tangannya.
“Iya, cuma katanya besok subuh dia mau ke pasar lagi nemenin nyokapnya. Jadi nggak bisa jemput gue.”
“Gue sih santai. Berangkat pake ojek apa jalan kaki juga boleh,” sahut Gadis.
“Jangan jalan. Besok kan kita ada kuliah pagi. Gue nggak mau nilai gue berkurang cuma karena telat, ya,” ucap Lula sungguh-sungguh.
“Iya deh, atur aja. Biasanya juga gue bangun pagi.” Gadis mencoba menyombongkan diri.
“Amaca?!” Lula menggoda tak percaya.
“Lo kebanyakan nggak percayanya sama gue kenapa sih, Lul?!” sergah Gadis manyun lalu mendahului Lula keluar dari toilet.
“Hihi, habisnya lo lucu. Eh, Dis, tungguin gue dong.”
Lula berusaha menyusul Gadis yang sudah lebih dahulu keluar dari rest room.