Meski belum mandi, tapi selama dirinya sudah cuci muka dan gosok gigi, maka Lula bisa pergi ke mana saja, termasuk sarapan. Jadi, setelah sepakat untuk makan bubur Pak Salman yang lokasinya tak begitu jauh dari kos dan kampus mereka, Lula dan Gadis berjalan kaki menuju warung bubur tersebut.
“Semoga kita nggak kesiangan ya, Lul,” ucap Gadis sambil menggandeng tangan Lula.
“Hah?!” Lula menoleh bingung. “Ini masih pagi kali, Dis.”
Gadis menggeleng. “Lo jangan terlalu meremehkan buburnya Pak Salman, Lul,” ucapnya dengan nada memperingatkan. “Kita meleng dikit aja, sate usus, sate ati, sate ampela sama sate kentangnya udah abis diborong orang. Dan semua sate itu enak banget kalau dimakan sama buburnya,” sambung Gadis sungguh-sungguh.
Sebenarnya Lula sudah pernah makan bubur Pak Salma ini dan merasa ya selayaknya bubur. Cuma Lula juga agak sedikit penasaran saja kenapa begitu banyak orang yang mendewakan bubur ayam tersebut. Tapi dalam kondisi lapar dan setelah mendengar promosi yang cukup meyakinkan dari Gadis barusan, Lula pun hanya ingin menikmati saja.
Bukan semata karena bubur yang nanti dimakannya itu gratis. Tapi lebih pada mensyukuri rezeki dan nikmat yang diberikan Tuhan padanya pagi ini. Pokoknya Lula tidak ingin berekspektasi apa-apa dan hanya ingin menikmati semuanya.
Tidak berapa lama mereka berjalan, ternyata apa yang diucapkan Gadis benar saja. Orang-orang yang tengah mengantre di warung bubur Pak Salman sudah banyak. Meski didominasi anak-anak muda, tapi Lula masih bisa menemukan beberapa pembeli lain di sana. Misalnya saja mas dan mbak pekerja, ibu rumah tangga yang membawa serta anaknya, seorang suami yang menggenggam tangan sang istri dan tak berhenti mengelus-elus perutnya yang membesar, dan banyak lagi.
“Tuh, kan! Kita bener kesiangan,” keluh Gadis sambil menyeret tangan Lula agar mempercepat langkahnya.
“Iya, tapi kita masih bisa dapet buburnya kan, Dis?!” sahut Lula seolah tak ingin membuat minat makan buburnya jadi buyar cuma gara-gara sate-satean yang diincar Gadis kehabisan.
Gadis tidak menggubris dan tetap menyeret tangan Lula. Begitu mereka tiba di depan gerobak pak Salman, Gadis langsung hendak memesan. Namun Lula menahan.
“Ngantre dulu, Dis,” ucapnya sambil melirik kanan kiri pada orang yang menatap ke arah mereka dengan pandangan datar.
“Nggak perlu, tinggal pesen aja. Nanti mereka bakal langsung layanin kok. Lo udah sana cari tempat aja. Biar gue yang pesen bubur sama minumnya. Bubur lo mau komplet? Minumnya apa?”
“Buburnya nggak pakai kacang terus minumnya air putih anget aja,” jawab Lula lalu segera menuruti perintah Gadis untuk mencari tempat.
Lula kemudian memilih sebuah kursi yang tak begitu jauh dari letak gerobak buburnya. Di sana sudah ada seorang ayah yang tengah menyuapi anak laki-lakinya.
Sambil menyeret kursi plastik yang ada di sana, Lula sempat melirik Gadis yang tampaknya sudah berhasil memesan bubur. Tanpa sadar Lula tersenyum.
Tiba-tiba dia merasakan seseorang menyentuh tangannya. Lula sempat kaget dan segera menoleh. Ternyata anak laki-laki yang sempat dilihatnya tengah disuapi oleh ayahnya itu mendekatinya.
Lula pun tersenyum dan bertanya. “Kenapa, Dik?”
“Kakak mau nggak jadi Mamaku?” tanya anak laki-laki itu dengan wajah polosnya.
Mulut Lula seketika menganga dan wajahnya sangat shock dengan pertanyaan tersebut.
“Hah?”
Anak lelaki itu masih menyetel wajah polos sekaligus sendu yang membuat Lula kebingungan sendiri mau menjawab bagaimana. Untunglah sebelum Lula memutuskan untuk kabur karena tidak tahu mau menjawab apa, ayah sang anak tadi datang dan langsung meminta maaf.
“Aduh, maaf ya, Kak. Tolong jangan diambil hati apa yang diucapin sama anak saya tadi,” ucap ayah anak lelaki itu.
Lula langsung menggelengkan kepala. “Iya, nggak apa, kok. Meskipun rada kaget, tapi saya nggak apa-apa kok,” ucapnya sambil menganggukkan kepalanya.
“Tuh, kan?! Kakaknya nggak apa-apa,” sahut anak kecil itu sambil menoleh pada ayahnya. “Kalau nggak apa-apa berarti kakak mau jadi mama aku?”
Mulut Lula ternganga lagi dan ayah sang anak langsung berjongkok dan menutup mulutnya dengan telunjuk.
“Raka nggak boleh begitu lagi, ya. Nggak sopan. Yuk, kita pulang aja, yuk!” ajak sang ayah tersebut. “Bubur Raka juga sudah habis kan. Jadi sudah waktunya kita minum obat.”
“Tapi kakaknya tadi bilang nggak apa-apa, Pah. Berarti kakaknya mau jadi Mama nya Raka,” ucap sang anak dengan suara seperti menahan tangis.
“Raka, yuk, pulang! Kita harus minum obat kan, Nak,” ucap Ayahnya seolah tak mengindahkan ucapan anak lelaki itu dan segera menggendongnya.
Setelah menggendong anaknya tersebut, bapak-bapak yang tampak baru berusia sekitar tiga puluh tahunan tersebut bicara lagi pada Lula.
“Maaf ya, Kak, atas apa yang anak saya lakukan tadi. Tolong jangan diambil hati,” ucapnya lagi.
Lula hanya menganggukkan kepalanya dan tak sanggup bicara lagi. Entah apa yang terjadi pada anak kecil nan malang tadi, pasti bukan sesuatu yang baik-baik saja. Tatapannya tampak sendu sekaligus kosong. Dan permintaannya barusan pasti bukan sesuatu yang biasa saja.
Ketika ayah dan anak lelaki itu menjauh, Lula merasakan seperti ada bagian dari dirinya yang kosong. Perasaan yang dulu pernah dia kenal saat kepergian Mama nya seolah kembali terasa.
Saat Lula masih termenung membayangkan anak lelaki tadi dan perasaannya, Gadis datang membawa nampan berisi dua bubur dan dua gelas minum.
“Sorry, Lul, lama dikit. Soalnya tadi gue ke dalem sengaja cari piring sate yang masih komplet. Untungnya ada,” cerocos Gadis sambil sibuk menyodorkan mangkuk bubur serta gelas minum ke arah Lula. “Pokoknya lo mesti cobain deh ini bubur Pak Salman kalau ditambah sate bakal tambah sip,” ucap Gadis lagi dengan semangat.
Lula pun tersadar dan segera menerima mangkuk yang disodorkan Gadis padanya.
“Thank you, Dis,” ucap Lula lalu mulai mengambil sendok dan mengaduk bubur miliknya.
Gadis menyodorkan piring berisi sate-sate yang sudah sengaja dipilihnya. “Nih, buruan ambil satenya. Ini demi lho nih gue nyari sate yang masih lengkap ampe ke dalem-dalem.”
Lula tersenyum tipis lalu segera menyendok buburnya dan memakan serta sate ampela yang disodorkan Gadis tadi. “Hmm, enak.”
“That’s it?” tanya sahabatnya itu seolah tak percaya. Gadis pun segera menyendok buburnya sendiri dan memakan juga sate ususnya. Setelah menghabiskan satu suapan di mulutnya, Gadis pun bicara lagi. “Lul, ini tuh enak banget nggak ketulungan,” sambungnya sambil menunjukkan ekspresi seperti apa yang sudah dia katakan.
“Iya, emang enak,” ucap Lula lalu tersenyum namun dia tak bisa menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.
Barulah Gadis tersadar bahwa Lula bukannya tidak bisa menikmati perpaduan antara bubur ayam dan sate yang dipromosikannya sejak tadi. Tapi sedang ada sebuah perasaan lain yang sedang dirasakannya saat ini.
“Lo baik-baik aja?” tanya Gadis akhirnya dengan suara yang sudah tidak seriang tadi. “Habis ini kita cerita ya?!”
Lula hanya menganggukan kepalanya lalu masih berusaha tersenyum meskipun kedua matanya masih berkaca-kaca.
*
Kejadiannya terlalu begitu cepat. Lula sampai tidak menyadari bahwa kini Mama nya sudah tidak bisa lagi membuatkannya sarapan atau mencium keningnya saat hendak tidur.
Lula merasa dia yang paling menderita dan patah hati sejak kepergian Mama. Nyatanya tidak. Ada seorang lagi yang ternyata jauh lebih menderita dan tersiksa setelah Mama tiada. Dan, itu kali pertama Lula merasa hatinya begitu sakit saat melihat Papa nya menahan perasaannya sekuat tenaga.
Apa yang selama ini ditunjukkan oleh Papa nya ternyata tidak sepenuhnya benar. Papa selalu tampak baik-baik saja atau tanpa beban semata karena tidak ingin membuat Lula khawatir. Namun ketika Mama sudah tidak bangun lagi dari tidur, tampaknya Papa sudah tak bisa lagi membendung segala kesedihan yang dia rasakan.
Papa pasti sudah tahu lebih dulu kalau Mama akan pergi. Tak terbayang oleh Lula saat Papa tahu dia harus mengucapkan selamat tinggal lebih awal. Pasti sangat berat untuk Papa lakukan, mengingat dia pun harus tampil tegar dan baik-baik saja di hadapan semuanya. Terutama Lula.
Semenjak melihat tangis dan derita Papa waktu itu, Lula pun bertekad untuk menjalani hidup seperti biasa. Dia tak ingin menunjukkan rasa sedih, marah, atau kecewa atas keputusan Tuhan mengambil Mama nya. Dia tidak ingin Papa semakin sedih dan menyalahkan dirinya seperti yang saat ini dia lihat. Neraka sekali rasanya.
Hari-hari semenjak Mama pergi tentu saja rumah sangat sepi. Papa pun menghabiskan sepanjang hari di dalam kamar dan berdiam diri. Lula pun mulai belajar melakukan berbagai macam pekerjaan rumah sendiri.
Karena memang sudah waktunya makan malam, Lula pun mencoba menyalakan kompor untuk menggoreng telur. Kata Mama, memasak merupakan ilmu dasar yang wajib dikuasai semua manusia untuk bertahan hidup. Makanya sejak enam bulan lalu, tanpa Papa tahu, Mama sudah mengajarkan Lula bagaimana caranya menanak nasi, secara manual atau otomatis dengan penanak.
Bukan hanya memasak nasi. Mama juga mengajarkan Lula bagaimana cara menggoreng telur, memasak mie goreng, menumis kangkung, dan beberapa menu masakan sederhana lainnya.
“Papa tuh nggak pernah rewel sama makanan, La. Makanya Mama bisa masakin Papa kamu apa aja. Sebab makanan apa aja pasti habis,” ucap Mama di satu malam, saat Papa belum pulang dari toko, dan mereka sedang menyiapkan makanan bersama.
“Tapi Papa beneran nggak punya makanan kesukaan, Ma?!” tanya Lula sambil belajar mengupas bawang merah. Kali ini Lula sudah tidak menangis lagi saat melakukannya. Sebab Mama nya sudah memberikan trik supaya mata Lula tidak pedas saat mengupas bawang.
“Hmm, kalau dipikir-pikir sih, pasti ada. Cuma mungkin Mama nggak sadar aja, ya.”
Lula terus mengingat percakapannya dengan sang Mama malam itu. Sampai kemudian beberapa hari setelah itu, Lula pun bertanya pada Papa nya.
“Pah, masakan kesukaan Papa apa?”
Papa yang sedang mengelap mobil tua nya tampak berpikir sebentar lalu menjawab. “Masakan Mama kamu.”
“Itu Lula udah tahu,” sergah Lula. “Tapi yang mana?!” desaknya.
Papa tersenyum kemudian menjawab. “Semua yang dimasak sama Mama kamu adalah kesukaan Papa,” jawab Papa.
Lula mungkin tidak akan pernah lupa ekspresi yang saat itu dia lihat dari Papa. Sebuah ekspresi penuh cinta yang begitu tulus dan dalam. Lula merasa ekspresi yang saat ini dia lihat, mirip dengan ekspresi Mama saat menceritakan Papa. Entah tentang kebiasaannya, atau masa lalu sebelum mereka menikah dan hadirnya Lula.
“Yah, berarti kalau Lula masakin buat Papa, Papa nggak bakal makan dong?!” gadis itu langsung cemberut.
Papa kemudian mendekati Lula dan berlutut di hadapan putrinya tersebut. “Masakan Lula nanti juga bakal jadi favoritnya Papa. Selamanya.”
Lula tersenyum bahagia dan mengangguk.
Berbekal ingatan dari ucapan Papa waktu itu lah yang kemudian membuat Lula berangkat ke dapur dan mulai memasak untuk Papa nya. Perayaan seratus hari Mama nya sudah diadakan sejak dua hari lalu. Mungkin ini sudah waktunya Papa keluar dari kamarnya dan menghadapi rasa sakit dan kehilangan itu bersama dirinya.
Di kulkas tidak ada bahan masakan lain. Hanya tersisa telur, wortel, milk, kentang, dan tahu. Lula pun kemudian membuatkan dadar telur tahu yang diisi dengan potongan kentang berbentuk dadu.
Entah dari mana datangnya inspirasi itu. Tapi untuk kategori masakan gadis berusia sembilan tahun, masakan itu harusnya tidak terlalu banyak diprotes.
Lula lalu mengecek nasi nya yang sudah matang di penanak. Diambilnya dua centong nasi di atas piring untuk Papa nya. Dan satu centong untuk piringnya sendiri.
Tak lupa Lula pun menambahkan bawang goreng di atas nasi Papa nya. Lula ingat Mama sangat sering melakukannya dulu.
Setelah meletakkan semuanya di atas nampan, Lula hendak mengangkatnya namun ternyata berat. Alhasil Lula pun mengambil piringnya sendiri dan jatah telur dadarnya. Dia hanya meninggalkan piring berisi nasi dan telur dadar bagian Papa nya di atas nampan. Benar saja, kini Lula bisa mengangkatnya dengan lebih mudah.
Lula meletakkan nampan tersebut di depan pintu kemudian mengetuk kamar Papa nya.
“Papa ayo makan!” ucapnya. Lula mencoba menurunkan handel pintu kamar Papa nya tapi ternyata terkunci.
Lula membiarkan dan meninggalkan nampan tersebut. Dia kembali ke dapur. Setelah mengisi air di gelas, Lula menuju meja makan dan mulai menyantap masakannya sendiri.
Tentu saja rasanya tidak sempurna. Tapi Lulu merasa bangga. “Makasih, Mah. Udah ajarin Lula masak,” bisiknya dengan suara bergetar. Dia melanjutkan memakan masakannya tersebut sampai habis.