Usai bermain tebak-tebakan bersama Papanya, suasana hati Lula sudah jauh lebih baik. Bahkan lebih baik daripada yang dia bayangkan. Rasanya seperti lebih ringan dan lebih santai. Rasa yang dia ingat saat berdekatan dengan Papa atau sebelum bertemu Bimo di stasiun dan mengajaknya untuk bertemu dengan Anindita.
Karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul 12, Lula pun mengakhiri telepon bersama Papa. Papa sudah mewanti-wanti kalau teleponan mereka harus segera berakhir sebelum pukul 24 malam.
“Memangnya kenapa, Pah?” tanya Lula penasaran.
Dengan enteng Papa menjawab. “Nanti takut identitas asli Papa ketahuan sama Pangeran kalau nggak cepet-cepet pulang.”
Tentu saja tawa Lula langsung tergelak sampai dia harus segera menutup mulutnya. “Papa apaan sih? Papa kan bukan Cinderella,” sahut Lula gel sendiri.
“Lho? Memangnya Papa belum bilang ya identitas Papa yang sebenarnya?!” nada bicara Papa langsung prihatin seolah menyayangkan fakta tersebut.
“Auk ah, Pah, auk.”
Lula sudah tidak mau menanggapi lagi candaan Papanya tersebut karena bakal panjang dan pasti bisa sampai subuh jika terus diladeni. Oleh sebab itu Lula harus segera mengakhiri pembicaraan tersebut.
“Ya, udah, Pah. Biar Pangeran nggak tahu identitas asli Papa, kita udahan dulu ya, teleponannya,” ucapnya. “Papa jaga kesehatan. Jangan keseringan begadang, ya!”
“Ya, kalau lagi nggak ada bola tanding mah buat apa atuh Papah begadang juga. Cuma bikin jam tidur Papa berkurang aja,” balas Papa. “Kamu juga yang sehat nya, bageur. Jangan telat makan ya mau sibuk belajar kayak apa juga. Kalau makannya bener mah badan juga bakal sehat. Kalau badan sehat, kamu bisa beraktivitas lebih semangat dan nggak gampang sakit juga.”
Meskipun kalimat yang barusan diucapkan oleh Papanya ini sudah hampir ratusan kali dia dengar sejak dia merantau kuliah ke Jakarta, namun tetap saja membuat Lula merasa aman dan damai.
Sebab itu bukan hanya sekadar retorika kata-kata semata yang diucapkan orang tua pada anak perempuannya. Kata dan kalimat yang diucapkan orang tua pada anak mereka adalah bagian dari harapan dan doa. Dalam kata-kata yang terdengar santai dan biasa itu mengandung banyak kekhawatiran serta ketidakrelaan karena telah melepas mereka sendiri pada dunia.
Namun, tentu saja ada harap dan asa bahwa kelak suatu saat mereka bisa menjadi sesuatu seperti yang mereka inginkan. Dan untuk menjadikannya nyata kita harus mengorbankan sebagian dari keberadaan, waktu, perasaan, dan tenaga agar pribadi tersebut dapat terbentuk semakin kuat.
Lula yakin Papa nya tidak pernah berhenti dan lelah mendoakan dan menitipkan keselamatannya pada semesta. Oleh sebab itu, Lula tidak ingin mengecewakan Papa. Entah sekarang atau nanti. Dia ingin membuat Papa nya tersenyum bangga.
“Iya, Pah, Lula ngerti. Lula bakal jaga makan sama istirahat yang bener juga. Biar badan jadi nggak gampang sakit dan Lula bisa tetap beraktivitas seperti biasa,” sahut Lula agar Papa menjadi tenang.
“Nah, hade lah poko’ na mah. Ya, udah, atuh. Ditutup dulu nya teleponannya.”
“Iya, Pah. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” balas Papa.
Sambungan telepon pun terputus.
Beruntung karena malam itu Lula memutuskan untuk menelepon dan bicara dengan Papa. Sebab berkat percakapan itu suasana hatinya membaik dan Lula pun bisa tidur dengan nyenyak. Bahkan tanpa bermimpi. Lula benar-benar jatuh tertidur dalam dan bangun dengan suasana hati serta tubuh yang lebih segar.
Lula masih mengumpulkan nyawanya sebentar sambil menatap langit-langit kamarnya. Sambil berusaha bangun Lula mengucek matanya sekali lalu melihat jam di dinding. Baru pukul 7.
“Kayaknya gue bangun kecepetan deh,” gumamnya parau.
Gadis itu lalu bangun dari kasur dan menuju mejanya untuk menuangkan air putih. Ini merupakan salah satu kebiasaan yang ditanamkan oleh Papa dan Mama nya. Bahwa setelah bangun tidur, kita wajib minum segelas air putih.
Sewaktu Lula kecil, dia masih tidak begitu paham hal tersebut untuk apa. Dia kira itu hanya semacam peraturan rumah saja yang harus dia dengar dan patuhi. Namun semakin tumbuh dewasa, Lula pun menyadari ada banyak manfaat meminum segelas air putih di pagi hari saat baru bangun dari tidur.
Saat Lula selesai menuang air dan meminum segelas hingga habis, dia baru menyadari bahwa dia tidak mendengar tanda-tanda kehidupan ponselnya. Lula segera meletakkan gelas dan segera mencari letak ponselnya tersebut.
Lula mencari di atas kasur tapi tidak ketemu. Namun saat Lula mengangkat salah satu bantalnya, rupanya hapenya ada di sana.
“Diem aja lu, gue cari juga,” sahutnya pada ponselnya. Seolah benda persegi panjang itu dapat memahami kata-katanya.
Setelah dia pegang, barulah Lula menyadari bahwa ponselnya dalam keadaan nonaktif.
“Yah, habis baterai. Eh, semalam habis dipake teleponan dink, ya. Gue yang lupa nge-charge.”
Segera dibawa ponselnya tersebut menuju meja untuk diisi daya. Karena sepertinya baterai hapenya itu benar-benar habis, maka Lula pun sengaja tidak langsung menyalakan kembali.
Sambil menunggu dayanya terisi separuh, Lula pun segera pergi ke kamar mandi untuk memenuhi panggilan alam.
Sepuluh menit kemudian dia keluar dari kamar mandi dan mengurungkan niatnya untuk sekalian mandi. Airnya masih sangat dingin. Jadi daripada nanti bersin-bersin, mending menunggu sampai agak siang.
Lula mendekati lagi ponselnya yang dayanya sudah terisi setengah. Gadis itu tersenyum lalu segera mengaktifkan kembali ponselnya tersebut. Seraya menunggu ponselnya siaga, Lula membuka tirai kamarnya dan melihat matahari sudah mulai naik.
Ketika Lula hendak membuka jendela kamar, suara hapenya bergetar terdengar berulang kali. Mungkin ada pesan w******p yang masuk. Lula segera melongok layar ponselnya tersebut. Benar saja dugaannya. Ada sekitar empat pesan w******p yang masuk ke ponselnya.
Dua dari Gadis, satu dari Papa, dan satu dari Bimo. Saat melihat nama Bimo yang mengirimkan sebuah pesan yang isinya bertanya sudah bangun atau belum, Lula jadi agak malas. Pesan tersebut belum lama dikirim. Karena masih ingin menjaga mood baiknya, Lula tidak langsung membalas pesan tersebut.
Lula membalas pesan dari Papa nya lebih dulu yang mengirimkan foto bubur ayam. Dia langsung tersenyum dan segera membalas.
Lula
Duh, enaknya makan bubur ayam.
Di mana ini, Pah? Alun-alun?
Pesan balasan tersebut sudah terkirim. Sambil menunggu Papa membalasnya, Lula pun membuka pesan dari Gadis.
Gadis
Heh, fans. Kok lo nggak nyariin gue, sih?
Lula mesem dan segera membalas pesan Gadis tersebut.
Lula
Gue nyariin lo dari semalam tapi lo nggak
katanya lagi kasting. Lo kasting di mana, sih?
Kapan balik?
Barulah pesan ketiga yang Lula balas pesan dari Bimo. Meskipun rasanya Lula masih dapat mengingat rasa jengkelnya semalam, tapi dia tidak ingin memulai pagi yang cerah dan indah ini dengan marah-marah. Oleh sebab itu, Lula pun mencoba membalas seperti yang biasa dia lakukan.
Bimo
Ulul udah bangun belum? :*
Lula
Hai, Bim. Ini barusan. Kamu lagi apa? :*
Balasan pesan Bimo tersebut sudah paling minimal yang bisa Lula lakukan. Lagi-lagi otaknya memerintahkan agar jangan membiarkan hatinya kembali mengambil alih dan membuat runyam paginya.
Dia sudah melihat mentari pagi tadi. Cantik dan terang seperti hidup dan masa depan yang ingin dia jelang. Lula tak ingin membuat semuanya jadi runyam.
Hapenya bergetar dan Lula segera mengecek siapa gerangan yang membalas. Rupanya Gadis.
Gadis
Maaf ya, fans. Lupa gue ngabarin lo.
Lho? Lo udah di Jakarta? Gue pikir lo
masih di Cirebon, fans.
Lah, ini gue di kamar gue sendiri, Fans.
Begitu membaca pesan Gadis tersebut, Lula bergegas meneleponnya. Padahal jarak lantai dua alias jalan menuju kamar Gadis tidaklah jauh. Tapi Lula merasa malas jika harus ke sana. Makanya dia ingin Gadis saja yang turun.
Yah, semenjak ada teknologi yang namanya aplikasi pesan yang bisa memungkinkan kita menelepon dan mengirim pesan tanpa perlu keluar biaya lagi dan hanya perlu membeli paket data, manusia memang jadi makin manja. Lula salah satu contoh nyata.
Hanya saja Lula sempat berkilah. “Teknologi dibuat untuk dimanfaatkan. Kalau bisa nelepon sering pakai w******p tanpa perlu jebol pulsa, kenapa nggak?”
Nada tunggunya baru berdering satu kali, dan Gadis langsung menjawab.
“Ape?” tanyanya seiringi dengan wujud manusianya yang muncul di depan jendela kamar Lula.
“Astagfirullah al adzim.” Lula terlonjak saking kagetnya. “Lo ngapain di situ?” tanyanya bingung.
“Gue udah tahu lo kalau tahu gue ada di kos, pasti nggak mau naik ke atas. Makanya sebelum lo nelepon gue buat nyuruh gue turun, gue inisiatif turun sendiri,” cerocos Gadis. “Mandiri, kan, gue.”
Lula segera mematikan panggilan w******p nya dan menganggukkan kepalanya, mengamini apa yang diucapkan Gadis.
“Terus lo nyuruh gue berdiri aja nih depan jendela?” sindir Gadis sambil memasang wajah bingung.
Lula segera tersadar. “Eh, iya.” Dia langsung menuju pintu dan memutar kunci kamar.
“Udah kayak petugas kelurahan minta sumbangan desa aja nih gue tadi,” ucap Gadis melanjutkan sindirannya.
“Hihi, iya maaf, fans. Suka kelepasan gue,” balas Lula sambil membiarkan Gadis masuk ke kamarnya.
“Lo pulang ke Cirebon kagak bawain gue oleh-oleh apa gitu?” tanya sahabatnya itu ketika memasuki kamar Lula dan tak melihat sesuatu yang aneh.
Lula kontan menyeringai.
“Sorry, Dis. Lupa gue. Lagian waktu gue juga singkat banget. Nginep aja kagak gue.”
“Ah, kebanyakan lupanya lo daripada ingetnya,” ledek Gadis lalu merebahkan diri di atas kasur Lula. Namun baru dua detik dia langsung bangun lagi.
“Eh, gue ke sini tuh mau ngajakin lo makan bubur tahu. Gue dapet kontrak iklan obat nyamuk.”
Seketika Lula bersorak. “Yey! Akhirnya. Selamat ya, Dis,” ucapnya dengan riang. “Jadi semalam lo syuting iklan obat nyamuk itu?”
“Yo’i. Nah, karena setelah itu gue langsung teken kontrak, makanya honor gue udah dikirim langsung nih,” terang Gadis. “Honornya lumayan lah buat traktir lo makan pagi tiga hari kedepan. Tapi makan bubur atau lontong opor aja. Nggak pake kalau lo milih sarapan yang hedon-hedon,” lanjutnya memperingatkan.
“Haha, iya nggak lah. Tahu lo akhirnya bisa dapet job bintang iklan aja happy banget gue, Dis. sekali lagi selamat, ya.”
Gadis tersenyum lebar kemudian bicara. “Terus kita sarapannya kapan kalau lo nyelametin gue terus?”
“Haha, ya udah, yuk. Ke bubur Salman aja, yuk, Dis. Di sana kan enak banget buburnya.”
“Ah, setuju banget sih gue,” balas Gadis lalu bergegas bangun.
Karena Gadis belum mengganti baju tidurnya, Lula pun menunggu Gadis berganti pakaian sambil mengecek apakah Bimo sudah membalas pesannya atau belum.
Ternyata cowoknya itu sudah membalas pesannya tadi.
Bimo
Bimo tadi subuh udah nemenin Mama ke pasar, Lul.
Tapi ternyata belum selesai. Nanti siang kayaknya
Mama kayaknya mau minta ditemenin belanja gitu.
Lula memandang pesan Bimo tersebut dengan pandangan datar lalu segera membalas pesannya.
Lula
Oh, gitu. Memang belanja apa aja Mama di pasar tadi?
Banyak, ya?!
Lula tidak mengharapkan Bimo segera membalas pesannya. Makanya Lula pun menaruh hapenya di atas kasur. Dia ingin sarapan dengan tenang dan damai. Perasaannya terhadap Bimo seolah masih belum normal kembali.
Tapi karena pagi ini terasa sangat hangat, Lula sama sekali tidak ingin mengusik ketenangan dirinya.
Gadis sudah turun dari kamarnya dan memanggil-manggil namanya seperti nada panggil tukang sayur komplek.
“Ayo pergi, Lulaaaaa! Mumpung pagi dan seger ini, Lulaaaaa!” seru Gadis membuat Lula menyeringai sendiri.
Lula segera keluar dari kamarnya dan mengunci kamarnya. “Kenapa lo manggil gue kayak tukang sayur keliling pas manggil ibu-ibu komplek?” tanya Lula tak habis pikir.
“Soalnya enak aja nadanya tuh,” sahut Gadis dengan semangat.
“Yuk ah!” ajak Lula yang langsung diiyakan sahabatnya.
“Cabut, Lul!”