Rasanya Tidak Keliru

1493 Kata
Saat dalam perjalanan pulang, Lula menoleh ke arah Bimo yang fokus pada kemudi di tangannya. Namun, pandangan Lula tidak salah. Dia bisa melihat dengan jelas bahwa air muka Bimo jauh lebih cerah daripada sebelumnya. Dari saat sebelum bertemu Anindita. Ada perasaan ingin bertanya. Tapi apa dulu yang mau ditanyakan? Tentang bagaimana Anindita di mata Bimo sekarang? Tentang bagaimana rasanya kembali berjumpa dengan sahabatnya di masa kecil yang kini sudah menjelma menjadi perempuan dewasa? Atau tentang mengapa Bimo memeluk Anindita sangat lama saat berpamitan tadi? Tidak. Lula benar-benar tidak salah lihat. Lula bahkan sangat yakin dengan apa yang dia rasakan. Terlebih sudah ada ‘sedikit’ bukti yang bisa jadi landasan. Tapi sesedikit apapun atau setipis apapun itu, yang namanya bukti tetaplah bukti. Apalagi sebagai seorang perempuan, feeling nya kuat. Dia yakin dia tidak keliru kali ini. Namun ini hanya akan jadi buah pikirnya saja jika  Jadi, agar semuanya tampak jelas dan tidak membingungkan, akan coba Lula tanyakan saja langsung pada Bimo. “Bim?” panggil Lula sambil menoleh pada kekasihnya tersebut. “Hmm?” jawab Bimo sambil melirik sesaat pada Lula. “Kenapa Lul?” “Tadi pas Bimo pamitan sama Anindita kenapa lama banget pelukannya?” tanya Lula tanpa tedeng aling-aling. “Kayaknya kalau pelukan sama Lulu nggak selama itu deh. Dan nggak seerat itu juga.” Bimo sempat terdiam beberapa saat lalu melirik Lula satu kali. “Biasanya juga gitu, Lul. Dari kecil kalau kami mau berpisah, pasti pelukan kayak tadi. Padahal dulu rumah kami tetanggaan,” jawab Bimo memberi alasan. “Kalau dulu aja pas kami tetanggaan aja pelukan gitu, apalagi sekarang pas udah beda kota, beda pulau, beda negara. Ya, wajar aja lah.” Mendengar jawaban Bimo tersebut, Lula pun mulai merasa tidak nyaman. Apalagi dengan cara Bimo memberikan pernyataan. “Tapi, kan, masalahnya kita sekarang pacaran. Dan Ulul ada di situ lho. Oh, Ulu ralat. Ulul ngelihat semua nya yang terjadi di situ lho. Masak Bimo nggak mikirin gimana perasaan Ulul sedikit sih?” Lula jadi jengkel sendiri. Bukannya membela perasaan Lula atau minimal meminta maaf, Bimo malah mengucapkan suatu kalimat yang membuat kepala gadis itu bak air yang sedang dimasak. Mendidih.  “Bukannya bakal lebih bahaya kalau Bimo meluk Anindita pas Ulul lagi nggak ngeliat?” Seketika mulut Ulul menganga. “Memangnya harus seperti itu?” Lula sampai berang dan hampir loncat dari kursinya sendiri. “Ya, nggak. Cuma yang mesti Ulul inget, Bimo nggak pernah lho menutupi apapun dari Ulul. Ini aja Bimo kenalin Ulul ke sahabatnya Bimo. Nggak kemudian Bimo sembunyi-sembunyi dari Ulul, kan?!”  Saking tak percayanya Lula dengan apa yang diucapkan oleh Bimo, akhirnya Lula hanya mampu diam saja di mobil selama sisa perjalanan mereka. Bimo pun tampaknya tidak berusaha untuk menjernihkan suasana. Dia juga malah semakin tak acuh dan memusatkan konsentrasinya pada jalanan seolah tak ada Lula di sebelahnya. Sampai akhirnya mereka sampai di depan bangunan kos Lula. Bimo tidak langsung menoleh dan hanya memperhatikan apa yang Lula lakukan melalui ekor matanya. Lula langsung bersiap turun dan melepaskan sabuk pengamannya. Barulah Lula mendengar suara Bimo bicara lagi padanya. “Hati-hati ya, Lul. Bimo pamit dulu,” ucapnya dengan suara datar. Lula pun hanya menjawab sekadarnya. “Hmm, ya hati-hati juga lah nanti di jalan.” Gadis itu lalu turun dari mobil dengan perasaan jengkel namun tidak bisa protes apa-apa lagi pada Bimo. Setelah menyalakan klaksonnya, Bimo lalu pamit. Sambil berjalan masuk dengan penuh perasaan dongkol, Lula merogoh ponselnya di dalam tas untuk menelepon Gadis. Lula sedang emosi jadi tidak ada tenaga sama sekali untuk jalan ke lantai atas dan mengetuk sendiri kamar Gadis.  Sayangnya, panggilan Lula sama sekali tidak direspon oleh Gadis. “Kemana nih anak?” gumam Lula sambil terus berjalan menuju kamarnya sendiri. Sesampainya di kamar, Lula masih merasa tidak nyaman dengan apa yang barusan terjadi. Adegan demi adegan selama berpisah dengan Anindita tadi, lalu keheningan yang terjadi di dalam mobil, sampai akhirnya Lula memberanikan diri bertanya pada Bimo. Semuanya jadi terasa makin menyesakkan. Tadi itu, dirinya tidak salah lihat bukan. Itu bukan hanya perasaannya saja, kan?! Bagaimana cara Anindita saat menatap Bimo dan saat Bimo mengusap puncak kepala gadis itu.  Lula tidak pernah diperlakukan seperti itu. Dia ingat betul. Lalu mengapa pada Anindita, Bimo bisa seluwes itu? Bukankah semua sentuhan bahkan tatapan lembut itu hanya diperuntukkan untuk dirinya saja? Harusnya begitu kan?! Yang pacaran sama Bimo kan Lula bukan Anindita. Lula kemudian mencoba kembali menelepon Gadis untuk mengadu dan bercerita. Sayangnya sahabatnya itu masih belum menjawab teleponnya. “Ini bocah satu ke mana, lagi?!” gumam Lula sudah mulai gelisah. Tadinya sungguh kakinya terasa lemah untuk berjalan ke lantai dua menemui Gadis. Tapi ini adalah persoalan yang sangat penting. Bagaimanapun dirinya harus segera menceritakan apa yang dia lihat dan dia rasakan setelah bertemu dengan Anindita. Setelah menaruh tasnya, Lula pun keluar lagi dari kamar dan bergegas ke lantai dua untuk menuju kamar Gadis. Namun begitu sampai di depan pintu, barulah Lula memahami kenapa Gadis tidak menjawab teleponnya sejak tadi. Rupanya sahabatnya itu sedang sibuk kasting iklan.  Gadis sepertinya sengaja meninggalkan sebuah notes tempel di depan pintu kamarnya.  Buat fans-fans akuh, akuh lagi pergi syuting iklan. Kalau ada perlu sama akuh, tolong tinggalin pesan di sini, ya. Singkat aja, gak usah panjang-panjang. Kertas mahal.  Lula menghela napas dalam. “Tuh anak gigih amat buat jadi artis,” gumamnya lalu balik badan dan kembali ke kamarnya. Dengan langkah yang tidak setergesa tadi, Lula pun berjalan normal menuju kamarnya sendiri. Setelah mengunci pintu, Lula berencana untuk mandi. Namun dia masih ingin untuk bicara dengan seseorang sekarang ini. Maka, satu-satunya yang saat itu terpikirkan adalah Papa nya. Tapi tidak mungkin untuk menceritakan semua hal yang terjadi sepulang dirinya dari Cirebon pada Papa. Maka, Lula pun mencoba untuk menyortir semua informasi mengenai Bimo atau hal-hal yang bisa mengarah pada cowok menyebalkan itu. Sambil menyusun kata-kata dan ekspresinya nanti, Lula mulai membuka kembali ponselnya. Dia pun baru menyadari bahwa Papa nya sempat mengiriminya pesan di w******p. Isinya tentu saja menanyakan tentang keadaan dan keberadaannya.  Dia baru sadar saat berangkat ke stasiun sore tadi, dirinya sangat tergesa-gesa dan takut kalau bakal ketinggalan kereta. Lula pun jadi punya ide untuk mengangkat topik pembicaraan. Segera diteleponnya Papa nya itu. Hanya dua kali nada tunggu, Papa langsung menjawab teleponnya. “Assalamualaikum?!” sapa Papa nya dengan semangat. Semangat Papa ini seakan langsung menular dari suaranya saja. Lula langsung tersenyum dan seketika terbayang wajah sang Papa yang sering membercandai dirinya. “Waalaikumsalam, Pah.” “Kenapa jam segini kamu belum tidur? Malah nelepon,” sahut Papa heran. “Ya, nggak apa-apa. Pengin aja nelepon Papah,” balas Lula. “Maaf, tadi nggak sempet bales WA Papah. Papah udah makan?!” “Iya nggak apa-apa, bageur. Papah udah makan tadi sama ayam goreng. Pas pulang nganter kamu dari stasiun Papah beli di warung tegal deket stasiun itu. Kan, enak tuh masakannya. Murah deui,” terang Papa. “Eh, kamu udah makan belum?” “Udah kok, Pah. Cuma tadi makanku nggak banyak. Di kereta kan Lula makan. Jadi masih kenyang atuh pas sampai Jakarta.” “Oh, syukur atuh.” Lula tidak boleh membiarkan hening ini terlalu lama. Karena jika dibiarkan lebih dari sepuluh detik saja, Papa pasti akan tersadar dan teringat dan akan langsung bertanya tentang Bimo.  “Pah, tukang apa yang suka ngehayal?” Akhirnya Lula pun mendapatkan ide instan agar Papanya tidak terpikirkan untuk bertanya tentang Bimo dan fokus berpikir pada hal lain. Ya, hal itu adalah tebak-tebakan. “Hah? Tukang yang suka ngehayal? Naon nya?” Papa bergumam sendiri sampai logat dan kata-kata khas Sunda nya keluar. “Ah, teuing naon.” Papa pun menyerah. “Memangnya tukang apa?” “Yah, payah,” ledek Lula sambil menahan tawa. “Jawabannya adalah tukang bubur.” Jelas Papa langsung tidak paham maksud Lula. “Hah? Kunaon?”  “Iya, soalnya kan suka halusin nasi,” jawabnya lalu disambut dengan derai tawa Papa. Lula pun jadi ikut tertawa sendiri.  “Wah, kok Papah nggak kepikiran ke situ, ya. Tapi bener juga lho,” sahut Papa. “Oke gantian Papa, Lul. Profesi apa yang nggak ramah Lul?” “Hah? Profesi?” Lula pun berpikir sejenak. “Tukang jagal.” “Salah.” Papa langsung menolak jawaban Lula. “Hmm, satpam?” Lula mencoba lagi. “Bukan, Lul. udah nyerah aja kelamaan kamu mah,” desak Papa. “Soalnya nanti kamu mah nyebutin satu-satu profesi yang ada di muka bumi.” Papa seakan sudah mengetahui apa yang akan terjadi dan dilakukan oleh sang putri. Lula pun hanya menyeringai geli. “Hihi, iya deh. Lula nyerah. Apa jawabannya, Pah?!” “Jawabannya adalah Mas sinis!” Seketika gelegak tawa terdengar. Baik Lula maupun Papa sama-sama geli sendiri. Dan begitulah cara mengembalikan suasana hati yang sempat mendung dan abu-abu tadi. Berbicara dengan orang tercinta dan mengambil topik paling remeh seperti ini, adalah salah satu yang bisa Lula syukuri. Papa adalah sistem pendukung nomor satu di hidupnya. Tidak akan terganti dan tidak akan bisa diganti oleh apapun.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN