Oh, Ternyata...

1273 Kata
Setelah mendengar penuturan Gadis tentang MLM, dan kemungkinan maksud Bimo mendekatinya adalah karena hendak memprospeknya sebagai member, Lulan pun berpikir jangan-jangan hal itu memang benar. Apalagi Bimo juga tak ada usaha lain yang dapat membuat Lula mempercayai bahwa kemungkinan cowok itu punya perasaan lain terhadapnya. Jadi, apa yang Gadis ucapkan bisa saja benar. Lula jadi tidak ingin banyak berharap dan kembali menjalani hari-harinya. Semua perhatian, yang meskipun tidak terlalu kencang ditunjukkan oleh Bimo padanya, akhirnya akan disimpan Lula dalam hati. Apa yang pernah dilakukan Bimo padanya di saat-saat terdesak waktu itu mungkin memang takdir yang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Lula berterima kasih untuk itu. Tapi kini dia tidak ingin terjebak lagi dengan perasaannya sendiri. Lula akan mencoba melupakan apa yang sudah terjadi dan melanjutkan hidupnya. Namun, di saat Lula sudah hendak tak mengingat Bimo, cowok itu justru jadi sering dilihatnya di mana-mana. Di kantin, di depan ruang rektorat, di perpustakaan kampus, bahkan di halte bus.  Apa-apaan ini? Apakah ini sebuah pertanda kalau Bimo begitu menginginkan Lula untuk menjadi membernya agar dia bisa naik ke level yang lebih tinggi? Lula menggeleng-gelengkan kepalanya dan tetap melanjutkan langkahnya menuju kosannya yang tak jauh dari letak kampusnya. Sesampainya di kos, Lula berencana langsung mandi. Namun, saat dia hendak menyalakan kran air di bak mandinya, ternyata airnya tidak keluar.  “Mati?” gumam Lula lalu menghela napas berat. “Ck, si ibu nih gimana. Giliran bayar kos aja nggak boleh telat. Tapi ngatasin air kagak lancar aja lama banget. Huh!” Sambil mengeluh dan menggerundel sendiri, Lula pun keluar kamar mandi dan hendak pergi ke rumah bu kos yang jaraknya hanya di belakang bangunan kos-kosannya. Lula sama sekali tak menyadari bahwa sejak tadi hapenya bergetar. Di layarnya menunjukkan sebuah nomor yang diberi nama ‘Mas-mas Penolong’. Lula segera berjalan menuju gerbang kosnya. Sambil melangkahkan kaki menuju rumah ibu kos, Lula melebarkan handuk yang dibawanya tadi kemudian membentuknya seperti kerudung yang menutupi wajahnya. Di saat yang bersamaan, sebuah mobil berhenti tak jauh dari lokasi kos Lula. Bimo memegang secarik kertas sambil memastikan bahwa dia sudah berada di alamat yang benar.  “Kos Berkah Ibunda III,” gumam Bimo lalu memperhatikan papan yang terpajang di depan gerbang. “Harusnya sih bener ini alamatnya,” lanjut Bimo lalu memperhatikan situasi kos-kosan tersebut. “Tapi kok sepi amat, ya?! Padahal masih jam 4.” Bimo pun memutuskan menunggu sampai ada seseorang yang bisa ditanyai. Sementara itu Lula sudah sampai di halaman rumah ibu kosnya dan sudah siap-siap untuk menyerukan nama ibu kos dengan sekuat hati. Namun saat dia sudah hendak membuka mulutnya dan bersiap menyerukan nama ibu kos, suara seorang anak perempuan bicara padanya. “Bunda pergi arisan.” Mulut Lula yang sudah ternganga kembali tertutup dan menoleh pada asal suara. Seorang anak perempuan yang sedang mengemut permen kaki. Wajahnya mirip sekali dengan ibu kos. Lula dulu pernah bilang pada Gadis bahwa jika anak ini besar pasti wajahnya bakal sebelas dua belas dengan ibunya. Iyalah, anaknya. “Oh, gitu. Lama nggak arisannya?!” tanya Lula sambil menurunkan lagi handuknya dari kepala. Anak kecil itu mengangkat bahunya. “Biasanya sih lama,” jawabnya santai. “Yah. Mau ada yang kakak omongin, penting soalnya.” “Ngomong ke Ica aja, nanti Ica yang sampein ke Bunda,” ucap anak perempuan bernama Ica tersebut. “Gitu, ya? Bisa, ya, titip pesen?!” Lula pun mendekati Ica dan mulai menyampaikan pesannya. “Ya, udah. Tolong sampein kalau air di kos mati lagi. Ini udah yang kedua kali semenjak kakak ngekos di sini airnya mati terus.” Ica memandang Lula tanpa kedip sambil tetap mengulum permen kakinya. Lula pun bingung dengan reaksi Ica tersebut.  “Itu tadi pesen kakak. Tolong bisa disampaikan ke bunda kamu?” Namun Ica masih diam saja. Lula makin tak mengerti lalu gadis kecil itu akhirnya mengeluarkan sesuatu dari sakunya. “Permen Ica habis, Kak.” Barulah Lula memahami maksud anak kecil satu ini. “Hmm, memang bener sih apa kata pepatah. Karena itu dibuat atas dasar pengalaman dan buah pikir orang-orang jaman dulu yang udah lebih lama hidup dari kita. Ck, emang pepatah nggak salah ini.” Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, Lula lalu merogoh saku celana jinsnya dan mengeluarkan selembar uang lima ribu.  “Kembaliannya buat kamu,” ucap Lula sambil menyodorkan selembar uang tersebut. Ica langsung sumringah dan menerima uang tersebut. “Pesan akan langsung disampaikan,” ucapnya riang. “Buuuuuuuunnn, air di kos depan mati lagi. Nyalain pompanyaaaaa!” Ica berjalan santai menuju pintu rumahnya. Lula kemudian melongo. “Heh, katanya Bunda kamu pergi arisan.” “Iya, tapi tadi pagi. Sekarang udah di rumah,” sahut Ica kalem. “Tapi, tadi…” suara Lula tertahan. “Tadi, kan, Ica cuma bilang Bunda pergi arisan. Nggak ada keterangan waktu di situ, Kak.” “Noyor anak orang nggak salah aja udah gue lakuin dari tadi,” gumamnya sambil menahan geram. “Awas aja lo!” desisnya sambil bersiap pergi. “Kakak katanya mau mandi. Gih, balik ke kos. Paling airnya juga udah nyala.” “Iya, iya, ini juga mau balik,” serungut Lula langsung balik badan. “Pengin mandi aja kudu bayar pajak dulu gue,” keluhnya sambil berjalan menuju kos.  Di perjalanan menuju kosnya, Lula tak menyadari sama sekali bahwa sudah sejak tadi ada seorang cowok yang tengah menantinya di depan gerbang. Namun karena Lula cukup lama pergi, Bimo sampai mengisi waktu menunggu dengan membantu orang-orang yang perlu bantuan.  Lula sudah sampai di depan kosnya dan tak sengaja melihat ada seorang laki-laki yang sedang membagikan semacam brosur. “Hmm, masnya rajin banget udah mau magrib begini masih aja bagi-bagiin brosur. Berkah buat kamu, mas,” gumam Lula sambil membuka gerbang kosnya. Namun sedetik kemudian dia seperti tersadar sesuatu. Sepertinya dia mengenal seorang cowok dengan postur tubuh seperti itu. Tapi di mana, ya?! Dahi Lula mengerut sesaat dan dia ingin memastikannya. Karena rasa penasarannya tersebut Lula pun menoleh kembali ke arah mas-mas tadi dan seketika menganga.  “Hah? Jadi, Bimo beneran… anggota MLM?” Lula sempat tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Tapi kenyataannya Bimo memang sedang membantu seorang bapak-bapak berseragam yang di belakang bajunya terdapat tulisan yang membuat Lula terkejut.  ‘SUDAH WAKTUNYA ANDA MAJU, BIAR TIDAK NYINYIR MELULU’ Dan di bawah tulisan yang tercetak kapital di belakang baju bapak-bapak tersebut tertera juga nomor serta alamat surel yang bisa dihubungi. “Wah, baru kali ini omongan Gadis bisa gue percaya.” Lula sampai bergidik. Sebab kini dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Bimo memang seperti apa yang diasumsikan oleh Gadis.  “Ck, memang, ya. Cara para agen MLM ini luar biasa halus dan tak terduga. Gue kudu lebih hati-hati,” gumamnya lalu buru-buru membuka gerbang kosnya dan masuk.  * Setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Bimo memang bagian dari sebuah perusahaan yang bergerak di bidang multi level marketing atau MLM, Lula pun jadi memupus segala harapan juga perasaan. Bagaimanapun dia bersyukur dan terimakasih pada Bimo atas sikapnya waktu itu.  Atas sikap baik dan manis yang dilakukannya juga setelah itu. Atas apa yang juga sudah sempat disalahartikan olehnya. Lula tidak ingin terlalu berlarut dalam hal yang telah keliru diasumsikannya. Kini waktunya melanjutkan hidup dan hari-harinya. Mungkin ini memang waktu yang terlalu cepat untuk menerima cinta atau mengukir kisah asmara. Benar juga. Dirinya belum satu tahun jadi mahasiswa di salah satu kampus paling bergengsi di negeri ini. Ada sebuah pesan dan misi yang dia bawa saat datang ke Ibukota. Ada mimpi dan asa yang ingin dicapai segera. Apabila ada perkara diluar pendidikannya, urusan hati maksudnya, bisa membuat rencananya tersebut terganggu bahkan berhenti, Lula tak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri. Makanya, Lula segera mensugestikan dirinya untuk segera menyembuhkan diri. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN