Pertemuan Lula dengan Bimo bisa jadi sebuah ketidaksengajaan yang ingin Lula syukuri. Mengapa? Sebab kehadiran Bimo seakan menjadi salah satu sinyal untuknya belajar mandiri dan lebih berani. Meskipun kedekatan mereka sudah berjalan hampir lebih dari dua bulan, tapi Lula mulai merasa ada yang bisa dia telepon saat dia memerlukan bantuan.
Namun, Lula tidak ingin kelewat percaya diri. Bisa saja perhatian yang Bimo tunjukkan padanya pernah terjadi juga pada perempuan lain. Meskipun sejauh ini Lula tak pernah mendapati Bimo dekat dengan gadis lain.
Kedekatan mereka pun sepertinya mulai mengusik beberapa keheningan di kalangan teman tongkrongan Bimo yang kerap bersiul dan menggoda saat Bimo menyapa Lula di kantin. Atau saat mereka tak sengaja berpapasan di koridor kampus.
Hanya saja perasaan Lula masih tak tenang bahwa Bimo memiliki suatu perasaan yang spesial terhadapnya. Bisa saja memang Bimo pada dasarnya baik dan merasakan simpati pada apa yang menimpa padanya beberapa waktu lalu.
Bisa saja Bimo punya saudara perempuan yang membuatnya jadi seperhatian itu. Yah, hal itu memang masuk akal. Tapi bagaimana Lula bisa tahu Bimo benar memiliki saudara perempuan atau tidak? Satu-satunya cara untuk tahu tentu saja adalah dengan bertanya.
Tapi bagaimana cara memulai bertanya tapi tidak terkesan begitu penasaran, ya?! Lula mencoba memutar otaknya.
Hingga di satu kesempatan di bazar kampus, Lula mendapati Bimo tampak sedang berdiri di depan sebuah stan kerajinan tangan. Ini adalah momen yang pas. Lula lalu segera menghampiri Bimo yang tampak sedang memilih-milih sebuah gelang yang terbuat dari tali kur yang dijalin dan dihiasi manik-manik.
“Eh, Bimo?!” tegur Lula dengan nada bicara yang seolah terkejut. Bimo menoleh lalu tersenyum saat menyadari Lula menghampirinya. “Wah, kok kita bisa ketemu di sini? Kebetulan banget, ya?!”
“Iya, ya?! Kita kayaknya sering banget ketemu karena kebetulan,” sahut Bimo.
Lula lalu mendapati tangan cowok itu sedang memegang sebuah gelang berwarna biru. “Gelangnya bagus. Buat adik lo, ya?!” tanya Lula sengaja menebak.
Bimo kemudian melihat ke arah gelang yang sedang dipegangnya. “Oh, ini? Nggak, gue iseng aja lihat-lihat. Kok lucu, gitu.”
Lula menggigit bibirnya. Kok jawaban Bimo tidak sesuai ekspektasinya?
“Hmm, emang lo nggak pengin beli buat adik lo?!” Lula melanjutkan pertanyaannya.
Bimo menggeleng. “Nggak,” jawabnya lagi singkat dengan senyuman manis.
Lula jadi kecele sendiri. Seharusnya tidak begitu jawaban yang dia dengar dari Bimo. Saat Lula sedang berpikir bagaimana lagi dia harus membelokkan kalimat agar Bimo memberikan sebuah keterangan yang dia butuhkan, Bimo bicara.
“Lo mau?” tanya Bimo sambil mengulurkan gelang berwarna biru yang dipegangnya tadi pada Lula. Tentu saja Lula melongo. Belum sempat dia menjawab, Bimo kembali bicara. “Gue nggak punya saudara, jadi nggak ada yang bisa gue kasih. Tapi kalo lo mau, nih gue kasih,” ucap Bimo sambil mengulurkan gelang tadi pada Lula.
Entah Lula harus senang atau bingung dengan pertanyaan tersebut.
Sampai kemudian Lula pun penasaran dan bertanya pada sahabatnya, Gadis, yang juga sama-sama anak perantauan dan satu kos dengannya.
“Dis, gue mau nanya dong,” ucap Lula sore itu di ambang pintu kamar sahabatnya. “Tapi lo lagi sibuk kayaknya, ya?!” sambungnya ketik sadar bahwa Gadis tampak sedang berkutat di depan laptopnya.
Gadis menoleh dan menggeleng cepat. “Nggak sibuk kok gue, Lul. Masuk aja sini,” ucapnya lalu kembali memusatkan perhatiannya pada layar laptopnya.
Dengan agak ragu Lula masuk ke kamar Gadis. Dan saat Lula semakin dekat, barulah dia mengetahui aktivitas apa gerangan yang sedang dilakukan oleh sahabatnya yang lebih sering ngaco daripada benarnya itu.
Lula sempat merasa tidak enak karena dia pikir dia sudah mengganggu Gadis yang tampak fokus di depan laptop. Tapi ternyata Gadis cuma sedang bermain solitaire.
“Gue pikir lo lagi belajar,” komen Lula masih berdiri tak jauh dari tempat Gadis duduk.
“Gue masih belajar. Dari seminggu lalu gue masih belum bisa menang dengan hasil sempurna nih game satu ini. Kesel gue kalah mulu,” balas Gadis sambil tetap mencoba mengklik kartu di layar.
Menyadari bahwa Lula hanya berdiri saja, Gadis pun tersadar dan menoleh. “Eh, duduk, Lul. Lo boleh duduk, boleh tiduran, boleh ngapain aja pokoknya. Bebas.”
Sebenarnya Lula agak enggan, tapi di sini dirinya sungguh tak memiliki siapapun untuk bisa diajak bicara. Jadi, meskipun Gadis ini ajaib luar biasa, mau tak mau Lula bertahan.
“Hmm, gue mau curhat, Dis,” ucap Gadis kemudian. Dirinya masih dengan sikap tadi, berdiri mematung dan tampak enggan duduk. Gadis mendongak dan menatap Lula dengan pandangan penasaran. “Ng, tentang cowok,” sambung Lula.
Gadis langsung tersenyum dan menarik tangan Lula untuk duduk. “Sini cerita ke gue,” katanya dengan semangat. “Dari tadi lho bilang mau curhat. Pake basa basi segala nanya lagi sibuk apa nggak.”
Lula yang masih terkejut karena Gadis menarik tangannya begitu saja mencoba menormalkan pikirannya. “Hah? Ya, gue nggak mau aja gangguin orang. Makanya kalau memang sibuk mending entaran aja gue curhatnya.”
Lula sudah mau bangun lagi tapi Gadis mencegahnya. “Kagak ada yang sibuk,” ujarnya sambil menahan tangan Lula. “Udah, buruan cerita. Gimana-gimana awalnya?!”
Tentu saja Lula tidak langsung membuka mulutnya dan mengisahkan apa yang sedang mengganjal di hatinya. Sebab dia memperhatikan wajah gadis terlebih dahulu untuk sekadar memastikan bahwa Gadis memang tidak merasa terganggu.
“Hmm, lo yakin? Katanya lo lagi belajar,” ucap Lula ragu-ragu sambil menunjuk ke arah laptop Gadis.
“Itu bisa entaran gue kerjain. Ini lebih urgent kayaknya. Makanya buru-buru cerita. Ada apa ada apa?” desak Gadis dengan wajah yang antusias.
Karena sudah mendapatkan lampu hijau dari Gadis, akhirnya Lula pun memantapkan hatinya untuk bercerita tentang apa yang dia rasakan saat ini.
“Tapi gue pengin lo jangan cerita-cerita ke siapapun, ya. Soalnya ini agak malu-maluin banget.”
Sepasang mata Gadis kemudian menyipit. “Lo bukan….”
“Jangan mikir yang aneh-aneh dulu, orang gue cerita aja belum,” tegur Lula dengan wajah setengah sewot.
Wajah Gadis pun normal kembali dan mengangguk. “Okay, I'm all ears,” sahutnya lalu mulai mempersilakan Lula bercerita.
Lulu pun mengisahkan dari awal pertemuannya dengan Bimo, sampai akhirnya mereka jadi sering berpapasan atau sering bertemu tak sengaja. Lula mengaku tak ingin gede rasa terlebih dahulu dan berasumsi kalau Bimo bisa saja punya perasaan khusus padanya. Karena bisa saja itu hanya asumsinya saja.
Papanya sudah sering memperingatkan dirinya agar berhati-hati dengan segala hal yang akan melibatkan hati. Jangan sampai sesuatu itu hanya berdasarkan pada ekspektasi atau euforianya semata.
Karena perasaan manusia itu seringkali bisa diperdaya apa yang sedang diinginkan. Apakah rasa ingin tahu Lula akan maksud atau makna dari sikap yang Bimo tujukan padanya atas dasar rasa penasaran saja? Ataukah Lula memang menginginkan Bimo memiliki sebuah tujuan yang berbeda padanya?
“Bimo nggak lagi ngeprospek lo jadi salah satu member MLM, kan?!” tanya Gadis dengan ekspresi menelisik.
Lula menoleh pada Gadis perlahan. Pandangannya seolah tak percaya dengan apa yang barusan teman satu kosnya itu ungkapkan.
“Gue tuh sempat mempertimbangkan bolak balik sih buat cerita ini ke lo. Antara apakah harus, apakah jangan, apakah tepat keputusan gue ini?”
Gadis tampaknya masih belum memahami apa yang diucapkan oleh Lula dan hanya mengerjap-ngerjapkan matanya saja. Padahal Lula sudah mengatakan pada dirinya sendiri untuk tidak mengutuk keputusannya bercerita pada Gadis. Mungkin Gadis memang tidak bisa membantunya. Tapi paling tidak, perasaannya jadi lebih lega. Bukankah itu yang sejak semula ditanamkan dipikirannya?
“Bimo kayaknya sih nggak tergabung dalam MLM apapun, sih,” lanjut Lula. Kali ini wajahnya dibuat dengan serius agar Gadis tidak menduga-duga hal yang ngaco lagi.
“Lo yakin seratus persen?”
Nah kalau yang ini jelas tidak. Tapi masak iya Bimo sengaja memprospek dirinya? Bimo bagian dari anggota MLM? Apakah itu benar?
“Lo nggak tahu kan motif dan modusnya orang-orang MLM itu sehalus apa?” bisik Gadis sambil menggerakkan matanya menyipit dan melebar. Persis adegan di sinetron saat tokoh antagonisnya hendak meracuni tokoh protagonis.
Lula menggeleng secara otomatis. Jelas dia tidak pernah membayangkan atau menduga akan seperti apa cara prospek para anggota MLM pada calon member mereka. Tapi yang pasti Lula tidak bisa serta merta mempercayai dugaan Gadis barusan begitu saja.
Selain terkesan mengada-ngada, alasan Gadis itu juga seakan maksa. Lula pun tidak ingin mengindahkan apa yang Gadis barusan simpulkan.
Tapi masalahnya, ekspresi Gadis belum kembali normal seperti semula. Lula pun kemudian melanjutkan kalimatnya.
“Memang lo tahu modus dan motifnya orang MLM itu kayak gimana?”
Mendengar pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Lula, Gadis pun segera melanjutkan informasi maha dahsyat yang sepertinya jangan sampai dilewatkan Lula.
“Hmm, yang kayak gini nih yang bakal jadi sasaran empuk para orang MLM yang pengin segera naikin level mereka. Lo tahu nggak sih, Lul, kalau orang MLM itu ngebet banget supaya cepet naik level biar apa?”
Lula tentu saja menggeleng.
“Ya, tentu aja biar segera mencapai target lah, Lul. Karena puncak hadiah yang akan mereka dapet itu luar biasa, Lul. Tapi ya syarat utamanya memang kudu banyak-banyakan menjaring member baru. Kalau mereka udah naik level terus mencapai target yang udah jadi salah satu syarat, hadiah besar itu udah bukan lagi angan-angan buat mereka.”
Mendengar penjelasan Gadis yang begitu fasih perihal prospek MLM sampai cara agar naik level tertinggi membuat Lula sempat bercuriga. Apakah Gadis pernah menjadi salah satu member atau memang pengetahuannya saja yang banyak?
Bodohnya lagi, Lula malah melanjutkan pertanyaannya. “Memangnya kalau para member itu udah capai target, hadiah besarnya itu apaan, sih?”
Gadis menoleh ke arah Lula dengan gerakan cepat sampai Lula tergeragap karena kaget betulan.
“Lo beneran mau tahu?” Kebodohan Lula berikutnya adalah dia menganggukkan kepalanya. “Oke,” sahut Gadis seolah memahami rasa penasaran Lula akan pencapaian tertinggi para member MLM tersebut. “Karena lo penasaran, gue bakal kasih tahuin lo ini sekali aja.” Gadis makin merendahkan suaranya. “Gue nggak jamin ya kalau lo nanti kepengin gabung juga.”
Lula langsung menggelengkan kepalanya. “Nggak minat gue. Gue cuma penasaran aja dari cerita lo ini.”
Gadis tak memedulikan alasan Lula tersebut dan melanjutkan kalimatnya. “Jadi, pencapaian utama bagi para member yang udah achieve target rekruter mereka adalah…”
Mau tak mau Lula makin mendekatkan wajahnya karena suara Gadis yang semakin pelan.
“Naik kapal pesiar,” jawab Gadis dengan nada bicara tandas, tegas, dan tetap dengan ekspresi jemawa yang sengaja ditunjukkan.
Dari sana, Lula merasa menyesali keputusannya untuk datang dan bertanya perihal Bimo pada Gadis.