Kereta yang ditumpangi Lula sampai pukul 6 tepat di stasiun Jakarta Kota. Bimo sudah mengirimkan pesan di w******p bahwa dia sudah sampai untuk menjemput Lula. Setelah turun, Lula segera berlari menuju toilet untuk mematut diri.
Namun saat Lula mematut diri di depan cermin, dirinya baru tersadar kalau penampilannya kini sangat tidak layak. Andai saja waktu yang dimilikinya lebih banyak, Lula pasti bisa tampil lebih baik.
“Ah, kenapa harus mendadak juga sih ketemuannya? Tapi ya siapa juga yang bisa menduga. Orang kaya kan nggak perlu rencana buat pergi ke mana aja dia suka. Mungkin, Anindita ini juga orang yang kayak gitu juga, ‘kali.” Lula tanpa sadar bicara sendiri sambil mengeluarkan kantong make-up sederhananya.
Diambilnya selembar kapas lalu cairan pembersih wajah. Lula mulai membersihkan wajahnya dengan telaten.
Hapenya berbunyi. Tanpa melihatnya pun, Lula sudah tahu dari siapa. Tapi masalahnya dia harus membentuk alisnya terlebih dahulu agar bisa lebih tampil pede. Kalau saja dirinya tadi tidak ketiduran dan hampir terlambat datang ke stasiun, Lula punya waktu untuk membentuk alisnya.
“Kenapa gue selalu mengalami hal-hal kayak gini, sih? Arrggh!” keluh Lula sambil mencoba tetap fokus pada pensil alis dan bentuk alisnya yang sudah hampir jadi. “Sebelah kiri udah, tinggal yang kanan.” Lula melanjutkan membentuk alisnya yang sebelah kanan dan tetap mengabaikan panggilan Bimo.
Setelah yakin bahwa kedua alisnya sudah membentuk dengan sebagaimana mestinya, Lula segera memulas wajahnya dengan bedak dan dilanjutkan perona pipi.
“Nggak usah merah-merah sayang nanti malah jadi kepiting rebus,” gumamnya sambil tetap memoles bedak. “Hah, untung gue sendirian. Jadi kagak ada yang nganggep gue aneh.”
“Saya di sini dari tadi, tapi nggak nganggep Mbak aneh kok”
Satu suara perempuan yang terdengar pelan mengagetkan Lula sampai bedak yang dipegangnya hampir jatuh.
“ASTAGFIRULLAH, MBAAAAAK!” seru Lula saat baru menyadari bahwa ada mbak petugas kebersihan yang berdiri tak jauh darinya dan mungkin sejak tadi sudah melihat kelakuan ajaibnya. “Mbak ngapain di situ?” tanya Lula masih keterkejutan di wajahnya.
“Kerja, Mbak,” jawab mbak petugas itu dengan kalem. “Nggak apa-apa kok, Mbak. Dilanjutkan aja dandannya. Saya juga kebetulan mau pulang. Udah mau ganti shift.”
Lula yang sejak tadi meringis kemudian mengangguk dan tersenyum pada mbaknya ketika keluar dari toilet.
“Kayaknya gue kudu buruan pergi deh,” ucapnya pada cermin di hadapannya. Lula pun segera memasukkan seluruh peralatan make-up sederhananya ke dalam tasnya dan segera mengambil ponselnya untuk menghubungi balik Bimo.
Begitu melihat mobil Bima, Lula segera berlari menghampiri. Cowoknya itu rupanya sudah menunggu di depan mobil.
“Sorry, Bim, aku tadi habis dari toilet,” ucap Lula memberi alasan sambil menghampiri Bimo.
“Iya, nggak apa-apa. Tapi kita mesti buruan ke tempatnya lho. Takut telat, Lul,” sahut Bimo sambil membukakan pintu untuk Lula.
Setelah itu Bimo mulai menancap gas dan menuju sebuah kafe terkemuka di bilangan Jakarta Pusat.
Meskipun untuk urusan make-up, dirinya tampak tak begitu siap, tapi untuk pakaian yang dia kenakan Lula sudah mengaturnya. Untung di Cirebon masih ada koleksi baju kasual. Lula sering melihat Anindita kerap berpenampilan sporty dan boyish. Jins belel, kaus oblong, kemeja flanel, bahkan jaket parka sering jadi gaya andalan Anindita.
Dari penampilannya tersebut, Lula pun terinspirasi. Makanya, hari ini Lula sengaja berpenampilan kasual. Tentu saja Bimo menyadari perubahan kostum yang Lula kenakan.
"Kamu tumben pake baju santai hari ini, Lul," ucap Bimo dalam perjalanan tadi.
"Iya, soalnya penampilan temen Bimo kan kayaknya kasual gitu. Jadi, Ulul nggak mau dong kelihatan lebih mencolok daripada dia. Makanya Ulul pake jins dan kaus aja," terangnya. "Kenapa? Bimo nggak suka ya sama penampilan Ulul sekarang?"
Bimo melirik kekasihnya dan menggeleng cepat. "Nggak kok, Lul, Bimo suka. Ulul tetap kelihatan manis dan nyenengin. Lebih simpel lagi."
Lulu menahan senyum rikuhnya. "Makasih."
Sesampainya di kafe, Lula dan Bimo langsung duduk di meja yang sudah dipesan. Namun hingga satu jam berlalu, Anindita belum juga datang.
“Bimo yakin Anindita mau ketemuan sama kita malam ini?” tanya Lula cemas. Dia terus melihat ke arah pintu masuk.
“Yakinlah, Lul. Masa Bimo becanda, sih. Terus ngapain kita nunggu disini coba kalo dia nggak mau ketemuan?”
“Masuk akal juga, sih.” Lula mengangguk-angguk.
Tak berapa lama kemudian, seorang gadis tinggi semampai masuk ke dalam cafe. Rambutnya lurus, panjang terurai dan kulitnya putih bersih. Gadis itu mengenakan dress ketat polos warna marun dan flat shoes warna senada. Dress tersebut sungguh membentuk lekuk tubuh sempurnanya hingga membuat beberapa pengunjung pria mau tak mau menoleh dan memperhatikannya.
Bimo lalu melambaikan tangan pada gadis itu sambil teriak.
“Didot, sini!” Lula menoleh pada Bimo. Cowok itu tampak tersenyum senang. “Itu Anindita, Lul.”
Lula ternganga. Dia melihat seorang gadis yang mendekati kata sempurna sedang mendekat ke arah meja mereka. Sesuai dugaan sebelumnya, Anindita memang secantik yang di foto. Malah kalau semakin dilihat, Lula berkesimpulan cantikan saat ketemu langsung ketimbang fotonya. Kulit mulus dan tinggi badannya benar-benar membuat iri.
“Kok kamu manggilnya Didot?” tanya Lula heran.
“Itu panggilanku sejak kecil sama dia,” jawab Bimo sambil terus memandang ke arah Anindita.
“Dia juga punya panggilan ke kamu juga?” Lulu mendesak penasaran. Tapi belum sempat Bimo menjawab, Anindita sudah keburu tiba di hadapannya.
“Hai?” sapa Anindita. “Lo Lula, kan?!” Gue Anindita, sohibnya Bimo. Akhirnya ya kita ketemu juga.” Anindita langsung merangkul Lula. Ekspresi riang dan wajahnya yang ceria membuat Lula ikut tersenyum.
Lula bangun dari duduknya dan segera menyambut tangan cewek itu seraya mengangguk. “Iya, gue Lula. Seneng ketemu lo, Dit.”
“Gue juga,” balasnya riang setelah mengurai pelukannya. “Akhirnya gue bisa ketemu ceweknya sahabat gue.”
Sebelum dipersilakan Anindita sudah duduk duluan. “Mana waiters nya? Gue aus banget, nih,” katanya sambil mengipas-ngipas wajah dengan daftar menu. Lulu kemudian ikut duduk dan masih memperhatikan gadis yang baru ditemuinya ini. “Kok kalian belum pesan, sih?” tanyanya ketika menyadari di meja belum ada apa-apa.
“Sengaja nunggu lo kok,” jawab Bimo enteng.
“Aduh, terharu gue.” Anindita memegang kedua pipinya seolah tersanjung. “Ayo, ayo, sekarang kita pesan.”
Waiters datang ke meja mereka dan menanyakan akan memesan menu apa. Mata Lulu masih tak lepas menatap sosok Anindita.
Sepasang mata dan alis yang menaunginya begitu sempurna. Bulu mata lentiknya terlihat cantik. Jika tersenyum, deretan rapi gigi putih alaminya akan terlihat.
Perfect banget nih cewek, batin Lula. Gue ngerasa ampas banget.
“Lo mau pesen apa, Lu?” tanya Anindita sambil menatap daftar menu.
“Uh?” Lula tersadar dari lamunannya. Anindita mendongak dan melihat Lula seperti baru ketahuan mengintip. Dia meringis malu. “Apapun yang dipesan Bimo gue juga mau.”
Anindita dan Bimo berpandangan. “Wah, lo kayaknya demen banget sama sohib gue ini, ya. Kalo gitu gue juga nggak perlu repot-repot mikirin menu dong. Bim, apapun yang lo pesen, gue juga mau deh.”
Giliran Bimo berpandangan bingung dengan Lula. “Gue pesen apa?” Bimo bertanya pada dirinya sendiri. “Orang gue cuma pengin pesen minum doang kok.”
“Ih, nggak bisa begitu dong. Gue sama Lula kan pengin makan dan minum dengan menu yang sama seperti lo. Demi menandakan kekompakan kita. Kita kan baru pertama kali ini ketemu." Anindita kemudian menoleh pada Lula. "Gimana, Lul. Lo setuju nggak?” tanyanya meminta persetujuan. Lulu hanya mengangguk kecil. “Tuh! Lula aja setuju.”
Bimo masih tidak mengerti situasi yang sedang terjadi. Apalagi Lula. “Ya, udah, mbak, sekarang mbak tanya pesanannya sama mas ini aja, ya. Kita cewek-cewek ngikutin dia kok.” Anindita menopang dagunya dengan kedua tangannya sambil memperhatikan Bimo yang sedang dilanda bingung.
Mbak waitersnya tersenyum lalu mengalihkan pandangan pada Bimo. “Mau pesan apa saja, Mas?”
Bimo yang salah tingkah jadi tidak tahu mau makan dan minum apa.
“Pesen yang paling spesial aja deh, mbak," ucapnya kemudian. "Makanan dan minuman andalan di cafe ini, maksudnya.”
“Oh, okay, mas. Pesen untuk tiga porsi, ya?”
Bimo mengangguk. Si mbak nampak mencatat di note yang dipegangnya.
“Pesanan akan segera diantar. Mohon tunggu sebentar. Jika ada apa-apa silakan panggil saya di samping kasir.”
“Makasih, Mbak.” Anindita mengucapkan terimakasih dengan begitu manis.
Obrolan pun mengalir. Anindita memang teman bicara yang asyik. Cerita tentang apa saja dengannya, pasti nyambung. Wawasannya luas tapi tidak sok pintar. Orangnya juga periang dan murah senyum bikin betah ngobrol lama-lama.
Ketika Anindita mengungkit kalau Bimo tidak pernah sekali pun menang main tebak-tebakan dengannya, Lula tertawa lepas. Sebab Anindita sampai memperagakan ekspresi Bimo saat dia kalah dan meminta agar Anindita mengalah untuk sekali saja.
“Pokoknya, gila, Lu. Cowok lo ini sampe mohon-mohon ke gue buat ngalah sekali sama dia. Parah, ya, dia.”
Lula masih tertawa geli melihat tampang cowoknya ini yang hanya pasrah saja saat ditindas dari cerita yang disampaikan oleh Anindita.
“Udah gitu, waktu kami kecil dulu, Bimo pernah dikejar anjing. Itu anjing punya siapa, sih, Bim? Lupa gue." Anindita jelas tidak menuntut jawaban Bimo. Sebab setelah itu dia melanjutkan kalimatnya. "Pokoknya anjing itu punyanya tetangga kita gitu lah. Nah, saking takutnya si Bimo sampai mau manjat tiang listrik.”
Tawa Lula pecah lagi, apalagi wajah Bimo juga semakin menunduk malu.
“Kalo lo gimana Lu? Cerita seputar keseharian lo dong.” Anindita memandang ke arah Lula dengan tersenyum. Dia kemudian menaruh tangannya di meja dan menahan dagunya dengan telapak tangannya itu.
Lula pun kemudian bercerita mengenai awal-awal dia kuliah di Jakarta. Dia hampir pernah ditodong pencoleng, pernah diikuti orang misterius juga. Pokoknya jauh sebelum mengenal Bimo, hidup Lula agak horor di sini. Makanya Lula kemudian mengingatkan Anindita agar lebih berhati-hati dengan orang asing.
Makanan datang dan keseruan cerita masih berlanjut di meja mereka. Bahkan hingga makanan mereka habis dari satu jam yang lalu, berbagai cerita sudah dikisahkan masing-masing.
Sampai tak terasa cafe sudah sepi dan para waitersnya sudah bersiap menutup tempat tersebut. Beberapa bangku sudah diangkat ke atas meja.
“Okay, guys, thank's buat malem ini. Sumpah, gue hepi banget deh.” Anindita sudah bangun dari bangkunya.
“Lo pulang pake apa?” tanya Lula sambil ikutan bangun.
“Naik taksi palingan. Soalnya rumah kita kan nggak searah. Kalo searah pasti gue nodong cowok lo ini buat nganterin gue. Tapi dia kan harus melaksanakan kewajibannya sebagai pacar yang baik untuk nganterin lo pulang dulu,” cerocos Anindita.
Lula tersenyum mendengar ucapan Anindita. Bimo yang barusan ke kasir untuk membayar bill langsung mengajak Lula pulang.
“Gue nganterin Lula dulu, ya. Next time gue ke tempat lo. Kita tanding main tebak-tebakan lagi. Okay?!”
Tak disangka Anindita malah mengibaskan tangannya ke depan wajah Bimo. “Latihan dulu aja biar kali ini nggak kalah lagi dari gue, Bim. Gue kasian sama lo kalo harus menanggung kekalahan lagi.”
Bimo tampak tidak terima. “Wah, frontal banget lo menghina gue. Kita buktiin dulu aja deh, siapa yang bakalan menang kali ini.”
“Okay, pakai taruhan, ya. Gue nggak mau gratis lagi nih di kemenangan gue kali ini.” Tantang Anindita penuh percaya diri.
“Percaya diri banget, sih, lo bisa menang kali ini.”
“Karena faktanya gue memang yang selalu menang, Bimo. Jangan lupa itu,” tukas Anindita dengan bangga.
Lula tersenyum geli melihat dua orang ini berdebat soal siapakah yang nanti akan menang dan kalah. Perlahan, Lula semakin lekat memandang Bimo dan Anindita.
Cara mereka bicara, cara mereka saling menatap, cara mereka saling tertawa. Suara tawa Bimo yang kini sedang disaksikannya sepertinya tidak pernah Lulu lihat atau dengar. Tawa yang sering dia dengar tidak pernah selepas dan serenyah ini.
Oh, tidak! Hubungan mereka sepertinya tidak sesederhana kelihatannya.
*