Karena Mama Memaksa

1607 Kata
Karena melihat Bimo sama sekali tidak menjawab apa yang Lula tanyakan, gadis itu pun mencubit Bimo pelan sampai dia menoleh. “Ulul lagi nanya lho. Kok nggak dijawab?” tanya Lula dengan ekspresi datar. “Nggak jauh dari tempat pemotongan kue  juga kok. Cuma kan waktu itu Bimo lagi nggak bisa apa-apa. Makanya Bimo cuma dengerin dulu sebentar sampai tunggu waktu yang pas buat ngomong ke Ulul,” sahut cowok itu dengan raut wajah yang… entahlah. Lula sulit mendeskripsikannya. Lula tak punya waktu dan kesempatan terdiam lebih lama. Sebab, Bimo kemudian mengajaknya bangun. “Ya, udah, yuk. Bimo anter Ulul pulang sebelum kemalaman.” Bimo mengulurkan tangannya pada gadis itu. Lula menerimanya. Setelah Lula bangun, cowok itu menghampiri lemarinya. Sepertinya dia mengambil sesuatu dari sana. Lula tak bisa menebak isinya apa. Bimo kemudian menyerahkan itu pada Lula. “Takut Ulul nggak sempet cari kado karena hectic juga buat mikirin kostum, jadi Bimo inisiatif buat beliin ini. Mau diatasnamakan Ulul sendiri atau berdua bareng Bimo, terserah Ulul aja,” ucap cowok itu pelan. Seakan tahu ada kemungkinan Lula akan memberondonginya dengan pertanyaan, Bimo kemudian langsung menyambung kalimatnya lagi. “Bimo harap Ulul nggak tersinggung dengan cara Bimo ini. Hal ini Bimo lakukan karena merasa udah salah nggak ngenalin Ulul ke orang rumah sejak dulu. Makanya, anggap aja cara ini buat menebus satu per satu kekecewaan yang mungkin masih Ulul rasain sekarang ke Bimo.” Lula menerimanya dan mau tak mau tersipu. “Sejak kapan sih inisiatifnya Bimo jadi masuk akal kayak gini? Nggak ngawur, nggak ngaco, nggak keluar konteks.” tanya Lula dengan ekspresi rikuh yang sulit disembunyikan. “Ya, ampun Ulul. Mentang-mentang Bimo sering banget ngaco, masak iya sekarang Bimo ngaco lagi juga? Ya, nggak lah,” tukas Bimo mencoba menenangkan kekhawatiran Lula. “Pokoknya Ulul tenang aja. Kado yang udah Bimo pilihin ini dijamin cocok dan oke buat Mama nya Bimo deh.” Mata Lula pun menyipit curiga. “Memang Bimo beliin apa, sih? Kalau barangnya mahal banget yang dari sekali pandang aja nggak mungkin mampu Ulul beli, Mama Bimo pasti nggak akan percaya kalau ini dari Ulul,” sahutnya masih belum bisa tenang. “Bimo juga mikirin sampai ke situ kok, Ulul. Jadi Bimo bisa bilang sekarang dengan penuh percaya diri kalau Ulul nggak perlu khawatir, cemas, dan ragu. Pokoknya semuanya aman terkendali deh.” Sepasang mata Lula yang menyipit masih belum kembali normal. Dia masih mencurigai sesuatu yang harus segera dijawab oleh Bimo untuk menenangkan hatinya. “Memangnya Bimo beliin apaan sih?” tanyanya masih dengan ekspresi menyelidik. “Hmm, parfum couple gitu, Lul. Dan harganya nggak mahal kok. Bimo yakin Mama nggak bakal curiga apapun soal siapa yang beli parfum itu.” Namun sepertinya Lula masih belum puas dan pertanyaannya berlanjut. “Memang harga yang nggak mahal buat Bimo itu berapa?” tanyanya mendesak. Cowok itu menggaruk kepala belakangnya. “Hmm, sekitar lima jutaan,” ucap Bimo polos. Mata Lula berhenti menyipit dan berganti terbelalak lebar. “Bim—” Lula seakan tak mampu lagi berkata-kata. “Tenang, skenarionya yang bakal dipikirin Mama Bimo palingan Ulul sengaja nabung buat beliin mereka kado itu. Udah pokoknya Ulul tenang aja, ya.” Lula juga baru menyadari betul kalau Bimo ini sangat suka bercanda. Lima juta hanya untuk membeli parfum pasangan bagi Lula itu seperti mencicil untuk membayar biaya kuliah setengah semester di kampusnya saat ini. Tapi ya, memang pemahaman ukuran antara dirinya dan Bimo memang sudah sangat berbeda. Jadi, tidak bisa disalahkan juga. Bahkan mungkin Mama nya Bimo akan berpikir kalau parfum tersebut parfum yang terlalu murah. Apalagi setahu Lula, orang-orang kaya punya parfum kesukaan mereka dari merek-merek ternama yang sering sulit diucapkan karena tak lazim di lidah orang Indonesia.  “Terus, Bimo dapet ide kayak gini tuh bener-bener murni ada ilham yang terbit begitu aja di kepala Bimo apa gimana tuh?” Lula tak tahan lagi untuk bertanya bagian terpenting dari hadirnya kado ini.  Bimo menyeringai salah tingkah. “Sebenernya Bimo sempet nanya ke Aldo, sih. Hihi, dia kan udah cukup fasih tuh menangani urusan antara pacar dan orang tuanya, jadi ya Bimo sedikit dapet insight lah dari dia.” Ya, pantas saja! Sebab Lula benar-benar tidak yakin jika Bimo sungguh mendapatkan inspirasi murni dan langsung terpikir membelikan kado untuk perayaan ulang tahun pernikahan kedua orang tuanya dan mengatasnamakan Lula.  Gadis itu pun mengangguk-angguk. “Meskipun Ulul kurang sreg sama dia karena sering menyita waktu Bimo buat Ulul, tapi ada positifnya juga. Bimo jadi belajar hal yang oke dari dia.” Meskipun enggan mengakuinya, tapi hal satu ini positif dan Lula harus tetap mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Bimo kali ini. “Iya deh, temennya Bimo ngasih tahu jalan yang bener kali ini. Ya, Ulul harus berterimakasih sepertinya ke dia. Tapi karena Ulul sama sekali nggak kenal, Bimo yang sampein aja ya,” ucap gadis itu seraya tersenyum manis. Bimo menganggukan kepalanya lalu mengulurkan tangannya. “Ya, udah, yuk. Kita ke bawah. Takut Mama udah nungguin juga. Nanti Ulul bisa langsung kasihin ke Mama, ya. Terus juga Bimo bisa anter Ulul sekalian pulang juga sebelum kemaleman,” tuturnya. Lula menerima uluran tangan Bimo tersebut dan hanya tersenyum kecil. Mereka berdua pun segera turun ke bawah untuk menemui sang Mama sambil membawakan kado yang telah dipilihkan oleh Lula tersebut.  Ketika kedua anak muda itu turun ke bawah, Mama tampak sedang berbincang santai dengan Anindita di samping meja kue. Bimo langsung mengajak Lula menghampiri Mama nya. “Mah, Bimo mau anter Lula pulang dulu, ya, sebelum kemalaman,” ucap Bimo langsung to the point begitu ada di hadapan Mama nya. Mama dan Anindita kompak menoleh dan melihat ke arah Bimo dan Lula. “Eh, tapi, ini Lula mau ngasih sesuatu buat Mama,” lanjutnya. Meski agak kaku, Lula pun menyerahkan bungkusan yang sudah disiapkan oleh Bimo tersebut ke arah Mama nya dengan kedua tangannya. Mama Bimo langsung menerimanya dengan ekspresi terharu. Entah betulan terharu atau formalitas saja. Karena Lula merasa Mama nya tetap merasa lebih perhatian dan bisa berekspresi lebih murni saat bersama Anindita. “Aduh, Lula ini beneran repot-repot lho. Padahal nggak usah. Udah dateng aja Tante udah seneng lho. Makasih, ya,” sahut Mama nya Bimo kemudian. Lula mengangguk. “Iya, Tante. Semoga suka, ya,” balasnya dengan tetap tersenyum. Mama kemudian memeluk bingkisan yang diberikan oleh Lula tersebut dan mengangguk. "Jadi kamu mau antar Lula pulang sekarang, Bim?" tanya Mama nya ke arah Bimo. "Iya, Mah. Udah jam berapa ini," balas Bimo sambil melongok jam tangannya. "Oh, ya bener, sih. Jangan sampai kemalaman. Makanya sekalian antarin Anindita juga, ya," sambung Mama nya dengan nada optimis kalau permintaan nya pasti akan dikabulkan. Jelas saja Lula merasa langsung canggung kembali dan bingung. Tapi tak menyangka kalau Bimo akan bereaksi. "Hm, kenapa Dita gak diantar Pak Samsul aja? Lagian beda arah, Mam. Lula ke arah Depok, apartemen Dita kan deket cuma di Kuningan situ. Ngapain mesti Bimo yang antar?" tanya Bimo tak habis pikir. Sepertinya Anindita merasa tidak enak juga karena Bimo terlihat keberatan dengan permintaan Mama nya. Akhirnya dia pun bicara. "Hmm, Tante, nggak usah repot-repot. Nanti aku naik taksi aja. Lagian dekat juga kok, bener kata Bimo tadi." Anindita mencoba memberi pengertian pada Mama nya Bimo. "Eeh, jangan gitu dong, Dit. Kan kamu baru kali ini lagi main ke rumah Tante, masak pulang sendiri naik taksi. Pokoknya nggak boleh. Bimo harus anter Dita pulang sampai di depan apartemen." Mama bersikeras. Bimo tampak tak berdaya dan bingung lagi bagaimana membantahnya. "Kan bisa nih kamu antar Dita dulu terus baru anter Lula. Tetep bisa searah," ucap Mama dengan nada final. Bimo akhirnya hanya mengangguk pasrah. Lalu bagaimana dengan Lula? Tentu saja serba salah dan merasa sedih lagi karena sepertinya PR sangat besar untuk bisa membuat Mama Bimo menganggap keberadaan nya atau mulai memperhatikan dirinya.  Alhasil mereka bertiga pun naik mobil yang sengaja dipinjamkan Mama nya agar bisa mengantarkan Anindita. Sungguh-sungguh Lula merasa ingin menangis lagi atas apa yang dialami nya saat ini. Tapi dia harus menahannya setengah mati karena dia akan satu mobil dengan Anindita. Jadi tidak mungkin Lula menangis meratap nasib dan dirinya sendiri di depan perempuan yang justru bisa jadi ancaman baginya hari ini dan nanti. Bimo dan Lula duduk di depan dan Anindita di jok belakang. Andai saja Lula mampu untuk menghindari situasi yang sangat tidak nyaman ini. Sayangnya Lula sama sekali tak bisa melarikan diri.  Begitu sudah berada di jalan raya, Anindita mungkin ingin mencoba mencairkan suasana yang mengandung tensi agak tinggi. "Eh, Bim, Lul, kalian suka nonton film nggak sih?" tanya Anindita dengan suara yang riang. "Kayaknya film The Amazing Spiderman udah tayang tuh. Kalian mau nonton bareng, nggak?" Lula dan Bimo tanpa sadar saling menoleh satu sama lain. Lula menatap Bimo dengan pandangan yang mengintimidasi dan seolah mengatakan, 'Kamu janji nontonnya cuma sama aku!'. Bimo bingung harus bereaksi apa dan akhirnya. "Kalau kagak ada jadwal kuliah boleh aja sih, Dot. Tapi nanti gue kabarin lagi, ya," ucap Bimo kemudian. Anindita pun mengangguk. "Hmm, okay. Kabarin, ya. Eh, Lul, kayaknya aku belum punya nomor kamu deh. Boleh tahu nggak? Nanti siapa tahu aku pengin ketemu kamu dan ajak jalan-jalan gitu, kamu mau, kan?!" "Oh, iya. Nggak apa-apa," hanya itu yang bisa diucapkan oleh Lula atas apa yang barusan Anindita ucapkan padanya. "Hmm, nanti aku tanya ke Bimo aja atau kamu mau kasih langsung simpan di hapeku aja?" Anindita langsung menyodorkan hapenya pada Lula. Karena dari kedua pilihan tersebut Lula langsung secara kontan mempertimbangkan baik buruknya, akhirnya Lula pun menerima hape Anindita yang disodorkan pada dirinya. Meskipun mungkin dari pilihan Lula tersebut Anindita bisa langsung menebak atau mencium aroma kecemburuan, tapi Lula tak peduli. Dia harus menunjukkan eksistensi dirinya di hadapan Anindita. Gadis itu harus tahu bahwa ya… Bimo miliknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN