Satu Perjalanan yang Cukup Menyiksa

1678 Kata
Dengan penuh semangat (dan juga kecemburuan yang sudah mendidih sebenarnya) Lula pun mulai mengetikkan nomornya sendiri di ponsel yang disodorkan oleh Anindita tersebut. Setelah selesai, Lula menoleh sedikit dan mengembalikan lagi ponselnya Anindita. “Ini,” ucap Lula sambil menyodorkan ponselnya pada gadis itu. “Ow, oke, thank you,” balas Anindita sambil menerima ponselnya lagi dan memastikan sekali bahwa nomornya sudah benar. “Aku kasih nama My Best Friend's Girlfriends, ya?!” Tunggu! Lula menjadi sangat tidak nyaman saat mendengarkan Anindita menyebutkan kalimat tersebut. Jadi seperti sebuah isyarat tragedi yang sangat tidak menyenangkan. Terlebih judulnya agak mirip dengan salah satu film yang dibintangi Julia Roberts, Cameron Diaz, dan Dermot Mulroney yang pesonanya tak kalah ampuh untuk melumpuhkan para gadis saat masih muda. Tapi jika Lula protes pada apa yang hendak Anindita tuliskan di kontak ponselnya apakah tidak terasa berlebihan? Pertama, itu ponsel milik pribadi Anindita. Jadi gadis itu bisa bebas menuliskan nama apa saja di kontaknya. Kedua, jika dia protes apa akan tidak membuat percakapan tak menyenangkan jadi semakin panjang? Sedangkan saat ini Lula sama sekali sedang tidak berselera untuk mengobrol dan berinteraksi dengan gadis ini. Maka, yang bisa dilakukan oleh Lula kemudian hanya pasrah. “Hmm, ya, terserah aja,” ucapnya sambil melemparkan pandangan ke luar jendela. Anindita sepertinya mulai mengetikkan usulan nama yang dia ucapkan tadi di ponselnya sendiri. Tak lama Lula merasa ponselnya bergetar. Lula mengambil ponsel tersebut di dalam tas dan Anindita pun bicara. “Itu nomorku, Lul, jangan lupa disimpen, ya,” ucapnya dengan ramah. “Hah? Oh, iya,” sahut Lula lalu mulai melakukan simpan kontak di ponselnya. Saat dia melihat kolom nama kontak, Lula sempat berpikir siapa nama yang harusnya dia berikan. Karena memang sedang tidak terpikirkan hal lain, Lula pun menuliskan ‘Anindita yang itu’. “Udah aku simpan kok,” ucap Lula sambil menolehkan kepalanya ke belakang. “Thank you, Lul. Nanti kita bisa chattingan deh,” sahutnya dengan riang. Belum tentu! Kenapa perempuan ini seyakin itu? Yang berminat untuk sering chatting juga siapa? Hanya saja Lula tak bisa mengekspresikan kedongkolannya tersebut saat ini. Makanya Lula hanya menganggukkan kepalanya saja seraya menoleh sedikit ke arah samping. Setelah itu, sama sekali tidak ada komunikasi apa-apa lagi sampai akhirnya mobil yang dikemudikan Bimo sampai di pelataran sebuah apartemen yang sangat mewah. Sekali pandang pun Lula sudah bisa menebak harga sewa per bulannya lebih mahal dari harga motor lamanya jika dijual. “Akhirnya sampai deh kita,” ujar Anindita sebelum turun. “Thank’s ya, Bim, Lul, udah mau aku repotin buat anter sampai sini.” Karena kami nggak punya pilihan! Lo nggak usah sok jengah nggak enak karena udah ngerepotin gitu deh. Jelas-jelas lo merasa tersanjung karena begitu diperhatikan selama di pesta. Masih sok merasa bukan siapa-siapa. Lula merasa makin tidak suka dan nyaman untuk berkomunikasi lama-lama dengan Anindita. “Iya, santai aja, Dot. Sorry ya gue nggak bisa anter lo ampe dalem, nanti keburu makin malem soalnya ke arah kos cewek gue,” sahut Bimo pada Anindita. Lagi-lagi cewek ini menganggap hal tersebut bukanlah apa-apa. “Ah, santai lah, Bim. Kapan-kapan aja kalian mampir ke apart gue. Kita bisa main game, nonton film atau masak-masak bareng gitu. Waktu kecil lo kan suka main masak-masak, Bim, sampai pernah bikinin gue omelet juga, kan?!” tutur Anindita dengan antusias seakan Lula juga merasa tak sabar menantikan hingga momen itu tiba. Kenapa tidak ditanya dulu apakah Lula bersedia dan sukarela untuk datang atau main bersama Anindita? Kenapa malah sudah percaya diri begitu. Ah, sungguh, Lula merasa sudah kesal sekali. Sepertinya Bimo melihat kekesalan Lula ini. Makanya cowok itu pun segera menyuruh Anindita untuk segera turun.” “Bahasnya nanti lagi aja, Dot. keburu malem ini,” tukas Bimo dengan suara terdesak. Anindita pun segera tersadar. “Eh, iya. Masalah cerita gue. Suka nggak sadar, Lul. Maafin ya, Lul. Pamit duluan, ya,” ucap gadis itu kemudian segera turun dari mobil Bimo. Saat turun, Anindita sempat melambaikan tangannya dengan penuh semangat ke arah Lula dan Bimo. Namun Lula hanya membalas sekadarnya. Tangannya balas melambai tapi ekspresinya tentu saja tidak seriang itu.  Begitu melihat Anindita sudah berjalan menuju lobi apartemen, Bimo segera meninggalkan pelataran apartemen tersebut. Bimo pun sepertinya menyadari tensi tinggi dari aura nya Lula saat ini. Hanya saja dia tak berani untuk memperburuk keadaan dengan menanyakan sesuatu yang bisa memicu emosi gadis itu. Bukan hanya karena sudah malam. Tapi juga Bimo merasa dia tak ingin lagi membuat Lula marah-marah. Namun Bimo merasa keheningan ini sangat mengganggunya. Oleh sebab itu, begitu sudah separuh perjalanan sebelum sampai ke kos Lula, Bimo pun bicara.  “Ulul kenapa diem aja?” tanyanya pelan sambil melirik ke gadis di sebelahnya. “Bingung mau ngomong apa juga,” balas gadis itu masih belum menoleh pada Bimo.  “Ah, masak? Biasanya Ulul selalu punya stok topik yang menyenangkan buat dibahas sama Bimo,” ucap cowok itu dengan nada ceria. Akhirnya Lula menoleh ke arah Bimo dan menyodorkan wajahnya yang datar dan tak bersemangat. Bimo menyadari bahwa gadisnya itu sedang tak bisa diajak bercanda. Dia pun mencoba serius dan kembali bertanya. “Ulul bilang aja sekarang lagi ngerasain apa deh. Coba diobrolin ke Bimo,” sahut cowok itu dengan suara yang lebih serius dan siap. Meskipun sebenarnya cowok itu sudah mengetahui sedikit apa yang hendak coba disampaikan Lula. Tapi tetap saja, Lula harus mengatakannya secara langsung pada dirinya.  “Mama nya Bimo kayaknya punya mimpi besar buat lihat Bimo pacarannya sama Anindita, bukan sama Ulul,” kata Lula dengan nada yang coba dibuat sebiasa mungkin. Meskipun tentu saja terdengar jadi seperti sebuah tuduhan. “Hah?” Bimo ternganga sesaat kemudian menyadari ke mana arah pembicaraan Lula tersebut. “Ah, Ulul pasti masih kepikiran sama apa yang Mama nya Bimo omongin, ya?!” Bimo melirik ke arah Lula yang sama sekali tidak memberikan reaksi apapun. “Nggak usah dipikirin, Ulul, serius deh. Mama nya Bimo emang orangnya suka punya ekspektasi yang kelewatan dari ibu-ibu pada umumnya. Nggak perlu terlalu didengerin, ya apa yang diomongin sama Mama nya Bimo tadi.” Tentu saja Lula belum merasa puas dengan apa yang disampaikan Bimo tersebut. Sebab baginya, ya tetap terasa tak nyaman dan terus terang saja sangat menyakitkan.  “Sebenernya bukan cuma omongannya Mama Bimo doang yang bikin Ulul ngerasa… apa ya kata yang tepat buat ngegambarin perasaan Ulul sekarang?!” gadis itu seolah mengingat-ngingat siapa tahu dalam kamus di otaknya ada satu kata yang paling mendekati. Gadis itu menggeleng. “Ulul nggak nemuin kata yang pas buat menggambarkan itu. Tapi intinya Ulul ngerasa kayak invisible aja tadi sepanjang pesta.” Lula menoleh pada Bimo dan memberikan wajah sendunya.  Bimo melirik ke gadis di sampingnya itu sesaat sebelum mengembalikan lagi pandangannya ke depan. “Hmm, Bimo boleh nanggepin lagi nggak nih omongannya Ulul?” tanya Bimo dengan nada hati-hati. Lula menoleh pada Bimo dan tersenyum. Bimo seakan menyadari itu pun ikut menoleh dan turut tersenyum juga. Namun agaknya Bimo tidak dapat mengartikan senyum kekasihnya barusan. “Kalau menurut Bimo sih, Ulul beneran nggak usah mikirin apa yang Mama Bimo lakuin atau omongin tadi,” ujar cowok itu mengawali. “Kenapa? Karena ya mungkin Mama Bimo memang sekangen itu sama Anindita.” Bimo mengawali penjelasannya. “Ini Bimo harap Ulul nggak mikir yang gimana-gimana, ya. Cuma Anindita itu udah dianggap kayak anak perempuannya Mama. Dari kami kecil, dia sering banget tidur di rumah dan nemenin Bimo juga pas Mama, Papa, atau kakak-kakak Bimo nggak ada.” Bimo mengambil jeda sebelum melanjutkan lagi kalimatnya. “Mbak Bella kan udah keluar dari rumah sejak SMP, karena dia boarding school di Semarang. Jadi, pas kecil itu ya memang Anindita kayak gantiin kekosongan Mama sama ketiadaan anak perempuan satu-satunya,” tutur Bimo menerangkan. “Tapi pas Mbak Bella di rumah, Mama biasa aja kok sama Anindita. Bener-bener sewajarnya.” Apa yang diucapkan oleh Bimo barusan entah bisa membuat ringan hati Lula atau tidak. Namun tujuan utama Bimo hanya ingin gadis itu tidak begitu risau pada perlakukan Mama Bimo pada Anindita.  Dari sisi Lula sendiri saat ini, tentu saja ingin marah mendengar apa yang coba dijelaskan oleh Bimo. Tapi di saat yang bersamaan juga Lula merasa tak berdaya serta serba salah dengan apa yang baru saja diungkapkan Bimo terhadapnya. Lula sempat ingin menghapus pikiran jeleknya seputar ketidakadilan penilaian antara Lula dan Anindita. Karena mau sampai diuji berapa babak pun, sepertinya gadis itu tidak akan bisa berada di posisi seperti Anindita sekarang. Sebab Anindita sudah ada ‘di sana’ di saat Lula masih berada di dunianya sendiri bersama Mama dan Papa. Anindita sudah mengisi kekosongan serta mengganti keberadaan seseorang yang diharapkan jadi penyemarak hati. Meski Lula sadar ini bukan salahnya, tapi tetap saja ini menyakitkan.  Tak terasa sampailah juga mereka ke di depan gedung kos-kosan Lula. Menyadari semenjak dirinya mencoba menjelaskan di jalan tadi kekasihnya ini tidak menanggapi, Bimo pun akhirnya bertanya sebelum Lula turun dari mobilnya. “Kok Ulul nggak ada tanggapan sama apa yang tadi Bimo omongin?” tanya cowok itu. Lula tersenyum kecil dan segera melepaskan sabuk pengamannya. Pelan dia menoleh pada Bimo dan memandang sesaat wajah cowoknya itu. “Kamu tahu nggak, Bim?! Selain melihat kematian seseorang yang kita sayang, mengetahui bahwa pasangan kita memiliki hal besar dan luar biasa bersama seseorang yang bukan kita di masa lalu, juga teramat menyakitkan.” Hanya satu kalimat itu saja yang sanggup Lula ucapkan sebelum turun.  Lula tahu mungkin Bimo tidak peka dengan apa yang dia ucapkan barusan dan juga tidak begitu peduli. Namun setidaknya Lula sudah mengutarakan apa yang selama ini mengganjal di hati.  Sedangkan bagi Bimo, usai mendengarkan apa yang Lula ucapkan itu dia menyadari satu hal. Lula memang sedang cemburu. Tapi ini jenis cemburu yang menakutkan. Karena levelnya tidak biasa seperti yang lazimnya diserukan gadis itu di beberapa kesempatan.  “Ulul turun, ya. Bimo hati-hati nyetirnya. Udah malem banget soalnya,” ucap gadis itu sebelum turun.  Mungkin karena masih mencerna dan mencari tahu level kecemburuan kekasihnya tersebut, maka Bimo hanya mengangguk dan membalas pendek, ‘Iya’ saja. Ketika Lula sudah turun dan tidak biasanya, tidak balik badan dan melambaikan tangannya, Bimo semakin sadar bahwa tingkatan kecemburuan dari Lula ini memang fatal
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN