Kewalahan dengan Diri Sendiri

1937 Kata
Entah berapa kali Lula mencoba memejamkan matanya, tapi tak kunjung hilang juga kesadarannya. Rasanya sangat mengganggu dan tak nyaman. Namun sangat sulit untuk Lula katakan semua yang sedang dia rasakan saat ini. Satu-satunya yang bisa dia lakukan saat ini hanyalah menatap langit-langit kamarnya sambil tak memikirkan kejadian hari ini. Lula menarik mundur beberapa detik hingga beberapa jam ke belakang.  Semuanya tampak lancar dan biasa saja di awal-awal hari. Lula begitu optimis dan percaya diri saat sedang mencari kostum untuk dipakainya ke acara ulang tahun orang tua Bimo. Lula juga teringat bagaimana ia begitu sibuk dan pusing mencari salon yang buka. Berkali-kali Lula gagal dalam menemukan salon yang dapat membantunya tampil dengan lebih baik. Sampai akhirnya dia menyerah dan berdandan seorang diri bermodalkan video tutorial. Lula menyadari bahwa usahanya untuk memberi kesan ‘siap sedia’ saat hendak memasuki medan yang sama sekali tak dia kenal adalah suatu perbuatan yang gegabah. Bahkan terlalu gegabah. Sebab pada akhirnya, dirinya hanya kecela dan kini merasa sakit sendiri. Sungguh dia tidak bisa menyalahkan Mama Bimo tentang betapa dia perhatian dan begitu antusiasnya dengan keberadaan Anindita. Seperti yang pernah kekasihnya itu ucapkan, mungkin kenangan di masa lalu dan apa yang pernah dilalui bersama gadis bernama Anindita itu memang semembekas itu. Tapi lagi-lagi Lula ingin berkata bahwa ini bukan salahnya bertemu Bimo lebih lambat dari Anindita. Bahkan mungkin kehadiran Bimo sama sekali tidak pernah ada dalam rencananya. Jadi, jika patokannya hanya karena seberapa lama gadis itu sudah ada di hidup mereka sampai diperlakukan dengan istimewa sementara Lula adalah asing dari antah berantah yang tak perlu diperhatikan atau dianggap eksistensinya karena belum lama berjumpa… itu sungguh tidak adil. Sangat tidak adil! Lula coba membongkar lagi ingatannya. Apakah dia pernah berbuat hal yang tidak terpuji di masa lalu? Siapa tahu hal itu berhubungan erat dengan apa yang saat ini dia alami? Sebab dia sangat ingat bagaimana sejak kecil Mama dan Papa nya mengatakan tentang hukum karma.  Meskipun tentu saja Lula tidak serta merta percaya. Mengapa? Entahlah. Mungkin semakin beranjak dewasa dan bisa berpikir berdasarkan logika dan bukan emosi semata, Lula tahu bahwa biasanya apa yang terjadi itu adalah hukum sebab akibat. Pasti selalu ada pemicu atau yang mengawali terlebih dahulu sebelum kemudian terjadi. Sama seperti penciptaan dunia ini yang dulu Tuhan pun mungkin tidak berencana membuat makhluk hidup selain malaikat dan iblis. Lula tersadar kenapa lamunannya makin jauh sampai pada penciptaan dunia segala? Lula kembali membalikkan punggungnya karena mulai terasa panas dan tak nyaman. Jika terus begini Lula tidak akan mendapatkan ilham untuk tidur sama sekali. Padahal jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Di mana seharusnya ia sudah bermimpi berjalan-jalan di Amsterdam atau pedesaan cantik di Jepang. Gadis itu pun menyerah dan mengerahkan tenaganya untuk pasrah jika memang tak bisa tidur. Tapi apa yang harus dia lakukan? Menonton film? Sepertinya seluruh koleksi film dalam diska lepas milik Bimo sudah dia tonton semua. Lagi pula jika menonton film, Lula harus bangun dan menyalakan lampu lalu mengambil laptopnya. Sedangkan posisinya sekarang sudah terasa nyaman hingga akhirnya membuat dia merasa ini adalah saatnya dia terlelap. Dalam mata terpejam dan penuh dengan kepasrahan pada bumi Lula berusaha tidak khawatir atau takut akan hal-hal yang belum terjadi. Seperti yang dulu dia pernah pelajari di salah satu grup healing yang dia ikuti pasca kematian sang Mama. Meskipun itu sudah terjadi beberapa waktu yang lalu, namun Lula merasa ketika itu semuanya jadi jauh lebih baik. Tidurnya, pola makannya, dan pikirannya. Semuanya terkontrol dan terkendali sesuai dengan hal yang mungkin sangat diharapkan Papa nya. Tentu saja Lula segera bangkit dan kembali ceria seperti sedia kala. Berat. Sangat berat. Apalagi mengingat betapa dekatnya ia dengan sang Mama, bahkan di hari-hari terakhirnya. Mengenang bagaimana mereka berkomunikasi begitu akrab dan dekat seakan membuat Lula masih menganggap kepergian sang Mama hanya salah satu bagian dari mimpi buruknya saja. Papa sampai harus meyakinkannya berulang kali jika yang nyata memang menyakitkan. Namun setelah ini tidak akan terasa lagi kok. Begitu kalimat yang pernah diucapkan oleh Papa nya kala itu.  Lula mempercayai dan mulai bangkit dengan membuka diri di grup healing saat itu. Meskipun untuk mau bercerita dan mulai menyampaikan apa yang dia rasakan masih cukup berat untuknya. Tapi di bulan ke dua setelah dia mengikuti grup healing tersebut, gadis itu sudah merasa amat sangat jauh lebih baik.  Hingga ada satu momen yang terjadi saat Lula sudah masuk SMP, Lula pun lupa persisnya kenapa, tapi dia terus menangis tanpa henti. Setiap ada yang mendekati dan memeluknya tangisnya makin menjadi. Semua orang di sekolah sampai bingung dan akhirnya menghubungi Papa. Dengan panik Papa segera datang ke sekolah Lula sambil membawakan foto Mama nya.  Ajaib. Setelah melihat Papa datang ‘bersama Mama’, tangis Lula berangsur berhenti. Pelan dan pasti, Papa terus menghampirinya dan memeluk Lula. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, tangis Lula tidak makin tinggi, justru berhenti sama sekali. Dengan sabar dan perlahan, Papa mengusap punggung Lula. Tidak ada kalimat khusus nan ajaib yang mungkin diucapkan. Tidak ada sama sekali. Papa hanya memeluk dan mengusap punggung Lula, dan gadis itu bisa lebih tenang dari pada air. Setelah itu akhirnya Papa yakin untuk rutin membawa putrinya tersebut ke psikiater. Apalagi Lula juga menunjukkan banyak gejala yang tidak biasa usai kehilangan sang Mama.  Meskipun saat ini semuanya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, tapi di saat-saat tertentu, Lula kerap terpikirkan lagi hal tersebut. Kejatuhan dan ketidakberdayaannya mengendalikan diri sendiri. Kekalutan dan kekosongan yang seakan memenuhi seluruh relung jiwa dan sendi-sendi. Mungkin bagi sebagian orang duka dan kisah sedihnya hanya semacam narasi. Biasa dan bisa dibuat kapan saja tanpa perlu birokrasi. Padahal kenyataannya, kadang hal yang diluar kendali bisa saja terjadi. Sampai saat ini Lula pun tidak mengerti mengapa dirinya harus mengalami ini. Berulang kali dia bertanya pada Dokter Helmi mengenai kondisinya, tapi Lula masih belum menemukan jawabannya. Karena Dokter yang telah dia kenal saat masih memakai seragam putih biru tersebut selalu mengatakan. “Jawabannya ada pada diri kamu sendiri, Lula.” Mungkin semenjak dia hijrah ke Jakarta dan jarang pulang, Lula sudah jarang menemui Dokter Helmi. Padahal setelah kelulusan dan Lula mendapatkan surat penerimaan dari kampus tempat dia berkuliah saat ini, Dokter Helmi tak berhenti menyemangati. Sepertinya saat ini Lula punya alasan lebih untuk menghubungi Dokter Helmi walau sekadar menyapai ‘hai’ dan meledek selera musiknya yang tidak pernah ganti. “Akhirnya aku bisa diterima di kampus yang memang Papa dan Mama inginkan, Dokter Hel,” ucap Lula mengawali sesi konsultasinya siang itu. Dokter Helmi rupanya masih saja kaget dengan sikap meledak-ledak dan tiba-tiba dari Lula. Oleh sebab itu Dokter Helmi kemudian yang meralat tatanan bahasa Lula dengan mengucapkan, “Selamat siang, Lul, kamu tampak baik hari ini.” Barulah Lula tersadar kemudian tersenyum. “Aaah, Dokter tuh kenapa sih pengertian banget kayak gini?!” tanya Lula lalu meletakkan kedua tangannya di depan sambil tersenyum penuh keharuan. “Saya udah kenal kamu beberapa tahun, Lul, jadi sebenarnya sudah nggak kaget,” balas Dokter Helmi. Dokter yang selalu memakai warna pink di pakaian atau aksesoris yang dikenakannya tersebut menghampiri meja minuman. “Kopi? Teh? Atau air jeruk?” tanya Dokter Helmi sambil mengambil botol kaca dari dalam kulkas dan mengangkatnya di hadapan Lula. “Suamiku tadi pagi rajin banget bikinin aku seliter air jeruk murni yang dia peras manual.” Lula tampak antusias. “Hmm, kayaknya aku mau cobain air jeruk yang dibuat sama suaminya Dokter Helmi aja deh,” balas Lula kemudian duduk di sofa seperti biasa. “Good choice,” ujar Dokter Helmi lalu menuangkan air jeruk dalam botol kaca tersebut ke dalam dua gelas belimbing. Dokter Helmi pun membawakan dua gelas belimbing dan mengangsurkannya pada Lula. Gadis itu dengan cekatan menerimanya. “Jadi kamu diterima di kampus bergengsi itu semenjak tahu alasan utama dari Mama dan Papa kamu?” tanya Dokter Helmi tanpa basa basi. Gadis itu sedang menyeruput air jeruk dari gelasnya sendiri saat Dokter Helmi bertanya. Ia langsung menjawab ketika air jeruk tersebut melalui tenggorokanya. “Yep, syukur nya aku bisa masuk. Walaupun mepet banget waktu yang aku punya kemarin.” Lula manggut-manggut. “Dan air jeruk nya enak, Dok,” puji Lula dengan mata terbelalak. “Gula batu?” “Stevia,” tukas Dokter Helmi kemudian ikut meminum air jeruknya sendiri. “Harusnya aku sadar kalau Dokter pasti menerapkan hidup sehat dengan nggak mengonsumsi gula sembarangan,” sahut Lula kembali menyesap air jeruknya. “Sebenernya nggak juga, Lul. Kadang aku juga minum cincau pakai gula merah, terus es cendol yang ada santannya, terus sesekali pesan thai tea ketika ingin. Tapi memang nggak sering. Buat mengobati kerinduan aja. Makanya sesekali.” “Tapi bukannya gula bisa bikin kecanduan ya, Dok?”  tanya Lula dengan ekspresi seperti mengingat-ingat. “Ada benarnya.” Dokter Helmi menganggukkan kepala. “Gula merupakan salah satu zat yang menyebabkan sebuah perubahan kimiawi di otak. Makanya nggak heran, ketika kamu mengonsumsi sesuatu yang manis, kamu akan jadi akan merasa lebih baik. Tenang. Damai. Cuma sayangnya, saat perasaan itu hilang, kita, manusia memiliki kecenderungan untuk meminta lebih. Penjelasan sederhana kenapa mengonsumsi gula menjadi membuat kita seakan ‘ketagihan’ adalah ya… karena kita nggak pernah benar-benar kenyang.” Lula terdiam sesaat dan wajahnya langsung berubah. “Apa karena itu juga ya Dok?! Tiap kali aku ingat Mama, aku ngalamin rasa sakit yang… buruk. Sampai kemudian ketika aku ngeliat fotonya, nonton lagi video singkat yang ada di hape Papa, aku merasa jadi lebih baik.” Gadis itu kemudian mengangkat pandangannya dan menatap Dokter Helmi yang masih sabar menantikan ceritanya. “Tapi saat itu aku jadi semakin ingin Mama yang ada. Sosoknya. Kehadirannya. Keberadaannya. Dan bukan cuma sekadar kenangannya. Makanya ketika itu nggak aku dapet, aku jadi kesal, nangis, bahkan sampai marah.” Dokter Helmi tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, mengamini apa yang Lula utarakan. “Saya senang kamu berprogres dengan baik sekarang. Karena aku masih inget, dalam sebulan perjumpaan kita, kamu masih nggak mau ngomong apa-apa. Kamu cuma meluapkan hal yang benar dan nggak, hal yang salah, hal yang buruk, seharusnya begini, seharusnya begitu.” Dokter Helmi memandang Lula dan seakan memberikan pandangan sebuah kemajuan besar telah terjadi dalam diri gadis itu. “Dan lihat kamu sekarang. Kamu benar-benar telah membuat kemajuan yang bagus untuk diri kamu sendiri.” “Gitu ya, Dok?!” Lula seolah masih meragukan apa yang diucapkan Dokter Helmi padanya. “Mungkin yang… harus saya ingatkan ke kamu adalah untuk mulai membuka diri. Membuat sebuah hubungan pertemanan dengan orang lain. Temui orang-orang baik di luar sana dan bertumbuhlah menjadi sesuatu. Kata-kata Papa kamu itu sengaja saya kombinasikan dengan afirmasi supaya kamu bisa lebih percaya diri.” “Agar setelah itu saya bisa percaya sama orang lain?” Lula mengulang lagi kata-kata yang pernah diucapkan Dokter Helmi padanya. Dokter nya itu mengangguk. “Saya harus bikin sebuah ikatan baru dengan orang baru dan temui orang-orang yang bakal bantu saya tumbuh.” Ulangnya lagi pada apa yang coba disampaikan Dokter Helmi. “Kamu bakal ngerasain antusias lagi kok ketika kamu mulai membuka pintu yang selama ini kamu tutup, Lul.” Lula mengangguk-angguk. “Jadi mungkin kita nggak akan ketemu dalam waktu yang lama ya, Dok?!”  Dokter Helmi menggeleng. “Kamu bisa telepon saya saat kamu butuh bantuan. Tapi saya rasa di sana kamu bisa menjaga diri kamu.” Gadis muda itu tersenyum. “Saya bakal kangen ruangan ini, air jeruk yang Dokter kasih, dan instrumen yang sejak saya datang nggak pernah ganti.” “Ah!” Dokter Helmi memegang pelipisnya sendiri. “Sepertinya saya juga bakal merindukan komentar kamu terhadap selera musik saya ini.” Ucapan Dokter Helmi saat itu seakan jadi sabda yang terus diingat Lula hingga akhirnya masuk kampus. Keajaiban itu memang benar terjadi. Saat baru menginjakkan kaki di kos dan makhluk ajaib yang ditemui pertama kali adalah Gadis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN