Ada Pertanda dari Salah Satunya

2283 Kata
Lula sakit. Bukan cuma hatinya, sepertinya pikiran dan tubuhnya juga. Lula sampai tidak bisa bangun dari tempat tidurnya bahkan untuk sekadar mengambil minum. Keberdayaannya yang terakhir dia gunakan untuk menghubungi Gadis demi mengabarkan bahwa dirinya tidak dapat masuk hari ini. Sebuah pesan singkat, pendek, dan jelas memberitahukan Gadis untuk segera turun ke bawah dan mengecek keadaan sahabatnya. Lula Dis, gue sakit. Jadi gak bisa ngampus. Kalimat yang dikirimkan oleh Lula tersebut jelas mengkhawatirkan. Sebab sesakit apapun Lula, sangat jarang Lula absen untuk tidak masuk. Sesakit-sakitnya, kecuali datang bulan dan memang sakit yang parah, baru membuat Lula dengan ikhlas mengajukan izin. Karena menurut cerita yang pernah Gadis dengar pun, Lula memang jarang sekali sakit sejak dia kecil. Makanya ketika sebaris pesan tersebut masuk ke ponsel Gadis, dia pun tak menunggu lama segera turun ke kamar Lula. Matahari masih menanjak malu-malu, dan Gadis juga baru saja selesai mandi dan ambil wudhu. Tapi karena pesan Lula barusan membuat Gadis tak pikir panjang untuk segera memastikan keadaan. Gadis berdiri di depan jendela kamar Lula lalu mengetuknya pelan. “Lul, Gadis nih. Lo ngunci kamar lo nggak?” tanyanya sambil sesekali mengetuk pintu. Tak ada jawaban. Gadis mencoba tenang dan mengulurkan tangannya ke arah slot kunci manual. Tidak terkunci. Gadis menurunkan handel pintu dan bisa terbuka. Gadis itu segera masuk dan menyalakan lampu kamar Lula.  Sahabatnya itu ada di balik selimut dan matanya terpejam. Hanya saja mata yang terpejam itu seperti tidak rapat. Napasnya juga tidak ringan dan teratur seperti orang tidur. Gadis menghampiri tempat tidur Lula dan menyentuh keningnya. Panas. Persis seperti baru menyentuh panci mi yang baru diangkat dari kompor selama lima menit. “Lul? Ya, ampun lo demam,” ujar Gadis kaget. Dia pun segera menghampiri kotak obat-obatan yang ada di kamar Lula dan mencari parasetamol. Ketemu! Meski sudah hampir habis, tapi beruntung karena Gadis masih menemukan dua tablet yang masih tersegel. Tak lupa, Gadis juga mengambil thermogun untuk mengecek suhu tubuh Lula. Meskipun jarang sakit, tapi urusan perobatan dan alat kesehatan yang dimiliki Lula cukup lengkap. Lula bahkan memiliki oksimeter, hingga kotak P3K yang paling lengkap yang Gadis tahu. Segera diambilnya satu tablet parasetamol yang masih tersegel tersebut, segelas air putih, dan thermogun yang semuanya dibawa ke tempat tidur Lula. Gadis menaruh di samping meja. Sebelum membangunkan sahabatnya, Gadis sempat mengecek suhu tubuh Lula melalui thermogun yang dibawanya tadi dari kotak obat. 40,0 derajat selsius. Tinggi sekali. “Lul,” panggil Gadis pelan sambil menggoyangkan lengan Lula yang terbalut selimut. “Minum obat dulu, yuk. Biar enakan badannya,” ucapnya lagi dengan suara pelan. Lula masih belum bangun. Gadis mencoba menepuk-nepuk lengan Lula sambil sesekali memanggil namanya. Akhirnya Lula tersadar. “Hmm?” Lula bergumam.  “Lul, minum obat dulu, yah. Biar badan lo enakan nanti. Ini lo panas banget lho, Lul,” jelas Gadis, meski dia tahu entah Lula akan mendengar atau tidak. “He-em,” sahut Lula masih belum mau membuka mata. Gadis memahami saat tubuh sedang sepanas ini, pasti sangat sulit menggerakkan tubuhnya. “Lul, gue bantu lo bangun, ya. Lo mesti minum obat dulu.” Lagi-lagi Lula hanya berdehem. Gadis pun membantu sahabatnya ini untuk bangun. Untungnya tubuh Lula agak kurus, makanya Gadis tidak kewalahan dalam memapah Lula untuk bangun dan bersandar di kepala ranjangnya. “Lo bisa nelen obatnya kan?!” tanya Gadis memastikan. Lula hanya mengangguk kecil namun matanya masih terpejam. Gadis pun membukakan segel parasetamol yang dibawanya tadi dan segelas air yang juga diambilnya. Disuapkan segera ke mulut Lula parasetamol yang sudah dibuka tersebut berikut airnya. Meskipun agar berantakan, sampai ada air yang tercecer, yang penting obat penurun panasnya sudah masuk ke dalam mulut Lula dan tertelan. “Anak baik, obatnya ditelen. Sekarang lo lanjutin tidurnya, ya. Sementara gue cari sarapan dulu buat lo, ya. Sebelum gue pergi ke kampus kita sarapan bareng oke?!” Tentu saja Lula masih tak memiliki tenaga untuk membalas apa yang Gadis ucapkan barusan kepadanya. Namun Lula memberi respon dengan anggukan kepala yang sangaaaaaaat pelan dan nyaris tak terlihat kalau Gadis tidak sedang ada di dekatnya. “Oke, gue solat subuh di sini aja. Pinjem mukena lo ya, Lul,” sahut Gadis memberitahukan Lula bahwa dia akan meminjam mukena milik Lula. Yang sebenarnya tak perlu izin pun, Gadis sudah pasti diperbolehkan. Sebelum kehilangan momen untuk mendirikan ibadahnya, Gadis segera memakai mukena Lula dan mulai menunaikan solatnya. Delapan menit kemudian, Gadis menuntaskan ibadah dan berzikirnya. Dia melipat mukena Lula dan meminta izin Lula untuk bersiap-siap dulu. “Lul, gue ke kamar bentar, ya. Gue mau ganti baju sama siap-siap ngampus.” Mungkin Lula sudah terlelap dalam tidurnya. Atau mungkin Lula masih tak memiliki energi yang cukup untuk membalas perkataan sahabatnya. Namun bagi Gadis, yang penting dia sudah menginfokan pada Lula bahwa dia pergi ke kamarnya sebentar. Barangkali saja Lula kemudian tersadar dan mengeluhkan keberadaan dirinya. Gadis pun segera bergegas ke kamarnya sendiri untuk bersiap. Sejujurnya Gadis tak perlu bertanya mengapa Lula bisa sakit. Sebab ada banyak jawaban dan asumsi yang muncul. Bisa jadi karena daya tahan tubuh Lula sedang menurun. Atau bisa juga karena Lula terlalu kecapekan karena memang kemarin sedang banyak tugas dan kegiatan. Atau bisa juga ada sesuatu yang sedang terus menerus Lula pikirkan hingga tak sanggup lagi ditopang oleh tubuh dan pikiran. Sebab Gadis pernah mendengar dari Ayahnya bahwa tubuh bisa amat sangat kewalahan bukan hanya karena banyaknya ‘serangan’ dari luar saja. Tapi juga bisa karena ketika ‘diserang’, tubuh telanjur menyerap dan menyimpannya dalam diri. Saat itu lah biasanya ketika emosi mulai jadi tidak stabil, makan mungkin tidak teratur, tidur tidak dalam, hingga kehilangan fokus. Dia bukan orang yang pusing dengan urusan orang. Masing-masing orang memiliki problem dan urusannya sendiri. Sebab Gadis pun enggan jika masalahnya dicampuri orang lain. Tapi dia merasa akhir-akhir ini Lula tampak tidak begitu baik-baik saja dengan Bimo.  Apakah karena itu Lula sakit? Gadis masih belum tahu dan sepertinya tidak perlu tahu. Sebab tanpa banyak usaha, biasanya segala sesuatu tentang Lula dan Bimo akan segera dia ketahui ketika salah satu diantara mereka tidak tahu apa yang tengah terjadi pada satu sama lain. Tinggal tunggu momen itu saja. Lula atau Bimo kah yang lebih dulu akan memberikan ‘petunjuk’ tersebut pada Gadis. Sebagai sahabat, Gadis inginkan yang terbaik. Namun jika salah satunya sampai harus berkorban diri sampai jatuh sakit, rasanya Gadis tidak menemukan cara untuk memaklumi. ** Usai semalam mengantarkan Lula pulang, Bimo sepertinya masih memproses apa yang coba gadis itu sampaikan. Terus terang memang otaknya agak sulit menjangkau sesuatu yang memakai kiasan. Jika pun bisa pasti butuh waktu sampai kemudian dia menyadari maksud dibalik ucapan tersebut. Sama seperti yang terjadi pada dirinya semalam. Baru pagi ini sepertinya Bimo tersadar dengan apa yang dimaksud oleh kekasihnya tersebut. “Ulul memang cemburu,” gumam Bimo sambil bersiap-siap di depan cermin. Seperti yang sudah disepakati, Bimo akan menjemput Lula saat mereka berada di jadwal yang sama maupun tidak. Meskipun sepengetahuannya hari ini Lula kuliah siang hari, tapi Bimo tetap ingin melihat kekasihnya itu pagi ini. Aneh karena tiba-tiba ada semacam kerinduan yang Bimo rasakan pada Lula. rasanya hanya ingin mendengar gadis itu bicara atau sekadar memamerkan wajah jengkelnya ketika Bimo mencandai. Cowok itu tak menyadari bahwa saat mengunyah roti lapisnya ia pun sambil senyum-senyum sendiri. Sampai kemudian Mama yang sedang mengoleskan roti untuk Papa mulai menyadari bahwa putranya seakan sedang terlarut dalam dunianya sendiri dan harus segera disadarkan. “Bim, kamu kesurupan?” tanya Mama sambil memperhatikan reaksi dari putra bungsunya tersebut. Bukan karena dikagetkan Bimo kemudian menoleh pada Mama dengan sorot mata tajam. Tapi lebih karena dia disebut kesurupan. Tapi tak disangka ekspresi tersebut malah membuat Mama kaget lalu menyerukan nama Papa. “Bas…” panggil Mama. Roti yang sedang dioles dengan selai nanas pun sampai di taruh lagi di atas piring padahal belum dioles dengan sempurna. “Bastiaaaaan, buruan ke sini! Anak kamu kesurupan nih,” seru Mama lebih keras agar Papa segera datang. Bimo langsung ternganga dengan apa yang barusan diucapkan Mama nya. “Mah,” panggilnya dengan suara putus asa. Tak berapa Papa datang sambil membawa teflon anti lengket. “Udah nelen apa aja dia, Ma?” tanya Papa sambil memasang sikap siaga dan mengarahkan penggorengan anti lengket tersebut. Mamah memandang Papa dengan sorot mata tak percaya. “Pah, anaknya kesurupan bukan jadi kuda lumping. Kenapa yang ditanya udah nelen apa aja, sih?” tanya Mama bingung sendiri. Papa menyeringai. “Lah, ya, kan siapa tahu, Mah,” Papa coba membela diri. “Dulu temen kecil Papa ada yang kesurupan genderuwo. Terus si genderuwonya minta makan sebakul nasi sama ayam panggang, eh tahu-tahunya dihabisin sendiri. Kita-kita nggak dibagi.” Mama dan Bimo kompak memandang tak percaya pada Papa dan ceritanya tersebut. Sebelum Mama melanjutkan spekulasinya dan berpikir yang tidak-tidak, Bimo pun segera bicara. “Bimo nggak kesurupan, Mamah,” ucapnya sambil meletakkan roti lapis nya. “Yakin kamu?” tanya Mama memastikan dengan kedua mata yang menyipit. Bimo belum sempat menjawab dan Papa sudah menyambar lebih dulu. “Kalau orang lagi kesurupan jangan suka ditanya-tanya, Mah. Jawabannya pasti berbanding terbalik dengan kenyataan yang sebenarnya.” “Kalau ini beneran, Papah. Aku nggak lagi kesurupan,” tukas Bimo lagi. Kali ini dengan suara yang agak mengiba. “Emang kenapa juga Mama mikir aku kesurupan, sih?” Kedua mata Mama masih menyipit. “Tadi Mama lihat kamu senyum-senyum sambil makan roti.” Bimo pun tak habis pikir kenapa perkara senyum sambil menikmati roti langsung membuat Mama berspekulasi bahwa dirinya kesurupan. Sungguh Mamanya ini! “Jadi cuma karena lihat Bimo senyum-senyum sendiri Mamah pikir Bimo kesurupan?” tanya Bimo lagi. Mama mengangguk lambat. Papa lalu mendekati Papa nya dan seolah bersiap untuk membisikkan sesuatu. Tapi entah kenapa suara yang Papa bisikan ke telinga Mama sampai ia bisa dengar dengan sangat jelas. “Itu sih bukan kesurupan, Mam, tapi kayaknya lagi bayangin sesuatu yang… kikiki,” ucap Papa lalu disambut suara terkikik geli Mama. “Astagaaaa, bukan karena itu juga Papa. Ih, kalian aneh banget deh,” sergah Bimo nyaris kesal. “Bimo makan roti sambil senyum-senyum bukan berarti Bimo kesurupan atau lagi mikirin hal yang nggak-nggak seperti yang Papa bisikin ke Mama tadi yang sepertinya bukan ngebisikin juga karena Bimo bisa dengar dengan jelas banget soalnya.” “Lho? Jadi bukan itu?” tanya Mama dan Papa nyaris kompak dan sama-sama dengan nada kecewa. Bimo memandang kedua orang tuanya tak percaya. “Jadi Papa dan Mama lebih ngarepin Bimo beneran kesurupan atau membayangkan hal-hal seperti itu pagi-pagi begini?” Bimo sama sekali tak habis pikir dengan Mama Papa nya. “Ya, nggak juga, sih. Cuma kan Mama jadi takut, Bim, lihat kamu tadi senyumnya ampe lebar banget begitu. Jarang banget soalnya,” ucap Mama dengan suara normal dan tak lagi menyipitkan mata curiga. Benar juga!  Rasanya sudah lama sekali Bimo tidak ‘gelisah’ dan ‘terganggu’ dengan Lula sampai kehilangan kendali kesadarannya sendiri seperti tadi. Kembali, tanpa sadar, Bimo tersenyum lagi. “Tuh, Pah! Lihat kan?! Papah lihat, kan?!” seru Mama nya kembali heboh sendiri. Papa yang sudah duduk di kursinya kembali bersiaga mengacungkan teflon ke atas. “Bimo nggak kesurupan, Mamah. Ini Bimo cuma lagi kepikiran cerita Lula aja,” terang Bimo dengan lebih spesifik agar tak lagi disangka kesurupan. Mendengar nama Lula disebut, Mama tidak merespon lagi. Papa pun mulai menurunkan lagi teflon yang diacungkannya di atas meja dan mulai menyesap kopi di hadapannya. Di sana lah Bimo merasa harus meluruskan tindakan Mama pada gadisnya agar lebih manis dan baik. “Mumpung Bimo keingatan lagi, Bimo mau ngomong deh ke Mamah,” ucap cowok itu dengan nada serius. Mama yang mulai mengambil lagi roti yang sempat terhenti diolesi selai tadi menoleh pada Bimo. “Mama jangan kayak gitu lagi ya ke Lula.” Mama menanggapi dengan santai. “Kayak gitu gimana?”  “Membandingkan dengan keberadaan atau kehadiran Anindita dan Lula di hidup kita. Mama mungkin nggak ngomong secara eksplisit, tapi tetep melukai Lula lho,” lanjut Bimo dengan ekspresi wajah yang sulit dideskripsikan. Mama lalu meletakkan lagi roti tawarnya dan memandang Bimo. “Tapi Mama memang awalnya ngarepin kamu sama Anindita itu beneran pacaran begitu kalian dewasa,” tukas Mama dengan nada mengharap. “Ya, Mama kan juga nggak tahu kalau kamu sama si Lula itu serius dan sampai selama ini.” “Iya kalau udah tahu kalau Bimo serius sama Lula kenapa masih ngomong kayak semalam sih? Di depan banyak orang lagi. Mama nggak bisa berempati dan bayangin gimana perasaan Lula?” tanya Bimo mencoba menyampaikan apa yang sedang dirasakannya. Mama masih bergeming. “Gini deh, gimana seandainya Mbak Bella diperlakukan kayak Mama memperlakukan Lula kayak semalam sama mertuanya? Kalau mertuanya sebenarnya lebih ngarepin Mas Joe nikah sama sahabatnya atau sama perempuan lain ketimbang dengan Mbak Bellal. Apa Mama bakal terima?” Mama menoleh pada Bimo dan air mukanya sudah berubah. Seperti merasa bersalah. “Meskipun Mama punya keinginan besar untuk A, B, C, dan apapun itu, tapi nggak semuanya harus diungkapkan mentah-mentah, Ma. Apalagi tanpa memikirkan bagaimana jika ada orang yang akan kecewa bahkan terluka sama apa yang Mama omongin itu.” Papa melirik ekspresi Mama yang sepertinya mulai paham dengan apa yang sedang diucapkan putranya. Papa tersenyum dan terlihat lega karena Bimo berhasil melaksanakan tugasnya. “Jadi, tolong, Ma. Silakan Mama sayang sama Dita, tapi aku juga sayang sama Lula, Ma. Aku harap Mama bisa lihat itu dan ngasih perhatian Mama ke Lula.” Mama tampak semakin mengerti dan akhirnya bicara dengan nada pelan. “Iya, deh. Mama minta maaf atas apa yang Mama ucapin semalam.” Bimo mengangkat kedua bahunya. “Minta maaf sendiri ke orangnya langsung dong. Mama boleh telepon untuk sekadar bertanya kabar. Tapi bakal lebih baik kalau Mama ngajak ketemu langsung aja, sih,” sahut Bimo sambil melanjutkan lagi memakan roti lapisnya dengan senyum tertahan di bibir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN