Lula tidak pernah menceritakan duka nya yang satu ini. Entah pada Papa, atau pada teman-teman yang dirasa dekat sekalipun. Meskipun Gadis adalah sahabatnya, namun Lula masih merasa meragu untuk membagikan cerita mengenai dirinya. Selain karena ia merasa ceritanya tidak begitu spesial, Lula juga menganggap bahwa semua orang juga pasti memiliki duka dan luka di masa lalu.
Terlepas dari seberapa dalam atau ringan, tertahan atau tak terperikan, hingga masih bisa membuat kaki sendiri berdiri atau lumpuh sama sekali, Lula menganggap semua orang pasti memiliki cerita lukanya masing-masing.
Jadi apa yang spesial? Apa yang istimewa hingga ceritanya ini harus didengar atau diperhatikan? Di dunia ini bukan hanya dirinya yang pernah merasakan kehilangan orang tua karena dipanggil Yang Maha Kuasa. Lula juga yakin bukan hanya dirinya yang sempat mengalami hal tak mengenakan saat perlu menyembuhkan diri dan hati. Pasti prosesnya menyakitkan hingga rasanya ingin ikut mati saja. Tapi segala jenis percobaan dari pelariannya terhadap rasa sakit yang menikam hingga ke jantung seakan masih tak ada apa-apanya.
Rasa sakit itu tetap terasa dalam dirinya. Saat terpejam ataupun terjaga. Saat mengambil piring bahkan menyendok nasi. Saat memakai sepatu bahkan menyapu. Sentuhan Mama nya ada di mana-mana. Bayangan Mama dan suaranya seakan memenuhi segala penjuru ruang. Lula hingga tak kuasa lagi untuk menahan.
Akan tetapi, ketika melihat Papa nya jauh lebih hancur dan kehilangan, Lula merasa dirinya tidak boleh seegois ini. Papa merasakan rasa sakit yang jauh lebih besar dan hebat dari yang bisa dia bayangkan. Lula yakin bahwa Papa nya pun merasa tidak akan sanggup menghadapi hari esok seorang diri bersama seorang putri yang masih terbiasa disisiri.
Papa sudah lama mengenal Mama, Papa sudah lama bersama Mama, Papa sudah ketergantungan dengan keberadaan dan kehadiran Mama, jauh lebih banyak dari yang dialami Lula sekarang. Bahkan jika mau dibandingkan, air mata Lula dengan tangis yang coba Papa selalu sembunyikan dari kedua matanya pasti jauh lebih hebat dari debit di air terjun Inga yang ada di Afrika sana.
Lula tak terbayangkan bagaimana mungkin Papa masih bisa sanggup tersenyum dan mengatakan untuk tabah usai Mama dimakamkan.
Akan tetapi, Lula masih ingat betul, meski senyum itu coba ditunjukkan Papa padaya, suaranya terdengar begitu getir. Sangat menusuk bahkan mungkin jika diingat sekarang, Lula tak sampai hati melihat Papa nya dalam kondisi seperti itu lagi.
Terlalu sepele rasa sakitnya hingga tak dapat dibandingkan dengan duka dan rasa pedih yang dialami Papa ketika Mama tiada.
“Sekarang kita hanya berdua saja, bageur. Tidak apa-apa, yah. Papa bakal jagain kamu sampai nanti. Mungkin nggak sebaik Mama dan sepengertian Mama. Tapi Papa mau berusaha buat jadi versi terbaik buat kamu sampai dewasa.”
Lula yang saat itu masih harus memproses kejadian yang seperti mimpi tersebut hanya mengangguk pelan. Saat itu belum bisa ia tahu maksud sebenarnya dari ucapan yang tampak sepele tersebut.
Padahal kalimat tersebut seakan menjadi sebuah penanda bahwa setelah ini Papa akan senantiasa berusaha, setiap hari, untuk menepati janji. Apa yang sudah diucapkan oleh Papa nya saat itu bukan sekadar retorika semata hanya agar air mata yang terus mengalir dari mata Lula berhenti. Apa yang telah dikatakan Papa nya saat itu adalah sebuah sumpah suci. Sumpah yang diutarakan karena Papa yang memilih untuk menjalani pilihan tersebut untuk tegar dan melanjutkan hidup. Meskipun teman sejiwanya sudah tak ada lagi.
Namun, Papa tidak pernah membicarakannya. Sama sekali. Papa selalu bersikap seolah tidak pernah ada topan Nancy yang begitu dahysat dan melumpuhkan ‘nyawa’ yang ada di rumah mereka. Papa selalu berusaha terlihat baik-baik saja. Papa tidak pernah mengeluh meskipun di tiga tahun pertama merupakan tahun-tahun terberatnya bersama Lula.
Sampai Lula masuk SMA, dan sekejap saja Lula lupa bahwa dia menjalani hidup yang normal bersama Papa nya. Meskipun masih harus menemui Dokter Helmi, tapi anehnya Lula tak pernah lagi ingin membicarakan Mama nya. Meskipun Dokter Helmi pernah beberapa kali bertanya, namun Lula menjawabnya tanpa beban. Seolah tidak pernah ada hal yang menyakitkan sempat menimpanya.
Lula pun sampai lupa, kapan tepatnya Papa tidak pernah menyebut nama Mamanya lagi. Kenangan terakhir milik Lula tentang Mama nya yakni berupa foto yang dulu tergantung di ruang tengah rupanya dipindahkan ke kamar Papa. Dan saat itu Lula tidak merasakan apa-apa. Tidak sedih apalagi merasa kehilangan. Sebab yang saat itu dirasakan Lula, dirinya memang sudah sejak lama kehilangan sang Mama. Jadi, jika saat ini hanya selembar foto yang berubah posisi, rasanya bukan hal yang perlu dipertanyakan.
Papa pun tidak meminta izin Lula atau memberitahukannya terlebih dahulu saat hendak memindahkan foto tersebut. Tahu-tahu foto tersebut sudah ada di kamar Papa saat Lula secara terang-terangan meminta uang jajan untuk pergi nonton bersama teman.
Ketika melihat foto itu untuk kesekian kalinya, anehnya tak ada rasa sesak atau sakit lagi yang menjalar hingga ke seluruh sendi dan anggota tubuh Lula. Seakan semuanya memang sudah benar-benar normal dan baik saja. Lula pun bisa balik badan dengan normal dan bukan untuk sekadar menyembunyikan tangisan.
Hidup Lula dan Papa maju ke depan seperti yang sudah mereka rencanakan!
Tidak ada lagi tangis atau penyesalan. Tidak ada lagi menahan tangis dan pedih karena memendam kerinduan. Tidak ada lagi aktivitas di luar kebiasaan karena sengaja melarikan diri dari kesedihan.
Lula dan Papa sudah dapat tertawa lagi. Hampir setiap akhir pekan, Lula dan Papa tak jarang pergi keluar hanya untuk sekadar jalan-jalan sekaligus mencari sarapan. Kadang Lula juga mengajak Papa main badminton. Tak jarang Papa yang giliran mengajak Lula memancing di pemancingan yang tak jauh dari rumah mereka.
Lula dan Papa seolah berselaras untuk mengisi kekosongan satu sama lain dengan berbagai kegiatan positif yang diharapkan semua orang yang pernah menjadi saksi hidup kehancuran dan duka berkepanjangan yang menyerang mereka secara tiba-tiba.
Semua yang pernah melihat secara langsung duka dan kehilangan anak dan ayah tersebut tak pernah berhenti untuk mengucapkan beberapa kata yang jika mendengarnya sekarang, Lula bisa bergidik sendiri. Sabar, ikhlas, lepaskan, kuat, dan tegar.
Seolah sudah janjian sebelumnya, tidak ada satu pun diantara para pelayat, saudara atau kerabat yang datang untuk mengatakan kalimat yang agak berbeda. Semuanya seolah membaca templat yang sama. Padahal Lula mengharapkan ada kata atau kalimat lain yang justru bisa jadi jauh lebih melegakan hatinya.
Misalnya saja, ‘Menangis saja!’, atau ‘Memang sakit, nggak apa kok dirasain saja sekarang’. Tapi mungkin karena kata dan kalimat picisan yang ia dengar sepanjang hari saat Mama nya pergi itulah Lula jadi memiliki tekad kuat untuk tidak mengecewakan Papa nya. Lula pikir dia harus senantiasa menuruti apa yang Papa nya nasihatkan atau sarankan. Seperti saat dirinya duduk di bangku kelas XI SMA dan Papa memintanya untuk hijrah ke Depok dan berkuliah di kampus yang katanya paling bagus dan keren se-Indonesia.
“Di sana kamu bisa lebih dekat dengan mimpi kamu, bageur,” ucap Papa usai mengucapkan nama kampus tersebut.
Lula keberatan! Tentu saja. Karena tekadnya sejak semula adalah tidak meninggalkan rumah dan jauh-jauh dari Papa nya. Tapi mengapa sekarang Papa malah menginginkan dirinya menuntut ilmu sejauh itu?
“Jakarta, Depok, Amerika, itu tidak jauh, Nak. Karena kamu masih berada di dunia ini, dekat dengan Papa.”
Lula tidak pernah mempersiapkan ini. Sebab sudah sejak lama Papa tidak pernah membahasnya lagi. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya lagi, Papa menyinggung Mama saat memintanya untuk kuliah ke luar kota.
“Papa dan… Mama, sangat ngarepin kamu untuk kuliah di tempat yang bagus. Prestasi kamu nggak mengecewakan dan kamu punya potensi besar untuk jadi sesuatu di masa depan.” Papa sudah mulai menyatakan prolognya. “Jadi, Papa harap kamu nggak berpikir bahwa Papa sengaja mengusir. Meskipun makan kamu banyak dan jajan kamu kuat, tapi Papa nggak mungkin jadiin alasan itu buat nyuruh kamu kuliah di luar kota, kan?!”
Meskipun agak aneh mendengar Papa menyinggung soal makannya yang kuat dan jajannya yang banyak di tengah suasana yang sedang agak tinggi tensinya seperti ini, tapi alasan Papa itu masuk akal juga.
Masak hanya karena porsi makan dan selalu membantu perekonomian UMKM dengan jajan setiap hari jadi alasan untuk menyuruh seorang anak kuliah di luar kota? Kan, agak maksa.
“Soalnya kalau nyuruh kamu kuliah ke luar kota biaya hidup pun pasti membengkak karena harus nyewain kamu kamar kos, uang bulanan, dan lain-lainnya, kan?!”
Ini juga masuk akal. Karena jika dihitung-hitung biaya sewa kamar kos di dekat kampus apalagi yang bagus pastinya tidak murah. Belum biaya hidup dan makan yang pasti agak berbeda dengan kota kecil tempat ia tinggal sekarang.
Lula masih belum mau menanggapi karena Papa nya masih melanjutkan kalimatnya tersebut. Namun hingga beberapa detik berlalu, Papa masih belum melanjutkan kalimatnya dan akhirnya Lula menoleh berbarengan dengan Papa menoleh padanya.
“Kok kamu nggak nanggapin Papa?” tanya Papa nya kelihatan bingung.
“Lah? Lula pikir Papa masih ngomong,” balas gadis itu kemudian garuk-garuk kepalanya sendiri.
“Udah selesai,” sahut Papa nya dengan suara yang agak putus asa. “Kan, tadi alasan utamanya karena prestasi kamu bagus dan kamu punya potensi yang besar di masa depan, makanya Papa sama Mama penguin kamu kuliah di tempat bagus sekalian.”
Lula mengangguk. “Hmm, gitu.”
“Apalagi sekarang kamu di tengah perjalanan. Tahun depan kamu kenaikan dan pasti udah ditanya kan kamu pengin masuk ke mana sama sekolah. Papa harap kamu mau berjuang sedikit lagi untuk masuk ke kampus ini,” lanjut Papa nya sambil menyodorkan selebaran SNMPTN.
“Kamu mau berjuang kan, bageur?”
Lula tidak ingin pergi ke mana-mana, itu sudah jelas. Tapi mengapa Papa sepertinya memaksakan. Kalau memang tujuan kuliahnya baik, bukankah ia bisa kuliah di mana saja? Tapi Lula belum bisa bilang tidak malam itu. Akhirnya Lula mengangguk saja agar Papa nya bahagia. Masalah malam itu seolah selesai. Padahal tidak demikian.
Menginjak kelas XII, Lula sama sekali tidak berencana ikut SNMPTN di manapun. Meskipun guru-gurunya sudah menyarankan untuk bersiap-siap. Sampai kemudian tanpa sepengetahuan Lula, guru yang cukup dekat dengan Lula sekaligus menjadi wali kelasnya saat ini segera menghubungi Papa untuk berdiskusi tentang penurunan prestasi dan semangat belajar Lula.
Tentu saja Papa kaget saat guru Lula tersebut menyatakan bahwa putrinya seakan tak ada memiliki antusiasme pada pelajarannya lagi semenjak menginjak kelas XII. Bahkan ditanya ingin kuliah di mana pun, Lula hanya menjawab belum tahu.
Hari itu Papa tampak kecewa sekali. Lula yang semula tidak tahu ada apa lalu hanya bertanya pada Papa nya mengapa wajahnya tegang seperti itu?
“Kamu ingin tahu kenapa Papa seperti ini?”
Karena memang ingin tahu, Lula hanya menganggukkan kepalanya. Papa kemudian meletakkan laporan pemanggilan orang tua yang dikirim sekolahnya untuk Papa.
“Tadi Papa ke sekolah kamu dan ketemu wali kelas kamu. Katanya kamu kelihatan nggak semangat sekolah sama sekali. Beberapa nilai penting kamu pun turun. Yang jadi pertanyaan, kenapa seperti itu? Bukannya Papa sering lihat kamu belajar. Bahkan secara khusus Papa daftarin kamu ke bimbingan belajar yang bagus supaya kamu lebih siap. Tapi apa ini?”
Lula masih diam. Karena tentu saja Papa belum mengizinkannya bicara.