Yang Satu Tumbang, Yang Lain Berkembang

1798 Kata
Setelah bersiap, Gadis kembali turun ke bawah untuk memastikan kondisi dan keadaan dari Lula. Ketika Gadis masuk ke kamar Lula, sahabatnya itu sedang tertidur. Tidak seperti saat Gadis datang pertama tadi, kali ini suara napas Lula sudah mulai teratur. Mungkin demamnya sudah turun. Gadis bernapas cukup lega. Sambil menunggu sahabatnya itu bangun, Gadis pun pergi keluar sebentar untuk membeli bubur sambil beberapa camilan dan persediaan makanan untuk ditaruh di kamar Lula. Selepas kuliah nanti, Gadis harus memenuhi panggilan kasting iklan lagi dan pasti bakal sampai malam.  Karena sadar Gadis tidak bisa menemani Lula, Gadis pun membuat beberapa persiapan. Termasuk menelepon Hani, untuk sekadar mampir sebentar nanti ke kos Lula dan memastikannya sudah makan. Sampailah Gadis di warung bubur Salman dan langsung memesan dua porsi. Sambil menunggu pesanannya jadi, gadis itu segera mencari kontak Hani dan menghubunginya. Setelah tiga nada tunggu barulah Hani mengangkat. “Halo?” sapa Hani di seberang sana. “Halo, Ni, Gadis nih. Eh lo hari ini ngampus nggak?” tanya Gadis to the point. “Pertanyaan macam apa ini? Jelas gue ke kampus lah. Lo pengin gue dicoret dari kartu keluarga apa gimana?” sergah Hani. Gadis menyeringai. “Ya, siapa tahu aja lo pengin uji mental gitu nyobain bolos sekali aja.” Hani menanggapi. “Udah pernah, Dis. Waktu gue SMP dulu. Gue pernah bolos kelas dan duit jatah liburan gue dipotong sejuta. Bokap nggak pernah tanggung kalau ngasih pelajaran ke anak-anaknya. Mana berani kta ngulangin lagi,” tuturnya panjang.  “Ooh, udah pernah nyoba tapi malah jadi bikin kapok, ya?!” sahut Gadis masih menahan tawa. “Ya, begitulah. Eh? Ada apaan lo nelepon pagi-pagi. Tumben bener,” sahut Hani baru tersadar. “Ah, ngarti aja lo kalau gue ada sesuatu yang pengin diomongin.” Gadis jadi malu sendiri. “Soalnya kalau bukan pas lagi musim ujian, handphone gue sepi banget tuh kagak ada satu orangpun yang nelepon. Tapi karena ini lagi bukan musim ujian, pasti ada kebutuhan lain yang pengin lo minta.” “Duh, Hani, sungguh lo pengertian banget deh. Gue yakin nyokap lo waktu hamil lo banyak baca buku Chicken Soup deh. Makanya anaknya jadi kayak lo gini. Penuh pengertian dan berempati tinggi.” Meskipun tidak ada korelasinya, tapi Hani menganggap apa yang diucapkan Gadis masuk akal juga. Ia jadi kepikiran untuk bertanya pada Ibu nya nanti. “Jadi, gini, Ni, si Lula demam tuh di kosan. Badannya panas banget. Entah dari semalam atau baru subuh tadi tuh tu anak ngerasa sakitnya. Dia cuma ngirim pesan nggak ngampus ke gue sebelum gue ke kamar dia.” “Waduh! Sakit demam? Kasihan amat tuh anak. Terus sekarang lo lagi sama dia?” tanya Hani lagi. “Gue lagi beli bubur dulu ini. Nah, masalahnya gue ada janji kasting iklan sore ini dan nggak bisa dicancel. Karena bareng temen gue yang dulu kasih job ke gue. Nggak enak banget kalau gue sampai nggak dateng. Makanya gue pengin minta tolong lo samperin si Lula nanti sore pas balik ngampus.” “Halah, nggak perlu lo minta gue bakal ke kos nya nanti. Asal tahu lagi sakit mah masak iya gue nggak jenguk,” tukas Hani. “Tapi lo tetep ngampus?” tanyanya lagi. “Ngampus kok gue,” balas Gadis cepat. “Cuma habis beli bubur ini gue mau mampir dulu juga ke minimarket depan buat beli makanan apa aja yang gampang buat dia kunyah sama buah palingan.” “Oke, Dis. Nanti gue samperin Lula kok di kos. Eh, jangan lupa beliin obat lagi Dis, siapa tahu di kosnya kehabisan.” “Ah, untung lo ngingetin, Ni. Baru keinget juga gue kalau di kos Lula kagak ada obat. Bener-bener deh. Nyokap lo banyak baca Chicken Soup,” sahut Gadis masih salut dengan sikap Hani barusan. “Tapi kenapa lo sampai nelepon gue sih? Kan, lo bisa ngasih tahu gue nanti pas di kampus.” Hani merasa heran. Gadis baru sadar. “Iya juga, ya. Kenapa gue nelepon lo. Hani pun membalas lagi. “Ah, itu lah kalau lagi panik biasanya nggak bisa berpikir jernih. Makanya dalam keadaan apapun lo kudu tetap tenang, kalem, dan sabar. Biar otak bisa mikir dan nggak bertindak gegabah.” “Wah, kayaknya nyokap lo bukan cuma bacain buku Chicken Soup doang deh, Ni. Curiga gue. Lo sama adek-adek lo emang sepinter ini, ya?!”  Hani tahu Gadis memang sengaja memujinya hanya supaya Hani mau menolongnya. “Dasar peres lo, nggak begitu lah. Yang pinter di keluarga ini cuma satu. Nyokap doang. Kami cuma sisa-sisa nya aja,” balas Hani kemudian. Pak Salman lalu memberi isyarat pada Gadis bahwa bubur pesanannya sudah selesai dibuat. Gadis pun langsung mengangguk. “Eh, Ni, gue tutup dulu, ya. Bubur pesanan gue udah jadi nih. Siapa tahu Lula nya juga udah bangun,” ucap Gadis kemudian hendak menutup teleponnya. “Iya, Dis. hati-hati, ya. Obatnya jangan lupa,” sahut Hani sebelum menutup teleponnya. “Thank you, Ni, iya ini nanti gue sekalian mampir apotik,” balas Gadis. Telepon pun ditutup. Setelah membayar bubur, Gadis bergegas ke minimarket yang letaknya tak jauh dari lokasi kos mereka. Kebetulan juga, ada toko obat yang tak jauh dari minimarketnya. Jadi sekali jalan, Gadis sudah membawa obat untuk Lula, sarapan, makanan dan camilan yang aman untuk sampai nanti malam. Saat Gadis sampai di kos, Lula masih belum bangun. Ketika dicek lagi suhu tubuh Lula menggunakan thermogun, demamnya berangsur turun. “Syukurlah, Lul, panas lo udah turun,” ucap Gadis lalu menyentuh kening Lula juga.  Gadis hendak mengambil bubur bagiannya untuk dimakan lebih dulu namun ponsel Lula bergetar. Gadis mencari lokasinya dan ketemu. Telepon dari Bimo. Gadis itu masih memegang teguh prinsip untuk tidak mengangkat telepon orang lain. Makanya Gadis membiarkan saja namun dia bergegas keluar dari kamar Lula. Mobil kekasih dari sahabatnya itu sudah ada di depan pagar kos mereka. Melihat Gadis yang keluar dari kamar Lula, Bimo pun segera turun dari mobilnya dan mendekati pagar kos kekasihnya. “Lho, kok lo yang keluar, Dis? Ulul mana?” tanya Bimo santai. “Sakit anaknya, demam dia dari subuh. Terus baru merem lagi pagi tadi,” jawab Gadis memberi penjelasan secara ringkas namun terdengar datar. Mendengar informasi dari Gadis barusan, jelas saja air muka Bimo berubah. Ada kekhawatiran yang jelas tersirat di sana. “Gadis… sakit? Demam?” “Masih pagi gini harusnya telinga masih fresh tuh, gue nggak perlu mengulang kalimat dua kali, lagi.” “Ya, kan gue mastiin,” sergah Bimo. “Ya, kan gue udah bilang. Jelas banget malah,” tukas Gadis tak mau kalah. “Terus progress keadaan Lula gimana?” tanya cowok itu lagi. “Ya tadi gue cek suhu nya sih udah nggak setinggi subuh tadi. Tapi tetep aja dia nggak bisa ke kampus dulu, biar dia istirahat aja sampai sehatan.” Di situ Bimo gelisah. Dia sangat ingin melihat keadaan Lula dan memastikannya dengan mata kepalanya sendiri. Namun masalahnya, kosan Lula ini khusus putri. Lawan jenis tidak diizinkan masuk dan hanya boleh sampai gerbang. Lula dulu pernah bercerita, katanya pernah ada teman satu kos nya yang nekat membawa masuk lawan jenis dan akhirnya mereka berdua dilaporkan ke rt rw setempat karena tidak mematuhi peraturan. Teman kos Lula tersebut langsung diminta pindah. Bimo jelas tak ingin hal tersebut menimpa Lula. Meskipun kali ini dia punya alasan kuat untuk melihat Lula, tapi tetap saja. “Dis, gue boleh minta tolong nggak?” ucap Bimo kemudian. Gadis tidak menjawab dan hanya memberi isyarat dengan dagunya yang terangkat. “Fotoin Ulul nanti, ya. Gue pengin tahu keadaan dan kondisi dia sekarang gimana. Gue rada nggak tenang ini.” Sebenarnya Gadis punya beberapa pertanyaan untuk Bimo sekarang. Tapi sepertinya dia tidak ingin menambah beban atau masalah bagi Lula. Makanya Gadis pun menahan diri dan berusaha untuk tidak ikut campur saat ini.  “Oke, nanti gue fotoin Lula nya,” balas Gadis kemudian. Barulah Bimo tersenyum, ada sedikit kelegaan yang terpacar namun tetap saja tampak kegelisahan yang belum pudar. “Ada lagi yang mau lo sampein ke Lula?”  Cowok itu menggelengkan kepalanya. “Itu aja, Dis,” balasnya pendek. Bukan bermaksud mengusir, tapi Gadis teringat akan bubur ayam bagiannya yang sudah dia buka tadi. Dibenaknya kini sudah terbayangkan kelembutan tekstur bubur, gurihnya kuah bumbu serta kriuknya kerupuk yang berkolaborasi di dalam mangkuknya nanti. Makanya Gadis harus segera menyuruh Bimo pergi. “Ya, udah. Gih buruan sana berangkat!”  Mendengar kalimat Gadis barusan, Bimo pun dengan bingung bertanya. “Lah? Emang lo nggak kuliah?” tanyanya polos. “Ya, kuliah. Cuma gue entaran. Mau sarapan dulu sama siapa tahu nanti sebelum gue berangkat Ulul nya bangun. Mau gue temenin makan dulu.” Sebenarnya keinginan Bimo untuk melakukan apa yang barusan Gadis ucapkan sangatlah besar. Namun apa daya hal tersebut sangat sulit untuk dia lakukan. Akhirnya Bimo hanya bisa pasrah. “Ya, udah. Gue ke kampus duluan, ya?!” ucap Bimo sebelum pergi. Gadis hanya mengacungkan jempolnya lalu buru-buru balik badan dan berlari kembali ke kamar Lula. Bimo masih galau. Kakinya seakan enggan untuk pergi dari situ. Tapi untuk tetap tinggal pun rasanya tidak mungkin. Setelah masuk ke dalam mobilnya, Bimo pun tidak langsung pergi melainkan menatap sebentar pintu kamar kekasihnya yang tertutup. Padahal hari ini ada perasaan kangen yang menimbulkan sensasi dan bisa dibilang jarang sekali terjadi. Namun Lula justru sedang tidak bisa  ditemui karena sakit. Apakah Lula memang sudah menunjukkan gejala sebelumnya hanya saja dirinya tidak sadar? Atau sakitnya terjadi begitu saja? Sambil berpikir berbagai kemungkinan, Bimo pun menjalankan mobilnya dan pergi meninggalkan halaman depan gedung kos kekasihnya. Begitu Gadis ke kamar Lula, sahabatnya itu masih terlelap dalam tidurnya. Gadis membiarkan saja dan langsung melancarkan niatnya untuk menghabiskan bubur terenak yang ia pesan tadi.  Gadis menikmati buburnya dengan penuh perasaan. Jika terlambat sedikit tidak apalah. Soalnya sudah terpikirkan alasan pamungkas yang pastinya akan meloloskan Gadis hari ini dari teguran panjang lebar Pak Edward. Bubur di dalam mangkuk kertasnya sudah habis dan Gadis langsung membereskan bekas makanannya tersebut. Sebelum meninggalkan kamar Lula, gadis itu sengaja menuliskan sebuah pesan dan menempelkannya di atas ponsel Lula. Untuk memenuhi janjinya pada Bimo, gadis itu pun tak lupa untuk memotret Lula yang tampak nyenyak tertidur. “Gue berangkat kampus dulu ya, Lul. Lo cepetan sehat,” sahut Gadis pelan. Meskipun tidak ada sahutan, tapi Gadis anggap Lula sudah membalas pamitnya. Gadis pun segera keluar kamar Lula sambil mencabut kunci dari dalam dan mengunci kamar Lula dari luar. Gadis kemudian melemparkan kunci tersebut ke atas kasur dengan tepat.  “Orang jahat kan canggih-canggih sekarang. Gue nggak mau sohib gue kenapa-kenapa,” ucapnya lalu kembali ke kamarnya untuk mengambil tas sebelum ia pergi ke kampus. Selesai mengambil tas di kamarnya sendiri, Gadis hendak bergegas ke kampus namun menyempatkan diri untuk melihat Lula dari jendela kamarnya yang dibiarkan terbuka. Gadis agak prihatin dengan keadaan sahabatnya tersebut namun dia tahu dirinya tak bisa apa-apa. Gadis pun bergegas berangkat ke kampus setelah itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN