Keresahan yang Tidak Seharusnya

1453 Kata
Sesampainya Bimo di kampus ada perasaan yang tak bisa ia pahami. Kosong dan terasa tak nyaman. Sampai saat Aldo menyapanya, Bimo hanya menoleh dan tak memberikan reaksi apa-apa.  “Hei, bro? Lo kenapa?” tanya temannya itu dengan nada khawatir. “Nggak apa-apa,” jawab Bimo pendek. Selain karena gengsi mengakui, Bimo juga rasanya masih sulit untuk bicara pada Aldo perihal perasaan yang sedang menderanya saat ini.  “Nggak apa-apa atau nggak mau bahas aja?” ulang Aldo dengan ekspresi menelisik. “Nggak usah sotoy lu,” sergah Bimo masih berusaha menyembunyikan wajahnya dari tatapan tajam Aldo. Aldo mengangguk percaya diri. “Ya, mungkin memang gue tahu aja makanya gue bisa ngomong kayak tadi,” ucapnya kalem. Bimo melirik Aldo satu kali dan akhirnya menyerah. “Oke, jadi gue lagi bingung banget sekarang ini,” ucap Bimo akhirnya. “Ya, terbaca jelas di wajah lo,” sahut Aldo. “Lo mau denger kelanjutannya apa nggak ni?” ancam Bimo dengan ekspresi datar. Aldo segera memberi isyarat mengunci mulutnya sendiri dan mempersilakan Bimo untuk melanjutkan ceritanya tadi. “Oke, jadi gue lagi ngerasa kalau gue tiba-tiba kepikiran sesuatu tentang… Lula,” ucap Bimo mengawali. “Mulainya tadi pagi pas gue lagi sarapan dan kayak sekelebat aja gue mikirin cewek gue.” Kedua alis Aldo mengerut dan mencoba memahami apa yang dikatakan oleh Bimo ini.  “Terus kenapa lo kayak ngerasa nggak happy kalau lo mikirin cewek lo? Bukannya nggak perlu ada yang dikhawatirkan dari itu. Ini cewek lo sendiri gitu yang lo lagi pikirin.” “Itu dia bro. Ya, awalnya sih gue hepi-hepi aja sih. Tiba-tiba mendadak kepikiran Ulul, terus kan gue jadi pengin ketemu dia. Pengin ngeliat dia. Tapi hari ini dia nggak bisa ngampus karena kata Gadis dia demam gitu.” Aldo manggut-manggut. “Jadi lo ngerasa sad karena lo nggak bisa ketemu sama Lula hari ini karena dia sakit?” tanya Aldo memastikan. Bimo tidak langsung menjawab dan sepertinya memastikan sesuatu dalam diamnya. “Iya, gitu, kayaknya.” Cowok itu manggut-manggut. Namun dari ekspresi wajahnya sudah tampak bahwa sepertinya masih ada yang mengganjal di pikiran dan hati Bimo.  “Bro.” Aldo merangkul Bimo dan mulai bicara dengan nada serius. “Gue rasa ada sesuatu yang masih coba lo tutupin dan nggak lo akuin dan tersembunyi di hati lo saat ini.”  Bimo menoleh ke arah Aldo dengan pandangan bingung namun juga terganggu dengan kalimat temannya itu.  “Ngomong apaan sih lo? Nggak ngerti gue,” balasnya sambil memalingkan wajahnya ke tempat lain. “Boleh aja lo nggak ngakuin, tapi gue rasa lo masih denial sama perasaan lo sendiri.” Aldo mengangkat kedua bahunya. “Sekarang lo bisa sebut gue sok tahu atau mungkin lo sengaja pura-pura nggak paham sama arah omongan gue. Tapi gue rasa nanti juga lo bakalan lega sendiri kalau lo mau admit sama isi hati lo sendiri.” Sebenarnya Bimo merasa apa yang diucapkan Aldo sedikit menggelitik perasaanya. Tapi ada keengganan mengakui bahwa bisa saja analisis temannya mendekati kebenaran yang sedang coba ditutupi oleh dirinya sendiri. Sebuah kenyataan yang coba ditutupi Bimo baru saja terjadi saat Bimo hendak turun dari mobilnya di parkiran tadi. Sebuah pesan dari seseorang membuatnya tersenyum lagi. Sebuah senyum yang Bimo rasa tidak seperti senyum yang terjadi saat memikirkan Lula pagi tadi. Entahlah, tiba-tiba ada rasa bersalah namun di waktu yang berdekatan dia merasa ingin senyum yang didapatnya di parkiran tadi bertahan. Jahatkah dirinya jika bersikap seperti ini? * Lula terbangun dengan perasaan kosong. Kepalanya masih sangat pening dan badannya masih terasa agak sakit. Ketika kepalanya melongok jam dinding di kamarnya, sudah pukul sebelas lewat dua puluh dua menit.  “Udah setengah dua belas aja,” gumamnya lalu mencari ponselnya sendiri. Benda itu ternyata ada di atas meja di samping ranjangnya. Terdapat sebuah catatan yang tertempel di atasnya. Dari Gadis. Gadis Lul, gue ke kampus. Tapi hari ini gue ada Janji kasting. Gue udah keburu iyain pas Kemarin ditawarin. Soalnya yang nawarin Itu orang yang pernah ngasih gue job dulu. Sorry banget ya, Lul, gue nggak bisa nemenin. Udah gue taruh makanan buat lo. Dimakan, ya. Idola lo. Gadis. Lula tersenyum usai membaca pesan dari sohibnya satu itu. Baru dia sadari juga ada aroma kuah bubur yang tercium tipis. Lula pun mencoba menggerakkan tubuhnya untuk maju ke meja belajarnya.  Tubuhnya masih agak ngilu dan dingin di saat yang bersamaan. Akhirnya Lula pun menyeret serta selimut yang masih membalutnya dan maju ke arah meja belajarnya. Gadis sudah meletakkan bermacam camilan dan beberapa makanan instan yang bisa ia buat. Tak lupa buah kupas juga sudah Gadis letakkan di sana. Tapi karena saat ini Lula merasa lapar, ia pun berusaha menggapai mangkuk kertasnya terlebih dahulu beserta sendok yang ada di atasnya. Begitu mangkuk kertas itu sudah di tangan, Lula segera membuka tutupnya. Aroma sedap langsung tercium. Meskipun buburnya sudah dingin tapi Lula tetap merasa berselera untuk memakannya sampai habis. Nyatanya tidak bisa. Baru di suapa kedua, Lula sudah merasa enek dan ingin muntah. Ini jelas bukan karena buburnya. Pasti sesuatu yang tak beres memang terjadi pada lambungnya. Lula pun buru-buru menaruh mangkuk kertas buburnya dan segera berlari ke kamar mandi.  Lima menit kemudian Lula keluar dari kamar mandi dan merasa perutnya sakit dan kepalanya semakin pusing. Sungguh tidak enak sekali rasanya. “Duh, Dis, sorry, bukan bubur yang lo bawain yang nggak enak. Tapi kayaknya maag gue kumat,” gumam Lula seakan gadis bisa mendengar apa yang diucapkannya barusan. Meski begitu, Lula sadar ia tetap harus makan. Oleh sebab itu gadis itu pun mengambil buah potong dan membawanya ke kasur. Ada potongan pepaya, apel, pir, dan melon di sana. Dengan garpu plastik yang disediakan, Lula menusuk pepaya terlebih dahulu dan memakannya dengan perlahan. Sambil memakan pepayanya, Lula mencoba menggapai ponselnya tadi di atas kasur.  Begitu beranda ponselnya terbuka, Lula melihat ada banyak pesan yang masuk serta beberapa panggilan tak terjawab. Lula membuka terlebih dahulu deretan pesan di aplikasi w******p nya dan mendapat banyak pesan dari orang-orang. Namun, nama Bimo tidak ada. Lula tercenung. Cowok itu tidak mencarinya? Lula memastikan lagi dengan melihat panggilan tak terjawab. Ada dari Bimo. Pada pukul 7 lebih sedikit Bimo sepertinya melakukan panggilan padanya hanya saja tak dapat Lula jawab. Meski tidak ada pesan, setidaknya cowok itu sempat ada upaya meneleponnya. Gadis itu meletakkan lagi ponselnya tersebut di atas bantal dan ia lanjutkan lagi memakan buah yang ditinggalkan sohibnya. Sepertinya memang saat ini perutnya masih memilih-milih makanan yang diperkenankan masuk. Tapi biarlah. Mungkin ini karena Lula kemarin-kemarin kebanyakan makan sambal, kopi, atau makanan bersantan makanya sekarang lambungnya ngambek. Mungkin ini teguran juga untuknya agar tidak menunda-nunda lagi jam makan dan perlu memperhatikan lagi waktu istirahatnya. Meskipun saat sakit seperti ini, Lula ingat ‘dosa-dosanya’ sudah zalim pada dirinya sendiri, tapi belum tentu saat sehat nanti Lula ingat sama sekali. Karena tidak ingin mengkhawatirkan orang-orang yang sudah sayang dan memperhatikannya, Lula pun mengambil ponselnya dan menuliskan catatan di ponselnya tersebut. Sambil tetap memakan buah potongnya, Lula terus mengetik di catatan tersebut. “Nanti jangan pura-pura amnesia lo, Lul!” ucapnya pada diri sendiri lalu menyimpan catatan tersebut dan memberikan kata kunci agar tak ada yang dapat membaca selain dirinya. Sampai kemudian terdengar azan zuhur yang menandakan waktu sudah mendekati pukul dua belas siang. Buah potong yang ditinggalkan Gadis untuk Lula sudah habis dimakan. “Ya Allah, Dis, makasih banget buahnya,” ucap Lula lalu meletakkan lepek styrofoam di atas meja.  Lula kemudian bangun dari kasur dan mendekati kantong plastik yang ditinggalkan Gadis di sana. Begitu banyak makanan yang ditinggalkan Gadis. Selain buah yang sudah ia makan tadi, ada tiga kaleng s**u kemasan gambar beruang, bubur instan tiga cup, wafer, dua batang coklat, hingga plester luka. Melihat itu, dahi mengernyitkan dahinya bingung sendiri. Namun karena tak bisa bertanya juga pada Gadis, Lula pun meletakkan lagi plester luka tadi dan mengambil plastik dengan logo apotik untuk melihat obat apa saja yang dibeli sahabatnya.   Usai mengecek seluruh isi plastik, Lula merasa badannya kembali tidak enak. Oleh sebab itu, Lula segera mengambil sirup penurun panas yang dibeli Gadis dan segera meminumnya sesuai anjuran. Cahaya dari luar membuat Lula merasa silau, oleh sebab itu, dia pun bangkit sebentar untuk menutup jendelanya. Namun saat mendekati pintu, Lula tersadar bahwa kunci kamarnya tidak ada. Pandangan Lula pun berkeliling dan baru disadarinya bahwa kunci tersebut sepertinya dilemparkan oleh Gadis. Lula menggelengkan kepala sambil menahan senyum. Ini pasti Gadis berpikir hal yang tidak-tidak makanya dikuncinya Lula dari luar. Ah, mendapatkan sohib macam Gadis ini menjadi salah satu yang Lula syukuri semenjak kuliah di sini. Setidaknya rasanya tidak begitu sendiri dan sepi di saat-saat seperti ini. Gadis mengambil kuncinya dan meletakannya di mangkuk yang biasa dia jadikan tempat menaruh kunci.  Setelah itu Lula kembali ke tempat tidurnya karena merasa tubuhnya lemas sekali. Sambil menyelimutkan lagi selimutnya, Lula kembali mencoba istirahat. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN