Sempat Tertunda

1293 Kata
Hani segera melenggang menuju kos Lula begitu bubar kampus. Gadis sudah lebih dahulu kabur begitu selesai sebab dia harus segera mencari ojek. Dia tidak boleh terlambat. Namun sebelum melesat pergi, Gadis sudah berseru pada Hani agar jangan sampai terlambat.  “Gue takutnya tuh anak belum bangun, belum makan lagi atau belum minum obat, Ni,” ucap Gadis sambil memasukkan semua buku dan peralatan menulisnya. Di wajahnya tampak jelas kepanikan yang menggantung namun juga ekspresi bingung. “Iya, ini kan gue juga lagi siap-siap. Lo tenang sedikit kenapa, sih?” Hani jadi hampir ikut senewen gara-gara sikap dan kalimat Gadis itu. “Ini gue langsung ke sana kok, Dis, langsung gue. Kagak mampir ke mana-mana dulu gue. Kagak dah, Dis,” lanjut Hani untuk meyakinkan Gadis bahwa dirinya masih memegang amanah untuk menengok sohib mereka. “Iya pokoknya nanti pastiin Lula makan, minum obatnya, dan bilangin buat banyakin istirahat. Gue takutnya pulang larut banget pas dia udah tidur.” Hani manggut-manggut saja dan sudah selesai membereskan peralatannya. Namun begitu dia mengangkat muka, Gadis sudah melesat dan menghilang dari pandangan.  “Buset! Tuh anak kenapa cepet banget sih ilangnya?!” keluh Hani kaget sendiri karena mungkin saja sejak tadi ia hanya bicara seorang diri. Karena sudah sore sekali, Hani pun buru-buru keluar dari kelasnya. Di saat yang bersamaan, Bimo hendak menjenguk Lula namun sedang memikirkan bagaimana caranya? Akhirnya ia terpikirkan untuk meminta tolong pada Anindita. Meskipun saat di parkiran tadi, Bimo sempat merasa bingung dan galau, tapi Bimo merasa dia tak boleh seperti ini. Dia harus memikirkan dan tetap menjaga Lula hingga nanti. Bimo pun membuka teleponnya yang terkunci dan segera menelepon Anindita. Hanya perlu menunggu dering dua kali, panggilannya segera dijawab. “Halo, Bim? Ada apa?” tanya suara Anindita dengan semangat dan ceria. Ada senyum tipis yang tercetak di bibir Bimo saat mendengar suara Anindita tersebut namun ia segera menggelengkan kepalanya. “Oh, hmm, itu Dot, gue mau minta tolong ke lo. Kira-kira lo bisa nggak, ya?!” “Hmm, boleh aja, sih. Apa yang bisa gue bantu? Nemenin lo dan nyokap shopping lagi?” tanya Anindita mencoba menebak bantuan yang coba diminta Bimo. “Bukan, Dot. Bukan itu yang gue mau minta tolong dari lo,” bantah Bimo. “Oh, terus apa, Bim?” tanya Anindita dengan suara yang masih ceria. “Iya, jadi Lula lagi sakit, Dot. Kos nya tuh nggak memungkinkan gue buat masuk dan ngerawat dia. Gue kalau minta tolong lo buat dateng ke tempatnya Lula terus gue tungguin lo di mobil gimana?” “Oh, sakit apa Lula nya?” tanya Anindita dengan nada bicara agak kaget. “Nggak apa-apa, sih. Gue ke kampus lo apa gimana?”  “Nggak usah, Dot. Ini gue udah mau ke tempat lo aja. Gue jemput lo di apartemen, ya. Nanti cari sesuatu dulu buat dibawa ke Lula dulu soalnya.” “Oke kalau gitu, Bim. Gue mulai siap-siap sekarang, yah.” “Gue kabarin pas udah deket ya, Dot. See ya.” “Bye, Bim.” Empat puluh menit kemudian Bimo sudah sampai di pelataran apartemen Anindita dan mengabari gadis itu. Namun rupanya Anindita sudah menunggu kedatangan Bimo di lobby. Ketika Anindita sudah ada di dalam mobil bersama Bimo, gadis itu pun bertanya. “Mau beli apa dan ke mana nih arahnya, Bim?”  “Hmm, enaknya ke mana, ya?!” Bimo terdengar gamang. “Eh, lo udah makan belom, Dot?” Anindita mengangguk. “Udah kok. Makan siang kan yang lo maksud?” Bimo tersenyum. “Bukan dong. Ini udah mau malem, ya yang gue tanya makan malem.” “Ya, kalau itu belom dong. Gimana sih lo?!” Anindita tak habis pikir. “Nah, karena lo belum makan nanti tolong sekalian temenin Lula makan bareng, ya. Kata sahabatnya tadi pagi Lula sakit demam. Gue takutnya dia belum kuat makan sendiri,” tutur Bimo. “Oke, Bim. No problem kok,” balas Anindita. “Barusan gue jadi tahu nih musti ke mana kita dan beliin Lula apa aja,” cetus Bimo lalu mulai menjalankan mobilnya. Mobil Bimo mulai meninggalkan pelataran halaman apartemen Anindita dan menuju tempat yang ia pikirkan tadi. Rupanya Bimo mampir ke tempat seafood yang selalu disukai Lula dan membeli menu yang biasa ia pesan juga.  “Lo mau pesen apa Dot?” tanya Bimo saat menuliskan menu. “Gue mau apa yang lo makan,” jawab Anindita dengan suara agak manja. Bimo tersenyum lalu menuliskan menu cumi saus padang dua porsi. Setelah memesan, Bimo mengajak Anindita untuk berjalan sedikit menuju tempat toko boneka. “Ih, ya ampun gue jadi nostalgia deh kalau ke Kerajaan Boneka gini, Bim,” seru Anindita dengan riang. Ekspresi wajahnya begitu riang dan membuat Bimo sempat terpaku. “Jadi inget waktu kecil kan kita sering banget kita ke tempat ini ya, Bim?!” “Ya, bukan yang di sini, Dot. Itu yang ada di daerah rumah gue bukan di sini,” ralat Bimo. “Tapi layout tempatnya tuh masih sama, Bim. Jadi beneran nostalgia gue ini,” sahut Anindita masih tak dapat menyembunyikan rasa senangnya. “Lo ngajak gue ke sini buat beliin gue boneka lagi?” tanya Anindita dengan nada menyelidik. Bimo langsung mencibir. “Yeee, GR amat lo. Gue mau beliin Lula. Dia juga suka boneka soalnya,” terang cowok itu. Anindita agak manyun namun kemudian dia tersenyum lagi. “Tapi lo yakin Lula suka sama boneka? Nggak bawain dia bunga aja gitu?”  “Kayaknya Lula nggak suka bunga deh, seneng boneka dia itu,” lanjut Bimo sambil mengingat-ingat. “Bener kok. Suka boneka dia. Orang tiap gue beliin boneka dia selalu nerima dengan antusias kok.” “Ya, kan diterima bukan berarti suka. Bisa aja karena emang nggak tega buat nolak,” sahut Anindita mencoba menebak. Tapi Bimo tetap dengan pendiriannya. “Nggak kok, suka-suka aja Lula. Dia mah asal gue yang kasih demen kok,” ungkap cowok itu penuh percaya diri. Mereka pun meneruskan berbincang sambil masuk ke toko bernama Kerajaan Boneka tersebut.  “Kalau lo mau ngasih Lula boneka, lo nggak mau ngasih gue juga? Lo dulu sering banget kasih gue boneka,” ucap Anindita sambil melihat-lihat deretan boneka yang terpajang di rak. “Lo mau?” tanya Bimo sambil berjalan mendekati sahabatnya.  Anindita mengangguk lalu balik badan. Seketika ada sebuah boneka beruang dengan pita di leher berukuran sedang yang sudah disodorkan oleh Bimo padanya. Gadis itu tersipu. “Buat gue?” tanyanya dengan nada malu-malu. Bimo menggeleng. “Bukan. Gue mau nanya kalau yang ini bagus nggak gue kasih ke Lula?”  Wajah Anindita manyun lagi namun dia kemudian mengangguk. “Iya bagus, sih. Gue yakin Lula juga bakal suka,” ucapnya mengemukakan pendapat.  “Oke, gue pilih ini buat cewek gue. Lo pilih sendiri deh sana mau boneka yang mana,” ucap Bimo sambil membawa boneka beruang yang ia pilih menuju kasir. “Gue pilih dulu bonekanya ya, Bim,” sahut Anindita lalu meneruskan mencari-cari. Cowok itu mengiyakan kemudian mengecek ponselnya. Lula tidak memberinya kabar. Ah, seharusnya dia yang menanyakannya lebih dulu. Bimo pun sadar saat ia hendak mengirim pesan pada pacarnya tadi ada sesuatu yang mengganggu. Hmm, rasanya ia benar-benar tak enak karena sama sekali tak menanyakan kabar kekasihnya hari ini. Bimo pun segera berinisiatif untuk mengirimkan pesan. Bimo Hi, Ulul sayang. Maaf ya Bimo baru Bisa ngabarin. Sibuk banget hari ini. Ini Bimo mau ke tempat Ulul ya sebentar Lagi. bawain makanan yang Ulul Suka. tungguin, ya. Usai mengetik pesan tersebut, Bimo mengirimnya pada Lula. Hanya saja pesan tersebut masih berwarna abu-abu dan centang satu. Apakah gadis itu belum bangun atau ia terlupa bahwa ponselnya perlu dicharge? Tapi walaupun lupa mencharge ponsel ya wajar saja. Saat ini kondisi Lula pasti sedang menahan sakit atau tidak enak yang ia rasakan di tubuhnya. Makanya Bimo merasa ia ingin segera datang untuk mengetahui keadaan perempuannya segera.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN