Delapan

1979 Kata
Arsha duduk di kursi meja belajar yang berada di kamarnya. ia mengerjakan tugas yang belum ia kerjakan padahal besok adalah jadwal untuk di kumpulkan Ah, soal jadwal psikeater tadi,ia memutuskan untuk tidak konsul. Terlalu malas jika berangkat sendirian dan sudah lelah Ia terlalu pokus, sehingga tak menyadari bahwa pintu kamarnya telah di buka oleh seseorang “Kenapa gak bilang, Sha?” suara dingin Adit memenuhi kamar Arsha Arsha langsung menoleh dan terjolak kaget, kapan Adit ada di kamarnya? bahkan ia tak mendengar ada yang mengetuk pintu kamarnya Ia mengerjap saat melihat mimik muka milik Adit yang berbeda. datar, itu lah yang ia lihat. dia tidak paham apa maksud Adit “Hah?” Arsha mengernyitkan dahinya “Kenapa lo gak bilang, kalo lo, punya penyakit mental? dan lo sering banget ninggalin terapinya?” jelas Adit dengan nada dingin dan datar Deg! Dari siapa Adit tahu? ia sendiri tak pernah bilang ke siapapun selain kepada Arka “L-lo tau dari siapa?” “Gak penting gua tau dari siapa, sekarang jawab pertanyaan gua dengan jujur” Arsha menunduk dalam, “Iya, gua punya penyakit mental. gua gak konsul lagi setelah berbulan-bulan lalu, cuman beli obatnya ke apotek. itu pun cuma resep awal” Adit menggeram marah mendengar hal itu, kenapa Arsha tidak konsul kembali? ia tahu, bahwa itu sangat bahaya. apalagi sudah berbulan-bulan. bukan kah itu tidak baik? “Kenapa?” Arsha mendongak menatap Adit “Kenapa gak pernah konsul lagi?” ulang Adit dengan jelas, dan mencoba untuk meredam amarahnya “Gua capek, males, gua selalu sendirian. capek kak, setiap bulan gua konsul tapi sendirian itu semakin membuat diri gua semakin males. gak ada yang semangatin gua,” ujar nya menunduk. mata nya sudah berkaca kaca saat mengingat diri nya yang selalu sendiri “Kata Arka lo pengen cepet sembuh kan? kenapa gak konsul dengan teratur?” “Kalo pun gua sembuh, gak ada yang peduli kan? buat apa gua sembuh kak?” ia terkekeh miris Adit menarik napas banyak banyak, dan membawa Arsha untuk duduk di tepi ranjang “Dengerin gua sha, walaupun gua tahu lo capek, sakit, tapi lo harus sembuh. Lo pengen kan interaksi sama orang lain tanpa ketakutan? Kalo pun lo pikir gak ada yang peduli sama lo, tapi gua ada, gua selalu ada di samping lo, nyemangatin lo. peduli sama lo, jadi, jangan takut. kalo lo pikir lo sendirian lo salah, ada banyak orang yang selalu ada sama lo, peduli sama lo. gua tau lo udah gak percaya sama orang lain, tapi gua mohon percaya sama gua, semua orang itu peduli sama lo. jangan takut sendirian.” Arsha masih bergeming dengan tatapan kosong “Jangan melihat ke belakang atau kebawah, karna saat lo melihat kebawah dan kebelakang, lo selalu ngerasa takut. udah di landa segala ketakutan. tapi, lo belum pernah melihat kedepan, di depan ada sesuatu yang indah buat lo Sha, ada kejutan yang buat lo bahagia, gak ada ketakutan. masa depan lo Sha, masa depan lo indah, cerah. ibarat burung lo akan terbang bebas, tanpa takut lo bakalan jatuh kebawah. masa depannya lo indah. percaya sama gua” d**a nya semakin sakit, terasa di remas saat mendengar penuturan lelaki itu “Sha, pertemuan dan perpisahan itu akan selalu ada. ntah kapan dan dengan siapa, kita gak bakal tau. tapi yang lo harus tau adalah Masa depan lo. lo harus berpikir kalo masa depan lo terpapang jelas dengan cerah, lo anak yang kuat, dan gua yakin lo bakal berhasil dengan hebat.” “Gua, mamah, Arka, tante yuna, nenek, semuanya. ada buat lo. ada di sekeliling lo, jangan takut. jangan biarin pikiran negatif ngeracunin pikiran lo. gua gak akan janji, tapi, gua akan buktiin kalo gua akan selalu ada di samping lo. semua orang itu beda Sha, jangan lo pikir bahwa seseorang yang ada di dekat lo akan jauhin lo, ninggalin lo, di saat udah tau problem lo.” “Gua mohon, bertahan, dan terus berusaha. gua yakin lo bakal sembuh, gua yakin hal itu. Tuhan sayang sama lo, dia tahu lo bisa lewatin ini semua dengan perlahan. Gak selamanya kita hidup senang, pasti ada masa masa sulit yang akan kita lewati. dan begitupun dengan hidup lo, gak selama nya lo akan di landa ketakutan.” “Jangan pernah salahin diri lo sendiri, lo kuat, hebat. Bahkan kalo gua tuker posisi sama lo gua gak tua bakal sekuat lo atau nggak. jadi, lo harus berterima kasih sama diri lo sendiri. terimakasih udah sekuat ini, lo bisa sampai di titik ini,” Adit menghembuskan napasnya pelan dan melirik ke samping “Makasih Arsha, lo kuat.” Runtuh sudah pertahan Arsha Ia berhambur kedalam pelukan Adit, air mata yang sedari tadi ia tahan kini mengalir dengan deras. ada rasa sesak di dadanya yang amat dalam. ia menyadari sesuatu, ia telah jahat pada diri sendiri, ia selalu menyalahkan diri sendiri, menyakiti nya, membencinya. padahal ia seharusnya berterima kasih. Terima kasih pada diri sendiri karna telah bertahan sejauh ini. Adit tersenyum tipis lalu membalas pelukan gadis itu, ia mengusap bahkan mengecup pucuk kepala gadis itu. “Makasih kak, gua sadar sekarang.” Ucapnya dengan nada gemetar “Jadi, sekarang ayok bangkit Sha. jangan takut, kepakan sayap mu yang indah dan terbang tinggi” Arsha mengangguk “Kita konsul ya, biar cepet sembuh.” Arsha mengangguk lagi. ia harus sembuh. harus! Dan kini, ia bersyukur kepada Tuhan karna telah mengirim sesosok Adit kepadanya. berkat dia ia jadi sadar, bahwa menyalahkan diri sendiri itu tidak boleh. dan berkat dia, ia merasa ada semangat untuk bangkit. *** Arsha turun dari motor milik Adit. terpapang jelas di depan matanya gedung besar berwarna putih. ia dan Adit sampai di rumah sakit untuk konsul psikeater, walaupun jauh dari lubuk hati nya yang paling dalam ia sangat takut. namun, ia berusaha sebisa mungkin untuk melawannya. Adit menyugarkan rambut nya dan menggandeng tangan dingin milik Arsha “Jangan takut, tenang.” bisik nya tepat di samping Arsha Arsha tersenyum tipis lalu mengangguk pelan Mereka berjalan masuk secara berdampingan. dapat Adit rasakan bahwa Arsha sedang di landa ketakutan. tanganya gemetar dan berkeringat dingin Adit menenangkan Arsha dengan rangkaian kata kata dan memberikan canda tawa. Setelah mereka sampai di depan ruangan milik psikeater yang biasa Arsha datangi mereka langsung masuk “Oh, Arsha, akhirnya kamu datang juga.” ucap dokter perempuan. ia cukup kaget karna sudah lama sekali pasien yang satu ini tidak pernah datang untuk konsul “Maaf dok, saya baru kesini lagi.” Arsha tersenyum tipis. “Ah, gak papa—” Anne beralih menatap di samping Arsha “— ini Arka?” Arsha menggeleng cepat. “Oh, bukan. dia, sepupu saya dok” “Adit dok,” Adit menyodorkan telapak tangannya betniat menjabat perempuan yang ada di hadapannya itu “Saya Anne.” ujar Anne sambil meraih ramah jabatan Adit “Baik, silahkan duduk. mari kita mulai ya,” Kedua nya langsung duduk Arsha menaruh kedua telapak tangannya di atas paha miliknya. saling bertautan. gemetar dengan hebat, keringat dingin mulai muncul di sekujur tubuhnya Adit menoleh, ia meraih tangan Arsha dan menggengam nya erat. sekedar untuk menenangkan suasa hati Arsha “Sebentar dok, bisa di jelaskan kepada saya tentang penyakit mental seperti apa yang di alami oleh Arsha” ucap Adit penasaran “Bisa, saya jelaskan ya” “Arsha di diagnosa mengidap PTSD (post-traumatic stress disorder) atau gangguan stres pascatrauma adalah gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang tidak menyenangkan. PTSD merupakan gangguan kecemasan yang membuat penderitanya teringat pada kejadian traumatis. Peristiwa traumatis yang dapat memicu PTSD antara lain perang, kecelakaan, bencana alam, dan pelecehan seksual.” jelasnya. sedetik kemudian tubuh Adit menegang. Tenggorokan tercekat. Kenapa Arsha menyembunyikan penyakit yang sangat menyakitkan seperti ini? *** Di lain tempat tepat nya di markas geng Levator, mereka sedang berkumpul bersama di rumah berlantai 2 dan cukup luas. Alex dan ke 6 teman yang lainnya sedang duduk di balkon atas, dan Alex juga membawa anak kecil. Eitsss... Tenang, itu bukan anak Alex kok. dia adek sepupunya, umur dia baru 4 taun. namanya Bryan, dia bisa di sebut anak malang karna dia selalu di tinggal oleh kedua orangtuanya, orangtuanya sedang berada di luar negri dan Bryan di titipkan ke Vina — ibu dari Alex. Alex sendiri sudah menganggap Bryan adek kandung nya sendiri karna kebetulan Alex ini anak tunggal. "Abang, cinni dehh. iyan bisikin" ujarnya. Alex mengangguk lalu menurunkan sedikit wajahnya agar telinganya bisa bersejajaran dengan mulut Bryan. "Beli es krim om jenggot yuk bang." Alex menggeleng dengan muka datar, dia malas untuk keluar. Dia memanggil nama es krim om jenggot karna memang pedangang nya itu "Gak boleh" "Tapi pengen sekali aja, beli di om jenggot bang" Rengeknya sambil mata yang berkaca-kaca. Alex tak menghirau kan itu dia malah asik menghisap rokok yang berada di tangannya. Bryan menunduk dengan mata yang berkaca-kaca, dia ingin sekali membeli es krim yang berada tidak jauh dari Markas. Reza yang tadinya sedang bercanda dengan Gavin pun mengalihkan pandangannya ke arah anak kecil yang berada di samping Alex. Tidak seperti biasanya anak itu menunduk seperti ini. Dia mendekati Bryan dan menangkup wajah milik anak kecil itu, dia tersenyum simpul lalu bertanya kepada Bryan "Iyan kenapa?" "Pengen es krim om jenggot hikss"ujarnya sambil terisak Semua pasang mata menatap ke arah Bryan, bukan tidak mau membelikan namun Bryan tidak boleh makan es krim, karna jika dia memakan es krim esok harinya dia suka demam. "Jangan, nanti iyan sakit gimana. Hm?" Ujarnya sambil mengambil tubuh mungilnya kedalam gendongannya. "Huwaaa.... Pengen es krim om jenggot"tangisan nya pecah di dalam gendongan Reza "Yang lain deh"ucap Reza sambil menggusap punggung milik Bryan Dia menggeleng dengan cepat "Pengen es krim om jenggot!" Reza menghembuskan napasnya pelan lalu berpikir untuk menghibur Bryan. 5 detik kemudian ide bagus muncul di dalam otaknya Dia tersenyum dan menurunkan Bryan untuk duduk di lantai balkon. Sedangkan dirinya masuk ke ruangan dan menggeledah lemari yang ada di sana Dia mengacak-acak semua lemari yang ada di sana untuk menemukan sesuatu barang. Terdengar suara grasak-grusuk dari dalam karna Reza mengacak-acak semua lemari sampai semua isi nya keluar. Revan yang sangat kepo pun segera menghampiri Reza dan bertanya. "Za, berisik! Cari apaan sih?" "Cari lilin kemarin gua liat ada di lemari, lo liat kagak?" "Lilin? Buat ape? Ngepet?"tebaknya dengan asal "Nah iyak itu lo tau"dia mengangguk sambil membawa 1 lilin. Dia tersenyum saat menemukan lilin dan segera keluar, dia duduk dan menyuruh anak yang lainnya duduk melingkar "Gilak, ada-ada aja nih bocah"guman revan yang masih mematung di ambang pintu. "Sini lo pada!" "Ape?" "Duduk ngelingkar gak usah banyak tanya" Setelah itu mereka semua duduk melingkar kecuali Alex dan Rio mereka berdua sudah turun ke lantai 1 beberapa menit yang lalu jadi dia bisa melancarkan aksinya karna tidak ada Alex. "Van, lo jadi babi" "b*****t, ogah!" "Buruan demi Bryan, mau dia nangis?"revan langsung melirik anak kecil yang sedang menunduk sambil terisak, malang sekali nasib mu nak. Dia mendengus kesal lalu duduk di tengah-tengah lingkaran. Semua mata menatap ke arah Reza apakah Reza yakin? Dia tidak takut jika Alex tahu bahwa Reza telah mengajarkan ilmu kesesatan? "Kalo Alex marah gua gak ikutan yak"ucap Vurgos Dia tidak mau kena amuk Alex karna ketika Alex ngamuk akan sangat menyeramkan "Iyak"jawab Reza cepat. "Bang Eza mau ngapain?"tanya bocah itu penasaran "Mau buat tutor ngepet, jangan bilang ke abang Al, ya."dia hanya mengangguk polos lalu menyaksikan adegan sesat tersebut Setelah itu mereka bermain babi ngepet tapi bukan babi ngepet beneran ya intinya ini supaya bisa buat Bryan lupa sama es krim yang pengen dia makan Kalo dia makan es krim bisa berabe ceritanya ntar. Dan detik itu juga Bryan tertawa cekikikan karna Revan lah yang jadi babinya. Sungguh sekarang dia lupa dengan es krim om jenggot. Beberapa menit kemudian Alex datang dan dia terkejut melihat Bryan yang sedang di ajarkan sesat "b*****t lo pada! Ngajarin gak bener ke adek gua!" Omel Alex dan langsung menggendong tubuh mungil milik Bryan Semua nya hanya diam mereka menelan ludahnya dengan kasar tamat lah riwayat mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN