9. Apa Yang Kau Cari?

1629 Kata
Aku tidak bisa memejamkan mata hingga matahari mulai bersinar. Bukan karena kelaparan seperti yang kubayangkan sebelumnya. Tapi karena perasaan aneh yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku merasa berdebar saat membayangkan akan menjadi Ratu Kerajaan Northfourt, dan yang paling membuatku ketakutan tentu saja karena akan menjadi istri orang paling kejam di Northfourt. Apa dia akan membunuhku di hati pertama pernikahan kami jika aku tidak sesuai dengan yang diinginkannya? Napasku tertahan saat mengingat cerita dari Gustav dan Leon tentang bagaimana kejamnya Rhys Logan menghabisi para pemberontak yang berkhianat. Dia tidak akan berpikir dua kali untuk membinasakan semua pemberontak tanpa pandang bulu, bahkan dengan cara yang paling kejam sekali pun. Memenggal, memotong anggota tubuh menjadi beberapa bagian, sudah hal biasa baginya. Aku merasakan begitu mual saat membayangkan bagaimana tangannya menghabisi nyawa orang satu per satu. "Nona Ilona, sudah waktunya untuk bersiap," panggil Beatrice sambil menyentuh lenganku perlahan. Padahal tanpa perlu dibangunkan, mataku sudah terjaga dari tadi. "Sebentar lagi aku tidak akan memanggilmu dengan sebutan Nona lagi," ucapnya saat aku pura-pura membuka mataku perlahan. "Aku tidak biasa dengan segala rasa hormat ini," balasku dan membuat Beatrice menepuk lenganku perlahan. "Seiring dengan waktu, Nona akan terbiasa dengan semuanya," ucapnya. "Aku juga mengkhawatirkan Yang Mulia," kataku. "Kelihatannya dari awal Yang Mulia sudah tertarik dengan Nona. Biasanya dia tidak pernah bertanya-tanya dengan para wanita yang telah dilamar oleh pihak istana. Hanya dengan Nona dia melakukan semuanya. Dia bahkan meminta pernikahan dilangsungkan secepatnya. Hal yang biasanya tidak pernah dipikirkannya karena dia menyerahkannya pada penasihat istana," jelas Beatrice. Aku menarik napas panjang, belum tentu dia banyak bertanya tentangku karena dia tertarik, bisa jadi hanya untuk memuaskan rasa ingin tahunya saja. "Ayo, mari kubantu untuk membersihkan diri," ujar Beatrice dan membuatku bangkit dari tempat tidur dengan enggan. Sebenarnya kamar ini sangat nyaman untuk tidur dan beristirahat, tapi tidak yang kurasakan. Aku bahkan merasa lebih nyaman tidur di kamarku yang kecil. "Apa kita akan mandi seperti kemarin lagi?" tanyaku. "Tentu saja. Seorang Ratu harus tampil sesempurna mungkin. Apalagi ini adalah hari yang penting untuk kerajaan," sahutnya. "Nona tenang saja, akan banyak pelayan yang membantu sehingga proses mandi kali ini bisa lebih cepat," katanya lagi. Justru karena banyak pelayan yang membantu, membuatku merasa tidak nyaman. Bagiku mandi adalah hal yang sangat pribadi, harusnya tidak perlu bantuan banyak pelayan seperti ini. Aku memejamkan mata, saat satu demi satu pakaianku dilepas oleh para pelayan. Kali ini rambutku digelung tinggi, karena tidak akan dibasahi. Kata Beatrice, percikan air bunga mawar sangat efektif membuat rambut tetap segar dan wangi. Punggungku terasa digosok dengan lembut. Busa dari akar bunga albasi yang berwarna kehijauan membasuh seluruh tubuhku. Wangi samar yang begitu lembut membuatku melupakan sejenak jika hari ini adalah hari pernikahanku. Kata Beatrice, mereka tidak membalurkan ekstrak bunga geranium lagi ke tubuhku karena wanginya masih sangat kentara. Mandi pagi ini hanya agar aku terlihat lebih segar. "Lihatlah, wajah Nona Ilona terlihat sangat cerah dan bercahaya pagi ini," puji Beatrice sambil berbicara dengan sesama pelayan yang lain. "Benar, Beatrice. Para penasihat memang tidak salah memilih Nona," sambung yang lainnya. "Semoga saja kami masih bisa melayani Nona saat telah menjadi Ratu nanti," kata yang lain lagi. Karena tidak tahu harus menanggapi ucapan mereka, aku hanya tersenyum kecil. Walaupun katanya mandi pagi ini hanya bertujuan agar aku terlihat lebih segar, tapi tak urung menghabiskan waktu berjam-jam lamanya. Jika aku menjadi Kaisar, aku pasti sudah tidak sabar menunggu calon Ratu yang masih saja belum siap. Para pelayan kemudian membawaku kembali ke kamar. Aku diam saja saat mereka mulai mengenakan gaun pengantin berwarna putih yang terlihat sangat sulit untuk dikenakan. Puluhan kancing terdapat di punggungnya dan ratusan manik-manik berwarna putih menghiasi bagian bawah gaun ini dan membuatnya terasa berat saat dikenakan. Aku tidak tahu berapa lama akan mengenakan gaun ini, semoga saja hanya selama upacara pemberkatan. Beberapa pelayan memuji tubuhku yang ramping sehingga mereka tidak kesulitan mengenakan gaun pengantin itu padaku. Mereka tidak tahu jika kesenanganku berburulah yang membuat tubuhku terlihat ramping seperti ini. Aku sudah terbiasa berlari, melompat, bahkan berguling yang sudah pasti akan membuat lemak-lemak di tubuhku terbakar. Saat ini aku merasa wajahku sedang dipoles dengan bedak berkualitas tinggi yang terbuat dari jagung yang digiling halus dan disaring beberapa kali sehingga menghasilkan tepung dengan kehalusan yang sempurna. Tepung jagung itu juga dicampur dengan beberapa ekstrak bunga agar baik untuk kulit wajah. "Beruntung sekali aku yang dipilih untuk merias calon Ratu kita ini," ucap seorang pelayan yang terlihat paling berumur dibanding yang lain. "Aku sama sekali tidak mengalami kesulitan. Kulit wajahmu begitu sempurna, cukup satu kali polesan saja sudah secantik ini," pujinya. Karena mataku masih terpejam dan aku tidak bisa melihat hasil riasannya, yang kulakukan akhirnya hanya tersenyum sambil mengucapkan terima kasih. "Nona Ilona akan menjadi Ratu paling menawan sepanjang sejarah Kerjaan Northfourt," timpal yang lain. "Aku tidak sabar menantikan Yang Mulia yang terkenal dingin itu akan luluh karena calon Ratu kita ini." Aku ingin tertawa saat mendengar pembicaraan para pelayan yang semakin menggelikan. Aku sendiri saja tidak berani bertaruh jika Kaisar Rhys Logan akan menoleh ke arahku. Harapanku hanya satu, cukup dia memperlakukanku dengan baik saja sudah membuatku lega. "Bukalah matamu, Nona," ucap Beatrice. Aku membuka mataku perlahan seperti yang diperintahkan oleh Beatrice. Mataku membesar saat melihat sosok yang terpantul dari cermin besar di hadapanku. Sosokku benar-benar terlihat berbeda. Sepertinya Ayah, Ibu, bahkan Gustav dan Leon akan kesulitan mengenaliku. Rambut panjangku diatur sedemikan rupa sehingga diikat berbentuk seperti bunga. Sedangkan wajahku yang biasanya polos, kali ini terlihat sangat berbeda, lebih bercahaya, seperti yang dikatakan oleh para pelayan tadi. Aku saja baru tahu jika mata coklatku akan terlihat indah kali ini, warna coklatnya terlihat begitu pekat. "Sangat menawan, bukan?" bisik Beatrice di telingaku. Aku tersenyum mendengar ucapannya sekaligus merasa terharu karena para pelayan ini sangat memperhatikanku. "Nona Ilona tidak perlu melakukan apa-apa untuk memikat Yang Mulia, cukup dengan senyuman seperti tadi saja," ucap Beatrice lagi yang entah kenapa membuat wajahku memerah, lebih merah dari perona pipi yang dipoles ke wajahku. "Apakah semuanya sudah siap?" Seorang pengawal muncul tiba-tiba dan membuatku bertambah tegang. "Sudah. Katakan pada yang lain jika mereka sudah boleh melakukan pengawalan," sahut Beatrice. "Sebentar lagi, Nona. Tenanglah, jangan tegang," bisiknya. Enam orang pelayan wanita termasuk Beatrice berada di sebelahku sambil terus memastikan jika tidak ada yang terlewat, apalagi gaun yang aku kenakan kali ini lumayan berat. Suara meriam yang ditembakkan tiga kali ke udara menandakan upacara akan segera dimulai. Puluhan orang pengawal bersenjata pedang berjalan terlebih dahulu, dan kemudian baru aku dan para pelayan. Di belakangku, ditutup kembali oleh puluhan pengawal. Iring-iringan para pengawal ini akan membawaku ke kapel milik istana yang berada di dekat kastil utama. Di sanalah Kaisar Rhys Logan sudah menungguku. Langkahku terasa berat, selain karena gaunku, juga karena keputusanku yang akhirnya menerima lamaran dari istana yang akan menjadikanku sebagai seorang Ratu. Pemberkatan pernikahan akan dilakukan secara tertutup, itu artinya hanya orang-orang penting dari Kerajaan Northfourt yang akan hadir, sedangkan rakyat biasa diperkenankan memberikan ucapan selamat saat malam hari nanti, di mana akan akan pesta besar-besaran untuk menyambut Ratu kerajaan Northfourt. Kapel istana sudah di depan mata. Aku melihat dengan jelas Ayah dan Ibu yang berdiri di depan kapel, sedangkan Gustav dan Leon berdiri di belakang mereka. Aku ingin menangis tapi tidak mau riasanku akan menjadi kacau karena emosiku yang tidak bisa kukendalikan. Langkah para pengawal berhenti tepat di depan kapel dan mereka membentuk barisan baru dengan berbaris di pinggir kanan dan kiri sehingga menyisakan aku dan para pelayan yang mendampingiku. Tak lama Ayah terlihat mendekat dan mengulurkan lengannya padaku. Di saat itulah, air mataku benar-benar jatuh tak bisa kucegah lagi. Mungkin ini terakhir kalinya aku dan Ayah saling bergandengan tangan seperti ini. Ayah tersenyum saat melihatku. Aku dan Ayah berjalan perlahan menuju altar. Mataku melihat dengan jelas jika Kaisar sudah menungguku di altar. Pandangannya terus mengarah padaku, dan tatapan matanya terasa begitu dingin sampai membuatku merinding. Langkahku dan Ayah diiringi oleh musik dari terompet khas kerajaan Northfourt yang terbuat dari emas murni. Suaranya terdengar begitu merdu tapi tetap saja tidak bisa mengurangi rasa tegangku. Ayah menundukkan kepalanya dalam-dalam saat berada di altar dan meninggalkan di sana. Kali ini hanya ada aku, Kaisar dan seorang pemuka agama yang akan memimpin jalannya upacara pemberkatan. Aku mematung di tempat Ayah meninggalkanku tadi karena memang tidak tahu apa yang harus kulakukan. Tak lama Kaisar mengulurkan tangannya padaku dan membuatku memandangnya dalam waktu yang cukup lama sampai akhirnya dia mendekat dan menggenggam erat tanganku. Suara pemuka agama yang memulai pemberkatan tak terdengar jelas olehku. Mungkin karena aku sangat tegang atau bisa jadi juga karena genggaman erat tangan Kaisar yang seolah tidak mau melepaskanku, persis seperti yang dilakukan pada tawanan-tawanannya. Apa nasibku akan berujung menjadi tawanannya juga? "Saat ini mereka bukan lagi dua, tapi telah menjadi satu dan tak terpisahkan lagi." Hanya kalimat terkahir yang berhasil tertangkap oleh pendengaranku. "Dengan sahnya pernikahan ini, kerajaan Northfourt juga mengangkat Ilona Montgomery menjadi Ratu Kerajaan Northfourt ke tujuh belas." Kaisar kemudian menerima sebuah tiara berwarna perak dengan taburan berlian yang begitu menyilaukan, dan kemudian memasangnya ke kepalaku. "Terimalah salam hormatku untuk Ratu Ilona," ucap Kaisar sambil mengambil tanganku dan mengecupnya. Mataku membesar dan di saat yang bersamaan Kaisar juga sedang menatapku tanpa berkedip. Tanganku terasa hangat karena ciumannya dan semua itu membuatku salah tingkah. Aku baru tersadar saat suara gemuruh tepuk tangan menandakan jika upacara pemberkatan ini telah selesai dilaksanakan. Aku melihat ke sekelilingku dan mencari Beatrice yang mungkin saja tahu apa yang harus kulakukan selanjutnya. Tapi tidak ada dia bahkan para pelayan lainnya tertangkap oleh mataku. Apa lagi yang harus kulakukan setelah upacara ini selesai? Bolehkah aku kembali ke kamarku, karena saat ini rasanya aku sangat mengantuk Aku masih sangat canggung dengan suasana istana, apalagi saat ini banyak orang-orang penting kerajaan yang sama sekali tidak kukenal. Untuk sekadar menyapa saja, aku kesulitan melakukannya. "Apa yang kau cari? Sudah jelas suamimu berada di hadapanmu saat ini." Suara berat itu membuat napasku seperti berhenti. (*)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN