“Tenanglah, Ilona,” ucap Logan sambil mengusap kepalaku. Padahal di saat itu, aku sudah hampir menangis karena memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Aku tidak ingin Logan tahu kegelisahanku, tapi tentu saja aku tidak bisa menyembunyikannya terus-menerus. “Jika memang itu yang kau khawatirkan, aku akan membuatnya menjadi hal yang tidak perlu kau khawatirkan,” lanjutnya berusaha menenangkanku. “Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu? Kehilangan kandunganku adalah hal yang sangat menyedihkan. Aku tidak bisa menjaga calon bayiku dengan baik,” sahutku. “Kehamilanmu adalah anugerah, jika memang anugerah tersebut dibatalkan, apa kita harus menuntut dan bersedih karenanya? Sabarlah, Ilona, bukankah kita bisa menunggu dengan sabar lagi?” tanyanya dengan wajah serius. “Aku ju

