1 - Mendapatkan Pekerjaan

1014 Kata
Lelaki muda berumur 23 tahun mengenakan kaos Armani warna hitam dengan emboss timbul yang terkesan mahal itu sudah turun dari mobil Lexus yang berpembatas kabin layaknya Limousin. Langkahnya kakinya terasa mantap dengan balutan jins Secret Circus warna biru pudar. Jika orang tidak awas matanya akan barang bermerek, tentu mereka tidak akan tau bahwa jins yang dipakai pria itu berharga 1,3 juta dolar. Silahkan saja dikonversikan dalam rupiah. Ketika lelaki muda itu sudah memasuki lobi utama sebuah gedung kokoh bernama Dwilingga. Itu adalah sebuah nama grup besar dalam dunia bisnis di Indonesia. Pemuda itu berhenti di depan lift dan langsung saja seorang office boy menyertai dia di dalam lift dan membukakan lift pada lantai tertinggi tempat pemilik gedung itu berkantor. Setelah pemuda itu dihantarkan ke hadapan pria berusia 55 tahun, pria itu tersenyum. “Kau sudah puas berdiam diri di rumah, Lang?” “Cukup puas dan agak bosan karena kerjaku hanya makan dan tidur serta menonton televisi saja, Pa,” jawab si pemuda. “Baguslah kalau kau bosan diam saja di rumah. Tentunya sebagai lulusan S1 Ekonomi di Universitas Amerika dan S2 Bisnis di Tiongkok tidak ingin ilmu yang masih fresh didapatkan luntur dan berkarat begitu saja, kan?” Pria itu, Damarhadi Hardana, pemilik Grup Dwilingga, mulai bersandar santai pada kursi besarnya. Pemuda sebelumnya, Erlangga Hardana, putra sulung dari pria tadi pun mulai henyakkan pantatnya di kursi depan sang ayah dan mulai menyamankan diri di sana. “Hm, begitulah, Pa.” “Apakah kau sudah siap untuk menempa dirimu dalam bisnis agar ilmumu tidak sia-sia?” tanya Damarhadi Hardana sambil tangkupkan kesepuluh jemarinya di depan dagunya sambil siku bertumpu pada pegangan kursi. “Aku siap kapanpun Papa siap.” Jawaban bernada mantap keluar dari mulut Erlangga. Sikapnya tenang dan pandangannya teduh namun menyimpan bara di sana, bara semangat juang. “He he he …” Tuan Damarhadi terkekeh senang melihat sikap sang putra. “Tapi, Lang, kau jangan buru-buru senang dulu dengan apa yang akan Papa berikan padamu.” “Aku tau, aku harus bersiap-siap akan kejutan darimu, Pa. Well, bring it on.” Erlangga tersenyum pada sang ayah. Dia sudah paham dengan kelakuan ayahnya yang senang memberi kejutan. Kadang menyenangkan, kadang menyebalkan. “Kau akan kuserahi untuk mengelola PT. Swadatu Boga. Apa kau bersedia, Lang?” “Apapun yang Papa rancangkan untukku, aku siap dan pasti bersedia.” Tuan Hardana mengangguk puas dengan sikap si sulung. “Bagus. Sepertinya Papa bisa mengandalkanmu. Baiklah, kau bisa memegang PT. Swadatu Boga. Tapi …” Erlangga sudah paham akan cara bicara ayahnya. Selalu ada 'tapi' usai kalimat yang terdengar menyenangkan. “Tapi … kau harus bekerja dulu di PT. Swadatu Boga. Tepatnya kau bisa memilih salah satu usaha kuliner yang di sana.” Demikianlah Tuan Hardana menjatuhkan bom awal pada anaknya. Erlangga menghirup dalam-dalam udara dingin sekitarnya akibat pendingin ruangan. Ia sudah tau pasti akan begini. “Memilih salah satu, yah?” Kemudian, Tuan Hardana menyerahkan sebuah file pada sang putra untuk dibuka dan dilihat. Tangan Erlangga yang putih bersih dan kencang pun mengambil file tadi dan mulai membukanya. Di sana ada beberapa foto dari beberapa usaha kuliner yang dibawahi oleh PT. Swadatu Boga. Restoran Candhana. Itu adalah sebuah rumah makan kelas atas yang harga makanan paling murahnya sekitar 1 juta. Dan itu hanyalah sebuah agar-agar saja. Meski harganya gila dan tempat juga menunjang kegilaan menu-menunya, namun restoran tersebut laris manis di kota besar dan sering dijadikan ajang pamer para orang kaya baru dan setengah kaya untuk ditampilkan di akun media sosial mereka. Lalu, ada Eco Resto & Cafe. Itu adalah sebuah rumah makan level menengah dan menu-menunya merupakan makanan tradisional Indonesia, berbeda dengan Restoran Candhana yang hanya menyediakan masakan internasional. Setelah itu, lembaran berikutnya dibuka dan muncul foto dari salah satu tempat makan bernama Sae Fastfood. Itu seperti fastfood ala Indonesia. Rupanya Tuan Hardana tidak ingin kalah oleh bisnis waralaba impor seperti ayam goreng tepung berlogo kakek tua ataupun si badut. Di Sae Fastfood disajikan makanan cepat saji ala Indonesia. Menunya seperti ayam geprek, ayam tepung yang akan dilumuri berbagai bumbu tradisional Indonesia, kentang goreng dengan saus sambal asli resep tradisional Indonesia, bahkan pizza dengan topping berbumbu rendang, sambal bawang, atau segala saus bumbu asli Indonesia. Benar-benar memuat banyak kearifan lokal meski hampir mirip dengan ayam si kakek tua atau si badut dan lainnya. Kemudian, ada juga Giri Giri Food Court. Itu sebuah lahan food court seperti namanya yang bertempat di semua Mall milik Grup Dwilingga, Giri Giri Mall, atau kadang disingkat G2, bahkan orang banyak melafalkan dengan ‘jitu’ untuk lebih mudah. “Bagaimana, Lang?” Suara Tuan Hardana dilantunkan memecah hening. “Apakah kau sudah menentukan ingin mencoba bekerja di mana?” “Sepertinya aku sudah menentukan pilihan, Pa.” Tangan Erlangga menutup file folder itu dan meletakkan di meja. “Di mana, Nak?” “Sae Fastfood.” Jawaban dari Erlangga sedikit memberi kejutan bagi Tuan Hardana. Beliau sebelumnya menduga anaknya pasti akan memiliki Candhana atau Eco Resto & Cafe, namun ternyata malah tempat makan yang tergolong murah meriah yang dipilih si sulung. Erlangga menangkap kilatan keterkejutan dari mata sang ayah dan dia tersenyum senang berhasil membuat ayahnya kaget. Sesekali boleh lah membalas tingkah sang ayah. Dulu saja, di awal Erlangga kuliah di Amerika, ayahnya berkeputusan bahwa dia harus membiayai sendiri biaya hidup di Amerika, terserah bagaimana caranya, hanya, jika dia sampai terlibat kriminalitas untuk mendapatkan uang, maka katakan selamat tinggal pada warisan nantinya. Sikap keras sang ayah kala itu akhirnya diterima oleh Erlangga meskipun terpaksa dan dia harus pontang-panting salto serta kayang hanya demi bisa mendapatkan uang untuk makan 3 kali sehari. Dari bekerja mencuci piring di rumah makan, bekerja paruh waktu di toko kelontong, bekerja di restoran cepat saji, menjadi orang yang mengajak jalan-jalan pagi untuk anjing orang kaya, semua pernah dia lakoni demi uang untuk makan. Malah, ketika sang ayah mulai mengirimkan uang dalam jumlah banyak, Erlangga sudah terbiasa dengan kerja paruh waktunya, tidak menyentuh uang dari sang ayah sama sekali dalam waktu sangat lama. Dia sudah mulai kebal dengan kejutan-kejutan dari ayahnya. Bahkan ketika ayahnya berkata, “Nanti, di Sae Fastfood, kau harus bekerja sebagai cleaning service dulu selama sebulan. Kalau kerjamu bagus, kau bisa naik ke pelayan dan akan terus diawasi selama beberapa bulan sebelum nanti ke bagian kasir, lalu ke manajer, lalu ke supervisor. Tapi kalau kerjamu buruk, maka kau akan sulit naik pangkat. Mengerti?” “Sangat mengerti, Pa. Kapan aku mulai ke sana?” Rasa percaya diri Erlangga benar-benar ditunjukkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN