2 - Mendatangi 'Medan Perang'

990 Kata
Menggunakan sepeda biasa, Erlangga mengayuhnya dari sebuah apartemen kecil jenis studio ke arah Sae Fastfood. Tidak jauh, sih! Hanya sekitar 7 kilometer. Yah, bagi Erlangga yang biasa bersepeda, itu belum seberapa.  Dulu sewaktu dia kuliah di Tiongkok, dia bahkan harus mengayuh sepedanya hingga belasan kilometer jika hendak ke kampus ataupun ke tengah kota.  Apakah kalian membayangkan sepeda mahal seperti brompton? Jauhkan saja itu dari benak kalian, karena yang dipakai Erlangga, sesuai dengan yang diberikan sang ayah adalah sepeda poligon biasa yang tidak terlihat mahal, hanya sepeda umum di jalanan, berstang lurus dan kadang disebut mountain bike, tapi Erlangga sendiri belum pernah menjelajah sampai ke gunung untuk membuktikan apakah sepeda itu benar-benar mampu diajak ke medan demikian.  Dia terlalu sibuk dengan kehidupan dia yang sering digonjang-ganjingkan oleh sang ayah dengan sekian banyak kejutan. Jujur saja, sepeda yang dia gunakan untuk pergi ke Sae Fastfood sudah termasuk bagus, tidak seperti yang dulu disediakan sang ayah saat dia berkuliah di Tiongkok. Di sana, dia diberi sepeda perempuan, membuat dia seakan kehilangan setengah maskulinitas ketika duduk di sadelnya. Tak hanya sepeda yang harus dia terima. Hunian tempat tinggal juga ayahnya yang memilihkan sebagai bagian dari misi penyamaran ini. Apartmen jenis studio yang kecil dan sangat biasa. Bahkan apartemen yang sekarang dia tempati ini tergolong super sederhana. Tadinya Tuan Besar Hardana hendak lebih kejam dengan menaruh sang putra ke sebuah rumah susun, namun sang istri menolak tegas.  "Kenapa, Ma?" tanya Tuan Besar Hardana pada sang istri, Nyonya Giyani ketika usulnya ditolak mentah-mentah. "Kan penuh tantangan, begitu, kalau di rumah susun. Ada kesan greget-gregetnya."  Rasanya Nyonya Giyani ingin menepuk keras-keras perut sang suami yang mulai tambun. Beliau mendelik galak sambil menyahut, "Kau ingin anak kita tiba-tiba sudah jadi korban pemerasan preman di sana?! Pokoknya tidak! Erlang tak boleh di rumah susun, titik!" Maka dari itu, rencana pun diubah oleh Tuan Besar Hardana menjadi ke apartemen studio yang begitu minimalis, tanpa perabot sama sekali.  Tapi, Erlangga masih bersyukur karena dia masih dibelikan kasur lantai dan lemari baju. Ini sungguh merupakan kemajuan bagi sang ayah yang dulunya saat dia kuliah, sama sekali tidak memberi apa-apa, sehingga dia bertanya-tanya apakah dia ini anak tiri atau sedang dalam masa pembuangan, sih? Namun, ketika dia mempertanyakan itu pada orang tuanya, mereka secara lugas menyebutkan mengenai misi kemandirian yang sedang dicanangkan atas dirinya. Jadi, kedua orang tuanya, terutama ayahnya, ingin dia menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh dalam segala situasi.  "Bukannya kami tidak menyayangi kamu, Er, tapi Papa dan Mama ingin kau menjadi pria yang kuat menghadapi medan apapun. Ini akan sangat kau rasakan hasilnya nanti, percayalah pada Papa." Demikian ucapan ayahnya kala itu.  "Kami, orang tuamu, mungkin saja bisa memberikan segala di dunia ini padamu, Lang, tapi tentu kau tau bahwa kami ini bukan makhluk immortal. Kami hanya ingin kau selalu tangguh menjalani hidupmu, ada atau tidak ada kami berdua di dunia ini." Sang ibu menambahkan.  Baiklah, misi mereka memang sangat bagus dan sungguh mengharukan. Tapi ... rencana menaruh dia di rumah susun tipe bawah, bukankah itu keterlaluan? Bukannya Erlangga mengecilkan tentang rumah susun, namun tidak dipungkiri bahwa kehidupan di rumah susun itu amat sangat keras dan berbahaya, kan?  Apalagi jika menilik dari karakter ayahnya yang kerap memberikan 'cobaan dan tantangan' secara berlebihan, pasti dia akan ditaruh di sebuah rumah susun paling tidak layak hanya dengan alasan untuk menguji ketangguhan sang putra.  Yah, begitulah keunikan sang ayah, Tuan Besar Hardana.  Erlangga tak bisa bayangkan bagaimana nanti nasib adiknya yang kini masih duduk di bangku SMA ketika mulai berkuliah nantinya, karena si adik konon akan diserahi tambang batubara untuk dikelola usai selesai kuliah. Bisa-bisa si adik akan disuruh tidur berkemah di alam terbuka agar nantinya siap menjalani kehidupan di tambang yang keras. Yah, masing-masing orang tua tentunya memiliki program dan caranya sendiri untuk mendidik anaknya, kan? Ada yang sangat memanjakan dengan memberi segala fasilitas, ada juga yang tidak diperhatikan dengan alasan sibuk bekerja dan anak dibolehkan berbuat apa saja. Ada pula yang jenis seperti ayah Erlangga yang sibuk mencobai anaknya.  Buat anak kok coba-coba! Nah, tanpa terasa, kini Erlangga telah sampai di depan Sae Fastfood. Ini masih jam setengah 7 lebih. Pagi, yah! Di Sae Fastfood ada 3 shift jam kerja. Namun, itu hanya terjadi di kala weekend saja dimana Sae Fastfood akan buka 24 jam di hari Sabtu dan Minggu.  Jika di saat weekday, hanya ada 2 shift saja, yaitu dari jam 7 pagi hingga 3 siang, dan dari 3 siang hingga 11 malam.  Setibanya di Sae Fastfood dan menaruh sepedanya di lahan parkir khusus pegawai, mata Erlangga bagaikan elang yang meneliti sekitarnya. Restoran cepat saji itu tergolong cukup luas. Interior maupun eksteriornya tidak kalah dengan restoran jenis seperti itu lainnya.  Erlangga langsung menemui seorang supervisor di sana yang sengaja datang lebih pagi dari biasanya demi menyambut dia. Namun, jangan bayangkan penyambutan memakai konfeti plus kalung bunga. Tidak, tidak, itu sangat tidak sesuai dengan karakter ayahnya.  Erlangga harus menyembunyikan jati diri asli dia sebagai pemilik Sae Fastfood di hadapan semua orang, termasuk karyawannya. Hanya supervisor di sana yang tau siapa dia sebenarnya, walaupun tetap harus merahasiakan juga mengenai latar belakang Erlangga dan memperlakukan dia sama seperti karyawan lainnya. "Erlangga, yah?" Supervisor itu berlagak baru mengenal Erlangga melalui file penerimaan karyawan baru yang diserahkan oleh manajer kepadanya.  "Ya, Pak." Erlangga juga tidak keberatan bersikap sok tidak kenal pada sang supervisor, Pak Wildan, pria berumur sekitar 40-an akhir. "Sudah tau akan diberikan pekerjaan apa di sini untuk awalnya?" "Sudah, Pak. Kata Pak Manajer, harus kerja sebagai cleaning service dulu." "Di sini sebutannya cleaning boy atau cleaning girl."  "Ya, Pak. Sebagai cleaning boy." Pak Wildan manggut-manggut dan berlagak memeriksa berkas Erlangga di tangannya. Lalu dia menoleh ke manajer di samping dia dan berkata, "Pak Danang, silahkan diproses karyawan baru kita ini." "Baik, Pak Wildan." Si manajer, Pak Danang, mengajak Erlangga keluar dari ruangan Pak Wildan. "Kau bisa ambil seragammu di loker. Ini kuncinya." Pak Danang menyerahkan sebuah kunci pada Erlangga. "Kalau seragammu kekecilan atau kebesaran, kau bisa lapor ke aku." "Baik, Pak." Erlangga menunduk hormat ke Pak Danang, lalu si manajer meninggalkan dia di sana.  "Hei, orang baru, yah!" tanya seorang gadis dengan senyum cerahnya.  "Iya. Kenalkan, saya Erlangga, bisa panggil Erlang saja."  "Aku Dinar. Ayo, aku beritahu ruang loker."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN