BELUM KENAL

1047 Kata
Kami pada saat ini sedang dalam keadaan cemas dan panik, tapi aku dan Peyo tetap becus dalam menjalankan perintahnya Pak Dosen, apapun yang ia inginkan. Pak Dosen telah bertanya tadi tentang kopinya, kami tidak mengetahuinya dan Peyo pun menjawab pertanyaannya. "Wah ga tau saya Pak, kopinya siapa itu," Katanya Peyo yang datar dan kemudian diam. Aku tidak menjawabnya, karena ku tidak memesan kopinya, lalu ku bertanya kepada Peyo dan juga penjualnya. "Permisi Pak..., kopi siapa itu ya Pak,? saya dan Peyo kan, tidak memesannya,?" Tanyaku kepada penjualnya. Aku belum kenal dengan penjual lontong sayurnya, namun ia malah terus saja berkata dan sambil menyodorkan secangkir kopinya, tentu aku menjadi heran dan bingung. "Pey...,! kau mesan kopi ya,? kok dia malah mengantarkan kopi,? gimana sih,?" tanyaku padanya dengan pelan sambil berbisik. "Alah-alah, indak mangapo, cobalah kopi awakko,! rancak bana, tidak apa-apa, kopinya enak loh," Kata penjualnya sambil ketawa-ketawi. PEYO YOPİO Wah malah tambah kacau kalau begini, mengapa penjual lontong kopinya malah mengantarkannya. Aku kan tidak memesan kopinya, begitu juga dengan Yupi. Aku belum kenal dengannya si penjual. Rupanya ia tidak tahu, kalau pagi ini kami sudah di damprat olehnya Pak Dosen. Waduh aku mesti bagaimana ya?. Apa yang harus aku lakukan?. Tentunya tentang kelanjutan perkuliahan kami pada saat ini. Aku sudah tidak memikirkan lagi para mahasiswa yang lainnya. Mereka mau datang atau tidak, dan itu bukanlah urusanku, setidaknya aku telah berusaha sebaik-baiknya, terutamanya dalam mengurusi perangkat kelas. Aku harap Pak Dosennya tidak marah kepadaku, dan aku ingin nilaiku nantinya jugalah bagus, semoga saja, Peyo berkata dalam benaknya. DOSEN GALAK Eh si penjual lontongnya ramah juga. Aku kan tidak menyuruh mahasiswaku memesannya, namun ia malah mengantarkan kopinya. Hmm... aku cukup kenal dengannya penjual ini, namanya adalah Uda Masraya Trendiko, dan ku biasa memanggilnya dengan sebutan Mas atau Ren. "Hey,! Kopi untuk saya itu ya,!?" Tanyaku. "Oh oke-oke Pak, satu untuk Bapak, siap kopinya dan manis," Kata penjualnya. Dia sudah lama bekerja di Kampus Kimer ini. Pada saat sekarang aku masih berkerja di Kota Bolansi, tapi aku sedikit senang, soalnya pada beberapa tahun mendatang ada kabar kalau aku akan di pindahkan, dan di tempatkan di kota Yang-Yang Zhi. Dan itu adalah kota besar, tentunya banyak kemudahan dan kemajuan disana. Hmm... setidaknya akan aku nikmati dulu pengajaran pada saat ini. "Yang sedang-sedang saja ya Mas, tidak terlalu manis dan juga pahit,! paham,!" Kataku pada Masraya penjual kopinya. "Oke Pak, siap dilaksanakan, rancak bana," Kata dia. Beberapa waktu yang lalu aku telah dikabarkan, kalau di kota Yang-Yang Zhi sedang membutuhkan para pengajar Akting Kontemporer, karena itu adalah kota besar. Aku adalah seorang Dosen Drama AKR, sekarang sedang mengajar di cabangnya kampus kimer dan di kota terpencil serta terasing, yakni Provinsi Bolansi. Tentu aku akan menuruti saja apa kemauannya Kampus Kimer Techno. Namun di kota Bolansi pada saat ini, aku sudah cukup merasa nyaman, walau begitu banyak kendala, Dosen galak berkata dalam benaknya. PENJUAL KOPI MASRAYA Huh... pagi ini cukup mantap, aku sudah begitu bersemangat. Tentu karena hari ini tampak cukup cerah dan tidak mendung. Semoga saja tidak hujan dan adem. Aku biasanya mengantarkan kopi kalau ada Pak Dosen yang sedang santai, karena merekalah aku bisa berjualan di kampus kimer ini. "Dapat izin dari para dosen dan akhirnya bisa berjualan di kampus Kimer." Aku yang bekerja sebagai pedagang, tentu sangat mengagumi para Dosen-dosennya, sangat mantap dan begitu di hormati, terutamanya dikalangan masyarakat pada umumnya. Walaupun aku hanyalah seorang pedagang, tapi aku sudah senang dapat berjualan di kampus Kimer, Masraya berkata dalam benaknya. YUPI YUPİTER Peyo telah mengatakan bahwa ia tidak memesan kopinya, tapi mengapa penjual lontong sayur itu malah memberikannya kepada kami bertiga, yakni Aku, Peyo dan juga Pak Dosennya, sedangkan Shesi tidak. "Mungkin karena ia adalah wanita ya,? entahlah aku tak tahu." Penjualnya tidak mengetahui bahwa kami berdua telah di marahi olehnya Pak Dosen, namun penjual itu malah biasa saja, bahkan ia tertawa sambil memegang secangkir kopinya. Hmm... sepertinya Pak Dosen telah saling mengenal dengan si penjualnya. Aku sempat berpikir tadinya untuk memesan kopi buat Pak Dosen, tapi karena gengsi dan tampaknya ia seperti orang yang berkelas, jadinya tidak ku pesankan. "Gengsi dong, Pak Dosennya borju gimana gitu ya." Penjualnya tetap saja menawarkan kopinya, lontongnya, mungkin sebagai salam dan penghargaan kepadanya Pak Dosen. "Sepertinya begitu." Penjualnya juga belum aku kenal, dan nanti akan ku coba tanyakan. Aku dan Peyo berbisik pelan kepadanya penjual lontong, dan menjelaskannya dengan pelan. "Hey Uda kopi,! itu ada Pak Dosen galak loh, jangan ribut dan berisik ya,! nanti dia marah lagi,! kopinya itu siapa yang bayar,?" Tanyaku dengan pelan ke telinganya penjual lontong sayur. "Iya Uda kopi,! pelan-pelan dikit lah,! siapa sih yang mesan kopi itu,!?" Tanyanya Peyo dengan suara yang pelan juga, agar tak terdengar oleh Pak Dosen tentunya. Kami bertiga berbisik-bisik, lalu Pak Dosennya menatap dan tampak seperti mengancam. Tatapan dan sorot matanya begitu tajam dan cukup lama, memelototi kemudian ia berteriak dan memanggil. Tentu kami bertiga menjadi diam seketika saja, dan Pak Dosennya mengatakan, "Ngapain kalian berbisik-bisik begitu,! hey,!?" Katanya dia dengan suara cukup kencang. Kami diam mendengarkan dan memperhatikannya, beberapa detik dan tidak menanggapinya, lalu ia berkata lagi "Hey...,! kamu dengar ga,!? mengapa kamu berbisik-bisik,? hayo jawab,!?" Tanyanya Pak Dosen yang tertuju kepadaku dan juga penjualnya. Penjual lontong sayurnya malah terdiam ketika mendengar suaranya Pak Dosen, cukup keras dan kencang bahkan membuat penjualnya menyengir. "Waduh-waduh, wah marah ya Pak Dosennya, manga koh,? kenapa ya Pak,?" Katanya Masraya penjual lontong sayurnya dan keheranan tiba-tiba. Aku dan Peyo menjadi diam, ternyata penjual lontong sayur juga dibentak olehnya Pak Dosen, lalu penjualnya berkata. Perkataannya penjual lontong cukup sopan dan bahkan tampak ramah, namun tatapan matanya terlihat heran dan bingung, bahkan seperti orang yang sedang ketakutan. "Alah-alah, manga Pak,? indak kah Kopinya Pak,? enak kopinya, cobalah Pak kopinya,?" Katanya Masraya si Penjual lontong sayur. Kemudian Peyo mendekat ke telinganya penjual lontong dan berbisik, aku pun juga ikut mendengarkan. Karena belum kenal, kami pun memanggil dengan panggilan Pak Lontong Sayur, atau Uda Kopi. "Hey...,! Pak Lontong sayur,! tawarkan yang sopan lah dan pelan-pelan ya,! soalnya Pak Dosen ini galak, tapi kalau dia ga mau kopinya, buat saya saja ya..,!" Katanya Peyo kepada penjual lontong sayur. Penjual lontong sayurnya malah ketawa tiba-tiba, sontak Pak Dosennya langsung memelototi kami lagi, dan penjualnya berkata. "Ah... kalian siapa,? mahasiswa apa bukan,? kalau kau mau kopi, bayar ya..,!" Katanya penjual lontong sayur dan tertawa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN