Waduh... aku jadi bertambah pusing kalau begini. Eh penjual lontong sayurnya malah tidak mengenali, kalau kami ini adalah mahasiswa humoristis.
"Wah gimana sih Pak penjual lontong sayur?."
Hahaha... terdengar lucu perkataan penjual lontong sayur tadinya kepada Peyo. Tampaknya sedikit pilih kasih penjualnya. Malah minta bayaran dianya kepada mahasiswa seperti kami ini.
Wah aneh juga penjual lontongnya, dibentak olehnya Pak Dosen namun ia malah menawarkan kopi padanya. Sedangkan kalau kepada kami yang mahasiswa humoristis ini, ia malah begitu.
"Gimana sih Pak Lontong."
Aku pikir hal itu mungkin untuk mendinginkan suasana, karena dari tadi kami telah terlambat jam masuknya. Masuk ke ruangan kelas pun sepertinya sudah tidak berselera lagi.
Menurutku terlambat itu adalah hal yang wajar, tapi sepertinya Pak Dosen galak tidak menerimanya.
DOSEN GALAK
Wah mereka mahasiswaku ini gimana ya,? sudah datang terlambat mau minta kopi lagi. Ada-ada saja mereka, awas nanti saya damprat lagi ya!.
Tapi tidak apa-apa juga, kalau tidak ada yang datang pada pagi ini, jadinya aku bisa sedikit santai, dan tentunya ku bisa leluasa.
Aku malah senang kalau mereka tidak datang berkuliah, jadinya ku punya banyak waktu untuk bersantai, atau mempersiapkan pengajaran selanjutnya.
Hmm... mereka ini hanya nilai saja yang dipikirkannya, sedangkan kalau belajar pada malas-malasan, ya terserahlah, Dosen galak berkata dalam benaknya.
YUPI YUPİTER
Mungkin karena kami datangnya terlambat, jadinya Pak Dosen marah dan geram. Situasi dan kondisi area sekitaran pun seperti tak tentu menentu. Kemudian aku berbisik pelan kepada penjual lontongnya.
"Hey Pak lontong sayur...,! gimana kalau kopinya diberikan saja langsung kepada Pak dosennya, segera gitu, !" Seruanku padanya.
"Oke-oke tenang,! santai ya,!" Kata dia namun tampak sedikit tidak fokus.
Aku dan Peyo tidak begitu haus, jadinya ku sarankan ke penjual lontongnya untuk segera memberikan kopinya. Hal itu supaya Pak Dosennya menjadi dingin dan tidak marah lagi.
"Hey Uda kopi,! kasih saja kopi itu pada Pak Dosen galak, biar dia tidak muram lagi, gitu dong,!" Seruannya Peyo dan berbisik juga kepadanya.
"Ya tanang-tanang, awak kasih sama Pak Dosen, oke tenang,!" Kata penjualnya dan seperti ingin meyakinkan.
Aku menganjurkannya untuk memberikan kopi itu secepatnya, lalu penjualnya pun mengikuti anjuranku, sehingga Pak Dosennya menjadi sedikit menurun kemarahannya.
Tadinya ia begitu marah besar, sehingga mahasiswa dan mahasiswi ruangan di sekitaran, bahkan sampai melihat ke arah kami.
Aku pikir telat kami tadinya tidak akan menimbulkan masalah, namun sepertinya malah membuyarkan suasana.
DOSEN GALAK
Hmm... mereka pikir aku tidak mendengar apa yang mereka katakan. Rupanya mereka berbisik-bisik pelan.
Berbisik-bisik tentang apa ya?.
Mereka pikir aku main-main atau bercanda, wah mesti aku damprat mereka kalau begini, tapi mahasiswa yang datang pada pagi ini, akan aku beri nilai yang plus nantinya.
Akan aku catat mereka satu persatu ya, dan akan ku hafalkan yang tidak datang pada pagi ini, awas mereka ya!.
Aku tidak masalah mereka mau masuk pada jam pelajaranku, atau juga tidak, karena satu semester pun jugalah singkat waktunya.
Hmm... kejadian yang seperti ini baru saja aku alami. Tentu para mahasiswa itu akan merasakan dampaknya nanti, akan saya marahi kalau ketemu dengan saya.
Kenapa mereka itu pada takut denganku,? saya ini kan pengajar dan pembina, kok mahasiswanya malah begitu, aneh, Dosen galak berkata dalam benaknya.
PENJUAL LONTONG MASRAYA
Hah... saya punya banyak cemilan di kantin warung, nanti saya mau tawarkan juga, kalau-kalau saja Pak Dosennya mau.
Soalnya agar aku bisa dapat izin, biar bisa berjualan lama di kampus Kimer ini. Dahulunya aku berjualan di luaran kampus, dan itu sangatlah sepi.
Pada beberapa tahun yang lalu aku baru pindah kesini jualannya, tentu saja ramai dan tempatnya juga bagus.
"Wah terima kasih ya Pak Dosen."
Hal itu telah merubah pergerakan kemajuan ekonomi finansialku, tentu aku ingin melayani Pak Dosen dengan sebaik-sebaiknya, yakni sebagai rasa ucapan terima kasihku, Masraya berkata dalam benaknya.
YUPI YUPİTER
Ya... aku sudah paham akan apa yang Pak Dosennya inginkan. Namun aku herannya ialah, mengapa ia sering berteriak dan marah-marah tak jelas.
Ada apa ya?. Apakah Pak Dosennya itu hanya berakting, atau benar-benar serius marahnya?.
Tentu aku tidak mengetahuinya. Beberapa saat kemudian ada seorang mahasiswi yang berjalan pelan mendekat dan menuju ke arahku. Dia berjalan pelan lalu berhenti sejenak di depan kami dan bertanya.
"Permisi ya kak,! ada apa ya,? kok pada ribut dan teriak-teriak disini,? apa tidak kuliah ya,?" Tanyanya mahasiswi itu kepadaku dengan nada pelan.
Mahasiswi itu tidak melihat kalau sedang ada Pak Dosennya. Setelah ia bertanya dan melihatnya, kemudian ia pun langsung berjalan cepat dan tidak jadi bertanya, bahkan ia tampak seperti mempercepat langkahnya.
"Mahasiswi itu seperti tergesa-gesa dan tampak ketakutan."
"Wah... ada Pak Dosen ya Kak!. Hmm.. sudah dulu deh ya,!" Mahasiswi itu berkata padaku, lalu ia berjalan dan tampak seperti berlari ke arah Aula.
Aku dan Peyo menjadi tertawa melihatnya, mungkin saja ia tahu bahwa Pak Dosen ini sangatlah galak, mungkin karena hal itu dia tidak jadi bertanya.
Aku tidak tahu kalau Pak Dosennya ini memang galak beneran, ataukah hanya bercanda, karena kami pun belum kenal. Dia mengajar pada mata kuliah Drama AKR, tentunya ia bisa berakting.
Tapi ketika aku melihat dari raut dan sikapnya, sepertinya ia serius dan tidak bercanda, tampaknya begitu.
"Drama AKR, Mata kuliah Drama Kontemporer Akting Komedi Romantis."
Aku mengatakan kepada penjual lontong sayur untuk memberikan kopinya secepatnya. Setelahnya Pak Dosen tampak riang dan senang, semoga saja kedepannya menjadi lebih baik.
Aku dan Peyo memang belum kenal dengannya, karena kami masih berstatus sebagai mahasiswa humoristis baru, tapi Pak Dosen sepertinya tenang-tenang saja dalam membentak kami.
"Dosen Humoristis, berkata apa saja boleh, tentunya lelucon dan candaan."
Peyo sepertinya tampak sedikit gundah gulana, mungkin inilah yang dikatakan pahitnya berkuliah, lalu juga suka dukanya dalam segala hal kegiatan kampus.
"Iko hah Pak Dosen kopinya,! mantap Pak,! ini cobalah kopinya,!" Katanya penjual lontong sayur pada Pak Dosennya.
"Wah... oke terimakasih kalau begitu, saya coba dulu ya, awas kalau ga manis kopinya,!" Katanya Pak Dosen dan berkata malah seperti mengancam.
Kopi tadinya langsung di berikan oleh penjualnya, lalu Pak Dosennya menjadi sedikit melunak dan senang.
Suasana ruangan dan sekitarnya menjadi adem dan tenang juga, rupanya penjual lontong ini mampu mencairkan suasana.
Peyo adalah ketua kelas pada semester ini, gayanya cukup trendi yakni seperti pria masa kini, dan diriku bergaya retro.
Sedangkan Pak Dosennya bergaya borju seperti pria masa dulu, walaupun begitu aku dan Peyo sangat menghormatinya, terutamanya karena ia telah datang dan mau mengajar.
Begitulah gayanya para mahasiswa Humoristis, terutamanya ketika berada di kampus Kimer. Penuh dengan candaan dan juga hiburan, namun tetap bisa rajin dan taat pada aturan.