Aku dan Peyo sekarang merasa cukup lega, penjual lontongnya pun juga begitu. Rupanya setelah meminum kopinya, lalu Pak Dosennya menjadi adem dan tenang.
Keadaan seperti inilah yang aku inginkan, tentunya tidak tegang dan gelisah. Akan tetapi beberapa saat setelahnya, Pak Dosennya malah ingin kembali ke kantor, sepertinya ia tidak jadi mengajar. Dia mengoceh-ngoceh lagi namun tidak begitu keras suaranya.
"Kemarahannya sedikit menurun."
DOSEN GALAK
Ya ya ya, cukup mantap juga kopinya dan manis. Baiklah kalau begitu, saya tidak akan marah kepada yang telah datang pada hari ini.
Tentu akan saya beri nilai yang lebih, padahal pada hari aku ingin memberikan materi pelajaran AKR KHB, yakni Akting Komedi Romantis dan Humoristis Banyolan.
Pembelajaran AKR itu tiga SKS ya. Wah kalau begini, Minggu depan saja akan saya ajarkan ulang. Oh...Mereka pikir saya berakting ya?.
Saya serius ini loh!. Tapi saya memang bisa berakting. Hmm... aku ingin tahu juga reaksinya para mahasiswaku itu,? apakah mereka bisa menebak kalau saya sedang serius,? ataukah kalau saya sedang berakting?.
Aku rasa mereka tidak bisa menebaknya. Aku pikir diriku tidaklah galak, mungkin karena suaraku saja yang keras dan kencang, maka dari itu mereka pikir aku ini adalah Dosen galak, ada-ada saja mereka, Pak Dosennya berkata dalam benaknya.
PEYO YOPİO
Hemm... Pak Dosen berkata jika ia tidak jadi mengajar. Wah bagaimana ini ya?. Aku akan mencoba meyakinkannya untuk tetap mengajar saja, walaupun hanya kami bertiga.
Aku belum kenal dengannya, apakah ia tahu kalau diriku ini adalah ketua kelasnya?. Tapi aku tidak begitu bersemangat pada pagi ini, soalnya Yoseli tidak datang.
"Mahasiswi teman kelasku yang kusukai."
Semoga saja pada pertemuan di Minggu depannya, tidak seperti ini lagi, Peyo berkata dalam benaknya.
Kemudian Pak Dosennya berkata
"Hey.....,! Mana ketua kelasnya,! cepat sini,! saya tidak jadi mengajar ya kalau begini. Minggu depannya pun kalau tidak ada mahasiswanya, saya tidak akan mengajar juga, paham kalian,!" Pak Dosennya berkata dan cukup mengerikan.
"Suaranya kencang banget loh, aneh gue."
Peyo menjawabnya
"Anu Pak, Saya Peyo ketua kelasnya. Wah bagaimana ya Pak perkuliahannya,?" Katanya Peyo yang sedang bingung, yakni bagaimana meladeninya Pak Dosen.
Peyo tampaknya sedikit tertekan, karena ia adalah ketua kelasnya. Tentu semua beban perkuliahan mengacu kepada dirinya.
Pak Dosennya mengatakan, kalau ia ingin kembali ke kantor saja, kemudian aku langsung menyuruhnya untuk menikmati kopinya sejenak, karena mungkin saja beberapa menit lagi, mahasiswa yang lainnya datang.
Tapi tampaknya, anjuranku tadinya tidak di tanggapi lagi olehnya Pak Dosen. Kami sekarang ini seperti tertekan dan ditekan olehnya.
Soalnya Pak Dosennya tidak mau tahu. Aku menganjurkannya untuk duduk santai sambil menikmati kopinya, namun ia malah mengomel.
PENJUAL LONTONG MASRAYA
Waduh..., aku mau kembali ke kantin nih. Aku pikir sudah cukup pada pagi ini melayaninya Pak Dosen. Semoga daganganku hari ini laris manis.
Aku tidak begitu dekat kepadanya Pak Dosen ini, ya hanya kenal-kenal saja. Katanya mereka para mahasiswa itu, Pak Dosen ini begitu galak.
Hmm... begitu rupanya.
Aku juga tidak begitu tahu namanya, karena pada biasanya aku hanya melayani saja. kalau aku dengar-dengar, katanya mereka-mereka nama Pak Dosen ini adalah Pak Gala, Gula atau Guli, mungkin begitu ya, aku dengar-dengar sih begitu.
Kalau aku dekatnya sama Pak Dosen Turi Tra Lali, tapi dia jarang datang ke kampus, mungkin karena sibuk.
Aku dengar-dengar Pak Turi sering mengajar di semester atas, dan kelasnya pun juga seringnya di lantai 3 atau 5. Wah pantas saja aku jarang bertemu dengannya pada sekarang ini.
Walaupun begitu aku sudah senang dan bangga, tentu karena aku bisa berjualan di kampus Kimer. Bahkan aku ingin memperluas lagi tempat daganganku nantinya, dan terima kasih untuk Pak Dosennya, Masraya berkata dalam benaknya.
YUPİ YUPİTER
Penjual lontong sayur tadinya beranjak kembali ke kantin setelahnya. Dia tampak cemas juga tiba-tiba. Mungkin karena melihat dan mendengar kami di bentak olehnya Pak Dosen.
Penjual lontongnya cukup besar, tinggi dan sedikit gendut. Rambutnya belah tengah dan mengenakan kaos oblong trendi terkini.
Ada tulisan juga di baju kaosnya si penjual itu, yakni 'PLS KK' dan bertuliskan Penjual lontong sayur Kampus Kimer.
Namun dilain harinya, aku pernah melihat kaosnya si penjual dengan tulisan yang berbeda, yakni PLS KK, lalu bertuliskan Please KK.
"Baik, saya ke kantin dulu ya Pak Dosen,! rancak bana, terima kasih,!" Kata penjualnya dan mulai beranjak berjalan ke kantin.
"Ya... bolehlah, silakan,! tapi besok-besok antarkan saya kopi lagi ya,! atau teh juga boleh, oke,!?" Kata Pak Dosen kepada penjualnya dan tampak seperti menyuruh.
Baru saja Pak Dosennya mengatakan itu, dan tiba-tiba Peyo menyahut pada perkataannya, dan ia menyuruh juga si penjualnya mengantarkannya pada Peyo.
"Hey Pak Lontong,! besok aku juga anterin kopinya ya,!? oke,!" Katanya Peyo.
Tentu tiba-tiba saja penjualnya kaget dan heran, kemudian dia berkata dengan cukup keras kepada Peyo, dan keningnya tampak mengkerut.
"Ah kau siapa memangnya,? minta di antarkan kopi pula, ga ada lah, mana ada aturan yang seperti itu," Kata penjual lontongnya.
"Ga ada Pak lontong, saya bercanda saja kok, oke,!" Katanya Peyo dan kemudian langsung diam.
Aku kira tadi si penjualnya mau juga mengantarkan kopi kepada kaminya, namun ia malah kaget dan tampak sedikit cemberut.
Aku merasa aneh saja kepada Pak Dosennya, soalnya ku anjurkan untuk menikmati kopinya, namun ia malah membentak.
Aku dan Peyo begitu menghormatinya, bahkan apapun akan dilakukan demi dirinya Pak Dosen, tentunya bila berada di kampus ini saja.
Sepertinya saat sekarang ini, telat kami tadinya telah hampir satu jam lamanya. Aku berpasrah saja atas apa yang akan terjadi nanti selanjutnya.
Aku rasa perkuliahan kami pada pagi ini tidak bisa dinikmati lagi, karena telah bercampur dengan bentakan, omelan, kemarahan dan tentunya suasana pun juga berubah.
Kemudian Pak Dosennya berkata
"Ah... sudah-sudah,! tidak ada yang datang,! saya mau kembali ke kantor. Minggu depan saja kita kuliahnya,!" Katanya Pak Dosen dan tampak cemberut.
Shesi langsung berkata
"Loh Pak, kita tidak jadi kuliah ya,? terus bagaimana ya Pak,? nilai kami nantinya gimana Pak,?" Kata Shesi dan ia mulai berdiri. Dia tampak begitu cemas sambil melihatku dan Peyo.
Aku berkata kepadanya Peyo dan berbisik pelan. Hal itu agar tidak di dengarkan olehnya Pak Dosen.
"Ah kau Pey..., ga jadi kuliah kita nih, kalau begini gimana hayo,!?" Tanyaku padanya.
Kemudian Peyo menjawab dan berbisik pelan juga.
"Ah... mana aku tahu Yupi, semuanya pada ngeseli kok, apalagi Yoseli juga tidak datang nih," Katanya Peyo kepadaku.
"Loh kok begitu, yang ngeseli itu siapa sih Pey,? Pak Dosennya apa siapa sih,?" Tanyaku padanya pelan dan heran.
Kemudian Shesi berkata
"Ah... kesel kalau begini, tidak jadi kuliah kita Kak, gimana nih,?" Katanya Shesi.