"Walau saya udah dipecat, tapi saya masih bisa cari pekerjaan yang lain. Saya nggak mau terima uang anda," tekan Naura, menatap tajam pada Aril yang kini sedang menyetir mobil. Wanita itu lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
Aril tidak memedulikan perkataan wanita itu. Terserah Naura mau bicara apa.
Setelah mobil berhenti di depan rumah, Naura bergegas turun. Ia menutup pintu mobil Aril kasar, bodah amat jika pria itu marah.
Aril menghela kasar sambil geleng-geleng kepala menetap kepergian Naura. "Benar-benar keras kepala," guman pria itu.
***
Untuk makam malamnya Naura memasak sambal goreng hati dan sup sayur. Ya, hanya untuk dirinya, Aril mana mau memakan masakannya. Pria itu bahkan tadi sudah memesan makanan di luar.
Selesai makan, Naura langsung mencuci piringnya. Wanita itu lalu memutuskan untuk ke kamar. Namun, langkahnya sempat terhenti karena Aril berdiri di hadapannya.
"Masih nggak mau terima uang ini?" tanya Aril sambil menyodorkan sejumlah uang pada Naura.
"Sampa kapan Tuan selalu menanyakan pertanyaan yang sama ke saya? Saya nggak mau. Waktu itu anda bilang saya matre, sekarang anda maksa-maksa saya untuk terima uang ini. Mungkin setelah terima uang ini anda bakal hina-hina saya lagi."
Naura berlalu melewati Aril, menuju ke kamarnya.
***
Keesokan paginya, setelah Aril berangkat ke kantor, Naura pun juga keluar dari rumah dengan pakaian rapi. Wanita itu menarik napas pelan, menghembuskannya, lalu tersenyum. "Semangat Naura!" ucapnya penuh semangat.
Naura sudah menyusuri benyak tempat di kota, seperti mall, restoran, dan masih banyak lagi, tetapi tidak ada yang membuka lowongan.
Hingga matahari sudah mulai terasa terik, Naura masih belum mendapatkan pekerjaan. Wanita itu berhenti di halte dan duduk di sana. Raut wajahnya terlihat sangat lelah.
Sebuah mobil hitam berhenti di dekat halte, penumpangnya lalu turun.
"Mama!" Naura seketika berdiri.
"Kamu ngapain di sini? Kenapa kamu terlihat lelah? Habis dari mana? Dan apa itu?" Bu Sandra melontarkan banyak pertanyaan, matanya menatap map coklat yang ada di tangan Naura.
Naura terlihat kebingungan. Bu Sandra merebut map di tangan Naura lalu membukanya. Naura tidak bisa berbuat apa-apa, ia pasrah jika Bu Sandra melihat isi di dalam map tersebut.
"Ini apa, Naura? Kamu mau cari kerja? Memangnya Aril nggak kasih kamu uang?" Bu Sandra menatap menantunya lekat, dadanya naik turun. Jika benar apa yang ia pikirkan itu benar, maka putranya benar-benar kelewatan.
"Anu, Mas Aril kasih Naura uang bulanan, kok." Naura berdecak pelan, ia bingung mencari alasan. Tidak mungkin ia mengatakan pada mertuanya kalau ia mencari kerja karena Aril selalu mengatainya matre.
"Ikut mama!" Bu Sandra menarik tangan Naura memasuki mobilnya. Wanita paruh baya itu lalu memberi perintah pada supirnya untuk pulang ke rumahnya.
***
Naura duduk diam di sofa sambil menunduk, juga memikirkan alasan untuk menjawab pertanyaan mama mertuanya nanti. Sedangkan Bu Sandra kini mondar-mandir, menunggu Aril datang. Wanita itu tadi menelepon putranya untuk datang ke rumahnya.
Tidak lama kemudian pria yang ditunggu-tunggu pun datang, wajahnya terlihat sangat cemas. "Mama nggak papa, 'kan? Kenapa telepon Aril?"
Demi sang mama, Aril rela meninggalkan pekerjaannya. Ia cemas kalau mamanya itu kenapa-napa.
"Ini semua menyangkut istri kamu. Tadi Mama lihat dia duduk di halte."
Aril menoleh pada Naura yang duduk di sofa, lalu menatap mamanya kembali.
"Apa selama ini kamu nggak nafkahin istri kamu sehingga dia harus cari pekerjaan? Di mana tanggung jawab kamu sebagai suami, Aril? Mama rasanya kecewa sama kamu." Air mata Bu Sandra luruh, tiba-tiba saja ia memegang dadanya. Membuat Aril panik lalu menuntun mamanya itu duduk di sofa.
"Cepat ambil obat mama!" perintah Aril, Naura berdiri lalu bergegas ke kamar Bu Sandra.
"Bik Nur! Tolong ambilin minum, Bik!" teriak Aril. Suaranya sampai ke belakang, membuat Bik Nur yang sedang mencuci piring, langsung mengambil minum dan membawanya ke depan. Tidak lama kemudian Naura pun juga kembali dari kamar.
Aril menyuapkan obat tersebut ke mulut mamanya lalu menyuruhnya minum. "Mendingan mama istirahat dulu di kamar. Nanti kita bicara lagi, setelah keadaan mama membaik."
Aril menggendong mamanya menuju kamar. Sedangkan Naura mengikutinya, wanita itu menangis. Ia mengaku bersalah, gara-gara dirinya Bu Sandra hampir celaka. Andai saja mertuanya itu tidak bertemu dengannya di halte, mungkin wanita paruh baya itu tidak akan marah-marah pada Aril sehingga tidak akan menyebabkan penyakitnya kambuh.
Setelah mamanya itu menutup mata, Aril lalu menarik Naura keluar dari kamar, menuju ke teras samping.
"Lihat! Ini yang saya takutkan, gara-gara kamu mama hampir saja celaka! Saya udah peringatkan agar kamu nggak usah kerja, tetapi kamu begitu keras kepala!" tegas Aril, sedikit mengecilkan volume suaranya.
"Maafin saya, Tuan," ucap Naura seraya terisak. Hanya kalimat permintaan maaf yang mampu keluar dari bibirnya. Ia tidak dapat membayangkan jika terjadi sesuatu pada Bu Sandra dan itu karena dirinya. Naura merasa menghancurkan hidup wanita yang telah menyayanginya seperti ibu kandungnya sendiri.
"Untung saja Mama saya nggak kehilangan nyawanya gara-gara kamu. Jika sampai itu terjadi, sampai mati pun saya tidak akan pernah memaafkan kamu," tekan Aril lalu memasuki rumah. Meninggalkan Naura yang makin terisak. Wanita itu lalu duduk di pinggir teras, memeluk lutut, lalu membenamkan kepalanya di sana.
***
Sore hari, Aril berada di kamar mamanya. Wanita paruh baya itu sudah bangun sejak tadi. Ibu dan anak itu duduk di pinggir ranjang. Aril berusaha menjelaskan ke mamanya kalau ia tidak menyuruh Naura bekerja, tetapi wanita itu tetap tidak percaya.
"Aril nggak nyuruh Naura kerja, Mah. Justru Aril melarang dia," ucap Aril, berusaha meyakinkan mamanya itu.
"Mama." Naura berdiri di ambang pintu, wajahnya dibanjiri air mata. Ia sedikit berlari mendekati Bu Sandra lalu bersimpuh di kakinya. "Maafin, Naura. Naura hampir aja bikin Mama celaka. Naura yang keras kepala ingin kerja, padahal Mas Aril udah ngelarang. Ini semua salah Naura. Mama jangan marah lagi sama Mas Aril. Naura takut penyakit mama kambuh lagi," isak Naura dengan punggung bergetar hebat karena menangis.
Bu Sandra memegang pundak Naura, menyuruhnya berdiri, lalu memeluk menantunya itu. "Sudah, jangan menangis lagi. Mama udah nggak marah."
Kedua wanita itu melepas pelukan. "Gara-gara Naura penyakit Mama jadi kambuh. Maafin Naura. Naura cuma bisa bikin susah Mama," ucap Naura, menyalahkan dirinya.
"Berhenti minta maaf. Semuanya bukan salah kamu, memang takdir mama menderita penyakit ini. Ini ujian buat mama," balas Bu Sandra.
"Oh iya, malam ini Mama minta kalian nginap di sini, ya. Bisa, 'kan?" tanya Bu Sandra. Naura menoleh pada Aril, pria itu terdiam sambil menunduk, seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Iya, Mah. Kita akan nginap di sini," jawab Aril kemudian, membuat senyuman terukir di wajah Bu Sandra.
***
Gelap membungkus bumi, purnama dan bintang tak terlihat. Hanya langit mendung yang menemani kesunyian Naura saat ini. Wanita itu duduk di balkon kamar, ia baru saja kembali dari kamar Bu Sandra.
Ceklek!
Naura memutar kepala ke belakang saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Melihat Aril bertelanjang d**a, wanita itu dengan cepat kembali menatap ke depan.
Aril hanya menoleh sebentar pada Naura, ia lalu mengambil pakaiannya di lemari dan kembali lagi ke kamar mandi. Saat pindah, Aril dan Naura memang tidak membawa semua pakaian mereka, ada yang ditinggalkan beberapa. Tidak lama kemudian pria berkulit putih itu keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap.
Naura berdiri dari duduknya lalu mendekati Aril. "Mama tadi nyuruh Tuan ke kamarnya."
Aril berdeham singkat, matanya mengamati kelopak mata dan wajah Naura yang sembab. Bahkan, kejora wanita itu masih berkaca-kaca.
Pria itu berhenti menatap Naura, lalu berjalan keluar kamar, menuju ke kamar mamanya.
"Ada apa, Mah? Mama butuh sesuatu?" tanya Aril perhatian. Di balik sikap sombong dan arogannya, pria itu sangat menyayangi mamanya melebihi apa pun. Bagi Aril, mamanya adalah harta paling berharga. Kadang setiap malam, di saat sendiri Aril menangis, mengingat penyakit mama yang mustahil bisa disembuhkan, membuat Aril sangat takut kehilangan mamanya, ia belum siap Tuhan menjemput wanita yang sudah banyak berjuang membesarkannya. Hanya mama, satu-satunya keluarga yang Aril punya.
"Duduk. Mama pengen cerita sama kamu."
Aril duduk di samping wanita itu dan menggenggam tangan kanan mamanya.
"Mama kapan dikasih cucu?"
Jleb! Pertanyaan itu membuat mata Aril sedikit melotot, ia hampir tersedak.
"Mama nggak tahu kapan Tuhan akan menjemput mama. Sebelum mama meninggal, mama pengen lihat kamu bahagia dulu dan hidup bahagia bersama Naura, agar Mama bisa pergi dengan tenang."
"Jangan ngomong kayak gitu. Aril belum siap kehilangan mama. Maaf, kalau Aril belum bisa ngabulin permintaan Mama." Aril menunduk, dirinya masih sulit menerima pernikahannya dengan Naura.
"Apa kamu masih memikirkan Valerina? Lalu kapan kamu akan mencintai Naura? Naura perempuan baik, Mama yakin dia bisa bikin kamu bahagia. Jika Mama udah nggak ada, Naura yang akan menamani kamu. Putuskan Valerina dan belajarlah mencintai Naura."
"Nggak mudah, Mah. Aril kenal Valerina sejak kecil, kita udah pacaran sejak SMA. Begitu besar sayang Aril ke Valerina, sehingga sulit bagi Aril untuk memutuskannya." Bahkan, sampai saat ini Aril masih berhubungan dengan Valerina lewat telepon. Kekasihnya itu masih belum tahu jika ia telah menikah.
"Ini udah larut malam, mendingan Mama istirahat. Aril keluar dulu."
Aril keluar dari kamarnya dan pergi ke teras samping. Pria itu berdiri di pinggir kolam renang, kedua tangannya dimasukan ke dalam saku.
"Bagaimana jika Valerina sudah kembali ke Indonesia? Apa yang harus aku lakukan?" guman Aril. Dirinya dibuat pusing dengan kehidupannya, rasanya ada banyak beban yang ia pikul. Belum lagi penyakit mama yang membuatnya sering dihantui ketakutan jika mamanya itu pergi.
***
Aril memasuki kamar. Matanya tertuju pada sofa, Naura tertidur lelap di sana. "Baguslah, tanpa disuruh dia udah tidur di sana."
Aril hendak merebahkan badan di ranjang, tetapi urung dan kembali menatap Naura yang tidur sambil memeluk badannya.
Aril menuju lemari, mengambil selimut, lalu menyelimuti Naura. Menutupi kaki hingga pundak wanita itu. Entah kenapa jantung Aril kini berdebar kencang? Permintaan mama yang menginginkan cucu terlintas di benaknya.
Mata pria itu terpaku pada bibir Naura, terasa ingin mencicipinya. Belum lagi leher putih Naura, yang tiba-tiba menggoda imannya.
"Tahan, Aril. Jangan hianati Valerina," ucap pria itu yang langsung mengingat kekasihnya. Buru-buru ia keluar kamar, dan memilih tidur di kamar tamu agar tidak sekamar dengan Naura.
~Bersambung~