Bab 07

2234 Kata
Sudah satu jam Naura berada di kamarnya setelah pertengkarannya dengan Aril tadi. Wanita itu kini berdiri di dekat jendela, ia melamun dengan mata yang menatap kosong ke luar. Deringan ponselnya, membuat Naura tersadar dari lamunan. "Mama," lirih wanita itu lalu mengangkat panggilan telepon dari mamanya. "Assalamualaikum, Mah," sapa Naura dengan suara yang terdengar parau, khas orang yang baru saja menangis. "Wa'alaikumsalam. Suara kamu kenapa? Kamu habis nangis?" tanya Bu Sandra di seberang sana dengan nada sedikit panik. Ia dapat merasakan kalau ada yang berbeda dengan suara menantunya. "Em, tadi Naura nonton sinetron sampe kebawa suasana, Mah. Sinetronnya sedih banget, sampe bikin Naura nangis," kilah Naura. "Ohh, Mama pikir Aril nyakitin kamu. Gimana kabar kamu? Aril setiap hari ke rumah, tetapi kenapa kamu nggak ikut. Mama kangen sama kamu." "Mas Aril nggak nyakitin Naura, kok," bohong Naura, dadanya sesak saat mengatakan itu. Wanita itu berusaha menahan tangis aja agar tidak pecah. "Alhamdulillah Naura baik. Besok Naura ke sana, ketemu mama." "Mama tunggu. Kalau gitu mama tutup dulu teleponnya. Kamu baik-baik, jangan lupa jaga kesehatan." "Iya, Mah. Mama juga, jangan terlalu kelelahan," pesan Naura. *** Malam hari Naura keluar dari kamarnya untuk mengambil makanan. Itu adalah masakan tadi pagi yang masih tersisa. Naura sengaja tidak memasak makan malam, karena buang-buang makanan. Ia hanya memakan masakannya sendiri, sedangkan Aril memesan makanan di luar. Hanya untuk mengambil makanan saja, setelah itu Naura kembali lagi ke kamarnya dan makan di sana. Ia tidak mau berlama-lama di luar kamar dan bertemu Aril. "Mendingan besok setelah dari rumah mama aku cari kerjaan. Nggak usah terima uang dari Tuan Aril lagi. Aku nggak mau terus-terusan di hina," guman Naura lalu mulai menyantap makanannya. *** Pukul sembilan pagi Naura sampai di rumah mama mertuanya. Ia menunggu Aril pergi ke kantor dulu, baru dirinya keluar dari kamar dan pergi ke rumah mertuanya. Sejak pertengkaren kemaren siang, Naura sering berada di kamarnya. Ia akan keluar jika rumah sepi atau ketika Aril sedang sibuk di kamar dan ruang kerjanya. "Kamu sendiri? Aril mana?" tanya Bu Sandra. "Jam segini Mas Aril lagi di kantor, Mah. Nggak bisa datang." Bu Sandra manggut-manggut. "Memang jam segini Aril sibuk, biasanya saat jam makan siang atau sepulang dari kantor Aril mampir ke sini." Kini kedua wanita itu duduk di sofa ruang tengah. Bu Sandra menyentuh sebelah pundak Naura. "Gimana hubungan kamu dan Aril? Aril nggak nyakitin kamu, 'kan?" tanya Bu Sandra. "Lumayan baik, kok. Walaupun Mas Aril belum bisa mencintai Naura sepenuhnya, tetapi dia lumayan perhatian ke Naura," bohong wanita cantik itu. Bu Sandra merasa sedikit lega mendengarnya. "Semoga Aril bisa mencintai kamu secepatnya. Kira-kira kapan Mama akan dikasih cucu?" tanya Bu Sandra, sukses membuat Naura sedikit terkejut. 'Cucu? Sedangkan aku dan Tuan Aril aja pisah kamar,' batin Naura. "Doain aja, Mah. Semoga secepatnya." "Aamiin. Mama pengen gendong cucu Mama, sebelum Mama meninggal," ucap Bu Sandra dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak yakin jika dirinya bisa melihat cucunya. Ia tidak tahu sampai kapan ia bisa bertahan. "Mama jangan ngomong kayak gitu." Air mata Naura luruh, ia lalu memeluk Bu Sandra. Sekarang Bu Sandra bagaikan ibu kandungnya, Naura takut kehilangan wanita itu. *** Sepulang dari rumah Bu Sandra, Naura balik dulu ke rumahnya untuk mengambil ijazah dan surat-surat yang akan ia gunakan untuk mencari pekerjaan. Setelah itu ia baru pergi mencari kerja. Dengan ijazah yang ia punya, membuat Naura bingung harus mencari kerja di mana. Naura sudah mendatangi banyak tempat, tetapi tidak ada yang menerimanya. Apalagi ijazahnya yang hanya sampai SMA, membuatnya sedikit sulit mencari pekerjaan. Zaman sekarang yang banyak dicari adalah lulusan sarjana. Naura mengusap keringat dipelipisnya. Tenggorokannya terasa kering, tetapi ia tidak punya uang untuk beli minum. Semua uangnya ia berikan pada Aril. "Restoran itu belum aku datangin. Semoga saja aku bisa diterima kerja di sana agar aku bisa segera pulang," ucap Naura. Tenaganya sudah banyak terkuras karena mencari pekerjaan ke sana-sini. Naura merasa sedikit gembira ketika maneger di restoran tersebut sedang mencari karyawan secepatnya. "Kebetulan saya memang membutuhkan waitress. Jika kamu mau, besok kamu bisa mulai bekerja. Untuk seleksi, saya akan melihat pekerjaan kamu selama seminggu minggu, jika bagus kamu bisa lanjut bekerja di sini." "Saya mau, Pak. Besok saya akan datang," ucap Naura gembira, ia lalu mengucap syukur dalam hati. *** Naura sampai di rumah sore hari, bertepatan dengan Aril yang baru saja pulang dari kantor. Di teras depan, kedua insan itu sama-sama diam. Naura bergegas masuk ke rumah dan langsung menuju ke kamarnya. Wanita itu bahkan tidak menegur Aril sedikit pun. Setelah kejadian kemarin siang, baru sekarang Aril melihat wajah Naura lagi. Sejak kemarin wanita itu tidak keluar kamar. Akan tetapi, sekarang Naura mendiaminya. Bisanya wanita itu cukup cerewet. "Oh iya, aku belum beresin rumah," lirih Naura. Ingin keluar kamar, tetapi ia ragu. Bagaimana nanti jika berpapasan dengan Aril. "Keluar ajalah. Kalau rumah nggak aku beresin, nanti dia marah-marah lagi. Dan bilang aku nggak sadar diri karena udah numpang di rumah ini." Naura lalu keluar dari kamarnya dan mengambil sapu. Wanita itu lalu mulai menyapu dari ruang tengah, depan hingga teras. Suara derap langkah, membuat Naura menoleh. Tatapannya langsung bertemu dengan Aril yang baru saja tiba di teras. Naura mengabaikannya lalu melanjutkan menyapu teras. Aril terdiam, masih berpikir dari mana ia harus mulai berbicara. "Saya perlu bicara." Naura pura-pura tidak mendengar. Wanita itu bahkan tidak menghentikan kegiatannya. "Ini uang yang kamu berikan kemarin. Ambil lagi," perintah Aril seraya menyodorkan uang itu. Naura menghentikan kegiatannya. "Tuan aja yang pegang. Biar anda aja yang bayar listrik, air, dan lain-lainnya. Lagian saya nggak perlu belanja kebutuhan bulanan, toh Tuan sendiri pesan makanan di luar." "Ini untuk keperluan kamu." "Nggak usah, Tuan. Saya nggak perlu digaji. Insya Allah saya bisa penuhin kebutuhan saya sendiri. Saya akan cari kerja. Lagian untuk makan, kemarin saya kan udah belanja. Itu cukup untuk makan saya selama seminggu. Anggap saja kerja keras saya di rumah ini sebagai bayaran karena saya udah numpang di rumah anda." Jawaban Naura, membuat Aril terbungkam sesaat. Beberapa saat kemudian pria itu kembali lagi membuka suara. "Kamu mau cari kerja di mana? Zaman sekarang nyari kerja susah, apalagi untuk tamatan SMA." "Itu biar jadi urusan saya." Naura buru-buru menyelesaikan menyapu teras depan agar ia bisa segera pergi. "Saya udah berusaha turunin ego saya dan bersikap baik sama kamu, tetapi kamu malah bersikap songong sama saya. Apa salahnya terima aja uang ini?" bentak Aril. "Saya nggak minta Tuan melakukan itu. Lebih baik saya nggak punya uang, daripada terima uang anda lalu nanti saya dibilang matre." "Ya sudah kalau kamu nggak mau terima! Saya nggak mau buang-buang waktu untuk memaksa kamu," ketus Aril dengan raut wajah kesal lalu memasuki rumah. *** Hari ini adalah hari pertama Naura bekerja. Setelah Aril keluar dari rumah, wanita itu lalu pergi ke restoran. Di hari pertama, Naura menjalani pekerjaannya dengan semangat. Di masa seleksinya, ia harus bekerja dengan baik agar tetap bertahan di restoran itu. Matahari sudah berada tepat di atas kepala, tidak terasa sudah setengah hari Naura bekerja. Wanita itu sudah merasakan lelah. "Mbak!" panggil seorang pelanggan. Naura menoleh pada pria yang berumur sekitar 40 tahunan. Wanita itu memasang senyumnya lalu berjalan menghampiri pria itu yang duduk bersama temannya. Walau lelah, tetap ia tetap harus memasang wajah ramah dan tersenyum pada pelanggan. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Naura ramah pada pria yang memanggilnya, ia lalu mengalihkan pandang ke teman pria 40 tahun itu. Sontak wanita itu dibuat terkejut. 'Tuan Aril,' batin Naura. Aril menatap Naura dengan mata sedikit melotot, tentu saja ia terkejut melihat wanita itu ada di restoran tersebut dan bekerja sebagai waitress. Baru kemaren mereka ribut, sekarang Naura sudah mendapatkan pekerjaan. Naura segera mencatat pesanan yang disebutkan pria yang duduk di hadapan Aril lalu segera pergi. Tidak lama kemudian Naura kembali lagi sambil membawa pesanan dan menatanya di meja. Wanita itu berusaha untuk bersikap rileks di depan Aril dan pura-pura tidak mengenalnya. "Selamat menikmati. Jika butuh sesuatu panggil saja saya." Naura lalu pamit dan pergi melayani pelanggan yang lain. "Bisa kita mulai rapatnya, Pak Aril?" Aril yang sedang memperhatikan Naura, lalu menoleh pada pria dihadapannya dan mengangguk-angguk. Pria yang duduk dihadapannya itu adalah kliennya. Mereka sengaja memilih bertemu di restoran. Saat pria di hadapannya itu mulai berbicara, Aril mulai merasa tidak fokus. Sesekali ia melirik ke arah Naura yang sedang melayani pelanggan. "Pak Aril. Pak!" "Eh iya, Pak," jawab Aril gelagapan dan memusatkan sepenuhnya perhatian ke pria dihadapannya. "Dari tadi saya perhatikan sepertinya anda kurang fokus, anda ada masalah? Apa rapatnya kita tunda saja?" "Maafkan saya, Pak. Saya memang lagi banyak pikiran. Sekali lagi maaf, sepertinya rapat ini kita tunda saja," tukas Aril. Kliennya mengangguk mengerti. "Tidak masalah, Pak. Kalau begitu saya permisi." Kedua pria itu lalu berjabat tangan. *** "Jadi orange jusnya dua sama burgernya juga dua, ya, Mas," ucap Naura sembari mencatat pesanan pelanggan. Wanita itu lalu pergi untuk mengambilkan pesanan pelanggan. Akan tetapi, tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang menuju ke luar restoran. "Lepasin, Tuan," suruh Naura pada Aril, tetapi tidak didengarkan oleh pria itu. Sesampainya di luar restoran Aril melepas tangan Naura. "Berhenti bekerja di restoran ini. Mulai sekarang nggak usah kerja." "Nggak, saya tetap ingin kerja. Saya harus pergi, pelanggan udah nungguin saya untuk mengantarkan pesanan mereka." Naura berbalik badan dan hendak melangkah. Akan tetapi, Aril langsung menarik tangannya membuat wanita itu kembali menghadap ke arah suaminya. "Nurut sama yang saya bilang. Berhenti jadi waitress!" tegas Aril. "Nggak mau! Saya pengen cari uang sendiri. Memangnya kenapa kalau saya jadi waitress? Saya nggak malu, kok. Lagipula pekerjaannya halal.'' "Naura!" teriak seseorang, membuat Naura dan Aril menoleh. "Pelanggan udah nungguin kamu ngantar pesanan mereka, tetapi kamu malah ngobrol di sini. Baru hari pertama kamu udah lalai, gimana dengan hari-hari berikutnya. Kalo cara kerja kamu kayak gini, saya nggak bisa mempertahankan kamu bekerja di restoran ini," ucap Maneger di restoran tersebut, mengomeli Naura. "Maaf, Pak. Saya janji ini yang terakhir kalinya. Jangan pecat saya." "Ya sudah, kamu saya maafkan. Kembali bekerja!" Naura mengangguk. Ia menepis tangan Aril lalu berlari memasuki restoran. "Anda maneger di restoran ini?" tanya Aril. Pria dihadapannya mengangguk. "Bisa bicara sebentar. Ada hal penting yang harus saya sampaikan." "Bisa. Kita bicara di ruangan saya." *** "Selamat menikmati," ucap Naura pada pelanggan. Wanita itu lalu pergi ke dapur restoran. Ia mendudukkan bokongnya di kursi. Raut wajah wanita itu tampak sangat lelah. "Gimana Naura hari pertamanya? Capek?" tanya Karin–salah satu koki di restoran tersebut. Naura mengangguk. Baru bekerja setengah hari saja, badannya sudah lelah setengah mati. Belum lagi nanti saat sampai di rumah, ia juga harus melakukan pekerjaannya yang belum ia selesaikan. Karin duduk di bangku samping Naura dan memegang pundak wanita itu. "Walau capek, tapi kamu nggak boleh nyerah. Tetap semangat," ucap Karin sambil tersenyum. Ia berusaha menyemangati teman barunya itu. "Iya, makasih Karin." "Naura, kamu di panggil sama Bos. Di suruh ke ruangannya," ujar Danu–seorang waiters. Kening Naura berkerut, entah kenapa ia mulai deg-degan. Apakah bosnya itu masih marah soal tadi. "Aku ke ruangan bos dulu, ya," pamit Naura pada teman-teman barunya. "Permisi, Pak. Katanya bapak manggil saya," ucap Naura. "Iya. Silahkan duduk." Naura mengangguk lalu duduk di hadapan bosnya itu dengan meja sebagai pembatas. "Saya sudah lihat cara kerja kamu. Di hari pertama saja kamu sudah lalai, sepertinya saya tidak bisa mempertahankan kamu bekerja di sini. Ini upah untuk pekerjaan kamu hari ini, mulai besok tidak usah datang lagi," ucap Maneger restoran itu. Sebenarnya gaji karyawan diberikan setiap akhir bulan, tetapi melihat Naura yang sudah lelah bekerja di restorannya hari ini, ia memberikan wanita itu gaji untuk sehari ini saja. "Saya dipecat, Pak? Saya minta maaf atas kelalaian saya tadi. Saya janji tidak akan mengulanginya. Tolong jangan pecat saya, Pak. Saya nggak tahu harus cari pekerjaan di mana lagi," mohon Naura, memasang wajah memelas. "Itu urusan kamu. Silahkan ganti baju kamu lalu keluar dari restoran ini." *** Naura keluar dari restoran dengan wajah sayu. Ia sudah tidak mengenakan seragam restoran lagi. Wanita itu masih berdiri di depan restoran, menatap bangunan tersebut dengan air mata berlinang. "Baru sehari kerja, aku udah dipecat. Sekarang mau cari kerja di mana lagi? Kenapa hidup aku harus sesulit ini?" isak Naura. "Ayo pulang!" Naura langsung menoleh ke sumber suara dan mendapati Aril. "Gara-gara Tuan saya dipecat? Andai tadi anda nggak narik saya ke luar restoran, mungkin saya masih bisa kerja di sini." "Bagus kalau kamu dipecat, memang itu yang saya inginkan." Sebenarnya Aril yang membuat Naura di pecat. Ia menghasut maneger di restoran itu agar Naura di berhentikan. Ia tidak suka melihat Naura disuruh melayani banyak orang, walau sebenarnya memang itu tugas waitress. "Anda bener-bener nggak punya hati. Nggak mudah buat saya cari pekerjaan ini, Tuan. Setelah saya dapat pekerjaan, anda malah bikin saya dipecat." "Lagian saya udah bilang kamu nggak usah kerja. Apalagi jadi waitress, kamu cuma dimanfaatin sama bos kamu untuk di suruh ini itu. Kamu juga bakal sering dimarahin. Kayak tadi contohnya. Kamu lalai dikit aja, dia udah marah. Padahal saya baru bicara sama kamu beberapa menit." "Bos saya nggak salah, memang anda aja yang menilai semua orang itu jahat! Udah dua puluh tahun saya hidup, anda orang paling jahat yang pernah saya temui," tekan Naura dengan air mata yang masih mengalir membasahi pipi. "Terserah kamu mau ngomong apa. Ayo pulang." Aril menarik tangan Naura menuju mobilnya. "Saya bisa pulang sendiri!" bentak Naura seraya menepis tangan Aril kuat. Wanita itu hendak lari, tetapi Aril menahan tangannya lalu menggendong wanita itu ala karung beras. "Lepasin saya, Tuan!" Naura memukul-mukul punggung pria itu, tetapi Aril tidak menurunkannya. Pria itu mengabaikan sakit di punggungnya dan terus berjalan menuju mobil. ~Bersambung~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN