Dua hari Naura demam. Kini kondisnya sudah mulai pulih. Wanita itu sudah bisa mengerjakan pekerjaan rumah.
Naura kini tengah mengepel lantai di ruang tengah. Aril yang baru saja menuruni tangga lalu memusatkan perhatiannya pada Naura. Pria itu sudah rapi dengan pakaian kantornya.
"Kamu udah sehat? Baguslah, nggak ada lagi yang bikin saya repot. Kamu itu nyusahin."
Naura memasang wajah cuek dan tidak memedulikan Aril. "Kayak ada yang ngomong, tapi nggak ada orangnya. Pasti setan," tukas Naura sambil melanjutkan mengepel, tanpa menoleh pada Aril.
Aril mencoba untuk tidak emosi, ia tahu Naura sedang menyindirnya. Pria itu lalu sengaja berjalan di lantai yang sudah dipel Naura, agar kotor kembali.
"Aww!" Niat ingin mengerjai, Aril malah terpeleset. Pria itu memegang b****g dan pinggangnya yang sakit.
Naura tertawa. "Niat mau ngerjain saya, kualat kan jadinya."
"Nggak usah ketawa kamu. Bisa ngepel yang bener nggak sih?!" bentak Aril.
"Kenapa Tuan marah ke saya? Salah Tuan sendiri kenapa nggak hati-hati."
Naura mendekati Aril. Ia memalingkan wajahnya dari pria itu lalu mengulurkan tangannya. "Mari saya bantu."
Aril meringis seraya memegang pinggangnya. Tangannya lalu meraih tangan Naura dan mencoba berdiri.
"Ehhh!" Naura seketika oleng, tenaganya tidak cukup untuk membantu Aril yang badannya sangat berat.
"AWW!" Aril memekik keras dan terjatuh lagi ke lantai, dan parahnya Naura juga jatuh dan menimpa tubuhnya. Membuat badan pria itu terasa remuk. Posisi Naura kini berada di atas tubuh Aril.
Aril berhenti meringis saat menyadari wajahnya begitu dekat dengan Naura. Tatapan pria itu terpaku pada wajah dan bibir istrinya, membuat pria itu menelan salivanya berat.
"Aww," ringis Naura sambil mengelus keningnya, keningnya terasa sedikit sakit karena tadi membentur d**a Aril. Saat menyadari Aril menatapnya dalam, Naura terlihat sedikit salah tingkah.
"Ngapain natap saya kayak gitu?" cecar wanita itu, membuat Aril tersadar.
"Jangan geer kamu. Bangun! Napas kamu bauk."
Naura segera bangkit. Aril pun lalu mencoba untuk bangun sendiri.
"Kalau nggak niat bantuin, mendingan nggak usah nawarin diri bantuin saya tadi!" bentak Aril.
"Saya mau bantu, tetapi badan Tuan yang berat. Kebanyakan dosa keknya."
"Nggak usah jawab kamu, gara-gara kamu pinggang saya tambah sakit!" bentak Aril, membuat Naura terdiam.
Aril lalu memalingkan wajahnya dari Naura, pria itu lalu sibuk megusap-usap punggungnya seraya meringis pelan.
Naura mendekatkan telapak tangannya ke mulut lalu membuang napas. "Nggak bauk, kok," guman wanita itu.
Aril yang tidak sengaja melihat tingkah Naura, terkekeh pelan. Wanita itu terlihat sangat polos sekali. "Napas kamu bauk jigong, hampir tadi bikin saya pingsan."
"Oh iya? HAH!" Naura membuang napas melalui mulut di depan wajah Aril. "Makan tuh bau jigong!"
Aril menggeram kesal sambil menatap Naura tajam. Melihat tatapan Aril yang mematikan, Naura buru-buru pergi ke belakang sambil membawa ember dan pel.
"Sialan kamu Naura!" geram Aril menatap kepergian wanita itu kesal. Pria itu lalu berjalan encok menuju ke kamarnya. Sepertinya hari ini ia tidak bisa ke kantor.
***
Naura baru saja selesai berbelanja beberapa kebutuhan dapur di supermarket. Wanita itu berdiri di pinggir jalan, menunggu ada angkot lewat.
Dua orang pria yang menaiki satu sepeda motor, kini sedang menatap ke arah Naura. Sang pengemudi motor melajukan motornya ke dekat Naura, sedangkan temannya yang di belakang kini sedang mengambil ancang-ancang untuk merampas tas wanita itu.
Preman itu menarik tas Naura, tetapi wanita itu berusaha untuk mempertahankan tasnya.
"Lepasin! Tolong!" teriak Naura. Membuat orang-orang yang ada di sana menatap ke arah wanita itu.
"Hei, lepasin tasnya!" teriak seorang warga.
"Berikan tasnya!" Preman itu mendorong bahu Naura kencang, sehingga tubuh wanita itu terjungkal ke belakang, kakinya juga terkilir. Barang belanjaannya juga berserakan. Kedua preman tersebut lalu buru-buru pergi sebelum tertangkap warga.
Orang-orang lalu berusaha mengejar kedua preman itu.
"Tolong!" teriak Naura keras sembari menangis. Ia takut jika uang itu dicuri, maka Aril akan marah.
Gavin yang sedang lewat di jalan itu, saat melihat para warga mengejar dua orang pria sambil berteriak maling, lalu menambah kecepatan mobilnya dan menghadang preman tersebut.
Pengemudi motor tersebut hampir saja menabrak, refleks ia membelokkan stang motornya sehingga membuat motor tersebut jatuh bersama kedua preman itu.
Gavin lalu menghajar kedua preman itu sehingga membuat mereka terkulai lemah. Tidak lama kemudian warga datang.
Gavin mengambil sebuah tas yang tergeletak di jalan, sepertinya itu adalah barang yang dicuri preman tersebut. "Ini milik siapa?" tanya Gavin kepada seorang warga.
"Milik Mbak yang ada di sana, Mas." Warga tersebut menunjuk ke arah Naura yang masih terduduk di pinggir jalan.
Gavin berlari mendekatinya. Ia menyerahkan preman tersebut kepada warga agar dibawa ke kantor polisi.
"Ini tasnya, Mbak. Coba dicek dulu. Nggak ada yang hilang, 'kan?" ucap Gavin seraya berjongkok di hadapan Naura lalu menyerahkan tas Naura.
"Alhamdulillah, nggak ada yang hilang, Mas. Semuanya masih utuh," jawab Naura setelah mengecek tasnya.
Gavin menatap wanita itu intens, entah kenapa ia merasa tidak asing dengannya. "Kamu bukannya perempuan yang waktu itu hujan-hujanan, 'kan?"
Naura mencoba mengingat, tidak lama kemudian ia mengangguk. "Mas yang waktu itu beri saya payung, 'kan? Terima kasih banyak karena udah bantuin saya. Saya nggak tahu gimana caranya balas jasa anda. Mas udah dua kali tolongin saya."
Gavin tersenyum. "Saya ikhlas, kok, bantuinnya. Kamu nggak perlu balas budi. Kenalin saya Gavin," ucap pria itu seraya mengulurkan tangannya.
Naura hanya menatap tangan Gavin, tanpa berniat membalasnya. Mengingat dirinya sekarang sudah bersuami, ia tidak boleh berpegangan dengan lelaki lain. "Saya Naura."
Gavin mengangguk. Ia tersenyum kaku seraya menurunkan kembali tangannya.
Naura lalu mencoba untuk berdiri. Namun, ia malah terjatuh lagi. "Awh," ringis wanita itu.
"Kenapa?" tanya Gavin.
"Kaki saya sakit, Mas."
Gavin memegang kaki Naura. "Sepertinya keseleo. Tahan, ya, mungkin ini agak sakit." Gavin lalu mencoba memijit kaki Naura.
"Emang Mas nya bisa ngurutt?"
"Lumayan, sih," jawab Gavin.
Naura memejamkan mata sembari menggigit bibir bawahnya. Dalam hati ia was-was, takut Gavin tidak bisa memijit dan malah membuat kakinya tambah sakit. "Aww!" jerit wanita itu kesakitan.
"Masih sakit?" tanya Gavin.
"Sedikit."
"Rumah kamu di mana? Biar saya antarin pulang."
"Nggak usah, Mas. Kayaknya saya udah banyak ngerepotin."
"Tenang aja, saya nggak merasa direpotkan, kok." Gavin lalu membantu membawakan belanjaan Naura.
"Bisa jalan sendiri?"
Naura mengangguk. Kakinya sudah tidak sesakit tadi, walaupun jalannya masih agak pincang.
***
"Berhenti, Mas. Kita udah sampai," ucap Naura. Gavin menghentikan mobilnya di depan sebuah gerbang. Matanya lalu menatap ke rumah yang lumayan besar.
"Ini rumah kamu?" tanya Gavin.
Naura terdiam sejenak, membuat Gavin bingung menunggu jawaban. Tidak lama wanita itu menggeleng. "Makasih udah nganterin saya pulang. Maaf, saya nggak bisa tawarin Mas mampir."
"Sama-sama. Nggak papa, kok."
Naura dan Gavin lalu turun dari mobil. Gavin mengambil belanjaan Naura yang ia letakan di bagasi mobil.
"Sekali lagi terima kasih, Mas. Saya permisi."
Gavin menatap kepergian Naura. Perlahan kedua sudut bibir pria itu terangkat. "Gadis yang cantik. Dia juga baik," guman Gavin. Tidak lama pria itu geleng-geleng kepala. "Mikirin apaan, sih, Gavin?" omel pria itu pada dirinya sendiri lalu memilih memasuki mobilnya dan pergi.
Di lain sisi, Aril yang tadi mendengar suara mobil di depan rumahnya, lalu mengintip di balik jendela kamarnya. Mata pria itu sedikit terbelalak saat melihat Naura pulang dengan Gavin—rival sekaligus mantan sahabatnya.
Aril keluar dari kamar. Pinggang pria itu sudah tidak encok lagi karena tadi pagi ia sudah memanggil tukang urut.
"Pulang sama siapa kamu?" bentak Aril pada Naura yang baru saja memasuki rumah. Pria itu bersidekap d**a.
"Taksi."
"Nggak usah bohong kamu! Saya lihat sendiri kamu pulang bareng laki-laki."
Naura terdiam, tidak punya kata-kata lagi untuk menjawab.
"Kenapa diam? Takut, karena ketahuaan bohong? Sejak kapan kamu kenal laki-laki tadi?"
"Kenapa anda yang kepo?" ketus Naura.
Aril menatap Naura tajam. "Kamu tahu siapa laki-laki tadi? Dia rival saya. Kamu jangan berhubungan lagi sama dia. Ini perintah, nggak ada yang boleh bantah perkataan saya!" tegas Aril.
"Tuan nggak punya hak larang-larang saya bergaul dengan siapa pun," balas Naura, ia tidak suka dikekang seperti itu.
Mendengar jawaban Naura, membuat darah Aril terasa mendidih. "Kamu lupa kamu siapa?" geram pria itu, berusaha mengontrol emosinya.
"Saya nggak lupa, kok. Anda menganggap saya pembantu. Bukannya tugas majikan hanya memerintah pembantunya untuk mengerjakan pekerjaan rumah? Dia nggak punya untuk hak untuk mengikut campuri urusan pribadi pembantunya, apalagi melarang saya untuk bergaul dengan siapa pun. Saya bebas memilih apa yang saya mau."
"Iya. Dan dibalik kata pembantu kamu juga istri saya. Walaupun saya gak cinta sama kamu, tetapi saya tetap punya hak untuk mengatur kamu!"
Naura terdiam, matanya berkaca-kaca menatap Aril. "Anda egois, Tuan. Waktu itu anda bilang saya ini hanya pembantu. Di saat ada maunya, anda mengatakan saya ini istri anda. Anda hanya memikirkan diri anda sendiri dan nggak pernah mikirin gimana perasaan saya yang sakit karena perkataan anda."
"Saya nggak mau turutin perintah anda. Mas Gavin itu rival anda, bukan rival saya. Dia nggak punya masalah sama saya. Lagi pula Mas Gavin itu orang baik, dia sering nolongin saya. Nggak seperti anda, yang justru malah sering nyakitin saya," balas Naura dan hendak pergi meninggalkan Aril. Namun, pria itu mencengkal lengan Naura kuat, membuat wanita itu meringis pelan.
"Lepasin, Tuan. Tangan saya sakit," ucap Naura.
"Sekali lagi saya peringatkan, jauhin Gavin," tekan Aril seraya menatap Naura tajam.
"Nggak!"
Aril tersenyum kecut. "Apa karena saya nggak mencintai kamu? Lalu kamu berniat menggoda Gavin karena dia kaya? Dasar matre!"
Naura menjatuhkan barang belanjaannya di lantai lalu ....
Plak!
Tangan wanita itu mendarat keras di pipi Aril, membuat pria itu membelalakkan matanya.
"Berani kamu nampar saya, hah!" Aril mencengkeram kedua pundak wanita itu cukup keras.
Naura menangis. "Anda pantas mendapatkannya. Saya sadar kalau saya miskin, Tuan. Saya memang orang nggak punya, saya hanya tamatan SMA. Tapi saya nggak matre, Tuan. Saya sadar diri, kok, mana pantas orang kalangan bawah seperti saya berhubungan dengan orang kalangan atas."
"Oh, iya. Anda mana paham. Di mata anda saya ini, kan, orang jahat." Air mata Naura semakin mengalir deras. Wanita itu lalu mengeluarkan semua uang yang ada di tasnya dan melemparnya ke wajah Aril.
"Itu uang anda, saya balikin. Ada beberapa yang udah saya pake, tapi saya janji akan ganti. Kalau memang anda pikir saya matre, mendingan nggak usah lagi kasih saya uang. Saya bisa cari uang sendiri. Lagipula selama ini anda nggak pernah makan masakan yang saya buat, jadi buat apa kasih uang ke saya. Tenang aja, saya nggak akan kasih tahu Mama Sandra, kok. Jadi, Tuan nggak akan kena marah sama mama."
Naura mendorong d**a Aril sehingga pria itu sedikit menjauh darinya. Ia mengumpulkan barang belanjaannya lalu bergegas ke dapur. Setelah itu, wanita dengan rambut panjang tersebut pergi ke kamarnya dan terisak kuat di sana.
Sedangkan Aril ia kini masih mematung di tempatnya. Mendadak pria itu tidak punya kata-kata lagi untuk memarahi Naura. Ia sadar kalau sikapnya tadi berlebihan. Entahlah, dirinya merasa cemas jika Gavin tahu Naura adalah istrinya lalu melibatkan wanita itu dipermusuhan mereka. Naura adalah wanita yang polos, dia tidak tahu apa yang terjadi di antara dirinya dan Gavin.
~Bersambung~