Pisah Ranjang

1548 Kata
01 "Apa?" Sepasang mata beriris hitam milik Milly Aquena membola. Mulut gadis berusia dua puluh tiga tahun itu tampak membuka, menutup, membuka lagi dan kali ini lupa untuk ditutup hingga sukses menganga seperti ikan. "Jangan sok kaget gitu, Milly," sahut pria bertubuh tidak terlalu tinggi tetapi cukup besar yang merupakan papanya Milly dengan santai. "Papa serius mau nikahin aku sama om Rahasia?" Milly sekali lagi memastikan pendengarannya yang memang sedikit terganggu di sebelah kiri. "Yoih, Sayang. Cucok kan?" sahut Aldan, pria dewasa berusia lima puluh dua tahun itu seraya mengulaskan senyuman lebar di wajah. "Cucok dari mana, Pa? Aku kan gadis imut, cantik, mungil, pintar dan energik. Sedangkan om Rahasia kan ... udah tua. Duda pula," cicit Milly. "Rahagi. Bukan Rahasia," celetuk Prita, sang mama yang baru selesai memasak dan kini duduk di sebelah suaminya dengan wajah hitam akibat masker. "Mama ihh. Tiba-tiba nongol maskeran gitu. Serem tau gak!" sungut Milly. "Jangan mengalihkan pembicaraan, Mil. Kembali ke laptop." Aldan menegakkan tubuh dan mengetuk-ngetuk meja di hadapan. "Rahagi itu masih muda. Umurnya juga baru tiga puluh tahun. Mengenai status dudanya, bagi papa sih nggak masalah. Karena papa yakin dan percaya banget bahwa dia akan menjadi pelindungmu yang paling tepat," imbuhnya. "Mama juga setuju sama Papa. Kami mengenal Ra itu dari dia masih kecil. Ngikutin si mbok kerja di rumah kakekmu dulu. Sampai diangkat sebagai anak asuh oleh kakek karena kepintarannya yang di atas rata-rata," timpal Prita yang mendapatkan anggukan persetujuan dari Aldan. "Pernikahannya dengan Firda itu juga diprakarsai oleh kakek, dan sekarang beliau menyesali hal tersebut, karena ternyata Firda itu matre. Mau nikah sama Ra demi bisa ngeruk harta. Untunglah mereka belum punya anak, kalau nggak mungkin Ra nggak bakal bisa lepas dari benalu Firda," lanjut Prita dengan raut wajah kesal. "Lalu, apa hubungannya denganku? Kenapa harus aku sekarang yang menikah dengan om Rahasia?" Milly berusaha untuk menahan tangis yang menyesakkan d**a. "Itu karena ...." Aldan dan Prita saling beradu pandang sesaat sebelum Prita melanjutkan ucapannya. "Mama didatangi nenek dalam mimpi, yang mengatakan bahwa cuma Ra yang bisa menangkal santet yang dikirim oleh mantan pacarmu." *** Pria bertubuh tinggi itu duduk dengan punggung tegak di kursi tunggal yang berada di seberang Milly. Tatapan pria tersebut terus mengarah ke depan dan nyaris tidak berkedip melihat sosok Prita yang duduk di sebelah kanan sang putri sambil mengenakan topeng kertas. Dalam hati Rahagi bertanya-tanya, kenapa kakak angkatnya itu sangat menyukai berbagai variasi masker. Semenjak masih gadis dulu, Prita memang sering tampil seperti itu bila tengah berada di rumah. Namun, tetap saja Rahagi terkaget-kaget sampai sekarang. "Mbak rasa kalian butuh waktu untuk ngobrol berdua. Jadi, silakan dimulai acaranya. Waktu dan tempat dipersilakan," ujar Prita sambil berdiri dan jalan menjauh. Tak lama kemudian terdengar suara cekikikannya bersama Ati, asisten rumah tangga di rumah tersebut. "Om," panggil Milly. "Siap!" jawab Rahagi. "Om yang ngomong duluan." "86!" Suasana hening kembali. Milly tampak bingung karena Rahagi malah diam saja. Seolah-olah mulutnya terkunci dan gemboknya dibawa kabur oleh sang kakak angkat yang kini tengah terpingkal-pingkal di ruang keluarga. Entah tengah menonton apa. "Om!" "Ya?" "Ngomong dong!" "Ehm, ngomong apa?" "Apa aja deh." "Oke. Apa aja deh." Rahagi membeo ucapan gadis itu. Milly membulatkan mata, kemudian menepuk dahi Mikhail, kakak laki-lakinya yang baru saja duduk di sebelah kiri. "Mil! Kenapa kakak dipukul sih?" protes pria berusia dua puluh lima tahun itu sambil mengusap dahinya yang sedikit melendung alias jenong. "Abisnya gemes!" sahut Milly. "Kakak emang ngegemesin." "Yeee! Aku tuh gemes sama Om Rahasia." "Gemes ke Om, tapi kakak yang ditampol." "Karena Kakak yang terdekat, dianya jauh." Kedua bersaudara itu masih saling baku hantam selama beberapa waktu, sebelum akhirnya dilerai sang mama yang terganggu dengan suara Milly dan Mikail yang mirip suara kucing berkelahi. Setelah Mikail pergi mengekor Prita, Milly kembali memandangi Rahagi yang kini tengah menyeruput kopi dengan santai. Pria itu segera meletakkan cangkir yang sudah nyaris kosong ke atas meja, kala menyadari sedang dipandangi oleh gadis berparas cantik yang dulu sering digendongnya di punggung. "Om, yakin mau nikah sama aku?" tanya Milly dengan lugas. "Menurutmu, gimana?" Rahagi balas bertanya. "Sebetulnya aku belum ingin menikah." "Sama." "Tapi masalahnya ini udah keputusan orang tua dan juga kakek." "Nah, itu." "Aku takut kuwalat kalau nggak nurutin kemauan mereka." "Betul." "Tapi sebenarnya ... aku takut buat nikah." "Napa?" Milly tidak menjawab. Gadis itu hanya menunduk sambil menjalin jemari. Merasa gugup bila hendak berterus terang bahwa dia takut dengan yang namanya malam pertama. "Kalau kamu mau, kita bisa pisah ranjang setelah menikah nanti," ucap Rahagi dengan suara pelan. Pria bermata separuh besar itu mengulaskan senyuman tipis yang membuat Milly terpana. Gadis itu sama sekali tidak menyangka bila Rahagi bisa memahami dirinya yang masih amatiran dalam urusan hubungan antara pria dan wanita. Berbeda dengan Rahagi yang seorang duda dan sangat dewasa. "Pisah ranjang gimana?" Suara berat khas kakek tiba-tiba terdengar dari balik jendela. Rahagi sontak menegakkan tubuh kembali dan memasang wajah serius. Sementara Milly langsung gelisah karena dia memang agak ngeri bila berhadapan dengan kakeknya. Gandhi Setiawan, ayahnya Prita memang terkenal sebagai pria yang menakutkan. Hal ini dikarenakan wajahnya yang dingin, dan sikapnya yang nyaris tidak menggubris sekitar. Hal ini diperparah dengan kematian istrinya beberapa tahun silam dan membuat Gandhi semakin pendiam. Hanya Prita, Aldan dan Yono, asisten pribadi Gandhi yang sepertinya tidak terintimidasi oleh penampilan pria tua tersebut. Rahagi yang sudah diangkat menjadi anaknya sejak remaja pun sampai sekarang masih sungkan dengan Gandhi. "Jelaskan apa maksudmu, Ra!" seru pria tua itu yang sekilas mirip Amitabh Bachchan. (Dilihat dari Tugu Pancoran) "Oh, itu, Pak. Maksud saya, kasurnya ditambah. Jadi dobel, karena Milly nggak mau tidur dempet-dempetan," jawab Rahagi asal. Pria beralis tebal itu menguatkan diri untuk tidak mengusap dahi yang mulai berkeringat. Dia takut bila Gandhi bisa menangkap ketidakjujurannya pada kalimat tadi. Gandhi menyipitkan mata dan memandangi Milly dan Rahagi bergantian. Pria tua itu membatin, berharap nantinya kedua orang yang disayanginya itu bisa benar-benar saling jatuh cinta dan membina kehidupan yang bahagia. Demi janjinya pada almarhum istri yang masih sering muncul dalam mimpi. Ketika akhirnya pria tua itu jalan memasuki ruang tengah, Milly mengembuskan napas lega sambil mengelus d**a. Hal yang sama juga dilakukan oleh Rahagi. Kala mereka beradu pandang, keduanya sama-sama menunduk dan mengulum senyum. *** Hari berganti menjadi minggu. Waktu pernikahan yang semakin dekat membuat Milly senewen. Perempuan muda itu merasa resah karena dirinya harus menjalani ritual pingitan, yang membuatnya tidak leluasa untuk beraktivitas di luar. Teman-teman dekatnya di kantor datang silih berganti. Bukan untuk menghibur Milly, tetapi mereka hanya ingin menumpang luluran gratis di sana, sekaligus menumpang makan. Demi menyukseskan perhelatan akbar itu, Prita memboyong asisten terbaiknya di spa dan salon miliknya ke rumah. Bahkan, perempuan berambut sebahu itu rela mengubah salah satu kamar di lantai dua untuk menjadi ruang khusus salon. "Tante, hari ini aku nggak mau dilulur," ujar Milly kala dirinya baru duduk di kursi salon. "Why, Dear? Kita belum coba lulur aroma gandasturi," jawab Meilani, asisten kesayangan Prita yang sering dipanggil Meimei. "Gandasturi bukannya kue, Tan?" tanya Milly dengan alis bertaut. "Udah ganti, ya?" Milly mendengkus, benar-benar pusing menghadapi sikap unik sang tante. "Kamu belum jawab pertanyaan tante. Kenapa nggak mau luluran?" "Kulitku tambah tipis nanti." Tawa Meimei yang mirip dengan suara lumba-lumba itu menguar dan bergema di ruangan tersebut. Tak peduli Milly mengerucutkan bibir sembari melipat tangan di depan d**a. "Jaringan kulit itu akan terus berevolusi setiap hari, Dear." Meimei menjelaskan seusai tertawa. "Berevolusi? Regenerasi kali, Tan." "Eh, bukan reboisasi?" Milly mengusap dadanya sambil membatin dia harus tetap bersikap sopan pada Meimei, sebagai baktinya pada orang yang lebih tua. Meskipun saat ini Milly sangat ingin menjitak kepala mungil Meimei yang sekarang tengah tersenyum lebar. Pintu ruangan terbuka dan sosok Rahagi masuk dengan digusur-gusur oleh Prita. Pria berkulit kecokelatan itu tampak canggung ketika kedua perempuan dewasa tersebut mulai merencanakan berbagai macam jenis perawatan yang akan dijalani oleh Rahagi. Tak lama kemudian, seorang pria gemulai tiba dan langsung terpesona pada Rahagi. Pria bernama Didi itu memegangi lengan dan pundak kokoh Rahagi sambil mengedip-ngedipkan mata. Milly tiba-tiba merasa kesal melihat tingkah Didi, dan langsung naik ke pangkuan Rahagi yang seketika terkesiap. Sementara di ranjang belakang, Prita yang tengah di-facial itu sontak bangun dan beradu pandang dengan Meimei. "Eleuh-eleuh, si Neng teh kunaon?" omel Didi sembari bercekak pinggang. (Si Neng kenapa?) "Nggak kenapa-kenapa. Cuma pengen dipangku aja. Masalah?" tanya Milly dengan suara yang terdengar ketus. Sementara Rahagi yang masih terkaget-kaget itu berusaha untuk menahan tubuh Milly yang menekan bagian depan tubuhnya. Pria itu mulai takut bila sang adik akan tergugah karena tubuh Milly ternyata sangat seksi. Didi mencebik, kemudian meneruskan kegiatan merapikan rambut Rahagi. Prita cengengesan sambil berbaring dan membiarkan Meimei menuntaskan kerjasamanya. "Milly," bisik Rahagi. "Hmm?" "Bisa turun nggak?" "Nggak mau." "Kenapa?" "Nanti Om dipegang-pegang ama dia." Rahagi nyaris tertawa, tetapi sekuat tenaga ditahannya. "Ehm, tapi saya pegel nih. Kamunya berat." Milly mendelik. "Ada yang nagih juga di sana." Milly mengerutkan dahi, bingung dengan maksud ucapan Rahagi. Sekian detik kemudian barulah Milly paham dan segera turun dari pangkuan pria tersebut dengan pipi yang merona. "Ternyata Om ini m***m juga," desis Milly sambil merapikan gaun biru lautnya yang sedikit kusut. "Jangan nyalahin saya, kamu yang tiba-tiba nangkring tanpa permisi." "Ya, tapi kan bisa dong nggak mikir ke arah sana?" "Saya ini pria normal, Milly. Pasti berpikiran yang iya-iya kalau ketemu cewek cantik dan seksi kayak kamu. Kecuali kalau saya pria belok kayak dia." Rahagi mengarahkan dagu pada Didi yang tengah mesem-mesem.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN