Cup Kembang Kuncup

1530 Kata
Tap love dulu, ya 02 Suasana kediaman Aldan Atmaja dan Prita Mulyasari yang biasanya hening, sunyi dan sepi mendadak berubah menjadi riuh dan dipenuhi banyak orang. Halaman depan yang cukup luas seakan-akan tidak sanggup menampung luberan pengunjung. Hal tersebut dikarenakan banyaknya tamu dadakan alias yang tidak diundang tetapi memaksa untuk hadir dalam acara pernikahan Rahagi dan Milly yang akan digelar hari itu. Akan tetapi, hal yang berbeda terjadi di lantai dua, suasananya sangat sepi karena hampir semua orang berada di lantai satu. Hanya ada Meimei dan Didi yang tengah menemani sang calon pengantin perempuan di kamarnya yang berada di bagian belakang bangunan. Milly memandangi halaman belakang rumah yang tertutup tenda biru tanpa janur kuning. Dia tidak tahu berapa banyak jumlah orang dari pihak katering yang tengah berjibaku di bawah sana, tetapi suara obrolan mereka terdengar hingga ke tempatnya berada. Awalnya, Aldan dan Prita ingin mengadakan acara akad nikah di gedung tempat resepsi yang akan dilaksanakan nanti malam, tetapi Ghandi menentang keinginan putri dan menantunya tersebut, serta memaksa untuk tetap melaksanakan akad nikah di rumah. Aldan dan Prita tidak bisa lagi menolak keinginan sang ayah, karena mereka enggan untuk berdebat dengan sosok pria bertubuh besar tetapi tidak tinggi itu. Bila mereka nekat melawan, bisa dipastikan Ghandi akan meradang dan Prita takut ayahnya akan sakit. "Dear, makannya udah?" tanya Meimei sambil jalan mendekati Milly. "Udah, Tan. Tapi aku masih lapar," jawab gadis berparas cantik itu sambil memasang wajah memelas. "Nanti habis akad baru makan lagi. Sekarang, mari kita sempurnakan penampilanmu dengan lipstik cetar ini." "Aduh, jangan warna merah dong." "Why? This is so hot, Babe," timpal Didi yang tengah merapikan kuku-kukunya yang dipoles merah muda. "Mukaku jadi tua banget kalau pakai lipstik merah." Meimei menghela napas berat, kemudian mengambil lipstik lain yang langsung dipelototi Milly. "Napa lagi, Dear?" tanya Meimei. "Jangan warna ungu, Tan. Kayak orang habis digebukin aja." "Ya Rabb!" Didi tertawa kecil di belakang Meimei. Tak peduli kedua perempuan berbeda generasi itu mendelik ke arahnya. "Okeh, kalau gitu ... yang ini?" Meimei menunjukkan lipstik oren. "Oh tidakkkk!" jerit Milly. "Mukaku tambah judes pake warna itu," sambungnya sembari menggeleng patah-patah. Meimei dan Didi saling beradu pandang sesaat, sebelum akhirnya Meimei meminta Milly untuk memilih lipstiknya sendiri. Gadis itu sangat antusias melakukan hal tersebut. Dia memilih sambil bersenandung. "Cup kembang kuncup. Warna apa yang bikin Milly tambah cantik?" lirihnya dengan nada suara yang tidak jelas kuncinya. Setelah memilih selama beberapa detik akhirnya Milly mengangkat lipstik nude yang membuat alis Meimei menyatu dan Didi kembali terbahak. "Cantikku, warna itu nggak keliatan wow di foto nanti," ucap Meimei sambil mengelus dadanya yang tidak rata. "Ini warna paling cocok, Tan. Aku suka," sanggah gadis itu seraya tersenyum lebar. "Kita campur sama merah dikit biar agak ngejreng, deal?" Milly akhirnya mengangguk menyetujui permintaan Meimei. Pasrah saat perempuan seusia mamanya itu bergerak cepat melukis bibir dan menambahkan glitter di beberapa bagian wajah. Secarik senyuman terbit di wajah Meimei yang manis kala memandangi hasil karyanya yang fantastis. Milly yang aslinya sudah cantik kini tampak semakin memukau dan berkilau. Suara ketukan di pintu yang disusul dengan munculnya wajah Eri, sahabat Milly semenjak di bangku TK itu membuat ketiga orang tersebut menoleh bersamaan. "Milly diminta turun, acara mau dimulai," ujar Eri sebelum melongo melihat sahabatnya yang tampak manglingi. "Ah, Sayang. Kamu cantik banget," puji perempuan berkulit kecokelatan itu sembari mengguncang pundak Milly. "Heh! Nanti sanggulnya lepas!" omel Didi pada Eri yang membalas dengan menjulurkan lidah. "Kangmas Rahagi pun tampak sangat ganteng. Kalau kamu udah bosan, aku siap jadi istri keduanya," seloroh Eri yang langsung dipelototi oleh Milly dan Didi. "Loh, kok Om Didi ikut-ikutan marah?" tanya Eri. "Kamu itu urutan ketiga. Aku istri keduanya," jawab Didi sembari melenggang pergi. Sementara ketiga perempuan di belakang saling beradu pandang dengan mulut menganga. *** Air mata haru menetes di wajah Prita, kala ucapan ijab kabul terdengar mantap dan tegas dari bibir Rahagi. Perempuan yang usianya nyaris paruh baya itu langsung memeluk sang putri yang masih terkaget-kaget di sebelahnya. Hal yang sama juga dirasakan oleh Aldan. Pria berwajah sedikit bengis tetapi hati melankolis itu menyeka sudut mata dengan saputangan. Merasa terharu sekaligus lega telah menikahkan putri satu-satunya pada orang kepercayaan. Sementara Mikail yang duduk di belakang sang papa, menggigit bibir bawah untuk menahan tangis yang hampir keluar. Pria berparas manis tersebut langsung mengubah ekspresi wajah ketika Ghandi mendelik ke arahnya. Kemudian pria tua itu berbisik," Setelah ini giliran kamu." Mikail tidak bisa berkata apa pun, dan mengangguk mengiakan ucapan sang kakek. Dia takut untuk berdebat dengan pria tua itu, karena pasti akan kalah. Acara sungkeman berlangsung dengan penuh keharuan. Hal ini disebabkan oleh sikap dingin Gandhi yang berubah menjadi hujan air mata, kala pria tua tersebut mengucapkan kalimat wejangan pada Rahagi. "Kamu adalah pria dewasa, yang bapak beri tambahan tanggung jawab untuk menjaga dan melindungi Milly baik-baik. Bapak benar-benar berharap agar kamu bisa melaksanakan tugas dengan semestinya," ujar Gandhi sembari menepuk-nepuk pundak Rahagi. "Siap, Pak," jawab pria berperawakan tinggi itu sembari mencium punggung tangan Bapak angkatnya tersebut dengan takzim. "Ingat, Ra. Jangan pernah lalai dalam menjaga Milly. Karena sedikit saja kita lengah, pihak musuh bisa menyerang dan melumpuhkan kita tanpa ampun." Rahagi manggut-manggut. Gandhi memajukan tubuh dan berbisik di telinga pria gagah itu. "Bersikap sabar dalam menggaulinya. Kalau dia menolak, rayu. Kalau dia menghindar, dekati terus sampai dia menyerah." Rahagi seketika terdiam. Pria itu merasa bahwa hal tersebut adalah yang paling berat untuk dijalankan. Bila bisa memilih, Rahagi menginginkan hanya menjadi penjaga Milly, bukan suaminya. Aldan dan Prita tidak terlalu banyak memberikan wejangan. Mereka tahu bila sang ayah sudah menasihati Rahagi panjang lebar. Mereka tidak mau terlalu mendikte adik angkat itu dan membiarkan Rahagi menentukan arah pernikahannya bersama Milly hendak dibawa ke mana. Acara sungkeman selesai. Kedua pengantin itu dipersatukan pada sebuah pelaminan indah yang berada di ruang tamu. Rahagi berulang kali mencuri-curi pandang pada perempuan yang telah sah menjadi pendampingnya tersebut. Hal yang sama juga dilakukan oleh Milly. Gadis berambut cokelat keunguan itu tampak terpesona dengan penampilan Rahagi. Namun, bila tatapan keduanya bertemu, masing-masing dari mereka akan segera mengalihkan pandangan ke arah lain, tetapi dengan bibir mengulum senyum. Dua jam kemudian acara pun usai. Rahagi masih bertahan di kursi tamu untuk mengobrol dengan teman-temannya. Sedangkan Milly langsung beranjak ke lantai dua untuk beristirahat dan memulihkan tenaga. "Istrimu yang ini lebih cantik daripada yang dulu," ujar Feri, sahabat Rahagi semenjak masih kuliah. "Dan lebih hot!" timpal Heru, sahabat sekaligus asisten pribadi Rahagi. "Jangan cari gara-gara dia ngamuk, Ru." Feri mengingatkan sahabatnya tersebut. Sementara Rahagi hanya tersenyum simpul. "Aku juga nggak bakal nolak kalau dijodohin ama yang model gitu." Heru menyunggingkan senyuman lebar. "Sorry, Bro. Dia putri sekaligus cucu perempuan satu-satunya. Mas Aldan nggak punya stok lain," tukas Rahagi. "Kamu itu beruntung banget sih, Ra. Jadi anak angkat orang kaya. Dikasih perusahaan. Sekarang nikahin cucunya. Iri banget aku!" Heru bersungut-sungut. "Nasib jadi orang pintar dan ganteng, ya, begini." Rahagi mengangkat dagu, bergaya sedikit angkuh yang membuat Heru bertambah kesal. Sedangkan Feri hanya menggeleng melihat tingkah kedua sahabatnya tersebut. *** Tubuh Milly mendadak kaku ketika melihat sosok Rahagi melangkah memasuki kamar. Keduanya saling beradu pandang melalui pantulan cermin yang berada di depan tempat tidur. Milly yang tengah merapikan rambut, mendadak gugup kala Rahagi mendekati tempatnya duduk dan berdiri di belakang. "Milly," panggil Rahagi. "Ya?" jawab perempuan itu sembari menengadah. "Nanti malam, kita langsung pulang ke rumah saya. Ehh, maksudnya ke rumah kita." "Aku nggak mau!" "Kenapa?" "Aku ingin tinggal di sini." Rahagi menghela napas berat. Dia sudah pernah membicarakan hal ini pada Milly beberapa hari lalu, dan jawaban gadis itu juga sama. "Kalau kamu mau kita berhasil menghalau guna-guna yang dikirim itu, kamu harus menurut." Pria itu melembut-lembutkan suaranya, dan berharap sang istri mau mengikuti ajakannya. Tiba-tiba Milly membalikkan tubuh dan berdiri. Maju satu langkah hingga tubuhnya nyaris menempel pada Rahagi. "Aku tidak mau pindah ke tempat yang pernah menjadi bagian dari kenangan Om dan mantan istri," tukasnya. "Kamu salah paham. Rumah itu tidak pernah menjadi tempat kenangan kami," ungkap Rahagi. "Kenapa?" Milly tampak bingung. "Dia tidak pernah menginjakkan kaki di sana, karena kekuatan gaib yang melindungi tempat itu menolak sesuatu miliknya." Milly menggeleng pelan, dia semakin bingung dengan penjelasan Rahagi. Pria itu mengajak Milly untuk duduk di pinggir tempat tidur. Berdiam diri sesaat sebelum akhirnya menceritakan sebuah rahasia tentang Firda, yang baru diketahuinya setelah menikah. Milly mendengarkan penjelasan Rahagi sambil membulatkan mata. Gadis itu benar-benar tidak menyangka bila di zaman sekarang masih ada orang yang menggunakan berbagai cara untuk meraih kesuksesan. Jalur sesat yang dipilih Firda mengingatkan Milly dengan sosok Adam Fatra. Milly sendiri baru mengetahui bila dirinya telah diguna-guna mantannya tersebut, setelah Rahagi membongkar kamarnya dan menemukan beberapa benda yang mengandung ajian pengasih. "Ehm, kamu sudah salat?" tanya Rahagi sambil berdiri dan melepaskan kancing jasnya. Tidak menyadari bila gerakannya itu membuat Milly salah tingkah. "Belum," jawab Milly sambil menunduk. "Kita salat sama-sama, yuk!" Milly mengangguk pelan. Menatap punggung lebar pria yang beranjak menuju kamar mandi. Dalam hati Milly berharap jika Rahagi benar-benar bisa melindunginya, sesuai dengan apa yang diwasiatkan oleh almarhum neneknya. Beberapa saat kemudian, pasangan pengantin baru tersebut selesai menunaikan salat berjamaah perdana mereka. Milly masih canggung kala mencium punggung tangan suaminya. Bertambah deg-degan ketika Rahagi memajukan tubuh dan mendaratkan kecupan di dahi. Jangan lupa tinggalkan jejak, Gaes. Love se-provinsi buat kalian ^^
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN