Prakkkk.
Terdengar pecah belah jatuh di dapur. Segera kulangkahkan kaki menuju dapur yang berada dua ruangan setelah ruang tamu.
Aku berjalan setengah berlari penasaran apa yang jatuh, dan ternyata astaga
"Ibu...." Teriakku dengan keras, melihat ibu tergeletak dilantai dengan wajah pucat.
Kurengkuh tubuh ibu, ku goyangkan tubuh ibu yang lemah tak berdaya, kupanggil berulang kali wanita yang melahirkanku dan wanita terhebat bagiku. Tapi tetap tak ada Respon, ibu tetap terdiam dengan mata tertutup dan wajah pucat sungguh mengkhawatirkan.
Air mata ini tak bisa ku bendung, aku menangis sejadi jadinya.
"Ibu,, bangun ibu. Jangan tinggalkan Dina seorang diri bu." Ucapku dalam tangis, tapi tetap saja ibu tak merespon apa yang aku lakukan.
Aku berlalu keluar mencari bantuan, karena rumahku jauh dari tetangga tak ada tetangga yang mendengar teriakanku.
"Tolong.. tolong..tolong.." Teriakku sambil terus bercucuran air mata.
Terlihat bu Yuli melintas menuju toko klontong beberapa meter dari rumahku. "Bu Yuli, tolong tolong ibuku."
"Kenapa Din?" Tanya bu Yuli.
"Ibu jatuh dan tak sadarkan diri, tolong ibu bu Yuli." Pintaku memelas.
Bu Yuli menghela nafas panjnag seperti enggan menolong, dugaanku benar bu Yuli justru menghinaku. "Dasar orang miskin bisanya nyusahin orang aja, apa tak tau ni aku lagi sibuk." Ucap bu Yuli.
Karena aku butuh bantuan meskipun bu Yuli menghinaku tak kupedulikan, tetap saja aku berusaha meminta tolong padanya karena hanya bu Yuli yang terlihat disini.
"Tolong lah bu. Tolong ibuku." Ucapku memelas sambil menarik lengannya. Tapi bu Yuli menarik lengannya dengan keras membuat aku jatuh terpental.
"Dasar keluarga k*r*, tak tau malu punya hutang belum di bayar, sekarang merepotkam. Sana urus saja wanita tua bangka itu." Ucap bu Yuli yang sangat menyakitkan, dan langsung meninggalkanku tak peduli melihatku yang sedang menangis dan kebingungan.
Lama kuberteriak meminta pertolongan, namun tak kunjung datang. Aku segera berlari menuju dapur, kulihat kondisi ibu yang masih sama, tergeletak tak sadarkan diri. Aku harus bisa menyelamatkan ibu, aku harus cari cara. Aku berlari keluar mencari sesuatu yang bisa membawa ibu ke rumah sakit, tak ada kendaraan satupun yang lewat.
Aku harus tetap bisa membawa ibu ke rumah sakit kucari benda sekitar terlihat grobak pasir pak Dasar yang terletak tak jauh dari rumahku, ku tarik gerobak dengan paksa mendekati rumahku. Ku letakkan gerobak di depan rumah, segera aku berlari ke dapur untuk membawa ibu ke rumah sakit terdekat. Ku kesampingkan tentang biaya, entah pakai uang darimana aku harus membayar biaya rumah sakit yang terpenting sekarang ibu harus sembuh.
Aku mengangkat tubuh ibu, Ku papah ibu menuju gerobak karena tak mungkin aku membawa ibu ke gerobak dengan menggendong beliau. Kupapah berlahan ibuku yang masih dengan mata terpejam setengah kuseret menuju gerobak. Maafkan aku bu, aku harus melakukan ini agar ibu segera mendapat pertolongan.
Kuletakkan tubuh ibu ynag sedikit berisi di gerobak yang telah aku siapkan. Ku tarik gerobak yang berisi ibuku didalamnya dengan sisa sisa tenagaku. 'Ayo Din ayo semangat pasti kamu bisa, lihat wanita yang telah melahirkanmu." Gumamku dalam hati mensugesti diri agar semangat menarik gerobak ibu.
Kutarik gerobak setengah berlari, tak kupedulikan tangan ini yang mulai perih merasakan gesekan gerobak yang kutarik. Air mata ini tak kunjung henti, 'Ya Allah berikan keselamatan pada ibuku, aku tak punya siapa siapa selain ibuku, beliau satu satunya orang yang sangat menyayangiku.' Doaku dalam hati.
Setelah menarik gerobak setengah berlari cukup lama akhirnya terlihat juga plang rumah sakit sejahtera. Gegas kupercepat langkahku, ku hentikan langkahku tepat didepan pintu masuk rumah sakit. Ku berlari memanggil suster.
"Sus,, sus,, tolong ibuku." Pintaku memelas, air mata semakin deras.
Beberapa suster menghampiriku, salah satu suster mendorong tempat tidur pasien, beberapa perawat laki laki membopong ibu,dan ditidurkan. Segera mereka dorong memasuki ruang IGD. Kuberlari mengikuti suster namun pinty IGD ditutup.
"Sus, sus." Panggilku sambil berusaha ingin ikut masuk mendampingi ibu.
Salah satu suster membuka pintu menemuiku "Maaf mbak, biarkan dokter memeriksa kondisi ibu anda terlebih dahulu." Dan kembali menutup pintu IGD.
Aku tak bisa melakukan apapun, aku hanya menangis di depan ruang IGD sambil tetap berharap hal terbaik untuk ibuku. Aku menunggu kabar dari dalam IGD dengan was was dan penuh ketakutan. Ya aku takut satu satunya orang yang aku sayang akan pergi meninggalkanku untuk selamanya.
***
Lama rasanya menunggu di luar IGD tanpa ketidak pastian. Mondar mandir kudibuatnya untuk mengurangi kegelisahan hati ini. Aku sangat takut kehilangan sosok ibu dan wanita kuat yang selalu menyayangiku serta memperjuangkanku dengan keterbatasan ekonomi sejak bapak tiada.
Kucoba ketuk pintu IGD dengan harapan ada sosok berbaju putih keluar dan memberikanku kabar baik.
"Sus sus sus." Lama tak ada tanggapan pintu tetap tertutup rapat.
Kuulangi beberapa kali mengetuk pintu IGD sampai akhirnya muncul sosok berbaju putih dari balik pimtu IGD, ya seorang dokter cantik dengan postur tinggi dan langsung membuka pintu menghampiriku.
"Keluarga ibu susi." Panggil dokter cantik menawan itu.
"Iya saya sus, saya putrinya." Jawabku mendekat.
"Maaf mbk, ibu anda terkena kanker hati stadium empat." Jelas dokter di depanku. Seketika tubuh ini terasa sangat lemas dan terduduk di lantai.
"Ya Allah ibu." Ucapku sambil menangis.
"Sabar ya mbak, sekarang kondisi ibu anda kritis butuh penanganan lebih lanjut. Tapi sebelum itu tolong ke bagian administrasi untuk mengurus biaya, jadi kami bisa segera melakukan tindakan sebelum terlambat." Jelas dokter cantik di depanku dan kembali masuk ruangan IGD.
Hati ini masih tak karuan, ku langkahkan kaki menuju ruang administrasi menanyakan biaya pengobatan ibu. Ku terima amplop putih berkop rumah sakit sejahtera yang berisi selembar kertas biaya perawatan ibu.
Ku buka amplop yang ku pegang, kulihat tertulis nomilan Dua belas juta untuk penanganan ibuku yang terbaring lemah di ruang IGD dengan tubuh penuh kabel.
"Ya Allah, dua belas juta. Dari mana uang sebanyak itu?" Gumamku. Kulangkahkan kaki menuju bagian administrasi untuk meminta keringanan.
"Maaf sus, Saya belum bisa bayar uang sebanyak itu, saya minta tolong penanganan ibu saya dulu secepatnya, saya janji saya akan bayar." Ucapku mengiba.
"Maaf mbak,kami belum bisa melanjutkan penanganan jika mbak belum mwlunasinya." Jelas bagian administrasi.
Sontak aku lemas, aku bingung aku harus bagaimana uang dua belas juta bukan uang yang sedikit, apalagi dengan kondisi ekonomi kami yang menengah ke bawah. Ku putar otak untuk mencari solusi dari masalah ini, alu harus mendapatkannya aku tak mau kehilangan ibu.
***
Kuputar otak mencari solusi 'Ayo Dina berfikir dong,semua demi ibu.' Gumamku dalam hati mensugesti diri agar semangat mencari solusi demi ibu.
Ku berlari menuju pintu keluar rumah sakit, aku berlari keluar dan tak memikirkan naik apa. Terus kepercepat langkahlu menuju rumah bu Yuli tetangga terdekatku.
Dengan nafas yang tersengal sengal karena capek lari akhirnya kau sampai di rumah bu Yuli. Ku ketuk pintu rumah bu Yuli dengan keras.
"Assalamualaikum bu Yuli." Ucapku. Tapi tak kunjung ada jawaban mungki sedang tertidur karena ini sudah jam delapan malam.
"Bu, bu Yuli. Tolong buka pintunya." Aku berharap bu Yuli segera membuka pintu dan bisa membantuku, karena aku tau bu Yuli orang kaya, suaminya bekerja diluar negeri aku yakin uang dua belas juta itu mudah baginya.
Terdengar langkah kaki mendekatibointu dan terlihat gagang pintu di tarik dari dalam.
"Kamu, mau apa kamu kesini ganggu istirahatku aja, apa kamu gak tau ini sudah malam." Ucap bu Yuli sambil terus mengusap matanya ynag terlihat sangat mengantuk.
"Maaf bu Yuli, ibuku sakit di rumah sakit, aku mohon tolong ibu, aku mau pinjam uang untuk biaya ibu." Ucapku memelas.
"Apa? Enak aja kamu bilang." Jawab bu Yuli.
"Tolong bu Yuli, untuk biaya perawatan ibu aku butuh uang dua belas juta, rumah sakit tidak bisa melanjutkan penanganan jika aku belum membayarnya bu Yuli. Kumohon bu Yuli, aku akan membayarnya dengan cara apapun." Ucapku mengiba sambil terus menangis.
"Apa dua belas juta? Kamu gila, tak mungkin aku meminjamkan uang sebanyak itu pada orang miskin sepertimu, Jangankan dua belas juta lima ratus ribupun takkan aku pinjamkan."
"Tolong kami bu, ibuku kritis ibu harus segera mendapat penanganan."
"Cepat pergi dari sini, tak akan ku pinjamkan uang padamu, enak aja mau bayar pakek apa, hutang dua ratus ribu aja belum dibayar ibumu. Sekarang mau hutang dua belas juta, gila kamu tak punya otak. Dasar keluarga miskin selalu menyusahkan orang lain." Ucap bu Yuli sambil menutup pintu dengan keras.
Aku menangis berderai air mata, Ya Allah teganya bu Yuli pada ibu. Apa dia tak ingat ketika dia membutuhkan tenaga ibu, ibu selalu membantunya. Dasar tak tau terima kasih. Gerutuku dalam hati.
Aku harus berfikir cepat kemana aku harus mencari pinjaman lagi, satu satunya harapanku telah sirna. Kupercepat langkahku sambil terus berlari. Kali ini aku berlari menuju rumah pak de Anton yang berada lima kilometer dari rumah bu Yuli.
Aku memutuskan kerumah pak de Anton, aku akan menceritakan semua. Dengan harapan pak de Anton bisa membantuku. Aku tau pak de Anton tak sekaya bu Yuli. Tapi paling tidak siapa tau pak de bisa memberikan solusi lain.
"Bismillah." Ucapku sambil terus berlari.
Langkahku mulai pelan karena capek yang kurasa berlari dari rumah sakit ke rumah bu Yuli dan sekarang harus berlari menuju rumah pak de. Sengaja aku tidak mencari ojek ya karena disakuku hanya ada uang sepuluh ribu hasil dari jualan botol bekas tadi pagi.
"Assalamualaikum pak de." Ucapku ketika sampai di depan pintu pk de Anton.
"Waalaikumsalam masuk din, ada apa kamu lari lari?" Tanya pak de penasaran.
"Ibu pak de ibu, tolong ibu." Pintaku.
"Ibumu kenapa Din?" Tanya pak de Anton dengan raut wajah tegang. Ya aku tau pak de sangat khawatir pada ibu, karena ibu adalah satu satunya saudara kandungnya.
"Ibu kritis di rumah sakit pak de." Ucapku sambil terus air mata berjatuhan kepipiku.
"Apa? Kenapa kamu baru bilang? Ibumu sakit apa?" Ucap pak de.
"Ibu sakit kanker pak de stadium akhir, aku butuh uang dua belas juta untuk membayar rumah sakit, karena rumah sakit tak akan melanjutkan tindakan sebelum aku melunasi pembayaran pak de. Apa pak de mau meminjamkan uang dua belas juta untuk biaya berobat ibu? Aku janji aku akan membayarnya." Jelasku.
Pak de Anton terlihat berfikir, aku tau uang dua belas juta bukan uang yang sedikit. Tapi tiba tiba muncul bu dhe dari belakang lemari.
" Apa mas kamu mau meminjamkan uang dua belas juta uang darimana?" Ucap budhe Tuti istri pak de Anton yang tiba tiba muncul dari belakang lemari.
"Iya dek, apa salahnya kita bantu adikku, adikku sakit keras. Toh uang itu pasti kembali kok."
"Mau bayar pakeknapa mas mereka? Buat makan aja susah, apalagi bayar dua belas juta. Uang itu juga untuk bayar kuliah Anti mas." Jawab bu dhe Tuti dengan nada tinggi.
"Budhe aku janji akan menggantinya, aku akan bekerja sekuat tenagaku budhe untuk membayar hutangku, yang penting ibu segera dapat penanganan. Tolong ibu budhe." Ucapku memohon.
"Maaf Dina, tidak bisa karena Anti juga butuh untuk bayar kuliah. Makanya ku juga harus kuliah biar kamu bisa merubah nasibmu." Ucap budhe Tuti.
Aku hanya diam mendengar perkataan budhe Tuti, pak de Anton masih berusaha membujuk istfinya, buar bagaimanapun ibu adalahal saudara satu satunya. Pak de sangat menyayangi ibu.
"Ayo lah dek itu adikku, bagaimana jika terjadi apa apa dengan Susi, dia saudaraku satu satunya."
"Sudahlah mas urus saja adik dan keponakanmu sendiri , yang jelas aku tak mau meminjamkannya karena anakku juga butuh." Ucap budhe sambil berlalu meninggalkan kami. Ya budhe memnag dari dulu memnadang keluargaku sebelah mata. Ya karena setelah bapak meninggal biaya hidup kami hnya dari botol botol bekas yang kujual kepada pengepul. Hasilnyapun tak seberapa.
"Sudahlah pak de tak masalah, Dina akan cari jalan lain. Dina permisi pak de.." Kulangkahkan kaki keluar dari rumah pak de Anton, aku kecewa beginikah nasib orang tak punya, ketika kami membutuhkan bantuan tak satupun orang yang mau membantu. Serendah itukah kami di mata mereka, meskipun kami keluarga miskin tapi kami masih punya hati nurani yang peka terhadap kesulitan orang lain. Tapi dua orang ku temui bu Yuli tetangga dekatku menolak meminjamkan uangnya takut aku tak bisa membayarnya, sedangkan budhe Tuti istri dari pakdeku saudara kandung ibu terang terangan menolak meminjamkan uang padaku.