Bab 2

1667 Kata
Bab 2 Kecewa teramat kecewa hati ini dengan orang orang disekitarku apalagi pada pakde dan budeku yang tak mau membantuku padahal mereka adalah orang orang terdekatku. Begitu sakit hati ini ketika mereka membutuhkan bantuan aku dan ibu pasti membantu jika semua itu tidak terkait uang, tapi ketika kami butuh bantuan seakan mereka menjauh tak peduli bahkan dengan mudahnya menghina aku dan ibu. Kuberlari menuju rumah sakit dengan air mata yang terus mengalir begitu deras, meratapi nasib menjadi orang tak punya yang selalu tidak dipercaya dan direndahkan. Aku berniat melihat kondisi ibu, dan melanjutkan mencari pinjaman esok hari karena waktu sudah larut. Air hujan menemani tangisku malam ini, dengan kondisi dan hati yang sangat nelangsa ku trobos hujan. Namun sebelum sampai rumah sakit, aku teringat zizah temanku yang seperti saudara sendiri. Ku putar arah, kuberlari ke rumah zizah dengan kondisi basah kuyup. Semoga zizah bisa membantuku dengan tabungan yang di milikinya. Setelah sampai di depan rumah zizah ku atur nafasku terlebih dahulu, meski tubuh ini sudah menggigil karena guyuran air hujan tetap ku ketuk pintu zizah. "Assalamualaikum, Ziz zizah, ini aku Dina." Panggilku dari luar rumah. Terdengar langkah kaki menuju pintu, terlihat zizah yang sangat ngantuk dan lelah melihat ke arahku dengan kaget. "Lhoh Dina, ada apa malam malam begini? Kok tumben?" "Aku butuh bantuanmu ziz." Ucapku lirih. "Bantuan apa Din?" Tanya Zizah. "Ibuku dirawat di rumah sakit aku butuh biaya untuk melanjutkan pengobatan ibu, ibu kritis ziz." Tangisku tertunduk didepan zizah. "Sabar ya Din, berapa biaya yang dibutuhkan Din?" Tanya zizah sambil memelukku. Begitulah zizah selalu bisa merasakan kesedihan yang aku rasakan "Dua belas juta ziz." Jawabku. Zizah terdiam sejenak, "Cukup banyak ya Din." Aku mengangguk mengiyakan ucapan Zizah. "Sebentar ya." Ucap Zizah sambil masuk ke rumah. *** "Apa? Dua belas juta akan kamu pinjamkan ke pemulung itu?" Terdengar suara suami Zizah yang lantang. "Iya mas, kasihan Dina mas, ibunya sedang kritis. Hanya ibunya satu satunya keluarganya mas. Tolong Dina mas ku mohon." Pinta zizah pada suaminya, begitulah zizah dia sahabat yang sangat mengerti aku tapi sayangnya sangat berbeda dengan suaminya. "Dua belas juta itu bukan uang yang sedikit, pakai apa dia mau mengembalikan hah?" Ucap mas Yono suami Zizah. "Dina janji akan mengembalikannya mas, setelah dia mendapat pekerjaan." Jelas Zizah. "Sekali tidak tetap tidak. Titik." Ucap mas Yono berlalu meninggalkan zizah. Aku yang mendengar semua itu menjadi tak enak hati, terlihat zizah mendekat dengan membawa kotak kecil ditangannya. "Maaf Din, mas Yobo menolak meminjamkan uang dua belas juta. Ini aku ada emas senilai lima juta rupiah kamu jual aja dulu. Kamu pakai, kalau kamu sudah ada uang baru kamu kembalikan. Maaf hanya inu yang aku punya." Ucap Zizah sambil mengelus pundakku. "Tapi ziz, bagaiman kalau suamimu tau?" Ucapku merasa tak enak. "Din yang terpenting sekarang ibumu, urusan mas Yono jnagan khawatir itu urusanku." Jelas Zizah meyakinkanku. "Terima kasih ya ziz, aku sangat berhutang budi padamu. Aku permisi ibu menungguku."Ucapku. " Iya Din, hati hati ya. Maaf hanya bisa membantu segitu." "Tak apa Ziz, terima kasih banyak." aku peluk sekali lagi sahabat baikku itu. Dan segera kulangkahkan kaki pergi meninggalkan rumah zizah, menuju rumah sakit ibu menungguku. Besok aku harus mencari kekurangannya. Kusimpan baik baik kotak perhiasan beserta isinya dari Zizah. Ku berlari menuju rumah sakit dengn tubuh basah kuyup dengan rintikan hujan yang hampir reda. Sesampai rumah sakit segera aku menuju kamar ibu, terlihat ibu berbaring dengan selang infus tertancap di tangannya. Mungkin dokter menunggu aku melanjutkan pengobatan. Setelah melihat kondisi ibu, aku langkahkahkan kaki menuju bagian administrasi menanyakan biaya dan kondisi ibu. " Mbak, untuk biaya saya baru ada setengahnya. Bisakah ibu saya segera mendapat penanganan yang kebih?" "Baiklah mbak, kami akan melakukan penanganan. Tapi besok sore harus diberesi ya." "Iya mbk." Alhamdulillah ibu akan mendapatkan penanganan yang lebih baik. Aku besok harus mendapatkan lagi kekurangan uangnya. 'Ibu harus sehat, ibu harus bertahan.' Gumamku dalam hati. Kulangkahkan kaki menuju ruangan ibu, syukurlah disana terdapat baju ganti pasien. Ku gunakan bajymu ganti itu, ku lepas seluruh pakaian. Lumayan bajuku bisa sedikit kering. Ku gantungkan baju basahku di kamar mandi. Aku duduk disamping ibu. Kupegang tangannya, "Ibu harus kuat bu, jangan tinggalkab Dina seorang diri, ibu harus sembuh." Gumamku disamping ibu. Namun tetap tak ada reaksi apapub dari ibu. Kulangkahkan kaki mengambil air wudhu, kugelar sajadah biru di samping tempat ibu berbaring. Kucurahkan seluruh isi hatiku dalam sujudku. Air mata mengalir dengan deras. Aku takut kehilangan ibu, karena hanya ibulah satu satunya keluargaku dan penyemangatku. Setelah sholat, aku kembali duduk disamping ibu. Ku tatap wajah keriput ibu, wajah yang selalu menemaniku mulai aku lahir sampai saat ini, orang yang selalu membuatku tersenyum meski dalam keterbatasan ekonomi kini berbaring lemah tak berdaya. Dalam kesedihan tak terasa karena lelah aku terdidur dengan kepala kusandarkan di tempat tidur ibu. Aku sangat lelah tenagaku terkuras dan tak berfikir mengisibperut sedikitpun karena pikiran dan tenaga terkuras mencari solusi biaya. *** Adzan subuh berkumandang, aku terbangun dengan tubub lebih segar. Ku langkahkan kaki mengambil air wudhu, ku kerjakan sholat subuh kewajibanku sebagai seorang muslim. Setelah sholat segera kuganti baju ganti penjenguk dengan bajuku yang lumayan tidak terlalu basah. Aku berpamitan pada ibu, meski tetap dalam kondisi tak sadarkan diri. Ku langkahkan kaki keluar rumah sakit, menghirup udara segar. Aku mulai berfikir memutar otak kembali mencari pinjaman uang tujuh juta sebagai kurangan biaya pengobatan ibu. Aku mencoba meminjam pada tetangga tetangga dikampungku, tapi tak ada satupun yang mau membantunya. Lebih jelasnya mereka takut aku tak bisa mengembalikannya, karena aku hanya seorang pemulung yang buat makan aja susah. Jam sudah menunjukkan pukul dua siang, aku harus dapat pinjaman sebelum petang. Tapi sampai jam empat aku belum mendapatkan pinjaman. Satu satunya jalan aku harus pinjam bang Joni rentenir di desa ini. Bang Joni menyambut kedatanganku dengan senyum ramahnya, dia menawarkan bunga empat puluh persen dari pinjaman. Aku tak bisa berfikir lama, aku iyakan saja apa syarat yang dijelaskan bang Joni. Lega akhirnya aku mendapat uang sesuai yang aku butuhkan. Aku segera berlari menuju rumah sakit, membawa uang yang kupinjam dari bang Joni dan hasil jual perhiasan Zizah. Segera kubayarkan kebagian administrasi. Tapi sesampaiku di depan kamar ibu, terlihat perawat lalu lalang keluar masuk kamar rawat ibu dengan begitu tergesa gesa, terlihat dokter sedang memeriksa kondisi ibuku. "Sus, apa yang terjadi dengan ibuku sus?" Kuberanikan bertanya pada suster yang akan masuk kamar rawat ibuku. "Maaf mbak, ibu mbak mengalamami penurunan kesadaran. Kami harus menanganinya segera." Jawab suster sambil berlalu meninggalkanku. Aku terduduk lemas dikursi tunggu, ada apa dengan ibu, kenapa ibu? Ya Allah selamatkan ibu. Batinku dalam hati sambil terus menangis dalam kesedihan. Terlihat dokter mendekati pintu keluar, gegas kumendekati dokter. Aku ingin segera tau bagaimana kondisi ibu, tapi perasaanku sungguh tak enak. "Dok bagaimana kondisi ibu?" Kuberanikan bertanya pada dokter. "Maaf mbk, kami sudah berusaha sebaik mungkin tapi Allah berkehendak lain." Jelas dokter. "Tidak mungkin dok, pasti ibuku bisa disembuhkan dok. Ku mohon dok selamatkan ibuku." Rengekku pada dokter. "Maaf mbak, takdirNYA yang terbaik, Sabar ya. Ucap dokter sambil berlalu meninggalkanku. Aku berlari memeluk jenazah ibuku, " Bangun bu bangun, jangan tinggalkan Dina sendirian ibu, Dina sudah mendapat biaya pengobatan ibu. Buka mata bu, kumohon." Sambil ku goyang goyangkan tubub ibu berharap mata ibu akan terbuka. "Ibu..." Teriakku. "Huhuhuhuhuhu." Tangisku mengisi ruangan yang hanya tersisa aku dan jenazah ibu. Aku merasa semua tak adil. Aku marah dengan orang orang egois yang tak memiliku rasa kasihan dengan orang lain. Andaikan aku dapat pinjaman uang lebih cepat ibu pasti masih hidup. "Dasar manusia manusia egois, tak berprikemanusian." umpatku. Dunia ini begitu kejam, disaat aku membutuhkan bantuan tak ada satupun yang mau membantuku kecuali Zizah. Dan kini satu satunya orang yang kusayang dan selalu ada untukku kini juga pergi meninggalkanku "Aaaarrrrrgggg.." Teriakku. Sambil terus menangis dipelukan jenazah ibuku. Sampai tak kusadari dua perawat sudah berdiri disampingku. "Maaf mbak, jenazah harus segera di mandikan dan dimakamkan." Ucap perawat. "Tunggu sus, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa bisa seperti ini?" "Maaf mbak tadi ibu mbak mengalami penurunan kesadaran, kami sudah berusaha sebaik mungkin tapi Allah lebih sayang pada beliau." Aku menangis di samping jenazah ibu sambil menyaksikan perawat melepas sumua alat medis yang terpasang ditubuh ibu. Ku lihat tubuh ibu yang masih segar namun pucat pasi tak bernyawa. "Ya Allah begitu sayang engkau pada ibuku, hingga kau ambil ibuku secepat ini. Tempatkan beliau di sisi terbaikmu Ya Allah." Gumamku dalam hati. Terlihat jenazah ibu didorong perawat keluar dari ruang rawat menuju ruang jenazah. Tak bisa kubayangkan, bagaimana duniaku setelah ini tanpa ada sosok ibu yang selalu menguatkanku. Tapi aku harus bangkit, aku harus membuktikan pada ibu dan membuat pengorbanan ibu tak sia sia. Aku harus sukses. Tekadku dalam hati sambil menunggu pengurusan jenazah ibu selesai. Tak lama kumenunggu, proses pembersihan jenazah dan segala keperluannya sudah beres. Aku mendampingi jenazah ibu di mobil ambulan. Tangisku tak terbendung kala melihatbpeti didepanku yang berisi jenazah wanita yang sangat aku sayangi terbaring kaku didalamnya. Sungguh sakit hati ini dengan kejadian beberapa hari ini, dan sungguh terpuruk diri ini. 'Ya Allah kuatkanlah aku.' Sesampainya ambulan di depan rumah, terlihat rumah sudah ramai karena sebelum aku dan jenazah ibu pulang aku menelpon Zizah meminta bantuan untuk menyiapkan rumah. Diturunkan jenazah ibu dari ambulan oleh empat orang perawat. Dibawa masuk ke dalam rumah diletakkan ditempat yang sudah disiapkan para tetangga. Terlihat bu Yuli yang acuh dengan kedatangaku tak ada rasa bersalah sedikitpun. "Hai bu Yuli dasar orang egois, andaikan bu Yuli meminjamkanku uang, ibuku pasti masih hidup." Ucapku dengan sangat marah. "Lhoh enak aja kamu bilang, memang ibumu pantas mati karena hiduppun tak berguna selalu menyusahkan orang lain." Bantah bu Yuli. Astagfirullah, dasar mulut tajam. Ingin rasanya kujambak rambut bu Yuli. Tapi sayangnya tanganku di taham Zizah. "Sudahlah Din, cukup kasihan ibumu pasti sedih melihat kamu seperti ini." Ucap Zizah, tapi benar juga aku tak boleh menyia nyiakan kepergian ibu. Aku harus menunjukkan kalau aku bisa menjadi anak kebanggaan meski kami berbeda tempat. Kulangkahkan kaki menuju rumah duka, banyak tetangga yang menyalamiku dan mengucapkan bela sungkawa padaku. Terlihat dipojok ruangan bibi Tuti yang juga acuh padaku. Tapi kuurungkan niatku untuk melabrak bibi Tuti, karena aku masih menghormati jenazah ibuku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN