Bab 3
Pemakaman ibu telah usia, duniaku sangat sepi dan sunyi tanpa kehadiran beliau. Hanya beliau satu satunya penguatku dalam keterbatasan ekonomi yang selalu membelenggu keluarga kami. Tapi kini beliau tiada disampingku lagi.
Tangis ini tak kunjung terbendung, berungtungnya aku memiliki sahabat yang sangat baik, Zizah tak pernah meninggalkanku sejak aku pulang dari rumah sakit. Tapi tiba tiba terdengar langkah kaki mendekati pintu rumah, ternyata itu langkah kaki suami Zizah.
"Zizah ayo kita pulang." Ucapnya sambil menarik tangan Zizah dengan kasar.
"Biarkan aku disini dulu mas, ijinkan aku menani Dina hari ini." Ucap Dina memelas.
"Sudah, ayo kita pulang tak perlu kamu menemani pemulung ini. Dia tak pantas jadi sahabatmu, bisanya hanya menyusahkan orang lain saja. Sama dengan ibunya." Ucap sumai Zizah dengan kasar.
Mendengar semua itu, hati ini naik pitam segera ku berdiri. Ku hadapi suami Zizah dengan berani.
"Cukup mas Yono yang terhormat, saya tau mas Yono orang berduit. Dan saya dan ibu juga tau diri kalau kami orang miskin dan dekil. Tapi bukannya orang berpendidikan dan berduit seperti mas Yono bisa lebih bijak dalam bersikap? Ngakunya berduit berpendidikan, tapi mulut dan tingkah laku seperti orang miskin yang tal berpendidikan." Ucapku geram.
"Apa kamu bilang?" Mas Yono sangat marah mengangkat tangannya ingin memukulku. Zizah segera menghentikan tangan mas Yono.
"Dasar orang miskin ngomong seenakmu aja, kamu tu jauh dibawahku jangan sok mengguruiku." Ucapnya sambil terus mengangkat tangannya yang dipegangi Zizah.
"Sudahlah mas ayo kita pulang saja. Jangan bikin Dina semakin tertekan dan bersedih dengan ulahmu." aucap Zizah sambil menarik tanganbmas Yono.
"Tunggu dulu Ziz biarkan aku mengajarkan padanya bagaimana menjaga sikap pada orang berwibawa sepertiku." Bantah mas Yono.
"Hahahaha berwibawa?" Ucapku mengejek.
"Iya aku orang yang sangat berwibawa dan disegani, kamu harus belajar menghormatiku. Apalagi kamu sudah menyusahkan istriku."
"Sudah sudah ayo kita pulang mas ayo." Tarik Zizah membawa mas Yono pulang.
Beruntung sekali mas Yono memiliki istri seperti Zizah, istri yang sangat sabar dalam menghadapi sikapnya yang kasar dan pemarah.
***
Para tetangga sudah mulai sepi, meninggalkan rumahku. Terlihat bibi Tuti yang masih terlihat di ruang tengah. Terlihat Paman mendekatiku.
"Din, maafkan paman ya."
"Sudahlah paman mungkin ini sudah jalan terbaik untuk ibu." Ucapku menghormati paman. Namun terlihat bi Tuti yang mulai mendekat.
"Sudahlah pak, tak perlu disesali biarkan saja. Malah beruntung tak ada yang menyusahkan kita lagi."
"Cukup Tuti. Kasihan Dina."
"Lhoh benar lo pak dengan ibunya Dina meninggal tak ada yang meminjam uang kita lagi." Ucap bu Tuti membuatku geram.
Hati ini tak bisa menahan "Sudah bi, aku dari tadi diam saja karena masih menghormati paman dan bibi. Mungkin kami orang miskin, tapi kami juga punya harga diri."
"Harga diri? Punya harga diri kok selalu ngutang." Ejek bu Tuti.
"Maafkan kami, kami sering merepotkan paman dan bibi, aku janji mulai saat ini aku tak akan merepotkan paman dan bibi lagi. Sekarang silahkan tinggalkan aku sendiri." Ucapku dengan tegas.
Dengan wajah cemberut bi Tuti keluar melangkahkan kaki keluar rumahku, paman mengikuti dari belakang setelah meminta maaf padaku dengan sikap bi Tuti.
Air mata ini mengalir dengan deras. "Ya Allah belum kering makam ibu, banyak orang yang menjelekkan ibu. Karena kami sering menghutang karena perekonomian yang terbatas dari hasil pemulung. Ku mohon berilah ketenangan untuk ibu disisimu Ya Rab." Ucapku dalam tangis.
Air mata ini tak kunjung henti sampai aku tertidur diruang tamu. Mungkin karena begitu lelah tenaga hati dan pikiran. Hingga terlelap tidur dalam kondisi menangis dan meringkuk.
Cukup lama aku tertidur, hingga terdengar langkah kaki mendekatiku.
"Dina."
"Ibu, ibu ada disini. Aku merindukan ibu." Ucapku meyakinkan diri dan memeluk erat wanita di depanku.
"Kamu harus kut Din, kamu harus bangkit jangan menangis. Buktikan kalau kamu bisa menjadi kebanggaan ibu. Maafkan ibu selalu menyusahkanmu." Ucap ibu.
"Iya bu Dina janji, Dina akan jadi orang sukses." Ucapku. Namun ternyata mata ini terbuka, dan semua itu hanya mimpi.
" Aku janji bu, aku akan berjuang merubah nasib biar tak satupun orang yang bisa menghina kita seenaknya."Ucapku dalam kesendirian.
Segera kuberdiri dan beberes rumah. Menyiapkan diri menghadapi dunia baruku tanpa sosok seorang ibu. Ku langkahkan kaki dengan yakin, ku bulatkan tekad untuk menjadi orang sukses. Kuputar otak apa yang harus kulakukan, aku harus bisa mengubah nasib ini.
Aku memohon petunjuk Allah apa yang harus aku lakukan disetiap sujudku. Akhirnya beberapa hari setelah kepergian ibu, aku mulai memulung lagi. Dengan tetap mencari peluang untuk memperbaiki nasib. Disela sela kegiatanku mengumpulkan barang bekas, kusempatkan diri untu membaca apapun yang aku lihat, mulai korang atau majalah majalah bekas.
Hobbyku membaca kumanfaatkan untuk menambah wawasan disetiap waktu senggamgku memulung. Apapun k****a, tak peduli politik, pendidikan ataupun kesehatan. Namun aku sangat antusias ketika menemukan bacaan kesehatan khususnya dokter dan perawat.
"Andaikan aku bisa menjadi dokter. Kan kubuktikan pada semua orang aku bisa membantu orang lain tanpa orang itu harus mengemis padaku."
Aku memulung dengan giat, tak peduli apa kata orang. Ku kumpulkan uang sedikit demi sedikit dari hasil memulung untuk pergi ke kota mencari pekerjaan yang lebih baik dan ingin kuliah dokter.
"Hai Dina, jadi orang jangan sombong belagak menggurui orang nyatanya kamu tetap aja jadi pemulung. Hahaha." Ucap mas Yono ketika berpapasan denganku.
Aku berusaha menahan diri, tak baik aku terus meladeni orang bermulut lemas seperti mas Yono. Ku biarkan mas Yono berkata sesuka hatinya aku tetap asyik memulung.
Tapi suatu hari mas Yono datang dengan penuh amarah.
"Hai Dina.." Panggil mas Yono mendekatiku ketika aku menyapu halaman rumah. Terlihat zizah dengan mata sembab mengikuti mas Yono dari belakang. Kuhentikan kegiatanku menyapu.
"Ada apa lagi mas?"
"Dasar wanita ular, sukanya memanfaatkan orang lain."
"Apa maksud suamimu Zizah?"
"Maafkan aku Din, mas Yono menanyakan emas yang aku pinjamkan padamu. Dia ingin aku memakainya diacara pertemuan keluarga besok. Aku menceritakan kalau aku pinjamkan padamu." Jelas Zizah sambil menangis merasa bersalah.
"Ow itu, maafkan aku Ziz aku membawamu dalam masalahku." Ucapku merasa bersalah.
"Sudah cukup wanita miskin, sekarang cepat kembalikan perhiasan istriku. Enak aja aku ynag membelikan kamu uang memanfaatkannya." Ucap mas Yono dengan angkuhnya dan nada tinggi.
"Maaf mas aku janji akan mengembalikannya tapi bukan sekarang ya, aku belum bisa membayarnya. Aku akan cari kerja ke kota dan akan melunasi semua hutangku pada kalian."
"Sombong kali kamu Din, cepat bayar sekarang atau aku hancurkan rumahmu."
"Kumohon mas Yono beri aku waktu satu tahun untuk melunasi semua hutangku." Ucapku memelas.
"Mas kumohon beri waktu untuk Dina untuk mengembalikan perhiasanku, Dina orang baik yang dapat dipercaya dia pasti akan mengembalikannya."
"Hah mau bayar pakek apa dia Ziz? Makan aja susah."
"Aku yakin dia akan membayarnya mas, Dina anak yang giat bekerja. Tak butuh waktu lama dia bisa mengembalikan perhiasanku."
"Oke, karena istriku ku beri kesempatan padamu melunasi hutangmu satu tahun ke depan. Tapi jika tahun depan kamu belum bisa melunasi semuanya jangan salahkan aku kalau polisi akan menangkapmu." Ancam mas Yono.
"Baik mas. Terima kasih." Terpaksa aku harus bersikap baik pada laki laki yang bermulut tajam seperti mas Yono.
"Din, maafkan aku dan suamiku ya." Ucap Dina dalam tangisnya.
"Tidak masalah Ziz, justru aku terima kasih padamu kamu selalu membantuku dalam semua hal."
Zizah memelukku dengan erat kubalas pelukan Zizah dengan hangat. Namun mas Yono menarik kasar tangan Zizah.
"Ayo pulang tak usah banyak drama dengan wanita pemulung ini."
Terpaksa Zizah memgikuti langkah suaminya pulang. Aku tenangkan diri dengan mengambil segelas air putih. Namun sebelum habis air digelas yang kupegang. Terdengar langkah kaki menuju pintu rumahku.
"Tok tok, buka pintunya." Suara dari luar sambil berteriak.
Ku lihat sosok yang datang dari jendela, astaga itu rentenir pasti menagih hutangku untuk berobat ibu.
"Cepat buka aku tau kamu didalam, jangan main main padaku." Ucap nya lantang.
Kuberanikab diri membuka pintu, dan menghadapi rentenir dan bodigardnya.
"Iya, ada apa pak?"
"Bayar hutangmu sekarang juga, ibumu sudah mati."
"Maaf pak, aku belum punya uang. Beri aku perpanjangan waktu satu tahun aku akan melunasi semuanya."
"Apa satu tahun? Jangan main main kamu bilang, kamu pikir uangku milik nenek moyangmu Hah?"
"Ku mohon pak, aku akan melunasi hutangku beserta bunganya tapi beri aku waktu satu tahun. Aku akan mencari pekerjaan yang lebih baik di kota, setelah itu aku akan melunasi hutang hutangku."
Rentenir itu diam seperti berfikir keras, apa yang akan dia putuskan. Sementara hati ini menunggu jawaban dengan hati tak terkontrol.
"Oke, kuberikan waktu satu tahun untuu melunasi hutangmu beserta bunga bunganya, tapi jika dalam waktu satu tahun kamu tidak bisa melunasi hutangmu kamu harus menikah denganku."
"Apa? Itu bukan perjanjian kita sebelumnya pak."
"Iya aku tau, ini perjanjian baru yang aku buat karena kamu minta perpanjangan waktu."
"Baiklah pak, aku terima syaratmu." Aku beranikan menyetujui syarat dari rentenir, meski hati terasa takut kalau aku akan gagal melunasi hutang dan harus menikah dengan laki laki tua inu.
"Oke." Jawabnya sambil meninggalkanku sendirian. Lagi lagi kuputar otak dengan keras. Apa yang harus aku lakukan.
Aku mulai menghitung unag yang aku kumpulkan dari hasil memulung. Ternyata sudah lima ratus ribu, aku berniat besok pagi berangkat ke kota untuk mencari pekerjaan. Ku kemasi semua barang yang aku butuhkan, termasuk berkas berkas yang biasanya dibutuhkan untuk melar pekerjaan dan kuliah.
Kubereskan semua rumah, kututupi perabot rumah yang sederhana dengan plastik supaya tidak terlalu kotor ketika aku pulang dari kota.
***
Adzah subuh berkumandang, aku bergegas bangun menunaikan ibadah sholat subuh. Aku segera mengisi perut dengan makanan seadanya. Segera kulangkahkan kaki keluar dari rumah dengan membawa tas rangsel besar. Ku kunci pintu rumah setelah kunyalakan lampu luar. Supaya kalau malam tidak terlalu gelap.
Kulangkahkan kak menuju halte bus, untungnya bus pertama ke kota belum lewat. Aku tunggu bus dihalte dengan memandang langit nan jauh disana.
"Bu aku tau ibu melihatku, ibu selalu disisiku, dan Allah selalu membimbingku. Hari ini keputusan besar kuambil bu. Aku ingin mencari pekerjaan yang lebih baik bu. Restui anakmu ini untuk bisa mendaapt pekerjaan yang lebih baik dan tidak dihina orang lagi." Gumamku dalam hati.
"Kota kota kota." Terdengar suara kernet bus menuju kota mencari penumpang. Segera kulangkahkan kaki masuk kedalam bus.
Kulalui perjalanan ke kota empat sampai lima jam, tiba juga aku di terminal kota. Jam menunjukkan pukul sembilan pagi. Langkah pertama aku harus mencari pekerjaan.
Kulangkahkan kaki mencari lowongan pekerjaan, sudah hampir sepuluh rumah makan dan toko yang aku hpiri. Namun tak ada satupun ynag bisa menerimaku karena aku belum punya pengalaman. Tapi tak masalah aku akan tetap mencoba.