Pffttt
Alfa tertawa pelan saat melihat kakaknya itu berlari mengejar anak gadisnya hingga ke depan pintu gerbang rumahnya
"Syareeen …." teriak Darren memanggil putri sulungnya itu. "Ya ampun itu anak!"
Tap tap tap
Alfa, Nadisya, si kembar Danial dan Dazriel serta Alfian ikut keluar dari rumah mengejar Darren.
Huh hah
Darren menarik dan menghembuskan nafasnya berkali-kali, ia memegang kedua lututnya lelah berlarian dari arah ruang makan hingga keluar rumah.
"Byee Papaaaa" teriak Syaren yang sudah jauh dari arah rumahnya.
"Anak itu ...." ucap Darren menggerutu kesal dengan mata yang menyipit dan kedua tangan yang berkacak pinggang.
"Percuma, gak akan bisa ke kejar, biarin aja udah," ucap Alfa.
"Udah dibilang jangan berangkat sama anak itu kenapa keras kepala?" Darren melihat sang putri yang berdiri naik ke atas sepeda di belakang Rafael.
"Turunan Papanya kali," ucap Nadisya. "Lagian kenapa sih heboh banget? Biarin aja kenapa mereka berangkat bareng, orang Rafael bawa Syaren ke hal yang positif juga, kamu aja yang riweuh!" ucap Nadisya lalu berbalik pergi.
"Ckk! Dasar!" gumam Darren saat sang istri berbalik masuk ke dalam rumah. "Kalian masuk mobil" ucap Darren pada si kembar dan keponakannya.
"Kita bawa motor yaa, Pa? Kan malu di anterin terus," ucap Daniel.
"Iyaa Uncle, kak Syaren juga ...."
"Masuk." ucap Darren.
Tanpa bantahan, Alfian, Dazriel dan Daniel masuk ke dalam mobil.
"Syaren itu keras kaya kamu, dia lagi memasuki masa remajanya, biarin aja dia menikmati masa remajanya, ga usah dilarang-larang" ucap Alfa.
"Masalahnya dia sama anaknya Rafli, buah jatuh gak akan jauh dari pohonnya, ayahnya ga bener anaknya juga pasti,-"
"Enggak!" sela Alfa "Lagian Rafael itu anaknya Diandra juga, aku yakin didikin Diandra gak akan salah," ucap Alfa lagi.
"Whatever!" ucap Darren berjalan ke arah mobilnya di ikuti Alfa.
***
Pukul 09.40
Syaren menenggelamkan kepalanya di atas meja setelah menyelesaikan hukumannya beberapa menit yang lalu.
Tap tap tap
"Besok pagi jangan ada drama lagi, biar kita ga telat terus-terusan," ucap Rafael. menempelkan minuman kaleng dingin di pipi syaren
Syaren menegakkan tubuhnya dan menyeringai "Drama itu terjadi karna aku mau bareng sama kamu," ucap Syaren mulai meneguk minuman yang Rafael berikan. "Lagian cuma hukuman ini, aku happy kok dihukum sama kamu, cerita ini bisa kita ceritakan pada anak-anak kita nanti."
Rafael tersenyum simpul namun hatinya tersenyum dengan sangat bahagia. "Jadi sekarang aku harus gimana?" tanya Rafael
"Cukup tetap terus di samping aku dan tetap memainkan drama ini bersama aku, itu udah cukup," ucap Syaren.
Rafael tersenyum dan merangkul bahu Syaren "Imbalan buat aku apa?" tanya Rafael.
"Apapun itu, Sayang." ucap Syaren memegang gemas kedua pipi Rafael
Deg
Rafael menelan ludah saat gadis di sampingnya itu menyentuh kedua pipinya dan memanggilnya dengan panggilan sayang, jantungnya bahkan mulai memompa dengan hebat.
"Raf …." panggil Syaren
"Hmm?"
"Setelah dewasa nanti, kamu beneran nikahin aku ya? Aku tidak mau hubungan kita hanya sekedar pacaran anak SMA, aku mau nanti kita bisa lebih dan jauh sampai ke pernikahan." ucap Syaren kembali meneguk minumannya.
Jantung Rafael semakin berdetak tak menentu lagi saat mendengar Syaren mengatakan memintanya untuk menikahinya nanti.
"Kita masih SMA, Sya, masa udah mikirin nikah," ucap Rafael. "Kita kan harus kuliah dulu, kerja dulu, baru setelah itu berpikir kesana."
Pffttt
"Becanda " ucap Syaren tertawa pelan.
Ding Dong
"Cepet banget, udah masuk lagi aja," ucap Syaren saat mendengar suara bel yang menandakan waktu istirahat telah selesai
Pukul 13.00
"Mau langsung pulang atau mau jalan-jalan dulu?" tanya Rafael memasukkan buku-bukunya ke dalam tas saat setelah guru mata pelajaran terakhir keluar dari ruang kelas.
"Aku lagi males pulang," ucap Syaren.
"Terus? Mau kemana?" tanya Rafael.
Tap tap tap
"Syaren? Ada surat nih, ngasihnya sih tadi pagi, tapi kamu tadi kan telat, terus pas istirahat mau ngasih tapi keburu Bu Dinda dateng," ucap seorang wanita bernama Melia, wanita itu menaruh surat berwarna biru langit itu di atas meja.
"Hm? Surat? Surat apa? Dari siapa?" tanya Syaren.
"Dari Rizky, anak kelas dua belas C," jawab Melia.
"Ahh … oke, thanks, Mel." ucap Syaren mengambil surat itu.
Melia mengangguk dan berbalik keluar dari ruang kelasnya.
"Ini Rizky yang anak IPS?" tanya Rafael.
"Hmm … Mungkin," jawab Syaren.
"Kok kamu bisa kenal sama dia? Kapan kenalannya?" tanya Rafael.
"Cieee ... cemburu ya?" goda Syaren
"Aku serius ya! Kenapa bisa kenal sama dia?" tanya Rafael lagi.
"Kemarin waktu aku nunggu kamu di depan gerbang, dia datengin aku terus ngajak kenalan, dia bahkan ngasih nomor handphonenya tapi gak aku tanggepin kok," ucap Syaren.
"Hmm …."
"Cemburu enggak?" tanya Syaren lagi.
"Kalau mau nerima dia gak pa-pa. Aku gak masalah di selingkuhin," ucap Rafael.
"Kok gitu ngomongnya?" tanya Syaren. "kamu gak sayang sama aku? Gak cinta sama aku?"
"Aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu, tapi aku yakin, sejauh apapun kamu jalan dengan pria lain, kamu pasti akan balik lagi sama aku," ucap Rafael. "Lagian paling juga bertahan gak akan sampe satu minggu, kamu itu tercipta hanya untuk aku!" ucap Rafael bangun dari duduknya dan melangkahkan kaki berjalan keluar dari ruang kelas.
"Hilihh … berbelit-belit! Bilang aja kalau cemburu!" gumam Syaren tersenyum simpul dan berjalan cepat mengejar Rafael. "Sayang tungguuu …."
Tap tap tap
Syaren merangkul pundak Rafael. "Kayanya cinta pertamaku ini beneran cemburu deh," ucap Syaren.
"Kenapa harus cemburu? Kamu mau deket sama siapapun itu kan hak kamu," ucap Rafael.
"Hmm? Oke …." ucap Syaren, ada sedikit rasa kecewa dalam hatinya. "Ya udah … aku tunggu kamu di depan gerbang kaya biasa" ucap Syaren
"Ga usah so centil dan jangan so cantik! Tunggu aja di sini" ucap Rafael lalu pergi mengambil sepedanya.
Pffttt
Syaren kembali tersenyum. "Bilang cemburu aja gengsi!" batin Syaren berucap.
Tak berselang lama kemudian.
"Naik." ucap Rafael menepikan sepedanya di depan Syaren
Syaren melangkahkan kaki berjalan ke arah belakang sepeda.
"Eehh ... tunggu-tunggu, di depan aja deh, aku lagi lemes, kamu berat!" ucap Rafael
"Emang ngaruh? Di depan atau di belakang sama aja kan?"
"Kata orang beda, udah cepet jangan banyak protes!" ucap Rafael, ia sebenernya kesal karena tadi melihat Syaren yang menerima surat dari pria lain.
Syaren mulai duduk menyamping di depan Rafael. "Kalo berat turunin aja aku di jalan, aku bisa naik angkutan umum atau ojek"
"Kalo gitu aku bisa kena semprot papa kamu" ucap Rafael mulai menggoes sepedanya.
"Karena papa aku atau gak tega?" tanya Syaren.
"Dua-duanyaa" jawab Rafael.
"Cieee yangg sayang sama aku," goda Syaren menanggahkan kepala menatap Rafael.
"Jangan banyak gerak, nanti jatuh" ucap Rafael.
"Coba kalo kamu bawa motor, kan kita,-"
"Terus aja bahas itu," sela Rafael.
"Bilang aja takut," ejek Syaren.
"Udah gak usah di bahas, jadi kita mau kemana? Ke mall? Atau mau kemana?" tanya Rafael.
"Ke mall pake seragam kaya gini? Aku bukan Jessica mantan pacar kamu itu ya!"
"Ya Allah … berapa kali aku bilang kalau aku sama dia gak pacaran!"
"Tapi waktu itu dia bilang sama Maura kalo kalian pacaran!" ucap Syaren dengan bibir yang mengerucut.
"Masa?"
"Iyaa!"
"Bodo!"
"Iihhh … Rafaaaaa! Ckk!" decak syaren
Tbc