Surat Cinta dari Guru BP

1341 Kata
"Hampir semua hukuman udah saya terapkan sama kalian, dari yang termudah sampai ke yang paling berat, bahkan ancaman memanggil orang tua kalian juga udah saya pakai tapi ternyata? Masih gak mempan, jadi saya harus gimana lagi? Saya bosen tau kasih kalian hukuman." Syaren dan Rafael yang tengah berdiri tegak berdampingan itu sontak langsung saling beradu pandang. "Gimana?" tanya Rafael berbisik. Syaren menatap ke arah guru BP yang duduk di hadapannya itu. "Kita hormat bendera lagi deh ya, Pak? Kaya kemarin," ucap Syaren "Hari ini beneran hari terakhir saya sama Rafael telat, besok kita janji gak bakal telat lagi." "Kemarin juga kamu bilangnya gak bakal telat lagi, tapi buktinya mana? Kalian masih telat kan?" "Besok beneran, Pak, gak akan lagi-lagi, hari ini beneran terakhir kita telat dateng," ucap Syaren. "Hmmm … saya gak percaya," ucapnya lagi. "Pak? Ayolah, please …." Syaren memohon sedang Rafael hanya berdiri tegak pasrah. "Kalo besok kalian telat lagi, ya terpaksa saya skors kalian, untuk hari ini … kalian hormat bendera lagi sampe jam istirahat kaya kemarin." "Alhamdulilah … Bapak baik deh," ucap Syaren tersenyum dengan sangat manis. "Jangan seneng dulu." "Maksudnya, Pak?" tanya Syaren "Saya udah feeling, kalian emang pasti telat lagi, makanya saya udah siapin," ucap Irfan hingga membuat Syaren mengerutkan alis. "Dia mau ngapain?" tanya Syaren berbisik pada Rafael saat melihat guru BP mereka itu tengah membuka laci dan mencari sesuatu di sana. Rafael menaikkan kedua bahunya tak tahu. Terlihat Pak Irfan mengambil dua buah surat dari dalam laci mejanya lalu menaruhnya di atas meja. "Kasih ke orangtua kalian, besok pagi saya tunggu disini." Syaren dan Rafael sontak langsung kembali beradu pandang lagi. "Kita kan udah di hukum, Pak, masa tetep di kasih surat ini?" tanya Rafael "Kalo gak kaya begini kalian gak bakalan kapok." "Tapi, Pak, Saya kan,—" "Kalian sudah sangat tau dengan jelas kan dimana tiang bendera dan jalan keluar ruangan ini?" sela Irfan memotong ucapan Syaren. "Sekarang ambil suratnya dan silahkan jalani hukuman kalian, besok saya tunggu orangtua kalian disini." "Ckk!" Syaren berdecak kesal. Syaren dan Rafael mengambil surat di atas meja dan berjalan keluar dari ruangan itu. Tap tap tap Klak! Rafael menutup pintu ruangan guru BP setelah ia dan Syaren keluar. "Kali ini aku beneran mati, Raf, papa aku pasti ngamuk ini, ngoceh dua puluh empat jam. Beneran mati!" ucap Syaren berjalan gontai menuju lapangan untuk menjalankan hukumannya. *** Pukul 15.00 Syaren berjalan menuruni anak tangga rumahnya, setelah sampai di lantai dasar, ia melihat ke arah kanan dan kiri melihat situasi yang sepi. Tap tap tap Ceklek "Uncle ...." ucap Syaren berbisik membuka pintu kamar pamannya dengan sangat pelan. Ia lalu masuk dan berjalan mendekati sang paman yang tengah duduk sendirian di meja kerjanya. "Kenapa?" tanya Alfa. "Aunty belum pulang?" tanya Syaren masuk ke dalam kamar sang paman lalu duduk di tepi ranjang di belakang sang paman terduduk. "Belum, masih di rumah oma, kenapa?" tanya Alfa berbalik memutar kursi duduknya hingga ia dan Syaren duduk saling berhadapan. "Enggak gak pa-pa," jawab Staten. "Hmmm … Syaren boleh minta tolong gak?" Alfa menaikkan alis kirinya. "Sudah kuduga," ucap Alfa. Hehe Syaren tersenyum menyeringai menatap sang paman. "Mau minta tolong apa?" tanya Syaren. Syaren mengeluarkan surat di saku celananya dan memberikannya pada Alfa. "Ini surat apa?" tanya Alfa. "Itu … surat cinta dari pak Irfan," jawab Syaren. Alfa mengerutkan alis, ia lalu membuka surat yang Syaren berikan dan membacanya. Beberapa menit kemudian. 'Semoga aku aman,' ucap Syaren di dalam hati, ia melihat wajah sang paman yang mulai berubah mengernyitkan dahi. "Kamu bikin ulah apa di sekolah sampe kena SP kaya gini?" tanya Alfa menatap keponakannya itu. Dengan sigap Syaren langsung menutup mulut Alfa. Ssttt "Jangan keras-keras nanti mama denger Uncle, terus kalau bilang sama papa gimana? Kan bisa abis," ucap Syaren. Alfa melepas tangan Syaren di mulutnya. "Gak sopan!" "Yaa … yaa … abisan gimana lagi," Syaren mulai tak berani menatap Uncle-nya itu, ia memang nakal, tapi ia juga yak berani jika harus berurusan dengan Ayah dan Ibunya, ia lebih berani bercerita pada pamannya karena pamannya selalu membantunya saat ia sedang berada dalam masalah. "Jelasin! Ini apa, Sya? Kenapa bisa sampe dapet kaya beginian? Kenapa kamu di SP?" tanya Alfa "Syaren sering telat dateng ke sekolah, bukan sering tapi hampir tiap hari, guru Syaren selama ini cuma ngasih hukuman karena Syaren sama Rafael peringkat di kelas terus nilai kita juga selalu paling atas, jadi mereka kasih keringanan." "Jadi setiap hari kamu di hukum?" tanya Alfa. Syaren mengangguk pelan mengiyakan. 'Waktunya memainkan drama,' ucap Syaren di dalam hati, ia menundukkan kepala dengan tangan yang memainkan kain baju yang dikenakannya. "Iya, kadang di suruh bersihin toilet, beresin buku-buku di perpustakaan, hormat bendera, banyak deh gak mungkin Syaren sebutin satu-satu, guru Syaren jahat kan?" Syaren menatap sang paman dengan wajah yang sedikit di tekuk, ia tahu pamannya itu pasti akan bersimpati. Selama ini sang paman selalu memanjakannya, pamannya itu sering membelanya saat Darren, sang ayah selalu memarahinya. "Syukurin!" ucap Alfa. "Haih ...." Syaren menelan ludah tak percaya. "Uncle kasih surat ini ke papa kamu nanti sore atau malem setelah papa kamu pulang kantor, biar kamu tau rasa!" "Loh? Kok gitu?" "Kamu itu perempuan, Sya, kenapa nakal sih? Berulah terus, emang gak capek apa? Sampe kena SP kaya begini lagi. Di hukum tiap hari, bukannya diperbaiki kesalahannya malah terus diulangi." Sayren menunduk tak berani menatap sang paman. "Syaren telat kan karna papa," ucap Syaren mulai menitikkan air mata, " kalo papa gak ganggu terus tiap pagi, enggak ngomel dan ngajak debat setiap pagi, ya Syaren sama Rafael juga gak bakal telat kok," ucap Syaren seraya terisak. Hiks hiks hiks "Kalo aja papa ijinin Syaren berangkat sama Rafael, Syaren gak bakalan telat dateng dan gak akan dihukum, Uncle tau sendiri kalau Rafael selalu dateng lebih pagi tiap harinya karena dia juga jenuh dan lelah di hukum terus, tapi papa setiap hari marah-marah terus," ucap Syaren seraya terisak. "Syaren tuh udah bilang sama Rafa untuk pergi lebih dulu biar dia gak telat lagi, tapi dia bilang dia gak bisa biarin Syaren pergi sendirian. Lagian, emangnya Rafael salah apa sih? Rafael gak pernah ngajarin Syaren yang enggak-enggak, dia malah selalu bantu Syaren biar Syaren biar bisa masuk tiga besar, tapi kenapa papa ga suka sama Rafa, dia salah apa?" Hiks hiks hiks Syaren menangis sesegukan di hadapan sang paman. Alfa yang melihat sontak langsung menelan ludah. Alfa bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Syaren, ia duduk di samping Syaren dan merangkul keponakannya itu, menariknya pelan hingga kepala Syaren bersandar di dadanya. "Ssttt … jangan nangis," ucap Alfa seraya membelai rambut Syaren. "Maafin Uncle yaa. Uncle main marah sama kamu sebelum denger penjelasan kamu." Hiks hiks hiks "Udah, jangan nangis. Besok Uncle ke sekolah kamu," ucap Alfa menenangkan. 'Pfft … yes … berhasil! batin Syaren berucap. "Jangan nangis, kan Uncle udah minta maaf," ucap Alfa. "Beneran besok mau ke sekolah?" tanya Syaren menghentikan isaknya menatap sang paman. "Iyaa, besok Uncle ke sekolah kamu dan nyamperin guru kamu," ucap Alfa seraya menghapus air mata di pipi Syaren. "Gak akan bilang sama papa kan?" tanya Syaren. "Iyaa ga akan, besok Uncle sendirian dateng ke sekolah kamunya," jawab Alfa. "Seriusan?" "Iya serius," ucap Alfa, "sekarang kamu ke kamar terus istirahat, kalau ada PR, kerjain PR-nya." Syaren tersenyum dan mengangguk pelan, ternyata air mata buayanya berhasil mengelabui sang paman, ia sudah tahu pamannya itu pasti tidak akan pernah tega melihatnya menangis menitikkan air mata. "Syaren sayang banget sama Uncle," ucap Syaren. "Uncle juga, sekarang ke kamar, Uncle mau kerjain kerjaan lagi," ucap Alfa. Share tersenyum dan mengangguk. Cup Satu kecupan Share daratkan di atas pipi Alfa. "Thanks, Uncle." Alfa balas tersenyum dan mengangguk. "Sana istirahat," ucap Alfa lagi. Syaren kembali mengangguk dan bangun dari duduknya, ia berjalan ke arah pintu hendak keluar. Tap tap tap "Alhamdulillah … aman," batin Syaren berucap, ia mengelus d**a lega. Ia lalu berjalan keluar membuka pintu kamar sang paman. Ceklek "Loh? Mamaa? Ngapain?" Syaren menatap sang ibu kaget. Terlihat ibunya itu tengah berdiri tegak seraya merapatkan kedua tangannya di d**a terlipat dengan mata yang menyipit menatapnya dengan tatapan tajam hingga membuat Syaren menelan ludah. "Mati!" gumam Syaren. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN