Syaren yang tengah duduk di bangku biasa ia terduduk itu membuka lembar demi lembar buku di atas meja. Ia lalu melihat jam di pergelangan tangannya.
"Tumben Si Rendi belum dateng jam segini," gumam Syaren. "Jangan bilang kalau dia mau ikut-ikutan ngilang juga kek Si Rafael," gumam Syaren lagi, lalu setelahnya ia berdecak saat mengingat Rafaek. "Ckk! Rafael ... kamu kemana sih? Gak ada kabar sama sekali lagi, aku kangen ...." gumam Syaren lagi.
Huuhhh
Syaren menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar, ia lalu kembali membuka lembar demi lembar lagi buku LKS miliknya di atas mejanya.
Tak berselang lama kemudian, Lisa tiba-tiba saja datang dan duduk di samping Syaren.
"Rafael gak masuk lagi?" tanya Lisa.
Syaren sontak langsung menoleh dan melihat ke arah Lisa yang duduk di sampingnya. "Kayaknya enggak, tadi pagi aku ke rumahnya dan masih sepi, kosong. Aku telfon juga gak di angkat," ucap Syaren.
"Hmm ...." Lisa mengangguk pelan mengiyakan. "Aku pikir dia sakit lagi, terakhir kan dia emang gak masuk karena demam, besoknya dia masuk dan keliatan pucet banget, jadi aku pikir dia sakit."
"Kayaknya enggak deh, kalau sakit dia pasti ada chat ngasih tau aku. Orang tuanya juga pasti ngasih tau, tapi ini satu keluarga ilang loh. Mamanya, Papanya, Kakaknya juga. Jadi aku rasa mungkin mereka lagi ada urusan keluarga. Dan kemarin aku tanya Mama aku juga jawabnya ya sama, mungkin lagi ada urusan keluarga. Bisa aja kan neneknya sakit atau saudaranya gitu," ucap Syaren.
"Iya sih, bisa jadi juga." jawab Lisa. "Jadi, sebelum Si Rafael masuk, kamu sama Si Rendi nih duduknya?"
Syaren langsung mengangguk lagi mengiyakan. "Mau gak mau, ya dari pada aku duduk sendirian kan? Sendirian gak enak tau, gak semangat! Gak ada yang bisa di ajak ghibah juga," ucap Syaren seraya tersenyum.
"Haisshh ... dasar!" ucap Lisa balas tersenyum.
Mereka lalu melihat ke arah pintu, terlihat Rendi yang berdiri di bibir pintu, melihat ke arah Syaren lalu setelahnya berlari cepat mendekati meja di mana Syaren berada.
"Awas!" ucap Rendi pada Lisa dengan nafas yang memburu lelah berlarian.
"Belum bel, Ren. Duduk di depan aja dulu kenapa," ucap Lisa.
"Gue lagi ada bahan perghibahan! Mau pada denger enggak?" tanya Rendi pada Lisa dan Syaren.
"Enggak!" jawab Syaren dan Lisa bersamaan.
Pffttt
Syaren dam Lisa terkekeh bersama setelah menjawab ucapan Rendi bersamaan.
"Haishh ... ini di jamin seru tau!" ucap Rendi menaruh tasnya di atas meja di depan Lisa lalu setelahnya ia duduk di bangku depan namun berhadapan dengan Syaren dan Lisa.
"Dapet gosip apa hm?" tanya Syaren.
"Rizky and the geng-nya ... anak kelas sebelah yang sering gangguin elu, Sya ... dia di D.O dari sekolahan!" ucap Rendi.
"Hm? Serius?" tanya Syaren menatap Rendi tak percaya.
"Serius lah, gue dapet ini bahan penghibahan dari orang yang terpercaya dan di jamin valid is true!" jawab Rendi.
"Dapet dari siapa?" tanya Lisa.
"Tadi gue lewat ruang guru kan, nah mereka lagi bahas itu, terus kan kita kalau mau ke sini ya lewat kelasnya Si Rizky juga kan? Nah, anak-anak di kelasnya itu juga lagi pada bahas Si Rizky sama gengnya, satu sekolah udah pada heboh tau," ucap Rendi.
"Aku tadi dateng lebih pagi sih, masih sepi, terus langsung fokus baca, jadi gak tau kalau lagi ada gosip kek begini," ucap Syaren.
"Aku fokus telfonan sama pacar, gak fokus sama yang lagi pada ghibah," ucap Lisa.
"Terus? Kenapa bisa di keluarin? Mereka ngelakuin kesalahan apa? Fatal banget apa sampe di keluarin segala," ucap Syaren menatap Rendi dengan tatapan serius.
"Bukan cuma di keluarin sih, Sya. Tapi, ada yang bilang mereka berurusan juga sama polisi. Kemarin ada anak yang gak sengaja liat ada polisi masuk ke ruang guru dan mereka lagi bahas kasus Si Rizky ini, pantes aja beberapa hari ini para guru rapat terus kan? Jadi mereka rapat itu karena bahas masalah Si Rizky." jelas Rendi lagi.
"Seriusan?" tanya Syaren dan Lisa bersamaan lagi.
"Serius lah," ucap Rendi. "Dan kalian tau gak? Ada yang bilang kalau Si Rizky and the gengnya juga bakalan di penjara!" ucap Rendi lagi.
"Astagfirullahaladzim," ucap Lisa menutup mulut tak percaya.
"Yang bener, Ren. Serius?" tanya Syaren juga.
"Ya ampun, Sya. Ya mana mungkin hal kaya begini aku bercanda, serius lah!" ucap Rendi.
"Tapi kesalahan fatal apa yang mereka buat sampe di keluarin dan berurusan sama polisi kaya begitu?" tanya Lisa.
Rendi menggelengkan kepalanya cepat. "Aku gak tau, tapi Si Rizky sama gengnya kan emang udah terkenal banget sama kenakalan yang mereka buat, mereka pernah kepergok ngerokok pas jam istirahat, balap liar juga. Dan untuk kasus yang ini aku gak tau, kayaknya fatal banget sih, sampe ada polisi segala kan? Di penjara loh mereka, berarti ya kesalahannya besar banget, miris banget kan? Masa-masa yang harusnya kita nikmatin dengan happy eh di habiskan di dalem penjara."
"Miris banget sih itu," ucap Lisa. "Lagian kalau nakal tuh yang sewajarnya aja kenapa, malah main-main sama polisi."
"Bener, akhirnya ngerugiin diri sendiri kan."
"Untung aja elu gak jadi sama dia, Sya. Coba kalau elu jadi sama tuh orang, lu pacaran sama narapidana!" ucap Rendi.
"Hihh ... amit-amit!" ucap Syaren seraya mengetuk meja dengan tangannya yang mengepal. "Dari dulu aku gak pernah nanggapin dia ya! Dia aja yang so kegantengan!" ucap Syaren.
"Aku bilang kan untung aja enggak!" jawab Rendi.
"Kasian sama orang tua Si Edgar sih aku, mereka orang gak punya loh, rumahnya gak jauh kan dari rumah aku. Ayahnya cuma buruh pabrik, terus sekarang anaknya kaya begini, nyesek pasti. Mana anak paling gede lagi dia, harusnya kan setidaknya nanti dia setelah lulus, bisa nyari kerja dan bantu keuangan keluarga." ucap Lisa.
"Masih kasian sama neneknya Si Gilang lah, Si Gilang kan gak punya orang tua, dia tinggal sama neneknya. Dan neneknya itu cuma jualan kue basah di pasar. Terus sekarang cucunya di penjara, mau gimana coba? Kasian banget kan?"
"Merekanya aja gak ngotak! Sebelum melakukan kesalahan itu, kenapa gak mikirin perasaan orang yang ada di rumah coba, yang susah siapa? Keluarga kan? Miris!" ucap Syaren.
"Sedenger-denger aku sih, harusnya mereka berapa lama gitu di penjara, karena udah termasuk dewasa juga, bukan di bawah umur lagi. Jadi tetep di hukum, cuma katanya ada satu pihak yang gak tega gitu, makanya hukuman mereka di kurangin, cuma berapa taun gitu ... dua atau tiga ya tadi, aku lupa! Aku keburu shock jadi aku langsung ke sini aja," ucap Rendi.
"Harusnya tadi kamu dengerin dulu sampe beres! Aku penasaran sama kesalahan yang mereka buat," ucap Syaren. "Kesalahan apa gitu sampe berurusan sama hukum."
"Tau! Bukan denger sampe beres juga," ucap Lisa.
"Haishh ... katanya gak suka ghibah!" ucap Rendi.
"Ini beda! Penghibahan yang ini seru!" jawab Lisa.
"Ya udahlah, mudah-mudahan sih mereka kapok dan jera! Biar gak ngelakuin hal yang aneh-aneh lagi!" ucap Syaren.
"Harusnya sih kapok, setelah keluar mereka menyandang predikat sebagai mantan napi loh, udah ... kelar dah! Masa depan mereka di pertaruhkan!" ucap Lisa.
Syaren langsung menatap Rendi. "Untung kamu gaulnya sama aku, Ren, coba kalau kamu gaulnya sama mereka, kamu pasti sekarang barengan sama mereka juga tuh, ada di balik jeruji besi dengan banyak penyesalan," ucap Syaren.
"Hiiihh! Amit-amit ya!" ucap Rendi, kali ini ia yang mengetuk meja dengan kepalan tangannya.
Pfftt
Syaren tertawa pelan. "Ya kan aku bilang untungnya, Ren." ucap Syaren.
"Jadi, sekarang itu kelas udah gak bakalan jadi bahan penghibahan para guru lagi dong ya," ucap Lisa. "Kan trouble maker-nya udah gak ada."
"Bisa jadi," ucap Syaren. "Emang di pikir-pikir ya … setiap guru yang habis ngajar dari kelas itu, terus ngajar di kelas kita, mereka pasti selalu aja cerita dan bilang pusing ngadepin anak-anak kelas itu," ucap Syaren lagi.
"Yang mereka maksud itu yang bikin pusing ya pasti Si Rizky and the geng-nya," ucap Rendi.
"Ya udahlah ... semoga mereka kapok dan buat kita nih yang ada di sini, sebelum melakukan apapun mending di pikir ulang, biar yang terjadi sama mereka gak terjadi sama kita," ucap Syaren. "Terutama kamu, Ren."
"Lahh ... kok aku?" jawab Rendi seraya menunjuk dirinya sendiri.
"Kamu laki tapi yang paling labil di antara kita," ucap Syaren.
"Laahh ... labil gimana?" tanya Rendi.
"Kamu mudah terpengaruh!" ucap Lisa, "Demi duit seratus ribu aja kamu rela bikin hubungan orang hampir udahan."
"Nah itu ...." ucap Syaren.
"Astagfirullahaladzim," ucap Rendi. "Itu kan posisinya aku gak tau kalau kamu sama Si Rafa punya hubungan," ucap Rendi.
"Alasan kau ferguso!" ucap Syaren dengan mata yang sedikit memicing.
"Emang nyatanya begitu," ucap Rendi.
"Eehh ... Sya? Kamu masuk? Aku pikir kamu bakalan izin," ucap Dinda tiba-tiba berdiri di samping meja.
"Izin? Kenapa aku harus izin?" tanya Syaren menatap Dinda.
"Laahh ... aku pikir kamu ke Bandara," ucap Dinda lagi.
"Ke Bandara? Ngapain aku ke Bandara?" Syaren balik bertanya. "Liburan masih lama, Din. Ngapain ke Bandara?"
"Iya, ngapain ke Bandara?" Rendi juga bertanya.
"Loh ... kalian gak tau?" tanya Dinda. "Kamu juga, Sya ... masa kamu juga gak tau," ucap Dinda.
"Tau apa?" tanya Syaren.
"Iya, tau apa?" tanya Rendi juga.
"Rafael kan sama keluarganya hari ini berangkat ke Jerman," ucap Dinda.
"APA?" tanya Syaren, Rendi dan Lisa bersamaan, mereka menatap Dinda dengan tatapan kaget tak percaya. Syaren bahkan sampai bangun dari duduknya dan berdiri tegak.
Bersambung