Merestui

1357 Kata
Syaren menutup pintu pagar rumahnya lalu berjalan ke arah pintu dengan mata yang fokus pada layar persegi panjang yang sejak tadi ia genggam, ia menyentuh nama Rafael di layar handphonenya dan melihat tanggal terakhir Rafael aktif WA. "Ckk! Dia kemana sih? Kok gak ada kabar sama sekali, bikin orang khawatir aja!" gumam Syaren, ia lalu keluar dari aplikasi w******p dan menekan gambar telepon, mencari nomor Rafael lalu setelahnya ia menempelkan handphone itu di telinganya. Tuuutt tuuttt Terdengar nada dering tersambung yang tak kunjung di angkat. "Astagfirullahaladzim ini orang kenapa sih?" gumam Syaren. Ia lalu mematikan sambungan teleponnya dan memasukkan handphone itu ke dalam saku celananya mulai kesal. Tap tap tap Ceklek "Assalamualaikum," salam Syaren setelah mendorong pintu rumahnya ke dalam, ia lalu masuk dan berjalan ke arah ruang keluarga, terlihat ibu dan ayahnya tengah berada di sana melihat ke arahnya. "Waalaikumsalam," jawab Nadisya dan Darren bersamaan menjawab salam. Syaren mengerutkan alis saat melihat ayah dan ibunya yang saling beradu pandang lalu terdiam, padahal tadi dari arah luar sayup-sayup Syaren mendengar suara orang yang tengah mengobrol. Syaren sama sekali tak memperdulikan itu, ia lalu berjalan mendekati ayah dan ibunya. "Papa kapan pulang?" tanya Syaren. "Ini baru aja sampe," jawab Darren seraya tersenyum. "Tumben Papa bisnis di luar nyampe berhari-hari tapi gak ajak Mama, cuma berdua sama uncle Al, biasanya Mama di ajak, kok ini enggak?" tanya Syaren. "Hm?" Darren menatap Nadisya lalu menatap Syaren lagi, tak mungkin kan ia mengatakan pada Syaren kalau selama tiga hari ini ia menginap di rumah sakit menemani Rafli, ia pulang ke rumah hanya untuk mengganti pakaian dan itu pun di saat Syaren sedang berada di sekolah. "Kenapa?" tanya Syaren lagi. "Soalnya bisnisnya rada rumit, Papa full di lapangan, ya Masa Mama ikut kan gak mungkin. Kalau biasanya Mama ikut, itu biasanya kerjaannya gak terlalu banyak, jadwal Papa gak terlalu padet, makanya bisa sambil refreshing," jawab Darren berbohong. "Ahh ... gitu?" Syaren mengangguk pelan mengerti dan sama sekali tak curiga dengan apa yang ayahnya katakan. Ia lalu melihat ke arah Sang Ibu. "Maa?" "Hm? Kenapa, Sayang?" tanya Nadisya. "Ateu Dian sama Uncle Rafli ada telfon Mama atau apa gitu, gak? Kok aku nelpon Rafael gak di angkat-angkat ya? Aku telfon Ateu Dian sama uncle Rafli juga sama lagi gak di angkat, aku bahkan tiap berangkat sama pulang sekolah ke rumah mereka dan mereka gak ada, rumahnya sepi banget. Ateu Dian bilang sesuatu gak sama Mama mereka kemana?" tanya Syaren. Nadisya menelan ludah, ia langsung menatap suaminya dan mereka saling beradu pandang. "Mama gak tau, Mama gak ada kontekan sama Ateu Dian," ucap Nadisya. "Yaahh ... mereka kemana ya? Kok gak ada kabar sama sekali, perasaan aku malah jadi gak enak gimana gitu," ucap Syaren. Nadisya dan Darren kembali saling beradu pandang lagi. "Mungkin mereka mudik kali, nemuin neneknya Rafael yang di ... mmhh ... di Semarang kan ya?" tanya Darren pada Nadisya. Nadisya tersenyum canggung dan mengangguk. "Mung-kin," jawab Nadisya dengan nada gugup. "Hmm ... mungkin mereka lagi ada acara keluarga dan gak bisa di ganggu, itu bisa aja kan?" "Iya sih," jawab Syaren, "Rendi juga kemarin di sekolah bilang kayak gitu," ucap Syaren. "Nah kan, pemikiran kita sama temen kamu sama," ucap Darren tersenyum canggung. "Hmmm ... okelah," ucap Syaren, "Ya udah, Syaren ke kamar dulu ya, mau ganti baju." Nadisya dan Darren tersenyum dan mengangguk pelan mengiyakan. Syaren lalu kembali melangkahkan lagi kakinya berjalan ke arah tangga hendak ke lantai atas menuju kamarnya. "Syaren?" panggil Darren. Syaren yang baru saja hendak melangkah menaiki anak tangga sontak langsung menoleh dan melihat ke arah ruang tamu lagi, melihat ke arah Sang Ayah yang masih terduduk di sana. "Hm? Kenapa, Pa?" tanya Syaren. "Papa mau tanya," ucap Darren. "Mau nanya apa?" Syaren balik bertanya. "Di sekolah, kamu suka di gangguin orang? Hmm ... maksudnya yang bikin kamu gak nyaman," ucap Darren. "Hm?" Syaren menatap langit-langit berpikir, pikirannya mengarah ke pria bernama Rizky, pria itu memang selalu mengganggunya dan selalu membuatnya merasa tak nyaman. "Ada sih, Pa ... laki-laki, dia rada nyebelin. Selalu ganggu aku dan buat aku gak nyaman, tapi untungnya selalu ada Rafael yang selalu sigap jagain aku." ucap Syaren seraya tersenyum menatap Sang Ayah, "Ya ... walau kadang mereka selalu berantem dulu sih, tapi ya setidaknya kalau ada Rafael aku berasa selamat aja gitu, bisa jauhin dia. Ehh ... tapi akhir-akhir ini … itu orang jarang ganggu aku lagi sih, mungkin dia udah mulai jenuh juga kali debat sama Si Rafa." ucap Syaren. "Hmm ... kenapa emangnya?" "Hm? Enggak, Papa cuma nanya aja," ucap Darren. "Yakin cuma nanya?" tanya Syaren. "Iya, cuma nanya." jawab Darren. "Kok aku gak percaya ya?" Syaren menatap sang ayah dengan sangat serius. Darren menelan ludah. "Serius, Papa cuma nanya doang," ucap Darren. "Tadi ... Papa liat berita," ucap Nadisya bersuara. "Ada anak SMA jadi korban bullying di sekolahnya, dia cerita sama ibunya kalau dia gak nyaman di sekolahnya. Ehh ... gak lama setelah bilang begitu, ternyata anak itu bunuh diri," ucap Nadisya beralasan berbohong. "Makanya tadi Papa nanya begitu sama kamu, takutnya kamu gak nyaman di sekolah dan jadi korban bullying juga." Pfftt Syaren tertawa pelan. "Papa ada-ada aja. Gak akan ada yang berani bully aku, Pa ... lagian Rafael gak akan pernah tinggal diem kalau aku di bully. Dia pasti lawan orang itu, aku di deketin cowok aja dia ngamuk, apalagi kalau ada yang berani bully aku. Hal kayak begitu gak akan pernah mungkin terjadi, Pa. Aku punya pahlawan yang gak pernah kesiangan," ucap Syaren seraya tersenyum. Darren juga ikut tersenyum. "Iya, kamu pasti aman kalau sama dia," ucap Darren. "Lagian Papa ada-ada aja, udah ah ... aku mau ke kamar dulu," ucap Syaren kembali melangkahkan lagi kakinya menaiki anak tangga. Nadisya dan Darren yang masih terduduk di sofa ruang tamu itu saling beradu pandang setelah melihat putri mereka menaiki anak tangga. "Aku beneran ngerasa bersalah banget sama Si Rafael, dia beneran sebegitunya jaga anak aku, bahkan sampe hampir aja memberikan nyawanya demi lindungin anak aku," ucap Darren. "Aku jadi merasa gak enak sama Diandra, Yaang. Anaknya bener-bener jaga anak kita dan melindungi banget anak kita. Syaren tuh beneran beruntung tau punya temen, sahabat kaya Rafael. Andai aja nanti mereka jodoh ... mungkin aku gak akan terlalu khawatir melepaskan anak aku untuk dia. Aku percaya Rafael bisa jaga Syaren." "Mudah-mudahan aja nanti beneran ada rasa yang sama di antara mereka," ucap Darren dengan mata menatap lurus. Nadisya langsung menoleh menatap suaminya. "Kamu restuin?" tanya Nadisya. Darren menoleh menatap Sang Istri. "Restuin?" "Barusan kamu bilang, mudah-mudahan nanti mereka punya rasa yang sama. Itu artinya secara tidak langsung kamu merestui kalau nanti di antara mereka beneran ada hubungan," ucap Nadisya. "Kamu apaan sih? Anak kamu masih sekolah! Ya kali udah kepikiran sampe kesitu," ucap Darren. "Kan aku bilang nanti Yaang, nanti!" "Ckk!" Darren berdecak. "Tapi ... sebagai seorang ayah sih, setelah melihat apa yang terjadi, aku beneran ikhlas kok kalau anak kita sama Si Rafael punya hubungan. Aku yakin Si Rafael bakalan bisa jagain anak kita seperti aku jaga anak kita. Harapan seorang ayah tuh cuma satu. Cuma mau anak gadisnya bahagia dan bisa senyum terus. Di rasa itu aja juga udah cukup. Jadi, mau dengan siapapun nanti Syaren hidup dengan pasangannya, selagi laki-laki itu berhasil buat anak aku terus tersenyum dan air mata yang keluar dari matanya itu air mata kebahagiaan, aku pasti restuin kok," ucap Darren. "Kalau laki-laki itu materinya di bawah kita, gimana? Kamu tetep merestui?" tanya Nadisya. Darren menatap sang istri dan memicingkan mata. "Gak boleh matre, Yaang! Gak boleh juga membeda-bedakan seseorang dari materi! Aku gak suka ya! " ucap Darren. "Ya Allah … aku cuma nanya doang, Yaang." ucap Nadisya membela diri. "Kalau misalnya laki-laki yang anak kamu suka materinya ada dibawah kita gimana? Gitu doang." "Kenapa mesti tanya? Aku punya perusahaan, adek aku juga punya perusahaan. Ya kita buat aja laki-lakinya jadi punya materi, kita bisa kasih dia kerjaan yang posisinya lumayan, kalau dia paham dan laki-laki yang bener dan bertanggung jawab, aku yakin dia pasti bisa nyisihin uang buat nabung untuk masa depan dia nanti." "Hmmm ... Baiknya suamiku, jadi makin sayang deh," ucap Nadisya seraya tersenyum. Darren terlihat menyeringai saat melihat mimik wajah Sang Istri yang membuatnya geli. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN