"Perhatian-perhatian semuanya," ucap Seorang Pria yang tak lain ialah ketua murid di kelas dimana Syaren berada di dalamnya, dia tengah berdiri di depan kelas hendak memberikan pengumuman.
Syaren dan Rendi yang kembali duduk bersama di meja yang sama itu sontak langsung melihat ke arah depan.
"Karena Pak Irvan ada rapat, kalian kerjain LKS Sosiologi halaman delapan puluh sampe delapan lima, di kumpulin hari ini ya."
Huuhhh
Rendi menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar. "Guru-guru kok akhir-akhir ini sering banget rapat. Ada apa ya?" tanya Rendi pada Syaren.
"Ya mana aku tau, Ren. Aku kan gak ikutan, jadi aku gak tau kenapa mereka rapat," jawab Syaren seraya membuka lembar demi lembar buku LKS di atas mejanya.
"Haisshh ...." Rendi mendelik sinis. "Kok Si Rafa bisa mau sama kamu ya? Gagal paham aku sama dia," ucap Rendi.
"Ya karena aku cantik dan mempesona," jawab Syaren seraya tersenyum seraya mengibaskan rambut dengan tangan kanannya.
"Cantik doang kalau ngomong savage, buat apa?"
"Bodo amat! Yang penting cantik!" jawab Syaren. "Lagian perkara rapat aja di tanyain, ya kan bentar lagi kita mau ujian Rendi! Ya mungkin aja kan mereka ngerapatin ujian nanti!"
"Iya juga sih ya. Kok aku gak kepikiran kesitu," ucap Rendi.
"Karena otak kamu pendek! Makanya kamu gak bisa mikir terlalu jauh! Mandeg aja terus di situ!" jawab Syaren.
"Astagfirullahaladzim, tuh mulut bener-bener ya!" ucap Rendi beristighfar dengan mata yang mendelik sinis.
"Gak usah begitu matanya, buka bukunya dan kerjain! Di kumpulin loh nanti," ucap Syaren.
"Kan ada kamu yang pinter, aku tinggal nyontek," jawab Rendi.
"Haisshh ... enak aja! Mikir ya!"
"Bodo amat!"
***
Pukul 15.00
Huuhhh
Darren menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar setelah menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang keluarga.
Nadisya yang sejak tadi sudah terduduk di sofa ruang keluarga dengan santai itu sontak langsung terduduk tegak saat suaminya tiba-tiba datang dan duduk di sebelahnya.
"Mau aku ambilin minum?" tanya Nadisya.
"Boleh deh, aku mau yang dingin. Di luar panas banget, sama kaya otak aku yang lagi panas-panasnya," ucap Darren bersandar pada sofa seraya memejamkan mata.
Nadisya langsung bangun dari duduknya dan berjalan ke arah dapur hendak mengambil minum untuk suaminya.
Tak berselang lama kemudian, Nadisya kembali mendekati suaminya lagi dan memberikan satu gelas sirup dingin rasa jeruk pada suaminya.
"Nih, minum dulu," ucap Nadisya.
Darren membuka mata dan melihat satu gelas sirup rasa jeruk di tangan Sang Istri, ia mengambil gelas di tangan sang istri dan meminum sirup itu beberapa teguk lalu menaruhnya di atas meja.
"Habis dari rumah sakit? Atau dari kantor polisi?" tanya Nadisya.
"Dari sekolah," jawab Darren.
"Sekolah?" tanya Nadisya mengerutkan alis.
Darren mengangguk pelan mengiyakan. "Iya, dari sekolah. Ngurus surat pindahnya Rafael, kemarin Si Rafli bilang, kalau nanti Rafael udah balik normal lagi dan udah sehatan, kayaknya dia lanjut sekolah di Jerman," ucap Darren.
"Hmmm ...." Nadisya mengangguk pelan mengiyakan.
"Jadinya kapan mereka berangkat?" tanya Nadisya.
"Mungkin besok, Rafael kan kudu buru-buru di ambil tindakan, gak boleh ngulur-ngulur waktu. Lebih cepet ya lebih baik, jadi mungkin besok mereka berangkat," ucap Darren.
"Syaren? Gimana?" tanya Nadisya.
Darren menatap Sang Istri dan menggelengkan kepalanya. "Aku gak tau, selagi dia gak nanya ya udah biarin aja. Lagian nanti biar Si Alfa aja lah yang ngomong," ucap Darren.
"Kok Alfa? Bapaknya kan kamu," ucap Nadisya.
"Aku bingung ngomongnya harus kaya gimana, Si Rafael pesen kalau kita gak boleh bilang ke Syaren kejadian yang sebenernya kaya gimana. Dan alasan yang dia bilang kenapa kita gak boleh ngasih tau itu masuk akal." ucap Darren
"Ya kenapa harus Alfa?"
"Karena anak kamu kalau di ajak ngobrol pasti selalu aja ngasih banyak pertanyaan yang susah banget untuk aku jawab, lah kalau aku keceplosan gimana? Aku kan orangnya keselan," ucap Darren, "Kalau Si Alfa kan rada lembut kalau ngomong, aku gak bisa kayak begitu."
"Ya kontrol emosinya," ucap Nadisya.
"Gak bisa, Yaang." jawab Darren.
"Jadi Syaren gak akan di kasih tau?" tanya Nadisya lagi.
"Kasih taunya nanti aja setelah Si Rafael udah berangkat, kalau di kasih tau sekarang dan ternyata dia nyamperin Si Rafael, ya dia bakal tau semuanya dong. Kalau dia tau semuanya ya bisa berabe, bentar lagi dia mau ujian loh, kalau sampe berdampak buruk gimana? Kalau nilainya turun, jelek dan dia gak lulus gimana?"
"Ya amit-amit," jawab Nadisya.
"Makanya, jangan sampe dia tau dulu. Nanti aja setelah Si Rafael berangkat. Untuk alasannya, biar Si Alfa yang mikir, dia kan pinter kalau urusan ngebohong," ucap Darren.
"Astagfirullahaladzim," ucap Nadisya mendelik. "Kamu begitu banget sama adek sendiri," ucap Nadisya.
"Untung banget loh dia adek aku, kalau orang lain ... hmm ... udah aku musuhin!" jawab Darren.
"Astagfirullahaladzim," ucap Nadisya beristighfar lagi.
"Semua mantan kamu itu musuh!" ucap Darren, "Kecuali Si Rafli sama Si Alfa, kenapa? Karena Si Alfa adek aku! Kalau Si Rafli ... ya karena anaknya ngelindungin anak aku! Kalau enggak mah ... hmmm ...."
"Gitu banget perasaan," ucap Nadisya.
"Terserah akulah!" jawab Darren.
"Haish ...," Nadisya mendelik sinis. "Ah iya, Yaang. Terus itu nasib anak-anak yang ngeroyok Si Rafa gimana?" tanya Nadisya.
"Ya di hukum," jawab Darren. "Harusnya mereka di penjara sekitar lima tahun enam bulanan, cuma keluarga mereka minta keringanan karena mereka masih di bawah umur, tapi usia mereka kan rata-rata udah masuk delapan belas tahun, mereka udah cukup berakal, bukan cukup lagi tapi emang udah berakal lah. Harusnya sih mereka tetep nerima hukuman sesuai pasal yang berlaku."
"Cuma ...?"
"Cuma ya itu, keluarganya minta keringanan agar jangan selama itu," ucap Darren.
"Jadi ...? Hukumannya? Apa?"
"Di D.O dari sekolahan itu udah pasti, mereka masuk black book dan yang pasti gak mungkin bisa lanjut di sekolah itu lagi, terus pengurangan hukuman sesuai dengan kesepakatan bersama, mereka dihukum dua tahun penjara," ucap Darren.
"Dua tahun penjara?" tanya Nadisya.
"Iya, kenapa?" tanya Darren.
"Itu sebentar banget, Yaang. Kenapa cuma dua tahun? Kondisi Rafael sekarang sangat, sangat dan sangat mengkhawatirkan loh, dia terancam cacat seumur hidup! Bahkan sekarang, dia ngedipin mata aja lemah banget! Dan kamu tau? Dia bahkan ada kemungkinan gak akan bisa kejar cita-cita dia sebagai atlet pemain basket atau sepak bola karena kakinya cedera sangat parah. Dan hukuman untuk para pelaku hanya dua tahun penjara? Yang bener aja, Yaang." ucap Nadisya.
"Iya aku tau, Yaang. Emang hukumannya gak seberapa, tapi aku rasa itu udah cukup buat mereka kapok dan jera kok, di usia mereka yang masih muda, mereka harus di penjara. Dua tahun cukup untuk mereka merenungi kesalahan mereka, lagian masa depan anak-anak itu juga udah gak jelas nanti akan seperti apa, sekolah mereka berhenti di tengah jalan dan nanti setelah keluar, mereka menyandang status sebagai mantan narapidana, nama mereka udah tercoreng di masyarakat. Itu cukup untuk membuat mereka jera," ucap Darren.
"Ya ... iya juga sih," jawab Nadisya.
"Lagian aku juga gak tega sama orang tua salah satu anak-anak itu, ada yang udah tua banget. Lebih tepatnya mungkin dia neneknya, dia nangis pas tadi kita rapat. Aku kan gak tega jadinya kalau liat orang tua nangis, yang udah berumur kaya begitu netesin air mata," ucap Darren.
"Diandra juga nangis liat nasib anaknya," ucap Nadisya.
"Ya aku tau dan aku juga paham, kalau aku ada di posisi dia ya aku juga bakalan sama," ucap Darren, "Cuma ya, kita mikir gini deh, kalau misal anak itu udah gak punya orang tua dan cucu satu-satunya, si nenek sangat berharap cucunya ini bisa ngangkat derajat dia gitu agar nanti dia bisa bener-bener menikmati hidup. Gimana hm?"
"Yaa ... yaa ... kenapa cucunya kurang ajar coba? Kan ngeselin," gumam Nadisya.
"Ya udah sih, intinya anak-anak itu dapet hukuman! Dan untuk si nenek itu, aku ada niat ngasih bantuan sih, tadi aku tanya sama guru di sekolah itu kalau nenek itu emang dari keluarga yang gak mampu," ucap Darren.
"Ya itu mah terserah kamu," ucap Nadisya. "Lagian Si Cucu juga gak ngotak! Udah tau hidup seadanya kenapa pake berulah segala? Saat melakukan itu, apa dia gak mikirin nasib orang-orang yang sayang sama dia?"
"Salah bergaul dia," ucap Darren. "Ah iya, Yaang. Jadi, anak-anak ini tuh satu geng gitu. Dan yang kurang ajar sama anak kita itu ketua gengnya. Dan kamu tau? Ayah dari si anak ketua geng itu, dia kerja di perusahaan Si Alfa, dia rada kaget juga pas liat aku. Karena aku kesel, akhirnya aku minta dia buat gak usah dateng lagi besok untuk kerja, lagian ternyata dia juga kerjanya gak bener, ada banyak karyawan lain yang mengeluh tentang dia."
"Hmmm? Dia marah gak? Jangan sampe nanti dia malah bikin masalah loh."
"Gak tau, mudah-mudahan sih enggak, tapi hak dia untuk marah apa? Ya itu resiko! Anaknya kurang ajar, ya terima aja udah."
"Assalamualaikum," salam Syaren tiba-tiba.
Nadisya dan Darren sontak langsung melihat ke arah pintu.
"Waalaikumsalam," jawab Nadisya dan Darren bersamaan menjawab salam Syaren.
Darren dan Nadisya saling beradu pandang lalu langsung diam tak meneruskan lagi pembicaraan mereka setelah Syaren datang.
Bersambung