Membawanya ke Jerman

1268 Kata
Darren dan Alfa berjalan mendekati Rafli yang tengah berdiri di samping ruang inap Rafael, pria itu berdiri bersandar pada tembok di samping pintu. "Rafael gimana? Ada kemajuan?" tanya Darren. Rafli langsung berdiri tegak dan berdiri satu langkah di depan Darren dan juga Alfa. Ia menggelengkan kepalanya cepat, wajahnya terlihat pucat dan tak terlihat baik-baik saja. Huuhhh. Darren menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar setelah Rafli menggelengkan kepala. "Hasil CT SCAN-nya gimana?" tanya Alfa. "Kaki kanannya patah dan terancam cacat," ucap Rafli. Darren memejamkan mata terlihat frustasi. "Tulang rusuknya juga patah, tangan kanannya juga retak, ada luka dalam juga, tapi gak parah sih, itu masih bisa di atasi. Dokter bilang untung gak ada pendarahan di otak jadi bisa di bilang masih aman, kalau ada ya udah ...," Rafli menggelengkan kepala, "mungkin waktu anak-anak itu melakukan hal itu, Rafael tutup kepalanya dengan tangan, makanya tangan kanannya juga retak kan." "Terus kakinya gimana?" tanya Darren. "Ya patah, lumayan parah. Masa penyembuhan untuk ke normal lagi itu butuh waktu yang lama, Ren. Karena yang paling parah itu tulang kakinya yang patah. Aku malah takut dia cacat seumur hidup," ucap Rafli. "Astagfirullahaladzim," ucap Alfa. "Jangan nyerah begitu," ucap Darren seraya memegang pundak Rafli menguatkan. "Pasti bisa sembuh kok." "Bener apa kata Darren, kita gak boleh nyerah, Rafael pasti bisa normal lagi, Raf, lagian ilmu kedokteran udah makin maju, kita bisa bawa dia ke luar negri kan? Yakin aja pasti balik normal lagi kok," ucap Alfa. "Aku memang mau bawa Rafael ke Jerman, Al, Ren. Aku tidak mau anakku cacat seumur hidupnya, jadi aku mau bawa dia ke Jerman untuk pengobatan di sana aja, aku udah ajuin pemindahan tugas kerja ke perusahaan cabang di Jerman dan atasan aku menyetujui, mungkin lusa atau besok lusa, aku, Diandra dan Shelia berangkat ke Jerman dan kita pasti akan menetap lama di sana," ucap Rafli. "Kalau itu lebih baik ya udah, Raf. Aku akan selalu dukung keputusan kalian, kalau ada apa-apa entah itu biaya atau apapun itu, jangan sungkan padaku ataupun Alfa. Aku dan Alfa pasti akan membantumu," ucap Darren. Rafli tersenyum dan mengangguk pelan mengiyakan. "Mungkin besok aku akan ke sekolahnya Rafael dulu ngurus surat-surat pemindahan dia, biar nanti setelah dia balik normal, dia bisa lanjut sekolahnya di sana," ucap Rafli. "Tidak perlu, biar aku saja yang urus itu," ucap Darren, "Kamu tetap di sini dan fokus pada Rafael, di saat seperti ini dia pasti sangat membutuhkanmu dan juga Diandra, masalah itu biar aku yang urus," ucap Darren. "Serius?" tanya Rafli. Darren mengangguk pelan mengiyakan. "Kamu fokus saja pada Rafael," ucap Darren lagi. "Thanks, Ren, Al, terima kasih sudah banyak membantuku, kalau kalian tidak ada di sini mungkin aku sudah bingung harus bagaimana, pikiranku benar-benar tak bisa fokus, aku tak bisa berpikir dengan jernih sekarang, pikiranku hanya satu, ingin putraku kembali seperti sebelumnya," ucap Rafli. "So, thanks for all." "Aku yang seharusnya berterima kasih, Raf." ucap Darren, "Kalau bukan karena menjaga, melindungi kehormatan dan harga diri putriku, Rafael tidak akan mungkin seperti ini, dia rela seperti ini karena dia marah pada mereka yang bersikap tidak sopan dan menganggap putriku murahan, jadi yang seharusnya berterima kasih itu aku. Aku juga minta maaf karena telah membuat putramu seperti ini," ucap Darren. "Ckk! Udah, jangan begitu, Syaren itu sudah seperti putriku juga, aku melihat dia tumbuh sejak dia di lahirkan hingga sekarang seperti aku melihat Rafael yang tumbuh juga, jika seseorang mengatakan hal buruk tentang dia, tentu aku akan melakukan hal yang sama juga. Kita sudah seperti saudara dan keluarga bukan? Saling melindungi itu biasa, aku gak marah kok. Lagian yang salah bukan Syaren, dia juga korban, yang salah itu mereka yang tidak bertanggung jawab. Lima lawan satu, jelas kalah. Mereka yang tidak punya otak!" "Terima kasih, Raf." ucap Darren. "Maaf jika selama ini aku sering membuat kamu marah." "Tak masalah, Ren. Namanya juga keluarga, berbeda pendapat atau argumen itu biasa. Justru itu malah memperkuat hubungan kita bukan?" Darren tersenyum mengiyakan. "Untuk pelaku,-" "Aku tidak terlalu peduli pada mereka, Ren." sela Rafli memotong ucapan Darren, "Terserah dengan keputusan akhir nanti. Aku tidak peduli pada mereka, aku hanya mau fokus pada kesembuhan Rafael. Hanya itu saja," ucap Rafli. Darren mengangguk pelan mengiyakan. "Aku paham, itu yang akan katakan, jangan pusing mengurusi dan memikirkan para pelaku. Serahkan saja itu padaku, pengacara aku yang akan urus semuanya, kamu hanya terima beres dan tunggu kabar dariku untuk hasilnya nanti. Fokus saja pada kesembuhan Rafael," ucap Darren lagi. "Rafael udah tau kalau dia mau di bawa ke Jerman?" tanya Alfa. Rafli mengangguk lagi. "Dia udah tau dan oke kok. Dia cuma pesen, jangan sampe Syaren tau kondisi dia sekarang, dia gak mau Syaren tau kalau sekarang dia kaya begini," ucap Rafli. "Kenapa?" tanya Alfa. "Kemarin Si Rafa juga bilang jangan sampe Syaren tau, tapi kenapa?" tanya Darren juga, "Ada baiknya Syaren tau kan? Aku yakin dia juga pasti nyariin Rafael," ucap Darren. "Sepertinya dia memang nyariin Rafael, pagi ini dia nelfon Rafael beberapa kali, dia juga nelfon Diandra, aku dan Shelia juga," ucap Rafli. "Gak kamu angkat?" tanya Alfa. "Iya, aku bingung bagaimana cara menjawab pertanyaan dia, jadi gak aku angkat," ucap Rafli. "Kenapa gak di angkat? Syaren juga harus tau," ucap Alfa. "Kemarin, waktu Rafael demam karena ujan-ujanan untuk nemuin Syaren, Rafa gak sekolah kan? Nah, Syaren tuh panik, khawatir dan bahkan nangis juga lumayan lama, dia berpikir kalau Rafael bisa sakit begitu karena dia. Dia menyalahkan diri kalau semua karena dia," ucap Rafli. Darren dan Alfa mendengarkan Rafli yang berbicara dengan serius. "Jadi Rafael tuh gak mau Syaren nangisin dia lagi. Kalian bisa bayangin kan kalau hanya demam aja Syaren menyalahkan diri dia sendiri, panik dan khawatir, nangis juga. Apalagi kalau tau sekarang kondisi Rafael begini karena jagain dia? Udah pasti Syaren bakalan nyalahin diri dia juga, dia pasti berpikir Rafael begini karena di. Dan Rafael gak mau hal itu terjadi, jadi Syaren mending jangan tau dulu, mungkin nanti setelah Rafael sehat dan normal, baru deh di kasih tau." "Ahhh ...," Darren mengangguk pelan mengiyakan begitu juga dengan Alfa, "bener juga sih apa kata Si Rafael, Syaren pasti bakalan nyalahin diri sendiri, apalagi emang nyatanya Rafael begini demi lindungin dia." "Syaren anaknya emang panikan dan rada cengeng, jadi kalau tau emang pasti nangis sih dia, aku malah takut mentalnya drop kalau tau kondisi Rafael kaya begini," ucap Alfa. "Apalagi bentar lagi mau ujian kan? Aku takut malah ganggu ke pelajaran dia nanti, jadi yang Rafael omongin memang ada bener juga" ucap Rafli. "Terus kalau nanya. kita harus jawab apa?" tanya Darren. "Kamu kan bapaknya, pinter-pinter kamu cari alasan aja, Ren, bohong sedikit gak pa-pa buat kebaikan dia ini," ucap Rafli. "Gak usah di pikirin, nanti biar aku yang ngobrol sama dia," ucap Alfa. Darren kembali mengangguk lagi. "Ya udah, kamu ke kantin dulu gih, Raf. Muka kamu keliatan pucet, pasti belum makan kan?" tanya Darren. "Di saat seperti ini mana nafsu buat makan, Ren. Waktu denger anak masuk rumah sakit karena dikeroyok orang aja aku udah panik dan gak tenang, mana ada kepikiran buat makan." "Ya tetep harus makan, jangan sampe kamu juga masuk rumah sakit. Diandra kan butuh kamu," ucap Darren. "Bener apa kata Darren, makan dulu gih. Biar aku sama Darren yang jaga di sini, kalau ada apa-apa nanti aku telfon kamu," ucap Alfa. "Kalian gak akan pulang?" tanya Rafli. "Dari kemarin kalian bolak balik kantor polisi rumah sakit loh." "Setelah kamu makan baru aku pulang," jawab Darren. "Makasih ya, Ren." "Gak usah terima kasih, ini udah kewajiban kita," ucap Darren. "Udah, sana ... cari makan dulu," ucap Alfa. "Oke, aku ke kantin rumah sakit dulu ya? Kalau ada apa-apa kalian telfon aku," ucap Rafli. Darren dan Alfa mengangguk pelan mengiyakan. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN