Dia kemana?

1189 Kata
Syaren keluar dari rumahnya hendak berangkat ke sekolah, ia melihat ke arah garasi yang nampak terlihat kosong. Ia mengerutkan alis saat tak melihat mobil Sang Ibu dan juga mobil Pamannya, hanya ada satu mobil yang biasa di pakai supir untuk mengantarkan adik-adiknya ke sekolah jika Sang Ayah tak bisa mengantarkan mereka. "Papa sama Uncle belum pulang? Apa udah berangkat? Tapi empat kurcaci masih ada di dalem, apa mereka sama supir ya?" gumam Syaren, "Mobil Mama juga gak ada, dia juga belum pulang? Siapa yang sakit sih sebenernya? Temennya yang mana coba," gumam Syaren lagi lalu kembali melangkahkan kaki ke arah pintu pagar. Tap tap tap "Ehhh ... Si Rafa kemana? Tumben belum dateng," ucap Syaren, ia melihat ke arah kanan biasa Rafael menunggunya yang nampak terlihat kosong. "Apa sepedanya masih rusak? Atau dia belum bangun? Ckk! Haisshh ...." Syaren kembali melangkahkan lagi kakinya berniat mendatangi rumah Rafael. *** (Di depan pintu pagar rumah Rafael) Syaren hendak mendorong pintu pagar rumah Rafael namun ternyata pintu pagar itu terkunci rapat dengan gembok. "Haeehh ... kok di kunci? Tumben banget di kunci," ucap Syaren. Syaren melihat ke arah pintu utama yang tertutup rapat juga. "Rafaaa ... Rafaaaa ...," teriak Syaren memanggil nama Rafael. "Ateu Diaaan ... Uncle Rafliii ... Kak Sheliaaaa ...." Syaren memanggil satu persatu orang yang tinggal di dalam sana namun tak ada jawaban sama sekali. Huuhhh Syaren menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar, ia berdiri tegak dan mengambil handphone di saku seragamnya, menyentuh ke atas dan kebawah lalu menempelkannya di telinga. Tuuuttt tuutttt Hanya ada nada dering tersambung yang tak kunjung di angkat. "Ya ampun ... ini orang kemana coba," gumam Syaren, ia lalu melihat ke arah balkon kamar Rafael. "Rafaaaaa ...." teriak Syaren lagi namun tetap tak ada jawaban, ia lalu melihat ke arah jam di pergelangan tangannya. "Ckk! Udah jam segini lagi! Apa jangan-jangan dia udah berangkat? Haish ... awas aja kalau beneran udah pergi duluan!" Syaren kembali melangkahkan lagi kakinya, pergi ke sekolah sendirian tanpa Rafael. *** (Di sekolah) Syaren mengerutkan alis saat melihat bangku dimana ia terduduk nampak terlihat kosong. "Dia juga belum dateng?" gumam Syaren, ia lalu duduk dan melihat jam di pergelangan tangannya, sekitar 5 menit lagi jam pelajaran akan segera dimulai. "Ckk! Jangan sampe dia telat, " gumam Syaren, ia terus melihat ke arah pintu berharap Rafael akan segera datang. 10 menit kemudian. Huuhhh Syaren menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar. "Apa dia di hukum ya?" gumam Syaren, ia lalu bangun dari duduknya dan berjalan keluar dari ruang kelasnya, ia berdiri di depan pagar atas lantai dua di depan kelasnya dan melihat ke arah bawah. Tak ada satu orang pun siswa yang sedang di hukum di bawah sana. Syaren menggigit bibir bawahnya, ia mulai khawatir. "Dia kemana?" gumam Syaren lalu kembali masuk dan duduk di bangkunya lagi. Tak berselang lama kemudian, Rendi tiba-tiba saja datang dan duduk di sampingnya. "Si Rafa gak masuk? Sakit lagi kah?" tanya Rendi. Syaren menggelengkan kepalanya tak tahu. "Aku gak tau," ucap Syaren. "Kok gak tau? Kamu kan pacarnya," ucap Rendi. "Dari semalem aku hubungin dia gak bisa, handphonenya gak aktif, terus tadi pagi dia juga gak jemput aku. Terus aku samperin ke rumahnya dan rumahnya juga kosong, gak ada di siapa-siapa, aku bahkan panggil semua orang dari mulai ibunya, ayahnya sampe aku panggil kakaknya juga gak ada yang nyaut. Aku telfon lagi Si Rafael, nah … nyambung tapi gak di angkat," jelas Syaren. "Kamu kan deket sama keluarganya, udah nelfon ibu atau ayahnya?" tanya Rendi. Syaren mengangguk pelan mengiyakan. "Udah, aku udah telfon ibunya dan gak di angkat juga," ucap Syaren. "Kok perasaan aku jadi gak enak ya?" "Cuma perasaan doang, mungkin aja kan Si Rafa lagi ada urusan keluarga," ucap Rendi. "Masa iya? Apa jangan-jangan mereka ke Semarang? Ke rumah mamanya ateu Dian? Tapi kok Si Rafael gak cerita sama aku, gak pamitan juga, biasanya kalau dia ke rumah neneknya pasti bilang kok," ucap Syaren. "Mungkin acaranya ngedadak banget, Sya. Dia gak sempet hubungi kamu, apalagi ini yang susah di hubungin bukan Si Rafa doang kan? Tapi keluarganya juga, bisa jadi nenek atau saudaranya ada yang sakit kan? Mereka sibuk jadi gak sempet pegang HP. Waktu nenek aku sakit dan meninggal aku juga begitu, mana sempet main HP. Yang ada panik dan fokus ke yang lagi sakit." "Iya juga sih, bener juga apa kata kamu," ucap Syaren. "Ya udah ... hari ini aku duduk di sini lagi, kamu enak di ajak ghibah, gak kek Si Sigit! Dia gak bisa di ajak ghibah!" Syaren sontak langsung mendelik sinis. "Cowok tuh LAKIK! Bukan ghibah!" ucap Syaren. "Haeelaahh ... gak tiap hari ini," ucap Rendi. "Cih!" Syaren masih memicingkan mata dan mendelik sinis. "Mau ambil tas dulu, bibirnya gak usah manyun begitu," ucap Rendi seraya mencolek dagu Syaren lalu bangun dari duduknya. "Haihh ... gak sopan ya!" ucap Syaren seraya memegang dagu yang tadi Rendi colek. Pffttt Rendi tertawa pelan. "Gitu doang ngambek," ucap Rendi lalu berbalik dan berjalan ke arah meja dimana biasa ia terduduk untuk mengambil tas. "Huuuh!" Syaren menaikkan bibir atas bagian kiri hingga terlihat mengeriting. Tak berselang lama kemudian, Rendi kembali terduduk lagi di samping Syaren, tempat biasa Rafael terduduk, ia menaruh tasnya di atas meja. "Tumben ya Bu Meila belum dateng, udah lebih lima belas menit loh," ucap Rendi. Syaren langsung melihat jam di pergelangan tangannya. "Iya ya ... tumben banget Bu Meila telat, biasanya dia tepat waktu banget loh, apalagi hari ini mau ada ulangan harian kan?" "Berharap dia gak masuk!" ucap Rendi tersenyum manis pada Syaren seraya menaik-turunkan alisnya. "Hiihh ... aku udah bangun shubuh dan belajar ya!" ucap Syaren. "Ya ampun, Sya. Kali-kali nikmatin sekolah itu buat happy-happy ngapa, belajar mulu perasaan," ucap Rendi. "Pintar pangkal kaya Rendi," ucap Syaren. Rendi sontak langsung mengerutkan alis. "Hemat pangkal kaya! Mana ada pintar pangkal kaya hah? Emang yang kaya kudu pinter apa," ucap Rendi mendelik sinis. Pfftt Syaren tertawa pelan. "Ya kira aja kamu gak tau kan peribahasa itu? Lagian bener kok, kalau kita pinter menghemat jadi kita bakalan kaya deh," ucap Syaren seraya tersenyum. "Tapi, aku yakin sih, di masa depan kamu emang bakalan jadi orang kaya," ucap Syaren. "Alhamdulillahi rabbil Alaamiin," ucap Rendi mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya mengamini ucapan Syaren. "Gimana gak kaya, di sogok seratus ribu aja kamu mau kan? Kalau di dunia luar kan lebih gede sogokannya," ucap Syaren. Rendi yang tadi tersenyum sontak langsung memicingkan mata dan mendelik sinis pada wanita yang duduk di sampingnya itu. "Apa?" tanya Syaren seraya tersenyum. "Temen lucknut!" ucap Rendi. "Apa kamu bilang?" "Perhatian-perhatian," ucap Seorang Siswa laki-laki yang Syaren dan Rendi kenal sebagai KM (Ketua Murid) kelas mereka yang tengah berdiri di depan kelas. Syaren dan Rendi langsung melihat ke arah depan. "Ada apa ya?" tanya Syaren pada Rendi. "Ya mana aku tau," ucap Rendi. "Haisshh ...." Syaren mendelik sinis. "Karena Bu Meila dan guru-guru lagi pada rapat, jadi kalian kerjain buku paket halaman seratus lima puluh tiga sampe halaman seratus lima puluh lima. Kerjain yang bab limit fungsi trigonometri sama turunan fungsi trigonometri, pake rumus ya! Sebelum istirahat di kumpulin." Yaaaahhhh Semua orang mengeluh termasuk Rendi, tapi tidak dengan Syaren, ia nampak tenang-tenang saja dengan tugas yang KM berikan. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN