Tidak akan Melepaskan

1073 Kata
Ceklek Darren, Alfa dan Rafli yang tengah terduduk di kursi panjang besi khas rumah sakit itu langsung berdiri tegak saat Polisi baru saja keluar dari ruangan dimana Rafael terbaring lemah. Mereka langsung mendekati Polisi itu. "Kami sudah mendapatkan informasi dari korban kronologinya seperti apa, akan kami tindak lanjuti kasusnya," ucap Si Polisi pada ketiga pria dewasa di depannya. "Saya mau pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal, yang mereka lakukan sudah masuk ke dalam pembunuhan berencana, mereka bahkan meninggalkan anak saya begitu saja, kalau saudara saya gak dateng, saya gak tau bagaimana dengan anak saya sekarang," ucap Rafli. "Kami akan melakukan yang terbaik untuk kasus ini, Pak." ucap Pak Polisi. "Kalau saya boleh tau, kenapa bisa terjadi seperti ini?" tanya Darren, "Apa terjadi kesalah pahaman? Anak muda biasa berselisih paham bukan? Menyayangkan sekali kejadian seperti ini harus terjadi kalau hanya karena kesalahpahaman," ucap Darren lagi. "Dari pengakuan korban, teman-temannya melakukan ini karena seorang gadis." "Apa?" tanya Rafli, Darren dan Alfa bersamaan kaget. "Karena seorang gadis?" tanya Rafli. "Anak saya di keroyok sampe begini karena seorang gadis?" "Betul sekali, Pak. Dari penuturan korban, pelaku meminta korban untuk menjauhi gadis bernama Syaren." "Apa? Syaren?" tanya Ketiga Pria itu lagi menatap Pak Polisi dengan tatapan yang semakin kaget. "Iya, pelaku meminta korban untuk menjauhi dan melepaskan gadis itu. Korban juga sempat marah saat si pelaku mengatakan 'Apa salahnya meninggalkan si gadis dan memberikannya pada si pelaku, karena nanti setelah si pelaku bosan pada si gadis, si pelaku mengatakan pasti akan memberikannya lagi' Itu yang membuat korban marah dan berhasil meninju si pelaku lebih dulu, dia bilang Si Gadis ini sahabatnya dan dia tidak terima sahabatnya di perlakuan seperti barang, korban marah saat sahabatnya di anggap tidak punya harga diri, korban memukul pelaku dua kali lalu setelahnya korban dibawa ke tempat sepi dan di keroyok oleh lima orang." jelas Pak Polisi. Huuhhh "Astagfirullah." Rafli menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar, ia mengusap wajahnya frustrasi. Tangan Darren juga dengan seketika mengepal dengan sangat kuat saat mendengar penjelasan Pak Polisi. Wajahnya berubah merah menahan marah. "Kurang ajar!" ucap Alfa bersuara tak terima. "Mereka pikir anakku itu apa hah? Lihat saja, tak akan aku biarkan mereka hidup dengan tenang setelah ini! Aku tidak peduli mereka anak bawang, anak kemarin sore atau apapun itu! Mereka berani memperlakukan anakku seperti barang murahan? Cih! Mereka bermain dengan orang yang salah!" ucap Darren. "Sabar, kita akan cari solusi untuk masalah ini," ucap Rafli seraya menepuk pelan punggung Darren. "Sabar?" tanya Rafli, "Anakmu sekarat Rafli! Anakku juga di anggap barang murah! Masih bisa berkata sabar?" tanya Darren. "Aku tidak bisa seperti itu! Berani menyenggol anakku, sama dengan memberikan nyawanya padaku!" Rafli diam tak berucap. "Pelaku sudah ada di kantor polisi?" tanya Alfa. Polisi itu mengangguk pelan mengiyakan. "Sudah, sedang kami mintai keterangan," ucap Pak Polisi, "Dan iya ... orang yang pertama kali menemui korban dan membawanya kemari, bisa ikut saya ke kantor untuk kami mintai keterangan juga sebagai saksi?" "Korban menelfon saya. Saya dan adik saya yang bawa kesini," ucap Darren. "Baik, Bapak bisa ikut saya ke kantor untuk kami mintai keterangan sebagai saksi." "Bisa, Pak. Saya juga ingin lihat wajah Si Pelaku," ucap Darren. "Baik, Pak. Bisa ikut saya," ucap Pak Polisi. Darren mengangguk pelan mengiyakan. "Aku ikut sama kamu," ucap Alfa dan di balas anggukan oleh Darren. "Aku juga," ucap Rafli. "Gak usah, kamu di sini aja, temenin Diandra. Kalian fokus ke Rafael dan untuk kasus ini biar aku sama Alfa yang urus, kamu tau beres aja." ucap Darren. "Tapi aku,-" "Mereka nyenggol anak aku juga, jadi kamu fokus dengan Rafael dan aku yang urus kasusnya di kantor polisi," ucap Darren lagi. "Oke, thanks, Ren." ucap Rafli. "Tak perlu berterima kasih, aku melakukan ini bukan hanya untuk Rafael saja tapi juga untuk putriku. Kamu gak perlu khawatir, aku pastikan mereka yang membuat anakmu seperti ini akan mendapatkan hukuman yang setimpal," ucap Darren, lalu setelahnya menepuk pelan bahu Rafli lagi. *** (Di kediaman Darren dan Nadisya) "Mau kemana, Maa?" tanya Syaren saat melihat Sang Ibu yang baru saja keluar dari kamar sudah terlihat sangat rapi. "Hm? Mau ... ke ... rumah sakit," ucap Nadisya. Syaren mengerutkan alis. "Ke rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Syaren. "Temen Mama, anaknya masuk rumah sakit," ucap Nadisya. "Hah? Siapa?" tanya Syaren. Nadisya diam sebentar, Suaminya mengatakan untuk jangan mengatakan apapun pada Syaren. Mau tak mau ia harus berbohong. "Temen Mama yang mana? Temen Mama perasaan cuma Ateu Diandra sama Ateu Nadia doang, jadi siapa yang masuk rumah sakit? Kak Shelia? Tapi Syaren liat kemarin dia sehat-sehat aja, atau Tasya? Etta? Tapi mereka bukannya di Singapure ya? Apa udah balik ke indo? Tapi tumben Si Etta gak langsung ke sini, biasanya kalau ke Indo dia suka langsung ke sini nemuin Si Daniel," ucap Syaren. "Bukan anaknya Ateu Nadia. Anaknya temen Mama yang lain," jawab Nadisya. "Temen Mama yang lain itu siapa? Punya nama kan?" "Syaren, jangan banyak tanya! Mama berangkat dulu, takut keburu gelap," ucap Nadisya berjalan menuruni anak tangga. Syaren ikut berjalan menuruni anak tangga juga. "Maa? Ini kok sepi? Orang-orang pada kemana? Papa, Uncle Al, Anty Sherly, 4 kurcaci juga pada kemana?" tanya Syaren lagi. "Papa sama Uncle Al ada bisnis, Anty Sherly di kamar, adek-adek kamu mungkin lagi pada makan di ruang makan. Kamu kalau mau makan juga makan aja duluan ya ... jangan tunggu Mama, Mama mungkin pulangnya malem, atau mungkin bisa jadi besok pagi. Kalau butuh sesuatu kamu bisa minta sama bibi," ucap Nadisya. "Mama pergi dulu ya, Nak. Assalamualaikum," ucap Nadisya lagi setelah turun dari tangga, ia mengelus pipi Syaren lalu setelahnya berjalan setengah berlari ke arah pintu. "Belum juga aku jawab, udah main kabur," gumam Syaren saat melihat punggung sang ibu yang berjalan ke arah pintu. "Waalaikumsalam!" jawab Syaren, ia lalu berjalan ke arah ruang makan. Tap tap tap Benar saja apa kata ibunya, ke-4 adik-adiknya itu tengah makan bersama di ruang makan. "Eehh ... empat anak kelinciku beneran ada disini," ucap Syaren mendekati Aileen yang duduk di samping kakaknya Alfian. Ia memainkan rambut Aileen, menyisirnya dengan jari jemarinya. "Hmmm ... diem!" protes Aileen memicingkan mata. "Anak kelinci? Kalau kita anak kelinci, kamu dedemit kelinci!" ucap Alfian mendelik sinis. "Heh ... panggil kakak! Gak sopan!" ucap Syaren. "Gini-gini aku kakak paling gede ya di sini! Kalian semua harus tunduk sama aku!" ucap Syaren duduk di kursi utama biasa sang ayah terduduk. "Bodo amat!" ucap Alfian, Aileen dan si kembar Daniel dan Dazriel bersamaan. "Haisshh ...." Syaren memicingkan mata dan mendelik sinis pada adik-adiknya itu. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN