Darren berdiri bersandar pada dinding rumah sakit di samping pintu ruang UGD, ia merapatkan kedua tangannya di d**a, menggigit bibir bawahnya dan menatap lurus berpikir. Berpikir siapakah yang berani melakukan itu pada Rafael.
Sedangkan Alfa, ia duduk di kursi besi khas rumah sakit yang menempel pada dinding di samping dimana Darren bersandar.
"Si Rafli kok belum kesini-sini? Udah di telfon kan?" tanya Alfa pada Sang Kakak.
Darren menoleh dan mengangguk pelan mengiyakan. "Dia tadi ada meeting katanya di luar kantor yang lumayan jauh dari sini, mungkin sekarang lagi di jalan," ucap Darren.
"Diandra?"
"Aku gak berani ngasih tau dia, mungkin Si Rafli yang ngasih tau, bisa jadi dia jemput Si Diandra dulu baru ke sini, makanya lama," jawab Darren.
Alfa mengangguk pelan mengiyakan. "Polisi? Gimana?" tanya Alfa lagi.
"Tadi begitu aku telfon mereka bilang langsung ke TKP, aku juga udah bilang kok ada CCTV yang pas banget mengarah ke pas Si Rafael aku temuin, kalau itu CCTV nyala, harusnya sih ketauan siapa yang ngelakuin," ucap Darren.
"Menurut kamu siapa?" tanya Alfa.
"Enggak mungkin preman sih, aku udah telfon dan tanya sama satpam komplek. Dan gak ada orang yang keluar atau masuk yang mencurigakan, cuma orang-orang komplek, sanak saudara yang satpam pun kenal, sama ada beberapa anak SMA. Dan mereka keluar sambil lari-lari," jelas Darren.
"Anak SMA lari-lari?" tanya Alfa mengerutkan alis.
Darren mengangguk pelan mengiyakan. "Aku curiga ini ulah anak-anak itu, mungkin aja kan mereka berselisih paham atau ada masalah gitu. Anak jaman sekarang kan kalau ada masalah pasti mainnya kekerasan," ucap Darren.
"Ada benernya juga sih," jawab Alfa.
Ceklek
Suara pintu ruang UGD terbuka, Darren dan Alfa langsung berdiri tegak, terlihat seorang dokter keluar dari sana. Mereka langsung mendekati Sang Dokter dan berdiri sekitar satu langkah di depan dokter itu.
"Gimana, Dok? Gak ada yang perlu di khawatirkan kan?" tanya Darren.
Dengan wajah pasrah dan lemah, Dokter itu menggelengkan kepala cepat. "Saya juga mengharapkan seperti itu, tapi nyatanya tidak begitu, Pak." ucap Dokter itu.
"Astagfirullah," ucap Darren dengan nada pelan.
Tap tap tap
Seorang Pria mengenakan jas putih yang biasa di pakai dokter tiba-tiba saja datang dan berdiri di samping Darren.
"Kak Darren? Sorry, Dennis habis periksa pasien," ucap Dennis, Adik dari Diandra sekaligus Adik ipar Darren dan Alfa. "Kenapa? Rafael kenapa?" tanya Dennis.
"Di keroyok orang kayaknya," jawab Darren.
"Astagfirullah," jawab Dennis lalu menatap Dokter yang berdiri di samping Darren. "Dokter Rizvan? Gimana? Keponakan saya gak pa-pa kan? Gak ada luka dalam kan?" tanya Dennis.
"Sayangnya ada luka dalam, Dokter Dennis, bahkan lumayan parah. Dan saya curiga tulang lutut kaki kanannya dan juga tulang rusuknya patah," ucap Dokter itu lagi.
"Astagfirullah," ucap Dennis, Alfa dan Darren bersamaan.
"Kita akan lakukan CT Scan untuk memastikannya."
Dennis mengangguk pelan mengiyakan.
"Saya tinggal dulu, Pak, Dokter Dennis," ucap Dokter itu pada Darren, Alfa dan juga Dennis.
Darren, Alfa dan juga Dennis mengangguk pelan mengiyakan, Dokter itu lalu melangkahkan kakinya dan pergi.
Dennis lalu menerobos masuk setelah dokter itu pergi, terlihat dua orang suster tengah memakaikan kain kasa menutup luka di lengan, kaki dan juga hidung Rafael.
Lalu, tak berselang lama kemudian, dua suster itu keluar dan tersenyum ramah pada Dennis.
Dennis balas tersenyum lalu mendekati Rafael yang setengah sadar, mengedipkan mata dengan sangat perlahan melihat satu persatu orang dewasa di depannya.
"Uncle tau tidak ada yang baik-baik saja denganmu, tapi kamu harus kuat," ucap Darren, "Syaren bakalan nangis kalau tau kamu kaya begini," ucap Darren lagi.
Rafael menggelengkan kepalanya perlahan. "Ja-ngan kasih tau Sya-ren." ucap Rafael dengan nada yang sangat pelan.
Darren mengangguk pelan. "Uncle gak akan kasih tau dia dulu," ucap Darren.
"Kamu inget siapa yang ngelakuin ini sama kamu?" tanya Alfa.
Rafael mengangguk pelan mengiyakan. "Rizky sama temen-temennya," ucap Rafael.
"Rizky? Temen kalian di sekolah?" tanya Darren.
Rafael mengangguk lagi mengiyakan.
"Apa aku bilang, pasti anak laki-laki yang satpam kasih tau, mereka pelakunya," ucap Darren.
Alfa mengangguk juga lalu kembali menatap Rafael lagi. "Ya udah, kamu jangan mikir yang lain-lain dulu, fokus untuk sehat aja dulu," ucap Alfa seraya mengelus rambut Rafael dengan sangat lembut. Ia memang tipe laki-laki yang sayang pada anak, keponakan-keponakannya dan juga anak dari sahabat-sahabatnya.
Sejak kecil sampai dewasa, Alfa bisa di katakan ditelantarkan oleh Sang Ibu, ia pernah berada di fase yang terasa sangat sulit untuk bertahan hidup setelah Sang Ayah tiada. Masa remajanya sudah sangat keras, bahkan saat menginjak dewasa, ia menghabiskan masanya dengan hidup bebas, club malam dan minuman keras adalah dunianya waktu itu.
Namun setelah bertemu dengan istri pertama Sang Ayah yang tak lain Ibu dari Darren, hidupnya berubah karena nyatanya ibu tiri jauh lebih memperlakukannya sebagai anak di banding ibu kandungnya. Makanya sekarang, ia memperlakukan anak, keponakan dan juga anak dari sahabatnya dengan sangat lembut, ia tak ingin mereka merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan dulu.
Ceklek
Suara pintu terbuka, terlihat Diandra dan Rafli berdiri di bibir pintu, Diandra langsung berlari mendekati ranjang dimana Rafael terbaring. Wajahnya sudah terlihat sangat merah dan juga basah dengan air mata. Rafli juga berjalan mendekati ranjang.
Tangis Diandra semakin pecah saat melihat Sang Putra yang terlihat sangat mengkhawatirkan.
"Rafaaa ...." panggil Diandra seraya terisak.
"Kok bisa begini? Kenapa?" tanya Rafli.
"Kita ngobrol di luar," ucap Darren.
Rafli mengangguk pelan mengiyakan lalu setelahnya keluar.
"Dennis di sini aja, Kak. Nemenin Kak Dian," ucap Dennis.
Alfa dan Darren mengangguk pelan mengiyakan lalu setelahnya mereka keluar.
Tap tap tap
Klak
Alfa menutup pintu ruang UGD.
"Kenapa?" tanya Rafli.
"Aku tidak tahu jelasnya seperti apa, yang jelas ... tadi anak kamu telfon aku dan minta tolong, aku samperin karena ya suaranya dia terdengar gak ada yang baik-baik aja, pas aku samperin ya dia udah kaya begitu. Aku telfon Alfa dan langsung bawa dia kesini," ucap Darren menjelaskan.
"Perkiraan kita dia di keroyok sama temen-temennya di sekolah, entah ada masalah apa di antara mereka ya kita gak tau, nanti bisa kita tanya ke anaknya langsung," ucap Alfa bersuara.
Huuuhh
"Astagfirullah," Rafli mengusap wajah dan menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar.
"Aku udah telfon polisi kok," ucap Darren seraya menepuk pelan punggung Rafli. "Kamu tenang aja, pelakunya gak akan pernah hidup tenang setelah ini."
Lalu, tak berselang lama kemudian, 2 orang polisi tiba-tiba saja datang mendekati, Darren, Alfa dan juga Rafli.
"Selamat sore, betul dengan keluarga dari Rafael?" tanya salah satu Polisi itu.
"Iya, saya ayahnya," ucap Rafli.
Polisi itu mengangguk. "Kami sudah menemukan pelaku melalui kamera CCTV dan juga dari saksi satpam komplek."
"Alhamdulillah," ucap Darren dan Alfa bersamaan.
"Terus, Pak? Bagaimana?" tanya Rafli.
"Kami butuh penjelasan dari korban kronologinya seperti apa," ucap Polisi itu lagi.
Bersambung