"Mau kemana?" tanya Nadisya saat melihat Suaminya menuruni anak tangga seraya memakai jaket kulit berwarna coklat, "Udah mau ujan loh ini," ucap Nadisya.
Darren melihat ke segala arah lalu melihat ke arah pintu kamar Syaren di lantai 2 yang tertutup rapat. "Syaren mana?" tanya Darren.
"Aku liat tadi dia ke atas, mungkin di kamarnya," jawab Nadisya, "Kenapa emang? Terus itu kamu mau kemana?" tanya Nadisya lagi.
"Si Rafael barusan tuh nelpon, dia minta tolong sama aku untuk samperin dia, dari suaranya aku rasa gak ada yang baik-baik aja," ucap Darren, "Dia bilang kalau dia gak bisa ngapa-ngapain, dia kayak nahan nyeri gitu, terus dia minta tolong juga sama aku. Aku jadi rada parno gitu, takut dia kenapa-kenapa, makanya ini mau aku samperin," ucap Darren menjelaskan pada Sang Istri.
"Dia dimana sekarang?" tanya Nadisya ikut khawatir juga.
"Dia udah share location dan lokasinya gak jauh dari sini, makanya aku mau kesana sekarang," ucap Darren, "Aku pergi dulu ya ...." ucap Darren seraya mengelus pipi Nadisya.
"Aku ikut," ucap Nadisya.
"Jangan, kamu di rumah aja."
"Tapi, Yaang,-"
"Di rumah, Yaang. Bentar lagi juga mau ujan kan, jadi kamu di rumah aja," ucap Darren.
"Ya udah deh, oke." jawab Nadisya.
Darren kembali mengelus lagi pipi Nadisya. "Ahh iya ... Rafael pesen sama aku, jangan sampe Syaren tau, jadi nanti kamu diem aja, jangan ngasih tau dia," ucap Darren.
Nadisya mengangguk pelan mengiyakan. "Iya, aku gak akan ngomong apa-apa sama anak kamu," ucap Nadisya.
Darren mengangguk lalu setelahnya ia berjalan setengah berlari ke arah pintu hendak keluar.
"Hati-hati," ucap Nadisya setengah berteriak saat Suaminya itu pergi.
"Iya," jawab Darren lalu setelahnya ia keluar dari pintu lalu berjalan setengah berlari lagi ke arah pintu pagar.
Darren berjalan cepat ke arah lokasi di mana Rafael berada, ia menatap layar handphonenya lagi melihat apakah ada pesan lagi dari Rafael atau tidak, namun nyatanya tak ada, ia juga berusaha menelpon lagi Rafael namun tak ada jawaban, hanya ada nada dering tersambung yang tak kunjung di angkat.
"Ckk! Bikin orang panik aja ini anak," gumam Darren lalu kembali berjalan setengah berlari.
Tap tap tap.
Darren berlari hingga akhirnya ia berada di perempatan jalan komplek, ia menatap lurus dan juga melihat ke arah kiri yang nampak sepi. "Harusnya sih dia ada di sini," ucap Darren seraya menatap layar handphonenya.
Tes
Bulir bening kristal dari arah langit menetes membasahi layar handphonenya. "Ckk! Jangan dulu hujan please ...." Darren lalu melihat ke arah kanannya, matanya melihat ke arah seorang pria mengenakan seragam SMA tengah terbaring meringkuk di atas aspal. "Astagfirullahaladzim," ucap Darren langsung berlari mendekati laki-laki yang terbaring lemah di atas aspal itu.
Tap tap tap
"Astagfirullahaladzim, Rafael? Kamu kenapa?" tanya Darren berjongkok, terlihat wajah Rafael yang sudah pucat dan hampir tak sadarkan diri, tangan kanan dan kirinya juga sudah mulai terlihat penuh lebam dan lecet. Ada sedikit noda darah atas hidungnya, bibir dan juga di lengannya.
Darren memegang tubuh Rafael berniat membantu Rafael untuk bangun dari posisinya.
"Aarrgghhh ...." teriak Rafael saat ia berusaha menggerakkan kaki kanannya yang tadi di injak dengan sangat keras itu terasa sangat nyeri. "Rafa gak sanggup, Uncle. Rafa gak bisa berdiri, kaki Rafa sakit banget." ucap Rafael dengan nada pelan.
"Kamu kenapa? Siapa yang buat kamu kayak begini?" tanya Darren.
Bukannya menjawab, Rafael malah memejamkan mata tak tahan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, terutama di kaki kanannya.
"Kamu bangun, kita ke rumah sakit sekarang," ucap Darren.
Uhuk uhuk uhuk
Rafael terbatuk dan menggelengkan kepala. "Gak bisa bangun, kaki Rafa sakit banget," ucap Rafael.
Hiks hiks hiks
Rafael sedikit terisak tak tahan menahan sakit.
"Uncle gendong sampe depan, ayo. Kamu pasti bisa," ucap Darren berusaha membantu Rafael untuk bangun dari posisinya lagi.
"Aa-aarrhhh ... sakit," ucap Rafael lagi saat ia berusaha terbangun namun kakinya sama sekali tak bisa menahan berat badannya. Ia kembali terbaring lagi, menatap langit sebentar dan memejamkan mata, tubuhnya bukan hanya terasa nyeri tapi juga lemas. "Rafa gak tahan," ucap Rafael dengan mata terpejam.
Darren bingung harus bagaimana, ia terlalu panik hingga tak bisa berpikir sama sekali. Melihat Rafael yang lemah dan tak berdaya membuatnya takut dan tak bisa berpikir jernih.
Darren lalu berusaha memegang tubuh Rafael dan membantu Rafael agar terduduk, ia lalu menyandarkan kepala Rafael di dadanya.
"Kamu naik ke punggung Uncle oke? Tahan sedikit nyerinya," ucap Darren.
Rafael menggelengkan kepala dengan sangat pelan tak bertenaga.
"Ckk! Aku harus gimana?" gumam Darren. "Sialan! Siapapun yang melakukan ini, akan ku pastikan hidupnya tak akan pernah aman setelah ini!" ucap Darren.
Darren menggigit bibir bawahnya berpikir.
"Alfa! Aku suruh dia datang kesini dan bawa mobil aja kesini ya ...," gumam Darren, ia lalu merogoh saku celananya dan mengambil handphone hendak menghubungi Alfa.
Uhuk uhuk uhuk
Rafael terbatuk lagi.
"Kamu sabar ya, tahan sebentar aja. Uncle telfon Uncle Al dulu biar dia bawa mobil kesini," ucap Darren dengan handphone yang sudah menempel di telinga.
Rafael diam tak menjawab ucapan Darren, ia memejamkan mata seraya memegang perut yang semakin terasa sangat nyeri.
Uhuk uhuk uhuk
Huweekk
Rafael terbatuk lalu setelahnya mengeluarkan cairan berwarna merah dari mulutnya.
"Astagfirullahaladzim," ucap Darren saat melihat cairan berwarna merah keluar dari mulut Rafael hingga membasahi seragam yang dikenakannya.
Darren melihat wajah Rafael yang semakin pucat, air mata juga terlihat dari sudut matanya. Membuat Darren yang melihatnya semakin panik.
[Halo?]
"Halo? Alfa? Kamu bawa mobil kesini sekarang!" ucap Darren setelah mendengar Alfa menjawab teleponnya.
[Kemana?] tanya Alfa di seberang sana.
"Gak jauh dari rumah, kamu tau kan lapangan yang dulu biasa kita main badminton? Di perempatan yang gak jauh dari lapangan itu kamu belok kanan. Ada dua rumah kosong kan, nah sekarang aku lagi di situ," ucap Darren dengan nada panik.
[Kamu lagi ngapain di situ?]
"Jangan banyak tanya Alfa! Aku suruh kesini ya kesini! Cepet! Jangan banyak protes!" ucap Darren.
[Oke, aku kesana sekarang.]
"Bawa mobil!" ucap Darren lagi.
[Iyaa ....]
Pip_
Darren mematikan sambungan teleponnya sepihak, ia lalu melihat Rafael lagi. Melihat noda darah di seragam yang Rafael kenakan membuatnya semakin takut.
"Bilang sama Uncle, siapa yang buat kamu kaya begini hah?" tanya Darren.
Rafael diam tak menjawab, ia masih memejamkan matanya tak tahan menahan nyeri sejak tadi. Tubuhnya benar-benar terasa hancur lebur.
Sembari menunggu Alfa datang, Darren melihat ke sudut atas rumah orang lain atau ke tempat-tempat yang memungkinkan ada CCTV terpasang. Komplek perumahan di mana ia tinggal cukup elit, mustahil jika tiap rumah tak memiliki CCTV.
Matanya berhasil melihat ke arah satu CCTV yang terpasang tepat di ujung sudut garasi rumah di samping kanan sebelah rumah kosong.
"Tak akan aku biarkan dia yang melakukan ini lolos!" ucap Darren.
Beberapa menit kemudian.
Sebuah mobil berwarna hitam menepi tepat di depan Darren dan Rafael. Terlihat Alfa keluar dari mobil dan berjalan cepat mendekati mereka.
"Ya ampun, ini Si Rafael kenapa?" tanya Alfa berjongkok di hadapan Darren.
"Jangan banyak tanya! Bantu aku angkat dia dan kita bawa ke rumah sakit," ucap Darren.
Tanpa menjawab ucapan kakaknya, Alfa langsung membantu Darren mengangkat tubuh Rafael. Ia memegang kaki hendak mengangkatnya.
"Aa-aarhh," rintih Rafael meringis kesakitan.
"Jangan pegang kakinya yang itu, aku curiga kakinya patah," ucap Darren.
"Patah?" tanya Alfa menatap Sang Kakak tak percaya.
"Iya, aku curiga kaki kanannya patah," ucap Darren lagi.
"Terus gimana?" tanya Darren.
"Ya jangan pegang bagian kakinya!" ucap Darren, ia memegang tubuh Rafael sedang Alfa memegang bagian paha. Mereka mengangkat tubuh Rafael yang lemas itu dan memasukkannya ke dalam mobil di kursi belakang pengemudi.
Klak!
Darren langsung masuk dan terduduk di kursi samping pengemudi setelah menutup pintu mobil di mana Rafael terbaring, sedang Alfa berjalan setengah berlari ke arah pintu pengemudi.
"Kok bisa begitu? Dia kenapa?" tanya Alfa seraya menyalakan mesin mobilnya dengan sangat tergesa-gesa.
"Aku gak tau, tadi dia nelpon aku dan minta tolong, aku suruh share location dimana dia, pas aku samperin dia udah kaya begitu," ucap Darren seraya menatap layar handphonenya hendak menghubungi polisi, "Aku curiga dia di keroyok orang, tapi masalahnya siapa? Komplek perumahan kita kan gak pernah ada preman atau orang-orang yang mencurigakan masuk."
"Pasti ada CCTV kan daerah situ? Kita bisa liat siapa pelakunya di CCTV." ucap Alfa seraya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedikit di atas rata-rata.
"Aku liat tadi emang ada, harusnya sih di situ bisa ketahuan siapa pelakunya dan juga bisa jadi barang bukti, makanya ini aku langsung telfon polisi biar bisa di selidiki langsung, takutnya orang jahat itu gercep kan ambil barang bukti," ucap Darren.
Alfa mengangguk pelan mengiyakan, ia menatap lurus fokus pada jalanan hendak ke rumah sakit.
Bersambung