Tap tap tap
Rafael berjalan hendak ke arah jalan raya keluar dari komplek perumahan dimana Syaren tinggal, langkahnya tiba-tiba saja terhenti saat melihat beberapa orang mengenakan seragam SMA yang sama dengannya berdiri tepat sekitar 3 meter di depannya.
"Ckk! Dia lagi," gumam Rafael.
Terlihat 5 orang pria berdiri tepat di depannya.
"Mau apa?" tanya Rafael.
"Gue mau cewek yang tadi elu anterin pulang jadi milik gue!" jawab salah Seorang Pria bernama Rizky. "Jadi ... jangan jadi penghalang buat gue ngejar dia!"
"Cih!" Rafael memalingkan wajah ke arah lain dan mendecih sinis, "Mimpi! Jangan harap lu bisa dapetin dia," jawab Rafael.
Rizky berjalan mendekati Rafael di ikuti ke-4 temannya, hingga akhirnya Rizky berdiri sekitar satu langkah di depan Rafael.
"Gua suka sama dia! Apa salahnya? Kan gue minta baik-baik sama elu!" ucap Rizky.
"Gue udah pacaran sama cewek yang lu kejar! Jadi, elu sadar diri lah! Syaren punya gue!" jawab Rafael.
"Iya, gue tau! Apa salahnya ninggalin dia dan kasih dia ke gue, kalau gue udah bosen pasti gue kasih lagi kok ke elu," ucap Rizky.
"Kurang ajar!" ucap Rafael tak terima.
Bugh!
Satu pukulan berhasil Rafael daratkan di atas pipi Rizky hingga Rizky jatuh tersungkur namun dengan sigap teman-temannya yang berdiri di belakang itu memegang tubuh Rizky hingga Rizky tak terjatuh ke atas aspal.
"Cih!" Rizky mendecih seraya memegang pipi yang tadi Rafael pukul.
"Mau bales?" tanya Rafael, "Ayo! Gue gak takut! Berani hina cewek gue, jangan salahin gue kalau tangan gue ngelayang di muka lo!"
Rizky memicingkan mata dan mendelik sinis, tangan kanannya sudah mengepal kuat dan sudah terangkat mengarahkannya pada Rafael, namun dengan sigap Rafael langsung memegang tangan Rizky lalu menarik tangan Rizky itu ke belakang hingga tangan kanan Rizky itu bersentuhan dengan punggung Rizky.
Rafael lalu mendorong tubuh Rizky ke arah teman-temannya.
"Aa-arrghh ...." Rizky memegang tangan kanannya yang terasa nyeri.
"Cuma segitu doang?" tanya Rafael.
Kedua tangan Rizky mulai mengepal dengan sangat kuat, ia mulai geram dan kesal tak terima Rafael berhasil lepas dari pukulannya, ia lalu menoleh melihat ke arah teman-temannya mengisyaratkan pada mereka untuk memegang tubuh Rafael.
2 Orang teman Rizky, Gilang dan Haris lalu berjalan mendekati Rafael dan berdiri di belakang Rafael, Haris yang memegang tangan kanan Rafael sedang Gilang memegang tangan kiri Rafael.
"Jadi mau keroyokan? Dasar banci!" ucap Rafael.
Gigi Rizky mulai menggertak saat Rafael mengatainya, ia semakin kesal saat melihat wajah Rafael yang terlihat menantangnya.
Rizky melihat ke segala arah melihat situasi dan kondisi. "Kita bawa ke tempat yang rada sepi, jangan di sini. Ini udah deket ke jalan depan, nanti ada yang liat." ucap Rizky lalu berbalik dan berjalan ke arah ujung komplek mencari tempat yang sepi.
Haris dan Gilang berjalan seraya mendorong tubuh Rafael untuk berjalan mengikuti langkah kaki Rizky dan kedua temannya yang lain, Dio dan Edgar.
Rafael berusaha melepaskan tangan mereka dengan menggerakkan tubuh melepas tangan Gilang dan Haris yang memegang tubuhnya, namun tenaga kedua pria yang memegang tubuhnya itu terlalu kuat, ia sama sekali tak bisa melepas tangan mereka di tubuhnya.
"Lepas gak? Lepas!" ucap Rafael setengah berteriak.
Tap tap tap
Rizky dan ke-4 temannya membawa Rafael ke ujung komplek perumahan yang sangat sepi tak banyak orang lewat, apalagi dua rumah di sisi kanan dan kiri mereka adalah rumah kosong tak berpenghuni.
Rizky tersenyum smirk melihat Rafael yang di pegangi Haris dan Gilang. "Lu salah karena udah berurusan sama gue!" ucap Rizky.
Bugh!
Satu pukulan berhasil Rizky daratkan di perut Rafael hingga Rafael memejamkan mata menahan nyeri.
Bugh!
Rizky kembali mendaratkan lagi beberapa pukulan di perut Rafael hingga membuat Rafael terasa mual.
"Gue udah lama ya gedek sama tingkah lo! Lu so banget jadi orang!" ucap Rizky, "Dan satu yang pasti, gue gak terima lu ambil cewek yang gue incer!" ucap Rizky, "Sekarang, lu jauhin Si Syaren! Jangan deketin dia lagi!"
Rafael tersenyum menyeringai. "Gue gak akan pernah ninggalin dia!" ucap Rafael memicingkan mata dan mendelik sinis.
"Cih! Bugh!"
"Aa-aauww aarrgghh."
Beberapa pukulan kembali Rizky daratkan lagi di perut Rafael hingga membuat Rafael lemas dan tak bertenaga, ia bahkan tak bisa membalas karena tubuhnya di pegang dengan sangat kuat. Ia hanya seorang diri sedang mereka berlima.
"Lepasin dia," ucap Rizky pada Gilang dan Haris meminta mereka untuk melepaskan tubuh Rafael.
Gilang dan Haris melepas tangan Rafael hingga akhirnya Rafael terjatuh dan terbaring di atas aspal seraya memegang perutnya yang terasa sangat nyeri dan ngilu.
Uhuk uhuk uhuk
Rafael terbatuk seraya terus memegang perutnya.
"Jauhin Si Syaren! Putusin sekalian! Dia punya gue!" ucap Rizky lagi.
"Jangan harap! Dasar banci! Gak punya harga diri! Gak punya malu! Cara main lo kotor bro! Sama kek muka lo! Kalau lu kalah saing sama gue ya udah! Terima aja kalau gue emang jauh lebih unggul dan lebih menang banyak dari lu! Elu gak ada apa-apanya! Lu bukan tandingan gue! Sampai kapanpun gue gak akan pernah lepasin cewek gue!" ucap Rafael dengan lantang berbicara pada Rizky masih seraya memegang perutnya, ia ingin berdiri namun terasa sulit.
"Sialan!" ucap Rizky tak terima, ia lalu menendang tubuh Rafael hingga Rafael terbaring meringkuk di atas aspal. Rizky lalu menatap teman-temannya. "Kalian ngapain diem? Habisin dia!" ucap Rizky sudah sangat kesal dan marah hingga menutup akal sehat dan pikirannya.
Dengan senang hati Gilang, Haris, Dio dan Edgar itu ikut menendang tubuh Rafael berkali-kali. Rizky yang melihat tersenyum puas.
Rafael hanya menutup kepalanya melindungi diri, ia memejamkan mata menahan nyeri saat ke-4 orang itu menendang dan juga menginjaknya tanpa ampun, kaki dan tangannya bahkan sudah terlihat lecet dan mengeluarkan darah. Yang ada di pikirannya saat ini hanya kedua orang tuanya, kakak dan juga Syaren.
"Cukup!" ucap Rizky.
Ke-4 temannya itu langsung menghentikan aksi mereka.
Rafael menatap satu persatu dari mereka, ia mengedipkan mata dengan sangat lemah dan pelan. Tubuhnya sekarang sudah sangat lemah, bahkan untuk mengedipkan mata saja terlalu sulit. Mereka sangat bersemangat menghajarnya habis-habisan tadi.
Rizky langsung berjalan mendekati Rafael. "Lu salah udah main-main sama gue!" ucap Rizky, ia lalu menginjak antara paha dan juga lutut Rafael dengan sangat keras tanpa hati dan ampun.
"Aaaarrrgghhh ...." teriak Rafael dengan sangat keras saat Rizky menginjak kakinya dengan sangat keras. Tubuhnya mulai lemas dan ia sama sekali sulit untuk bergerak.
"Riz? Udah! Dia sekarat!" ucap Gilang.
Haris langsung berjongkok dan melihat wajah Rafael yang terlihat setengah sadar.
"Bener! Dia hampir gak sadar! Gue takutnya dia mati." ucap Haris.
"Elu nendangnya kekencengan!" ucap Dio.
Rizky menelan ludah. "Udah! Mumpung sepi dan gak ada yang liat, kita pergi!" ucap Rizky.
"Terus dia gimana?" tanya Edgar.
"Lu gak mau kan dapet masalah? Ya udah, kita pergi sekarang! Ayo!" ucap Rizky berbalik dan berlari pergi.
Dio, Edgar, Gilang dan Haris mengikuti langkah kaki Rizky, mereka berlari meninggalkan Rafael sendirian.
Rafael membuka matanya perlahan, terlihat buram namun sedikit jelas ia melihat Rizky dan ke-4 teman-temannya itu berlari meninggalkannya sendirian yang terkulai lemas di atas aspal.
Bersusah payah Rafael merogoh saku celananya hendak mengambil handphone.
"Aarrgghh ... Astagfirullahaladzim," ucap Rafael merintih kesakitan, sama sekali sulit untuk bergerak saat kakinya semakin terasa nyeri, bulir bening kristal bahkan keluar dari sudut matanya.
Rafael berhasil mengambil handphonenya, ia hendak menghubungi orang tuanya meminta tolong. "Enggak, Mama pasti bakalan khawatir," gumam Rafael, "Kalau Papa? Kejauhan, aku gak sanggup terlalu lama berada di sini. Kalau Syaren? Dia juga akan sangat khawatir dan mungkin akan menangis juga. Lalu ... siapa orang yang bisa aku hubungi untuk aku mintai tolong?"
Rafael memejamkan mata, tubuhnya semakin lemas. "Uncle Al atau uncle Darren, rumahnya juga gak jauh dari sini." gumam Rafael. Ia lalu menatap layar handphonenya dan menyentuh kontak. Mencari nomor Darren, ayah dari kekasihnya.
Tuutt tuuttt tuuttt
[Halo? Kenapa?]
"Uncle, Ren? Tolongin Rafa ... hiks ... Rafa gak sanggup untuk berdiri, tolong," ucap Rafael menahan isak tak tahan menahan nyeri di sekujur tubuhnya.
[Tolong? Kamu kenapa? Dimana?]
"Rafa masih di komplek perumahan deket rumah Uncle Ren, Uncle Ren kesini, tolongin Rafa. Rafa gak bisa berdiri sama sekali, badan Rafa sakit semua, tolong Uncle." ucap Rafael tak tahan ingin menangis namun ia tahan.
[Ya udah, kamu tenang dulu ... sekarang kasih tau Uncle posisi kamu dimana, Uncle kesana sekarang.] jawab Darren di sebrang sana.
"Rafa gak tau jelasnya dimana, tapi ini gak jauh kok dari rumah Uncle, Ren. Deket rumah kosong."
[Kamu share location aja, Uncle kesitu sekarang.]
"Oke, Rafa share-loc sekarang dan iya, jangan kasih tau Syaren." ucap Rafael.
[Oke, kamu share-loc aja sekarang]
"Iya," jawab Rafael.
Pip_
Rafael menutup sambungan teleponnya dan mengirimi lokasi dimana ia berada sekarang pada Darren.
Huuuhh
Rafael menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar, ia merebahkan kepalanya di atas aspal saat tubuhnya semakin lemas, ia sama sekali tak bisa menggerakkan tubuhnya terutama kaki. Kaki yang tadi Rizky injak terasa sangat sakit saat ia menggerakkannya.
Rafael menatap langit yang sudah cukup gelap.
Tes
Bulir bening kristal keluar lagi dari sudut mata Rafael, penglihatannya semakin tak jelas dan buram saat ia menatap langit, ia merasa sudah tak sanggup untuk membuka mata terlalu lama.
Uhuk uhuk uhuk
Rafael kembali memegang perut yang terasa sangat nyeri.
Bersambung