Saranghae , Sayang.

1366 Kata
Rafael dan Syaren berjalan keluar dari ruang kelas mereka setelah mata pelajaran terakhir selesai. Mereka keluar dengan tangan Rafael yang melingkar di pundak Syaren merangkul. "Hari ini gak ada latihan kan? Kita mau kemana dulu?" tanya Rafael. "Langsung pulang aja deh ya? Jangan kemana-mana dulu, badan kamu masih rada anget, lagian kita mau kemana? Gak ada tempat tujuan," jawab Syaren. "Toko buku? Cari novel," ucap Rafael. "Gak ah, kemarin aku udah beli dua novel, baru satu yang aku baca, itu pun belum selesai," ucap Syaren. "Hmmm ... Yakin gak mau lama-lama sama aku?" tanya Rafael. "Bukan gak mau, ya mau-mau aja. Cuma masalahnya badan kamu masih rada anget, takutnya kamu malah drop lagi terus besok gak masuk lagi gimana? Aku gak mau duduk sama Si Rendi lagi, dia ngajak ghibah mulu," ucap Syaren. "Emang kemarin pas aku gak masuk dia duduk sama kamu?" tanya Rafael. Syaren mengangguk pelan mengiyakan. "Iya, dia duduk sama aku dan mulutnya ... hmmm ... gak mau diem! Mending sama Si Lisa, bahan gosipnya rada berfaedah! Lah Si Rendi? Enggak dua kali deh," ucap Syaren, "Jadi sekarang kita pulang aja, kamu istirahat total setelah sampe rumah biar cepet fit lagi. Lagian ini kayaknya mau hujan deh, keliatan rada gelap," ucap Syaren. "Jangan sampe kamu main hati ya sama Si Rendi," ucap Rafael. "Apa? Pfftt ...." Syaren tertawa pelan, "Kamu yang bener aja, masa aku main hati sama Si Rendi." "Kenapa? Gak ada yang gak mungkin. Tadi pagi kamu bilang kalau laki-laki sama perempuan temenan, salah satunya pasti ada yang berharap. Nah sekarang ya sama. Kalau gak kamu ya Si Rendi yang berharap," ucap Rafael. "Kalau aku kayaknya gak mungkin deh. Ya kali aku ninggalin pangeran kaya kamu, hanya demi Si Rendi. Jelas lebih oke kamu kemana-mana lah," ucap Syaren. "Dihh ... aku gak mempan ya di gombalin kek begitu," ucap Rafael. "Masa?" tanya Syaren. "Bodo!" jawab Rafael. "Hiihhh ...." Rafael tertawa pelan. "Lagian, kamu gak berbakat dalam hal menggombal jadi ada baiknya jangan gombalin aku," ucap Rafael. "Kan menghibur," ucap Syaren. "Adanya kamu di samping aku, di rasa itu udah cukup menghibur hati aku kok," ucap Rafael. "Lebay!" jawab Syaren tersenyum. "Biarin!" jawab Rafael balas tersenyum. Mereka terus berjalan ke arah tangga hendak turun, lagi-lagi mood Rafael di buat turun saat melihat seorang pria berdiri tegak di depan pintu ruang kelasnya, tengah tersenyum smirk melihat ke arahnya dan Syaren. Rafael melambatkan langkahnya saat melihat pria itu. "Kenapa coba kelas dia harus banget pas deket tangga, jadinya kan harus ketemu terus," gumam Syaren. "Lama-lama gedek aku liat dia terus," ucap Rafael. "Udah ... gak usah di tanggepin, kita jalan aja pura-pura gak liat dan gak kenal kaya yang lain lewat di depan dia tanpa nyapa atau apapun itu, lagian kita ada di sekolah ini cuma beberapa bulan lagi kan? Jadi ya udah, sabar-sabarin aja dulu" ucap Syaren. Huuhhh Rafael menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar. "Ya udah deh, ayo. Demi kamu," ucap Rafael berjalan cepat hendak melewati Rizky dan teman-temannya. Tap tap tap "Siang, Syaren?" sapa Rizky begitu Syaren dan Rafael berjalan melewati jalan dimana ia berdiri. Syaren tersenyum paksa menatap Rizky. "Siang, Riz." jawab Syaren lalu menatap lurus lagi dan berjalan melewati Rizky. Terlihat Rafael yang menggertakkan gigi kesal, namun tak begitu ia tanggapi karena permintaan Syaren, ia melangkah juga mengikuti langkah kaki Syaren yang berjalan di sampingnya. Rizky langsung berjalan mengejar langkah kaki Syaren dan Rafael hingga akhirnya ia berdiri tepat di depan Syaren. "Astagfirullah," ucap Syaren kaget. "Apa?" tanya Syaren pada Rizky. "Ada waktu enggak?" tanya Rizky. "Eng,-" "Enggak!" jawab Rafael cepat saat Syaren hendak menjawab. "Gue nanya sama Syaren, bukan sama elu!" ucap Rizky pada Rafael. "Semua yang berkaitan sama Syaren berurusan sama gue! Jadi terserah gue dong kalau gue yang jawab," ucap Rafael. "Serah!" jawab Rizky lalu menatap Syaren lagi, "Gimana? Bisa gak?" tanya Rizky pada Syaren. "Sorry, Riz, gak bisa," jawab Syaren. Rizky meraih telapak tangan Syaren menggenggamnya. "Ayolah, Sya. Bisa ya?" Syaren berusaha melepas tangan Rizky yang menggenggam telapak tangannya. "Lepas, Riz." ucap Syaren. "Lepas!" ucap Rafael menatap Rizky dengan tatapan tajam tak suka, ia melepas dengan sangat kasar tangan Rizky yang memegang tangan Syaren itu. "Jangan kurang ajar lu ya! Di pikir selama ini gue diem karena takut apa. Gue gak takut sama sekali sama elu ya!" ucap Rafael. Rizky tersenyum smirk dengan mata yang sedikit menyipit juga. "Udah, Raf. Kita pergi aja, nanti malah jadi panjang," ucap Syaren seraya menggenggam tangan Rafael. Rafael melihat tangan Syaren yang menggenggamnya, ia memejamkan mata beberapa detik lalu menatap Syaren lagi. "Ya udah ayo," ucap Rafael balas menggenggam juga dan berjalan lagi. Grep! Rizky memegang siku lengan kiri Syaren. "Tunggu, Sya. Aku belum selesai bicara," ucap Rizky. Syaren melepas dengan kasar tangan Rizky di siku lengannya. "Apaan sih? Jangan sentuh-sentuh ya! Aku gak suka! Aku udah bilang gak mau, ya gak mau! Kenapa maksa hah? Lama-lama kamu bikin aku kesel ya, Riz!" "Ya ampun, Sya. Jual mahal banget sih jadi cewek, so cantik lu!" ucap Rizky. "Jangan kurang ajar lu ya!" ucap Rafael. "Kurang ajar apa? Cuma pegang tangan doang! Gak yang lain-lain, gitu aja marah! Gak usah jual mahal lah jadi cewek, modal cakep aja belagu!" ucap Rizky. Bugh! Satu pukulan berhasil mendarat di atas pipi Rizky hingga Rizky hampir saja jatuh tersungkur. "Sialan!" gumam Rizky seraya memegang pipinya yang di pukul. "Raf?" Syaren memegang siku lengan Rafael kaget saat Rafael memukul Rizky. "Sebentar," ucap Rafael pada Syaren lalu menatap Rizky yang tengah di pegang oleh teman-temannya. Terlihat satu di antara mereka hendak mendekati Rafael, namun Rizky melarangnya. "Ngerti bahasa manusia kan?" tanya Rafael, "Jangan kurang ajar! Berani gangguin cewek gue lagi, habis lu!" ucap Rafael. Rafael lalu menggenggam tangan Syaren lalu berbalik dan kembali berjalan lagi ke arah tangga hendak turun. "Kesel lama-lama aku sama dia," ucap Rafael saat ia dan Syaren berjalan menuruni anak tangga. "Kamu juga," ucap Rafael pada Syaren. "Kok aku?" tanya Syaren. "Kamu kan bisa bela diri, ya walau masih dasar sih. Tapi kan setidaknya kamu bisa bales dia, kenapa diem aja pas dia bilang kamu yang enggak-enggak?" "Males nanggepin orang kayak begitu, buat apa? Buang-buang waktu! Biarin aja dia mengucapkan kata-kata kotor semau dia, kalau udah kelewatan baru aku bales," ucap Syaren. "Tapi barusan udah kelewatan, Sya." ucap Rafael. "Iya sih, tapi aku lagi gak mood ladenin dia," ucap Syaren, "Jadi ya udahlah, apa yang kita ucapkan memperlihatkan kualitas kita bukan? Jadi biarin aja dia mengucapkan kata-kata seperti itu, dia sedang memperlihatkan kualitas dia yang jelek di depan mata aku. Itu buat aku semakin gak suka dan gak respect sama dia." "Ckk! Umur kamu berapa sih? Kok dewasa banget?" tanya Rafael melepas genggaman tangannya dan merangkul pundak Syaren, menariknya pelan hingga kepala Syaren bersandar di dadanya. Syaren juga reflek melingkarkan tangannya di pinggang Rafael. "Berapa hm? Kok dewasa banget? Kalau begini kan aku jadi makin sayang sama kamu," ucap Rafael. "Yakin sayang banget sama aku?" "Iyalah, banget banget banget malah," jawab Rafael seraya tersenyum. Syaren juga balas tersenyum menatap Sang Kekasih. *** "Hati-hati, kalau udah sampe rumah, kamu telpon aku ya ... minimal chat biar aku gak khawatir," ucap Syaren saat ia dan Rafael sudah berada di depan pintu pagar rumah Syaren. Rafael tersenyum dan mengangguk. "Nanti aku telfon kamu," ucap Rafael. Syaren tersenyum lagi. "Ya udah, aku masuk dulu. Sampe ketemu besok pagi," ucap Syaren. Rafael mengangguk lagi. "Besok aku jemput lagi," ucap Rafael. Kali ini Syaren yang mengangguk. "Aku sayang sama kamu," ucap Syaren tersenyum manis. "Aku juga," jawab Rafael seraya mengelus pelan pucuk kepala Syaren, "Udah, masuk sana," ucap Rafael. Syaren berbalik dan berjalan ke arah pagar, langkahnya terhenti saat baru saja ia membuka sedikit pintu pagar, ia berbalik lagi dan melihat ke arah Rafael, berjalan cepat ke arah Rafael dan, Cup Satu kecupan Syaren daratkan di atas pipi Rafael. "Saranghae, Sayang." ucap Syaren tersenyum manis lalu setelahnya berlari lagi ke arah pagar dan masuk, ia lalu berlari lagi ke arah pintu rumahnya. Rafael masih berdiri di tempat, ia memegang pipi dan tersenyum. "Sayang? Pfft ... dasar!" gumam Rafael, ia lalu berbalik dan kembali berjalan lagi hendak ke jalan raya. Tap tap tap Langkah Rafael terhenti saat melihat beberapa orang mengenakan seragam SMA yang sama dengannya berdiri tepat sekitar 3 meter di depannya. "Ckk! Dia lagi," gumam Rafael. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN